
Usai makan siang, Zack masuk ke dalam ruang kerjanya sedangkan Alanna kembali duduk di sofa ruang tengah sambil menonton acara televisi.
Di dalam ruang kerjanya Zack menghubungi Johan, telepon terhubung saat dering pertama.
"Hallo Tuan Zack." Ucap Johan dari seberang.
"Bagaimana keadaan di sana ?" Zack bertanya langsung.
"Semua sudah beres Tuan." Jawab Johan.
"Bagus, kerja bagus Johan." Puji Zack. "Ada yang perlu kau kerjakan sebelum pulang ke Jakarta." Zack menambah.
"Apa Tuan ?"
"Kau pergi ke kediaman Datuk Malik untuk menyampaikan undangan dari ku."
"Undangan dalam rangka apa Tuan ?"
"Undangan dalam rangka perayaan ulang tahun papa. Acaranya akan di laksanakan besok malam di kediaman kami."
"Baik Tuan, akan saya kerjakan."
"Setelah itu kalian langsung pulang." Perintah Zack.
"Baik Tuan."
"Mana Sinta ?" Jawab Zack tiba-tiba, membuat Johan terkejut karena mengira Zack akan memutuskan sambungan telepon.
"Ada di Penthouse Tuan." Jawab Johan.
"Pastikan dia tidak keluar ke mana-mana karena kalian tidak lama lagi akan pulang."
"Baik Tuan." Ucap Johan patuh dan sambungan telepon terputus.
Alanna yang bosan menonton acara televisi memilih untuk naik ke kamar. Di dalam kamar, Alanna mengambil handphone miliknya berjalan duduk di sofa yang berada di dalam kamar dan mulai membuka aplikasi sosial media.
Alanna yang sedang asyik dengan handphone nya tidak menyadari kehadiran Zack di dalam kamar mereka.
"Sedang melihat apa ? sepertinya serius sekali." Zack bertanya, menunduk mendekatkan wajahnya pada Alanna dari belakang sofa dan mengintip layar handphone yang Alanna pegang.
Terkejut mendengar suara Zack yang tiba-tiba membuat Alanna menoleh ke arah Zack.
Cup !
Bibir Alanna tepat menempel ke pipi Zack, membuat Zack tersenyum simpul.
__ADS_1
"Mas Zack mengejutkan ku !" Alanna berkata sambil sedikit mundur dari wajah Zack. "Kenapa mas tiba-tiba muncul dari belakang." Alanna menambahkan, sedikit kikuk karena tanpa sengaja mencium pipi Zack.
"Kamu sangat serius dengan handphone mu hingga tidak menyadari aku yang masuk ke dalam kamar." Ucap Zack sambil menegakkan tubuhnya, berjalan memutari sofa dan duduk di samping Alanna. "Apa yang sedang kamu lihat ?"
"Bukan apa-apa mas, aku hanya sedang membuka aplikasi sosial media dan melihat status mereka yang muncul di beranda ku." Jawab Alanna sambil menscroll ke bawah layar handphone nya, sedikit menjauh dari Zack.
"Kau aktif menggunakan media sosial ?" Zack bertanya. Memeluk bahu Alanna, menarik Alanna mendekat padanya tidak membiarkannya menjauh. Zack mengetahui penyebab Alanna yang menjauh dikarenakan masih sedikit marah padanya.
"Dulu aktif, tapi sejak datang ke Jakarta sudah jarang."
"Kenapa ?" Zack bertanya penasaran.
"Tidak ada alasan yang khusus, hanya karena sibuk saja." Jawan Alanna. "Kalau mas Zack, aktif di sosial media ?" Alanna sengaja balik bertanya karena tidak ingin Zack terus bertanya padanya.
"Ada tapi jarang ku gunakan." Jawab Zack. "Apa nama akun mu ?" tanya Zack sambil merogoh saku celananya untuk mengeluarkan handphone nya.
"Nama akunku Alanna, mas Zack." Jawab Alanna, perhatiannya teralih pada wallpaper handphone Zack yang memasang foto pernikahan mereka. "Mas memakai foto itu ?" tambah Alanna terkejut.
"Foto apa ?" Zack bertanya balik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone, tidak mengerti maksud Alanna sambil membuka aplikasi sosial media di handphone nya.
