
Raut wajah Johan berubah tidak senang begitu masuk ke ruang tengah rumah keluarga Ibrahim.
Pemandangan di mana Sinta sedang tertawa mendengar entah apa yang sedang di katakan Putra Pratama.
Sinta menoleh lebih dulu begitu menyadari Putra begitu Johan membuka pintu dan bergeser sedikit memberi ruang untuk Zack lewat.
"Eh ! Kak Zack sudah pulang dari Surabaya ?" Sinta bertanya terkejut.
"Iya, tadi siang sampainya." Jawab Zack sebelum menoleh ke pada Putra Pratama.
"Kamu datang lagi, belum kembali ke Singapura ?" Zack menambahkan dengan nada tidak suka, terganggu dengan keberadaan Putra Pratama di rumahnya yang membuat Johan sedikit senang.
"Aku masih agak lama di Jakarta, Pak Zack tenang saja untuk pekerjaan di sana sudah ada asisten ku yang menghendel nya." Jawab Putra Pratama tersenyum.
"Baguslah kalau begitu karena aku mempercayakan mu untuk mengurus hotel di sana."
"Aku tahu Pak Zack, dan aku memahami maksud anda."
"Kamu ada acara besok malam ?"
"Tidak ada Pak Zack." Putra langsung menjawab tanpa berpikir.
"Kalau kamu sempat, aku mengundang mu untuk hadir di acara anniversary pernikahan orang tua."
"Tentu saja aku akan datang." Putra menjawab penuh semangat yang menurut Johan terlalu berlebihan yang sedari tadi hanya diam mengamati.
"Di buat di mana ?" Putra menambahkan.
"Di hotel pusat yang di Jakarta."
"Baik, aku pasti akan datang." Putra kembali mengulang perkataannya.
Zack mengangguk sebelum meneruskan langkah kakinya masuk ke dalam di ikuti Johan dari belakang.
Di ruang tengah Zack berhenti berbalik menghadap Johan.
"Kalau kamu terus diam tanpa ada pergerakan, dia akan di renggut oleh orang lain." Kata Zack tiba-tiba.
Johan terdiam sesaat sebelum menjawab." Apa maksud Tuan ? Aku tidak mengerti." Kata Johan berpura-pura tidak tahu apa maksud dari perkataan Zack.
Zack menggeleng kepala. "Kamu pasti tahu apa maksudku Johan. Tidak usah banyak berpikir sesuatu yang belum pasti terjadi jika kamu belum mencobanya. Jika sudah terlambat menyesal pun percuma." Zack memberi pesan.
Johan hanya terdiam tidak tahu harus berkata atau bereaksi bagaimana.
"Aku ke kamar dulu melihat Alanna, kamu bisa ke dapur dulu membuat kopi atau langsung ke ruang kerja, terserah kamu." Zack kembali berjalan menuju tangga lantai dua tanpa menunggu tanggapan dari Johan.
"Belum tidur sayang ?" Zack bertanya begitu masuk dan mendapati Alanna yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi.
__ADS_1
Alanna menoleh tersenyum menatap Zack. "Sedikit lagi mas, belum ngantuk."
Zack ikut bergabung duduk di sofa samping Alanna. "Mas tidak langsung mandi ?" tanya Alanna.
"Mas masih ada sedikit pekerjaan, mas hanya ingin melihat mu sebentar sebelum ke ruang kerja. Johan sedang menunggu di bawa."
"Jadi di buat di hotel mana acara anniversary Mama dan Papa ?"
"Kita buat di hotel pusat di Jakarta, di hotel kita yang lain sudah di boking untuk hari yang sama. Kalau dari beberapa hari yang lalu di rencanakan mungkin kita bisa memilih hotel mana yang di inginkan Mama untuk dibuat acara anniversary nya."
Alanna mengangguk mengerti. "Hmmm begitu, kalau undangan untuk tamu siapa yang mengurus ?"
"Tentu saja Mama dan Papa, mereka kan yang punya acara. Aku hanya mengurus tempatnya saja."
"Mas sungguh tidak apa-apa keluarga Mariana di undang di acara itu ?" Alanna bertanya dengan nada khawatir.
Zack tersenyum mendengar, mengulurkan tangan mengusap lembut pipi Alanna.
"Mas tidak apa-apa, keberadaan mereka tidak berpengaruh terhadap ku. Kamu tidak usah khawatir."
"Syukurlah kalau begitu." Kata Alanna lega.
"Mas kebawa dulu, kamu istirahat lah jangan tidur terlalu malam." Zack berkata sambil berdiri.
