Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 84


__ADS_3

Pukul tiga sore mereka keluar dari hotel menuju rumah Alanna. Alanna menelepon Ibu nya dalam perjalanan ke rumahnya. Telepon tersambung pada dering ke tiga.


"Hallo Ibu ?" Ucap Alanna sambil menekan tombol loudspeaker di layar handphonenya.


"Hallo nak, tumben menelepon Ibu jam begini."


"Aku dalam perjalanan ke rumah."


"Kamu baru pulang dari kantor ?" Ibu bertanya, mengira Alanna dalam perjalanan pulang dari hotel menuju apartemennya.


Alanna tersenyum mendengar perkataan Ibunya. "Tidak Ibu, aku dalam perjalanan pulang ke rumah di Surabaya." Alanna mengoreksi.


Terkejut Ibu mendengar perkataan Alanna yang tiba-tiba mengatakan sedang berada di Surabaya. "Kenapa tidak mengabari Ibu kalau kamu akan pulang ?"


"Aku menelepon sekarang ini bukan kah sama dengan memberi tahukan Ibu ?"


"Iya kamu betul tapi maksud Ibu dari beberapa hari sebelum kamu akan pulang nak." Ibu menjelaskan maksud perkataannya.


"O... itu maksud Ibu." Alanna menyahut mengerti.


Zack yang mengemudikan mobil hanya diam mendengar percakapan mereka.


"Ibu ada di rumah kan ?" Alanna bertanya.


"Ibu sedang di luar nak."


"Ibu di mana ?"


"Ada di pasar, membeli keperluan dapur."


"Kunci rumah Ibu bawa ? tidak Ibu simpan di tempat biasa di teras rumah ?"


"Ibu membawanya nak, sejak kamu di Jakarta Ibu sudah tidak pernah meletakkan kunci rumah di situ."


"Sayang, kita ke pasar menjemput Ibu." Bisik Zack menyela percakapan mereka.


Alanna mengangguk menyetujui. "Ibu, kami akan ke pasar menjemput Ibu." Ucap Alanna pada Ibu.


"Kami ? Kamu tidak pulang sendiri ?" Tanya mama.


"Iya Ibu, aku pulang di temani mas Zack."


"Begitu ya."


"Aku matikan dulu teleponnya, akan aku telepon kembali kalau sudah sampai di depan pasar."


"Iya baiklah." Kata Ibu sebelum mematikan sambungan telepon.


"Kita ke arah mana ?" tanya Zack.


"Mas masih ingat pasar yang lalu kita datangi berdua sebelum balik ke Jakarta ?" Alanna bertanya balik.


Zack mengingat sejenak sebelum mengangguk. "Iya mas masih ingat."

__ADS_1


"Kita ke pasar itu."


"Oke." Zack kemudian membelokkan mobilnya menuju arah pasar yang di maksud Alanna.


Zack memarkirkan mobil di depan pasar sesuai arahan dari Alanna.


Alanna kembali menelepon Ibu untuk memberitahukan di mana mereka menunggu. Tidak lama kemudian terlihat Ibu keluar dari dalam pasar, berjalan mendekati mobil mereka.


Melihat Ibu yang mendekat, Alanna langsung ke luar dari dalam mobil di susul Zack yang langsung mengambil kentongan belanjaan dari tangan Ibu dan memasukkannya di dalam bagasi belakang mobil.


"Banyak juga belanjaannya Ibu." Ucap Alanna.


"Itu kebutuhan selama dua minggu."


"Langsung mau pulang ?" tanya Zack setelah menyimpan belanjaan.


"Iya nak Zack, kita langsung pulang saja."


"Baiklah, Alanna dan Ibu bisa duduk di kursi belakang." Zack membukakan mereka pintu belakang mobil.


Ibu masuk lebih dulu kemudian di susul Alanna setelah mereka masuk Zack langsung menutup pintu mobil dan melangkah ke depan untuk membuka pintu mobil bagian pengemudi. Zack melirik kaca spion di depannya memastikan mereka sudah duduk nyaman sebelum menghidupkan mobil.


"Kamu tidak merepotkan Nak Zack ?" tanya Ibu dalam perjalanan mereka ke rumah.


"Merepotkan apa ?" Alanna mengerutkan kening tidak mengerti maksud perkataan Ibu.


"Nak Zack pasti ikut jika kamu pulang ke sini sama saat pertama kali kamu datang, bagaimana jika dia sedang sibuk bekerja."


"Tidak apa-apa Ibu, aku yang memaksa untuk menemani Alanna jadi aku sudah mengatur jadwalku sebelum ke sini." Zack menyakinkan Ibu.


Zack memberhentikan mobil di depan rumah Alanna. Mereka keluar bersamaan dari dalam mobil menuju pintu depan rumah. Tidak lama berdiri menunggu Ibu yang sedang membuka kunci pintu depan.


"Masuklah kalian." Kata Ibu sambil mendorong pintu untuk masuk ke dalam yang di susul Alanna dan Zack dari belakang.


"Belanjaan ini di simpan di mana ?" tanya Zack.


