Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 70


__ADS_3

Zack masuk ke dalam kamar mendapati kamar dalam keadaan temaram, hanya lampu tidur yang menyinari kamar tidur mereka. Zack berjalan mendekati tempat tidur, nampak Alanna yang telah tertidur pulas.


Zack duduk di samping tempat tidur di samping Alanna. "Dia pasti lelah sekali." Gumam Zack membelai lembut pipi Alanna. "Alanna, entah apa yang terjadi denganku. Aku berusaha menjauh dan menjaga jarak darimu tapi kenyataan yang terjadi aku malah semakin terjerat dan tidak bisa bila jauh darimu. Sungguh ini membuatku takut dan membuatku tidak tahu harus bersikap bagaimana." Zack berkata pada diri sendiri.


Di Penthouse, Sinta terbangun karena rasa haus. Melihat jam di nakas samping tempat tidur menunjukkan pukul dua dini hari. Sinta bangun dari tempat tidur berjalan membuka pintu kamarnya. Melewati ruang tengah menuju dapur untuk meminum air putih, balik menuju kamar tidurnya dan terhenti di ruang tengah. Sinta berjalan pelan menuju sofa mendekati Johan yang sedang tertidur di sana.


Berjongkok tepat di depan wajah Johan yang sedang tidur. "Siapa wanita beruntung yang mendapat perhatian dari mu. Kenapa dia begitu bodoh tidak menginginkan dirimu ?" Sinta berbisik pelan berbicara sendiri. "Sungguh aku iri terhadap wanita itu, andai saja aku yang berada di posisinya." Sinta berandai-andai.


"Aku baru tahu kalau kau punya kebiasaan berbicara dengan orang yang sedang tidur." Johan tiba-tiba bersuara sambil dengan perlahan membuka kedua matanya.


Sinta terkejut hingga jatuh terduduk, salah tingkah karena kedapatan oleh Johan.


"Anu.... itu...... ." Sinta berkata kelabakan.


Johan bangun dan duduk menghadap Sinta yang masih terduduk di lantai.


Mengulurkan tangannya, memegang kedua lengan atas Sinta membantunya untuk bangun dan duduk di sampingnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membangunkan mu." Sinta duduk menunduk berkata penuh sesal setelah duduk di sofa samping Johan.


"Bagaimana mungkin tidak terbangun saat napas mu menyentuh kulit wajahku."


"Maaf, aku tidak tahu. Kak Johan jangan marah padaku." Sinta masih menunduk belum berani menatap wajah Johan.


"Kenapa kau belum tidur di jam begini ?" tanya Johan mengalihkan pembicaraan.


"Aku terbangun karena rasa haus, setelah dari dapur aku singgah sebentar di sini."


Johan menatap serius Sinta. "Sinta dengarkan aku ?"


"Ya ?"


"Jangan terlalu dekat dengan orang yang kamu tidak terlalu kenal. Kamu itu anak gadis, harus bisa menjaga diri."


"Tapi kan kak Johan sudah lama aku kenal." Protes Sinta.

__ADS_1


"Iya, tapi tetap saja saya orang lain bagimu."


"Lagian kak Johan orang kepercayaan kak Zack karena itu kak Zack memerintahkan kak Johan untuk menjagaku di sini. Kak Johan orang yang bertanggung jawab tidak mungkin sampai tega berbuat macam-macam padaku." Kata Sinta bersemangat.


Johan menghela napas panjang. "Itu juga yang menjadi beban ku." Gumam Johan pelan.


"Apa yang kak Johan katakan ?" Sinta bertanya karena tidak mendengar terlalu jelas.


"Tidak ada apa-apa, kamu kembali saja ke dalam kamarmu."


"Baiklah." Ucap Sinta berdiri, berjalan menuju kamarnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Alanna terbangun, dengan malas melihat jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur karena rasa ngantuk yang belum hilang. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi lewat dua puluh satu menit.


"Sudah hampir siang." Gumam Alanna, menoleh ke samping, melihat bantal dan seprei yang kusut bekas Zack tidurkan. "Mas Zack tidak membangunkanku." Tambah Alanna melihat gorden yang masih menutupi jendela. Tampak sinar matahari yang terlihat dari sela-sela kain gorden.


