
" Maaf, anda jadi kena marah." Kata Alanna saat tinggal mereka berdua di dalam ruangan.
Zack menggelengkan kepala." Tidak apa-apa, ini salah ku juga."
"Nanti akan saya jelaskan pada tante Rani."
"Menjelaskan apa ?" tanya Zack. " Tentang pertengkaran kita ?"
"Iya."
"Tidak usah di jelaskan." Zack berkata tenang membuat Alanna bingung. "Kau yang sudah tidak marah lagi pada ku itu sudah cukup."
Alanna mengerutkan keningnya, masih bingung dengan arah pembicaraan Zack. "Maksudnya ?" tanya Alanna.
Zack mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alanna, meletakkan jari telunjuk nya di kening Alanna yang mengerut mengusap lembut hingga kerutan di wajah Alanna menghilang.
Memandang wajah Zack dari dekat membuat Jantung Alanna berdegup kencang, refleks Alanna mundur menjauh dari sentuhan Zack.
Melihat Alanna yang seperti salah tingkah dengan sentuhan nya membuat Zack tersenyum simpul. "Mama hanya ingin kita tidak bertengkar lagi, kau cukup bilang pada nya kalau kita sudah baikan. Kau masih marah pada ku ?" tanya Zack. "Saya minta maaf jika membuat mu tersinggung dan marah." Tambah Zack.
Alanna menatap wajah Zack lama kemudian memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. "Entahlah, saya juga tidak tahu sebenarnya harus marah ke siapa." Alanna menghela nafas panjang. "Marah kepada anda atau nasib yang seperti mempermainkan ku."
"Kau memikirkan pernikahan kita ?" tanya Zack yang di jawab anggukan oleh Alanna. "Kita pasti bisa mempertahankan pernikahan ini." Zack menyakinkan.
"Walaupun tanpa di dasari atas cinta ?" Alanna bertanya tidak yakin.
"Pernikahan juga bisa di dasari atas rasa hormat, saling menghargai, dan rasa percaya."
"Saya tidak yakin."
"Kita belum menjalani nya bagaimana kau bisa tidak yakin ?" Zack bersikeras dengan pemikiran nya. "Pernikahan yang di dasari cinta juga tidak menjamin pernikahan itu akan bertahan lama Alanna." Zack menambah kan dengan senyum getir.
Alanna terdiam mendengar perkataan Zack, perdebatan ini seakan tidak ada jalan keluarnya karena pemikiran dan pendapat mereka yang memang berbeda.
"Sudah lah, saya capek bertengkar terus dengan mu, biar bagaimanapun juga kita tetap akan menikah." Zack akhirnya berkata menyandar kan punggung nya di sandaran sofa. "Mama akan menunggu lama jika kau belum turun sekarang."
"Pernikahan kita tetap tidak akan bertahan jika ternyata saya tidak hamil, bukan kan seperti itu perkataan anda ? jadi tidak usah meyakinkan saya tentang apa pun." Kata Alanna getir tersadar akan kenyataan yang lebih pahit dari pada pernikahan yang di pertahankan atas dasar pemikiran Zack. Alanna bangkit berdiri. "Kalau begitu saya pergi dulu." Hanya itu yang bisa Alanna katakan saat melihat Zack sudah bersikap menjaga jarak, sikap yang sudah pernah Alanna lihat saat mereka masih di Surabaya.
__ADS_1
Alanna turun ke lantai bawah berjalan menuju pintu depan hotel mendekati mobil yang terparkir di depan pintu hotel.
" Maaf tante menunggu lama." Alanna berkata saat sudah berada di dalam mobil.
"Tidak apa-apa." Ucap mama Rani tersenyum. "Bagaimana masalah kalian, sudah baikan ?" mama Rani bertanya.
"Sudah tante." Jawab Alanna terpaksa berbohong.
Mama Rani bernafas lega. "Bagus lah, tante senang mendengar nya, kita berangkat sekarang."
Pak Risno pun mengemudikan mobil keluar dari area hotel menuju jalan raya. Mobil berhenti di depan sebuah butik yang khusus merancang dan membuat kebaya, saat mereka masuk Alanna dapat melihat berbagai macam model kebaya yang terpampang di dalam butik itu. Saat masuk mereka langsung di hampiri pegawai butik dan mengantar mereka ke bagian dalam butik khusus untuk kebaya pengantin. Setelah lama melihat-lihat dan meminta saran Alanna akhirnya mama Rani memilih kebaya warna putih gading dengan model leher kancing Shanghai di penuhi dengan brokat dan Payet warna emas membuat kebaya itu nampak mewah. Fiting kebaya memakan waktu satu jam, setelah puas dengan hasil nya barulah mama Rani memutuskan untuk pulang terlebih dahulu mereka singgah di restoran dekat butik untuk makan siang.
