Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 79


__ADS_3

Alanna dan Sinta berjalan santai mengelilingi mall dengan Pak Risno yang mengikuti mereka dari belakang.


"Pak Risno tidak apa-apa mengikuti kami berdua ? Kalau lelah Pak Risno tunggu kami di mobil saja." Alanna berkata tidak enak dan kasihan melihat Pak Risno yang terus mengikuti.


"Tidak apa-apa Non Alanna, Tuan muda berkata kalau aku harus terus menemani kalian." Balas Pak Risno tersenyum.


"Mereka memang begitu, sangat patuh pada perintah kak Zack." Sinta berkata pada Alanna.


"Mereka ?" tanya Alanna bingung.


"Iya, maksudku kak Johan dan Pak Risno."


"O..." Alanna menyahut mengerti sambil angguk angguk kepala mengerti.


"Kita sekarang ke mana ?" tanya Sinta.


"Ke toko sepatu." Jawab Alanna.


"Oke."


Mereka masuk ke toko sepatu wanita dan mulai memilih. Alanna memilih dengan cepat karena tidak enak membuat Pak Risno terlalu lama menemani mereka.


"Kamu membeli tiga pasang sepatu?" tanya Sinta memastikan belanja Alanna ketika hendak membayar di meja kasir.


"Kebanyakan ya ?" Alanna bertanya balik, merasa bersalah dengan banyaknya belanjanya.


"Kenapa hanya tiga ?"


"Hah !" Alanna terkejut heran mendengar perkataan Sinta. "Masih kurang menurut kamu ?"


"Iya, aku kan sudah bilang kemarin waktu di Malaysia kalau kamu mesti beli banyak karena akan sering kamu pakai."


"Dasar pemikiran orang kaya memang beda dengan rakyat jelata." Gumam Alanna pelan.


"Apa kamu bilang ? aku kurang jelas mendengarnya."


"Bukan, bukan apa-apa." Ucap Alanna.


"Kamu tunggu di sini, aku pilihkan beberapa sepatu untukmu." Kata Sinta sebelum pergi ke rak sepatu.


"Belanjaan nya sudah ingin di hitung ?" tanya pelayan dibalik meja kasir.


"Tunggu dulu mba, ipar ku masih ingin menambah belanjaan."


"Baiklah." Kata pelayan itu tersenyum.


Tidak lama kemudian Sinta datang dengan beberapa jenis sepatu di tangannya.


"Menurut ku itu terlalu banyak Sinta." Komentar Alanna melihat banyaknya jumlah sepatu yang di bawa Sinta.


"Tidak usah protes, menurutku jumlah ini paling sedikit dari yang biasa aku beli." Ucap Sinta sambil meletakkan semua sepatu yang di pegannya di atas meja kasir. "Tolong di hitung Mba." Sinta berkata pada pelayan.


"Baik." Pelayan kasir mulai menghitung dan kemudian mengisi semua sepatu satu persatu ke dalam paper bag.


Alanna tidak berani bertanya jumlah nominalnya dan langsung memberi kartu kreditnya.


"Terimakasih Mba, lain kali datang kembali berkunjung." Ucap pelayan kasir ramah sambil mengembalikan kartu kredit Alanna.

__ADS_1


"Sama-sama." Balas Alanna.


Pak Risno dengan sigap langsung mengambil tas belanjaan di atas meja kasir.


"Masih mau ke mana lagi Non ?" tanya Pak Risno.


"Sudah tidak Pak Risno, kita langsung pulang saja." Jawab Alanna sebelum Sinta menyahut.


"Tidak ada lagi yang ingin kamu beli ?" tanya Sinta, mereka berjalan keluar dari toko.


"Tidak ada, aku juga sudah lelah lebih baik kita pulang saja." Alanna beralasan.


"Baiklah kalau begitu."


Dalam perjalanan pulang, handphone Alanna berbunyi. Alanna mengeluarkan handphone dari dalam tas nya, tertulis nama Zack di layar handphone.


"Hallo mas." Alanna berkata saat sambungan telepon terhubung.


"Kalian sudah di mana ?" Zack seperti biasa langsung bertanya tanpa embel-embel hallo terlebih dahulu.


"Ada di mobil, dalam perjalanan pulang." Jawab Alanna. "Mas sudah di mana ?" Alanna balik bertanya.