"Letakkan di meja dapur saja nak." Jawab Ibu tersenyum ramah.


"Baik Bu." Zack melangkah menuju dapur untuk meletakan belanjaan Ibu dari pasar.


Pandangan Ibu teralih pada Alanna yang tidak membawa apa-apa selain tas tangan yang di pegang nya ."Ibu baru sadar kalau kamu tidak membawa koper, kamu akan bermalam bukan ?"


"Ibu tidak ingat kalau terakhir aku ke sini saat kembali ke Jakarta tidak membawa apa-apa, jadi pakaian ku banyak di dalam lemari pakaian yang ada di dalam kamarku." Alanna mengingatkan.


"Betul kah ? Ibu tidak mengingatnya. Ibu tidak membuka lemari pakaianmu saat merapikan kamar mu jadi Ibu tidak tahu kalau masih banyak pakaian di dalam lemari mu."


Zack kembali dari dapur setelah meletakkan belanjaan. Ibu menoleh menatap Zack.


"Kamu ingin minum apa Nak Zack ? Ibu akan buatkan."


"Aku kopi saja Bu." Jawab Zack.


"Biarkan aku saja yang buatkan kopi untuk mas Zack." Alanna menawarkan diri berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


Zack mendekati Ibu dengan wajah yang berubah serius.


"Ibu masih ada pekerjaan yang ingin di kerjakan ?" Zack bertanya.


"Sebenarnya ada, Ibu ingin merapikan belanjaan yang tadi. Kenapa nak ? ada yang ingin kamu bicarakan ?" tanya Ibu penasaran melihat raut wajah Zack yang serius.


"Iya Ibu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ibu tentang sesuatu hal yang serius.


"Kita duduk dulu nak." Ajak Ibu berjalan menuju kursi yang berada diruang tengah.


Ibu duduk lebih dulu kemudian Zack menyusul duduk di kursi yang berada di depan Ibu.


"Ada apa nak Zack ?"


"Ini tentang aku dan Alanna Bu." Zack mulai membuka pembicaraan.


"Ya kenapa dengan kalian ?"


"Sebenarnya aku dan Alanna telah lama menikah secara Hukum dan Agama." Kata Zack pelan dan tegas.


Hening, Ibu terdiam mendengar perkataan Zack reaksi pertama terlihat hanya raut wajah terkejut dari Ibu.


Perhatian keduanya teralihkan melihat Alanna yang berjalan mendekat dengan secangkir kopi di tangannya.


"Ini mas Zack kopi mu." Alanna meletakkan cangkir kopinya di meja dengan Zack dan ikut duduk bergabung bersama Zack dan Ibu.


Ibu menatap Alanna serius ."Betul itu nak yang di katakan nak Zack kalau kalian telah menikah tanpa sepengetahuan Ibu ?"


Alanna yang telah menyiapkan mental untuk sekarang ini mengangguk mengiyakan. "Iya Ibu, betul apa yang di katakan mas Zack." Alanna berkata berusaha untuk tenang.


"Kenapa sesuatu hal yang baik harus di rahasiakan ?" Ibu bertanya dengan nada tidak suka entah pada siapa diantara mereka berdua.


"Ibu ini bukan salah mas Zack, mas Zack tidak ingin pernikahan kami di sembunyikan sebenarnya aku yang memaksa mas Zack untuk setuju pernikahan ini di rahasiakan dari Ibu." Alanna berkata jujur tidak ingin Zack di salahkan karena perbuatannya.


"Kenapa kamu ingin menyembunyikan hal penting seperti ini dari Ibu, nak ?" Ibu bertanya tidak habis pikir Alanna akan berbuat hal seperti itu.


Alanna hanya menunduk merasa bersalah. "Maaf Ibu."


"Jangan sepenuhnya menyalahkan Alanna Bu, aku yang lebih dewasa umur dan pemikiran seharusnya tidak menyetujui keinginan Alanna saat itu. Seharusnya aku menemui Ibu untuk melamarnya, hanya saja saat Alanna mengatakan dia setuju dengan persyaratan itu membuatku terpaksa mengiyakan dan berencana akan memberi tahukan Ibu setelahnya.


"Tapi saat pertama bertemu kesehatan Ibu sedang tidak baik membuat ku berpikir untuk menunda memberi tahukan Ibu tentang pernikahan kami karena mengingat kondisi kesehatan Ibu." Zack menjelaskan.


"Kamu punya orang tua nak Zack ?" Ibu bertanya masih dengan raut wajah tidak senang karena telah di bohongi.


"Ada Bu."


"Masih hidup semua ?"


"Iya Bu, Papa dan Mama masih hidup."


"Mereka hadir di pernikahan kalian ?"


"Iya Bu, mereka hadir karena pernikahan kami di urus oleh kedua orang tuaku dan di selenggarakan di rumah kami."

__ADS_1


Ibu mengerutkan kening karena heran dengan perkataan Zack. "Mereka tidak mempertanyakan kenapa orang tua Alanna tidak hadir ?"


__ADS_2