
"Seingatku selama ini, kak Zack adalah orang yang tenang dan berpikir rasional dalam menghadapi masalah, nanti sekarang ini aku melihat kak Zack yang panik dan tampak kacau." Sinta berbicara sambil melamun mengingat kejadian sebelum Zack pergi menyusul Alanna pulang ke Jakarta.
Johan tersenyum simpul seraya meminum kopinya mendengar perkataan Sinta. Mereka sedang duduk di sofa ruang tengah, keadaan kembali tentang setelah kepergian Zack balik ke Jakarta beberapa menit yang lalu.
"Menurut pendapat ku, itu reaksi yang normal dari seorang pria yang sedang mengkhawatirkan wanita yang di cintanya." Johan berpendapat.
Sinta menatap Johan. "Kak Johan juga akan bereaksi seperti itu ?" Sinta bertanya penasaran.
"Tentu saja, karenanya aku memaklumi keadaan Tuan Zack tadi." Jawab Johan meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Bagaimana dengan kak Johan ? saat ini ada wanita yang kak Johan khawatirkan seperti kak Zack yang mengkhawatirkan Alanna ?"
Johan terdiam mendengar perkataan Sinta, menatap serius pada Sinta yang menunggu jawabannya. "Ada, tapi wanita itu sepertinya tidak membutuhkannya." Jawab Johan misterius.
Perkataan Johan membuat Sinta sakit hati tapi di sembunyikan Sinta dengan kembali bertanya. "Kenapa kak Johan berkata seperti itu ? Wanita itu yang mengatakannya ?"
"Tidak, wanita itu tidak berbicara apa-apa, hanya keadaan yang mengatakan demikian." Johan berkata muram kembali meneguk kopinya.
"Kenapa kak Johan tidak bertanya langsung pada wanita itu ? Bisa saja ternyata keadaannya berbeda dari perkataan kak Johan."
"Entahlah." Ucap Johan misterius.
Sinta tidak meneruskan perkataannya. Sikap Johan yang kembali menutup pembicaraan membuat Sinta terdiam.
Dalam hati Sinta ingin menangis, untuk yang kesekian kalinya Johan membuatnya patah hati. Menoleh menatap kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan kota yang indah, tidak ingin Johan melihat raut wajahnya yang kecewa.
"Sudah larut malam, kamu masuklah ke kamarmu. Malam ini aku akan menemanimu di sini." Johan berkata memecah kesunyian.
"Kak Johan tidur di mana ?"
"Aku akan tidur di sofa."
"Kalau begitu aku bawakan kak Johan bantal dan selimut." Ucap Sinta seraya berdiri berjalan masuk ke kamar dan tidak lama muncul kembali dengan membawa bantal dan selimut.
"Terimakasih." Johan berkata, mengambil dari tangan Sinta bantal dan selimut. "Kamu istirahatlah." Tambah Johan.
"Baiklah." Ucap Sinta sebelum berbalik masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
ππππππππππππππππ
Zack memberhentikan mobil di depan pintu masuk rumah. Tidak lama pintu depan terbuka, mama Rani keluar menyambut mereka.
"Dari mana saja kamu nak ?" tanya mama Rani pada Alanna.
"Maaf membuat mama khawatir, aku hanya mampir sebentar ke apartemenku." Alanna berkata tidak enak, merasa bersalah membuat mama Rani khawatir.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, mama hanya khawatir jika terjadi apa-apa dengan mu." Ucap mama Rani kemudian menoleh pada Zack. "Bawa masuk istrimu Zack, ini sudah larut malam sekali dan dia pasti capek."
"Iya ma." Zack menyahut patuh, membawa Alanna masuk ke dalam di susul mama Rani yang menutup pintu rumah.
"Zack, mama tunggu di sini." Kata mama Rani saat mereka berjalan melewati ruang tengah. "Antar dulu Alanna ke kamar kalian, ada yang ingin mama bicarakan denganmu."
"Baik mama."
Mereka naik ke kamar mereka, Zack membuka pintu kamar membiarkan Alanna masuk lebih dulu.
"Kamu istirahatlah, mas ke bawa dulu menemui mama." Ucap Zack yang di balas anggukan kepala oleh Alanna.