Alanna bergerak pelan turun dari tempat tidur, badannya terasa sangat pegal. Berjalan ke jendela kemudian membuka gorden yang membuat sinar matahari masuk menyinari kamar tidur.


Pegal yang Alanna rasakan terasa berkurang setelah berendam dalam bathub selama hampir lima belas menit. Setelah berpakaian, Alanna turun ke bawah untuk sarapan pagi yang kesiangan.


Alanna masuk ke ruang makan dan tidak menemukan siapa-siapa memilih berjalan terus ke arah dapur.


"Bibi, kemana semua orang di rumah ?" tanya Alanna pada Bibi Mun yang sedang sibuk di dapur.


"Eh ! Nona Alanna." Bibi Mun terkejut dengan kehadiran Alanna di dapur. "Kenapa Non ? Bibi tidak dengar perkataan Non Alanna tadi." Bibi Mun tersenyum.


"Kemana semua orang ? Mas Zack ke kantor ? aku ketiduran dan mas Zack tidak membangunkan ku." Alanna mengulangi perkataannya dan duduk di kursi meja kecil yang berada di dapur.


"Tuan muda pergi ke kantor Non dan dia berpesan sebelum pergi kalau Nona Alanna sudah bangun jangan lupa meminum susu sesudah sarapan karena kemarin malam Nona Alanna tidak sempat minum susu." Kata Bibi Mun.


"Kalau mama dan papa ke mana Bi ?"


"Tuan besar menemani Nyonya besar pergi mengurus persiapan acara di rumah ini besok malam." Bibi Mun menjawab. "Nona Alanna ingin sarapan apa ?" tambah Bibi Mun bertanya.

__ADS_1


"Seperti biasa Bi, roti bakar dengan selai strawberry dan semangkuk buah." Jawab Alanna tersenyum. "Acara apa ya Bi ?" Alanna bertanya penasaran.


"Besok ulang tahun Tuan besar."


"Ulang tahun papa ? aku tidak tahu." Alanna berkata tidak enak hati.


"Nona Alanna kan anggota baru keluarga ini jadi sudah wajar. Sebenarnya Tuan besar seperti tahun-tahun sebelumnya tidak ingin merayakan ulang tahunnya hanya saja tadi pagi saat sarapan Tuan muda menyarankan untuk di buat perayaan." Kata Bibi Mun sambil meletakkan makanan yang di minta Alanna di atas meja.


"Lalu kata papa apa Bi ?" tanya Alanna sambil mulai mengunyah makanannya.


"Tuan besar sempat menolak hanya saja Tuan muda berkata acara ini sekaligus memperkenalkan Alanna sebagai menantu baru keluarga ini. Nyonya besar langsung setuju saat mendengar perkataan Tuan muda dan membujuk Tuan besar untuk setuju."


Alanna mendengar cerita Bibi Mun merasa gelisah. "Lalu Bi ?"


"Tuan besar tentu saja setuju, Nyonya besar ingin acaranya di adakan di salah satu hotel mereka tapi Tuan muda memberi saran agar acaranya di laksanakan di kediaman ini." Bibi Mun bercerita penuh semangat.


"Lalu ?" Ucap Alanna di sela-sela menguyah buahnya.


"Nyonya besar sempat berpikir sebelum mengiyakan karena berpikir ini pertama kalinya mereka mengadakan acara besar di kediaman ini. Sebelum-sebelumnya mereka selalu membuat perayaan atau acara di salah satu hotel mereka."


"Memangnya banyak tamu yang akan di undang ?"


"Sepertinya begitu, mungkin semua rekan bisnis dan kerabat mereka."


"Berarti banyak juga." Gumam Alanna setengah melamun. "Aku sedikit trauma dengan acara seperti ini."


"Non Alanna, mau minum susu sekarang ?" tanya Bibi Mun mengalikan pembicaraan.


"Boleh Bi, buah nya juga sudah habis." Jawab Alanna mendorong mangkuk buah yang telah kosong.


Bibi Mun pergi membuatkan susu dan kembali ke meja dengan susu di tangannya.


"Ini Non, pesan Tuan muda harus langsung di habiskan." Ucap Bibi Mun seperti berbicara pada anak kecil.


"Iya, aku tahu Bi." Alanna patuh dan langsung meneguk habis susunya.

__ADS_1


__ADS_2