"Mas sudah di rumah." Jawab Zack. "Hati-hati di jalan pulang, mas tunggu di rumah."


"Iya." Kata Alanna sebelum sambungan telepon terputus.


Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah. Alanna dan Sinta keluar sedangkan Pak Risno turun dari kursi pengemudi langsung ke belakang membuka bagasi mobil, mengambil tas belanjaan mereka.


Alanna masuk ke dalam menuju ruang tamu tapi tidak melihat keberadaan Zack di sana.


"Non belanjaannya di letakkan di mana ?" tanya Pak Risno.


"Belanjaan ku langsung aku simpan di kamar." Ucap Sinta mengambil paper bag dari tangan Pak Risno.


"Terimakasih ya Pak Risno." Alanna tersenyum ramah.


"Sama-sama Non Alanna." Balas Pak Risno tersenyum.


"Bi Ijah." Panggil Alanna berjalan menuju dapur sedangkan Sinta langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.


"Iya Non Alanna." Sahut Bi Ijah muncul dari dalam dapur.


"Bi Ijah lihat mas Zack ?"


"Tuan muda ada di ruang kerjanya Non." Jawab Bi Ijah.


"Mas Zack sendiri di ruangannya ?"


"Tidak, Tuan muda sedang bersama Tuan Johan."


"Terimakasih Bi." Kata Alanna


"Iya Non."


Alanna berjalan menuju ruang kerja Zack, mengetuk pintu begitu tiba di depan pintu.


"Mas Zack !" Alanna memanggil sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


"Masuklah !" Zack berseru dari dalam.


Alanna membuka pintu setelah mendengar suara Zack dari balik pintu.


"Mas masih sibuk ?" tanya Alanna setelah masuk dan melihat Zack sedang duduk di kursi meja kerjanya sedangkan Johan duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Zack.


"Tidak, ada yang sedikit mas kerja sambil menunggu mu pulang." Jawab Zack seraya bangun dari duduknya, berjalan ke arah Alanna.


"Kalau begitu aku permisi dulu Tuan." Pamit Johan berdiri.


"Besok kita bicarakan kembali, Johan." Zack berkata.


"Baik Tuan." Johan berjalan menuju pintu, membuka dan penutup pintu dari luar.


"Kamu sudah makan ?" Zack bertanya, berdiri di depan memeluk pinggang Alanna.


"Belum mas, habis belanja kami langsung pulang." Jawab Alanna, di peluk Zack membuat Alanna refleks meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada Zack, memainkan kancing kemeja Zack.


"Kita makan dulu di rumah atau langsung pergi dan makan di luar."


"Kita makan di luar saja mas."


"Baiklah."


"Kita di antar Pak Risno ?" tanya Alanna.


"Iya, kenapa memangnya ?"


"Kita pergi berdua saja ya mas Zack, kasian Pak Risno baru datang sudah di suruh lagi. Belum lagi kita juga makan di luar."


"Baiklah biar mas yang mengemudi." Zack berkata mengalah.


Mereka keluar dari ruang kerja Zack, langkah Zack terhenti di depan meja ruang tengah dan melihat belanjaan Alanna.


"Ini belanjaan mu ?" Zack bertanya.


"Iya mas." Jawab Alanna ragu-ragu, takut jika Zack menegur banyaknya barang yang dia beli. "Sebenarnya tidak sebanyak ini hanya saja Sinta yang menambahkannya." Alanna menambahkan.


"Keputusan Sinta bagus." Kata Zack membuat Alanna sedikit terkejut. "Lebih baik kita pergi sekarang." Zack menambahkan.


Alanna tidak berkomentar lebih lanjut dirinya memilih diam, jujur dirinya belum terbiasa dengan pemikiran orang kaya seperti keluarga Zack.


Mereka langsung menuju pintu depan, mobil yang tadi Pak Risno bawa masih terparkir di depan rumah.


"Kamu ingin makan apa ?" tanya Zack sambil menoleh sebentar pada Alanna karena sedang mengemudikan mobil mereka di jalan raya.


"Entahlah, aku belum mencoba makan makanan lain selain yang biasa aku makan."


"Kalau begitu kita cari restoran yang menyediakan makanan mu."


-


-


-


-

__ADS_1


...tolong terus dukung author ya dengan cara like, coment dan vote terimakasih 😊...


__ADS_2