Zack ragu mendekati Alanna melihat sikap Alanna yang masih menjaga jarak darinya tapi rindu Zack menyentuh tubuh Alanna tidak bisa di tahannya. Zack menarik Alanna ke dalam pelukannya, memeluk erat tubuhnya walaupun Alanna tidak membalas pelukannya.
Alanna hanya diam tidak menjawab, jujur dirinya tidak tahu harus berkata apa.
"Jangan lakukan hal ini lagi, jangan pergi tanpa memberi tahuku atau bersembunyi dariku. Kamu bisa marah, memaki atau bahkan memukulku tapi jangan pernah pergi dariku." Suara Zack tercekat seperti menahan tangis.
"Akan ku ingat mas tapi aku belum bisa berjanji."
"Ingat dan mulailah belajar untuk menepati janji padaku." Zack melepas pelukannya. "Mas menemui mama dulu." Tambah Zack, tanpa menatap wajah Alanna berbalik pergi.
Zack turun ke bawah, mama Rani menunggunya di temani papa Arian yang ternyata belum juga tidur.
"Kemarilah Zack." Panggil mama Rani melihat Zack berjalan ke arah mereka.
Zack duduk di sofa bergabung dengan mama Rani dan papa Arian.
"Alanna sudah tidur ?" tanya mama Rani.
__ADS_1
"Saya menyuruhnya untuk istirahat sebelum turun." Jawab Zack.
"Jadi di mana adik mu ?" tanya papa Arian.
"Masih di Malaysia pa, dia akan pulang besok dengan Johan memakai pesawat pribadi milik kita. Johan masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaan di sana sebelum kembali ke Jakarta." Zack menjelaskan.
"Begitu." Ucap papa Arian mengerti.
"Mama sebenarnya tidak ingin menggangu kehidupan rumah tangga kalian, hanya saja mama khawatir dengan hubungan kalian yang belum lama ini menikah tapi sudah sering bertengkar."
Zack hanya diam mendengar perkataan mama Rani.
"Kalau boleh mama tahu sebenarnya apa yang terjadi Zack ?" tanya mama Rani.
Zack terdiam beberapa saat sebelum berbicara. "Saat di Malaysia kami di undang Datuk Malik ke perjamuan makan malam di kediamannya dan entah bagaimana dan mungkin sudah di rencanakan hingga membuatku dan Alanna salah paham. Alanna sakit hati atas tindakanku yang tidak mempercayainya dan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Setelahnya mama sudah mengetahui ceritanya, Alanna pergi tanpa memberi tahuku." Zack berkata muram.
Mendengar perkataan Zack membuat mama Rani menghela napas panjang. "Zack dengarkan mama." Mama Rani berkata serius meminta perhatian Zack sepenuhnya.
"Mama tahu kamu masih trauma untuk mempercayai orang baru di dalam hidup mu sejak peristiwa dengan Mariana tapi Zack tidak semua orang sama dan kamu tahu itu. Alanna berbeda kita semua tahu itu dan kamu pasti lebih tahu. Dan itu juga pasti sebabnya kamu sampai mengakuisisi hotel beserta cabang-cabangnya hanya untuk dia, mama tahu itu.
"Zack, jangan hanya sampai masalah kecil atau karena orang lain sampai hubungan kalian dan usaha serta pengorbanan mu sampai sia-sia. Zack kau harus ingat istrimu sedang hamil dia mengandung anakmu, penerus keluarga Ibrahim." Mama Rani memberi nasehat panjang lebar.
"Benar apa yang di katakan mama mu Zack." Papa Arian ikut bersuara. "Kamu lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari istrimu jadi kamu yang harus lebih berpikiran logis dan harus lebih mengalah, jangan terbawa ego."
"Iya ma, pa, aku mengerti." Zack berkata patuh.
"Kembalilah ke kamarmu, kamu juga pasti lelah." Ucap mama Rani.
"Iya ma, aku naik dulu."
-
-
-
-
__ADS_1
...jangan lupa dukung author ya dengan cara like,coment, dan vote terimakasih βΊοΈβΊοΈ...