Pak Risno mengantar mama Rani terlebih dahulu kemudian mengantar Alanna ke apartemen nya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sudah dua hari sejak pertemuan terakhir Alanna dengan Zack karena kesibukan Zack yang padat, bahkan untuk sekedar mengirim sms pun tidak. Sempat terpikir dalam benak Alanna mungkin ini cara Zack menjaga jarak dari nya walaupun acara pernikahan mereka tinggal satu hari lagi.
Duduk termenung di sofa ruang tengah di apartemen nya dengan segala pemikiran di benak nya membuat Alanna tidak menyadari waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Berdiri hendak menuju kamar untuk tidur tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi, sedikit ragu untuk membuka pintu tetapi terdengar suara seseorang yang mulai akrab di telinga Alanna memanggil namanya, ya siapa lagi jika bukan Zack Ibrahim.
"Kenapa anda ada di sini, larut malam begini ?" tanya Alanna saat membuka pintu apartemen nya.
Alanna menggeser diri nya sedikit memberikan Zack jalan. "Masuk lah, akan saya buat kan." Lalu menutup pintu kembali saat Zack telah masuk.
Zack langsung membaringkan dirinya di sofa terlihat kelelahan, Alanna langsung ke dapur membuat kan Zack secangkir kopi panas.
"Anda terlihat lelah sekali." Ucap Alanna saat meletakan kopi di atas meja sofa kemudian duduk di sofa lain yang berada di depan Zack.
Zack bangkit duduk lalu meminum kopi nya. "Dua hari ini saya sibuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa di tunda, mengingat saya tidak akan berkantor selama dua hari setelah acara pernikahan kita." Jelas Zack.
"Oh....... ." Hanya itu kata yang bisa Alanna keluarkan dari mulut nya, merasa bersalah karena berpikir yang tidak-tidak tentang Zack yang tidak memberinya kabar selama dua hari ini. "Tapi kenapa dua hari ? bukankah anda bisa masuk kantor besok nya setelah acara pernikahan." Alanna berkata setelah memikirkan kembali perkataan Zack.
"Karena itu saya datang kemari, ingin memberitahu kan mu, mama ingin dan memaksa kita untuk bulan madu setidaknya dua hari setelah acara pernikahan kita."
"Bulan madu ?" tanya Alanna tidak yakin dengan pendengaran nya.
"Iya." Jawab Zack singkat.
__ADS_1
"Tapi bagaimana mungkin." Alanna berkata tidak percaya.
"Kita ikuti saja kemauan mama." Kata Zack tenang sambil meminum kopinya, berbanding terbalik dengan sikap Alanna.
Alanna menatap Zack tidak percaya, tiba-tiba terpikir di otak nya kalau mereka berdua belum membicarakan masalah hak dan kewajiban suami istri terutama masalah di tempat tidur. "Karena membicarakan masalah bulan madu, tiba-tiba terpikir oleh ku kalau kita belum membicarakan tentang masalah hak dan kewajiban suami istri terutama di tempat tidur." Alanna mengeluarkan isi pikiran nya.
Zack yang mendengar refleks meletakkan cangkir kopi nya mulai tertarik dengan perkataan Alanna. "Kewajiban ku sebagai seorang suami pasti akan ku lakukan, memberikan nafkah padamu dan kewajiban mu sebagai istri harus melayani dan mengurus ku." Zack berkata serius menatap Alanna.
"Dan bagaimana dengan hak mu sebagai suami yang berhubungan dengan kamar dan tempat tidur ?" tanya Alanna penasaran bercampur sedikit gugup mendengar jawaban Zack.
Zack mengusap dagu nya yang mulai menggelap di akibatkan bakal cambang yang akan tumbuh. "Entahlah, jujur saya belum memikirkan masalah itu."
"Bukankah kita tidak bisa melakukannya, maksud ku kewajiban suami istri yang berhubungan dengan tempat tidur mengingat kita menunggu kepastian kehamilan ku ?" Alanna berkata sedikit gugup.
Zack mengangguk menyetujui. "Kau benar juga."
"Dan bagaimana kalau ternyata saya hamil." Alanna berkata gugup.
Zack melihat Alanna duduk gelisah di tempat, menunggu jawaban dari nya. "Alanna." Zack berkata meminta perhatian penuh pada nya.
" Ya ?" Alanna pun memandang ke arah Zack yang menatap serius pada nya.
"Kita jalani saja apa adanya, biarkan dia mengalir mengikuti keadaan dan saya tidak akan menyentuh mu bila kau tidak mengizinkan." Zack berkata meyakinkan Alanna.
Jawaban dari Zack membuat Alanna lebih tenang, merasa bersyukur Zack memahami situasi nya. "Terimakasih pak Zack." Alanna tersenyum.
Zack hanya mengangguk sebagai jawaban. "Besok kau tidak usah masuk kantor, Johan sudah mengurus cuti mu selama tiga hari. Kau istirahat lah besok." Zack bangkit berdiri setelah menghabiskan kopi nya. "Sampai ketemu di acara pernikahan kita Alanna." Ucap Zack kemudian beranjak keluar dari apartemen Alanna.
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
| tolong dukung author dengan cara like, vote, coment dan Bintan lima terimakasih |