"Mas ternyata memasang foto pernikahan kita di wallpaper handphone milik mas Zack."
Zack berhenti, menoleh memandang wajah Alanna. "Bukankah sudah sewajarnya begitu ?" Zack bertanya dengan raut wajah heran mendengar pertanyaan Alanna.
"Iya, memang wajar tapi aku tidak menyangka saja mas Zack bisa seperti itu." Alanna mengakui dengan jujur.
"Tidak mas." Alanna menjawab dengan wajah bersalah.
"Kenapa ?"
"Tidak terpikirkan saja."
Zack terdiam mendengar perkataan Alanna. "Kenapa mas merasa kamu seperti tidak serius dengan pernikahan kita, kamu pesimis pernikahan kita akan berhasil ?"
"Maaf mas, saya tidak bisa bohong dengan perasaanku sendiri."
"Kamu ragu dan semakin ragu karena peristiwa kemarin di Malaysia bukan ?"
Alanna hanya terdiam tidak menjawab, menoleh ke arah lain tidak mampu menatap wajah Zack.
"Bersama kita bisa, jika kau percaya padaku." Zack menyakinkan Alanna.
"Mas yang lebih dulu tidak ingin mempercayai ku. Mas yakinkan pada diri sendiri lebih dulu baru kemudian kepada ku atau kita biarkan mengalir apa adanya." Perkataan Alanna membuat Zack terpaku.
Zack berdiri dari duduknya. "Aku kembali ke ruang kerja dulu, nanti kita bicarakan hal ini lain kali." Kata Zack datar tanpa melihat wajah Alanna dan Alanna bersyukur Zack tidak melihat wajahnya yang berusaha menahan air mata kekecewaan melihat reaksi Zack.
__ADS_1
Zack melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Alanna.
Saat makan malam, semua anggota keluarga telah ada. Sinta yang telah tiba tadi sore dari Malaysia, mama Rani juga papa Arian yang pergi dari mengabari keluarga dan mengurus undangan.
"Bagaimana kesiapan besok, Zack ?" tanya mama Rani di sela-sela makan malam mereka.
"Sudah ku urus ma, besok mereka akan datang mengurus segala persiapannya."
"Pastikan semuanya berjalan lancar tidak ada masalah, terutama makanannya."
"Beberapa Chef dari hotel akan datang mengurus menu makan malamnya."
"Baguslah." Mama Rani berkata lega.
"Tumben acaranya di buat di rumah ?" tanya Sinta penasaran.
"Ini ide dari kakak mu, mama dan papa hanya mengikuti." Jawab papa Arian.
"Begitu." Ucap Sinta mengerti.
"Alanna, Sinta, kalian ada gaun untuk acara besok ?" tanya mama Rani.
"Gaun ku masih banyak di lemari yang belum terpakai mama." Jawab Alanna.
"Besok pagi aku mau pergi berbelanja dulu." Ucap Sinta.
"Kita pergi bersama saja, Alanna kamu juga ikut karena setelahnya kita pergi ke salon." Ajak mama Rani.
"Baik mama." Alanna menyahut mengerti.
"Jangan terlalu memaksa kalau sudah lelah beri tahu mama, ingat kamu sedang hamil." Zack mengingatkan Alanna.
"Iya mas Zack, aku tahu."
"Kak Zack, aku penasaran kenapa kak Zack masih saja mengundang Datuk Malik dan anaknya untuk datang ke acara ulang tahun papa sedangkan kak Zack tahu kalau anaknya Datuk Malik sudah membuat Alanna malu dan sakit hati." Sinta tiba-tiba berkata mengalihkan pembicaraan.
"Kita tidak bisa membedakan rekan bisnis kita untuk datang ke acara ulang tahun papa." Ucap Zack datar. "Tentu semua harus di undang, tergantung mereka mau datang atau tidak. Acara besok bukan hanya untuk merayakan hari ulang tahun papa tapi juga untuk memperkenalkan Alanna sebagai istriku agar tidak akan ada lagi kesalahpahaman." Zack menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu." Kata Sinta lega, Alanna yang mendengar hanya terdiam. Mama Rani dan papa Arian saling menatap penasaran dengan rencana apa yang akan Zack lakukan besok malam.
-
-
-
__ADS_1
-
...tolong dukung author ya dengan cara like, coment, dan vote terimakasih 😊😊...