"Iya mas."
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Ruang acara mulai di datangi para tamu undangan. Tamu undangan terdiri dari keluarga, kerabat, teman dan rekan bisnis keluarga Ibrahim.
Para tamu undangan yang datang langsung memberikan selamat pada Mama Rani dan Papa Arian.
Alanna dan Sinta memilih duduk di kursi meja yang berada di dekat panggung pemain musik sedangkan Zack dan Johan menanggapi tamu yang ingin mengajak berbicara.
"Kamu tidak mengundang temanmu untuk datang ke sini ?" tanya Alanna pada Sinta karena cuman mereka yang tidak di ajak berbicara dengan salah satu tamu undangan yang rata-rata berumur lebih tua dari mereka berdua.
"Tidak, untuk apa juga mereka datang di acara yang beginian kalau pun datang belum satu jam mereka pasti bosan dan minta untuk pulang lebih awal." Sinta berkata dengan nada malas.
Alanna menghela nafas panjang. "Betul juga yang kamu katakan, kita berdua saja seperti berada di dunia lain dengan mereka."
"Kamu tidak bergabung dengan kak Zack di sana ?" tanya Sinta sambil menunjuk ke arah Zack dengan dagunya.
"Aku malas ke sana kalau mas Zack tidak memanggil soalnya yang mereka bicarakan hanya masalah pekerjaan, aku di sana pun pasti di cuek sama mereka."
"Kita berdua punya nasib yang sama." Kata Sinta, mereka menghela nafas panjang bersamaan.
Alanna mengamati para tamu undangan dan perhatiannya teralih pada tamu yang baru saja masuk.
__ADS_1
Alanna mencolek lengan Sinta meminta perhatian. "Sinta coba kamu lihat tamu yang baru masuk."
Sinta mengikuti arah pandangan Alanna. "Itu Maya."
"Dan siapa wanita yang dengan nya ?"
"Itu Mama nya."
"O...." Alanna mengangguk-angguk mengerti.
"Dia pasti tidak ingin kehilangan kesempatan datang di acara seperti ini."
"Maksudmu ?" tanya Alanna bingung mengerutkan kening.
"Mencari target sasaran baru jika kak Zack tidak menggubrisnya. Di acara ini banyak sasaran empuk, banyak pengusaha kaya yang datang di acara ini." Tebak Sinta.
"Bagaimana dengan mu ? Kamu tidak berminat mencari pasangan di acara ini ?"
"Malas sedangkan Kak Johan tidak melirik ku apalagi orang lain."
"Bukannya ada Putra Pratama yang sedang melakukan pendekatan dengan mu ?"
"Entahlah, aku tidak memiliki perasaan khusus terhadap nya." Sinta berkata muram.
Alanna hanya terdiam, merasa kasihan pada Sinta tapi tidak tahu harus berkata apa.
Di tempat lain Zack yang sedang berdiri berbicara dengan rekan bisnisnya memantau ke adaan Alanna yang duduk dengan Sinta di meja dekat panggung musik. Terkadang Zack tersenyum simpul sendiri melihat tingkah Alanna yang sibuk berbicara dengan Sinta, entah apa yang mereka perbincangkan.
"Mana istrimu Zack ?" rekan bisnis Zack tiba-tiba bertanya di sela percakapan mereka.
"Di sana, sedang duduk dengan adik perempuan ku." Jawab Zack sambil menunjuk ke tempat Alanna duduk.
"Kenapa tidak kamu panggil ke sini, biarkan kita mengenalnya." Ucap salah satu rekan bisnisnya.
Zack tersenyum simpul. "Biarkan dia di sana, istriku tidak bisa terlalu lama berdiri." Tolak Zack halus tidak ingin orang lain memperhatikan istrinya.
"Kenapa ? Istrimu sedang sakit ?"
Zack menggeleng kepala. "Tidak, dia sedang hamil jadi gampang lelah jika terlalu lama berdiri."
"Wah ! Kabar mengejutkan ! Selamat Zack tidak lama lagi kami akan menjadi seorang Ayah." Kata salah satu rekan bisnisnya.
"Iya, kamu menyembunyikannya kabar bagus seperti ini." Rekan bisnisnya yang lain ikut bersuara.
Zack tersenyum simpul. "Bukan menyembunyikan, hanya belum ada kesempatan dan waktu memberitahu kalian."
Sementara di tempat lain tidak jauh dari mereka, ada Maya yang sedang menguping pembicaraan mereka dan tentunya juga terkejut mendengar perbincangan Zack dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1