
"Hari ini ada jadwal pertemuan di luar ?" tanya Zack menutup laptopnya.
"Tidak ada Tuan." Jawab Johan.
"Bagus, hari ini bisa pulang lebih awal."
"Tapi besok lusa anda memiliki jadwal ke Malaysia untuk mengawasi proyek di sana."
Zack terdiam berpikir mendengar perkataan Johan. "Sepertinya saya harus membawa Alanna ikut bersamaku." Kata Zack beberapa saat kemudian.
"Bukan sebaiknya anda lebih dulu berkonsultasi dengan Dokter kandungan Nona Alanna jika ingin membawanya ikut ?" Saran Johan.
"Kau benar Johan, saya harus menelepon dr. Rosa perihal bisa tidak Alanna naik pesawat." Zack membenarkan perkataan Johan. "Hampir saja saya melupakannya." Kata Zack tiba-tiba.
"Apa itu Tuan ?" tanya Johan penasaran.
"Tolong kau hubungi pihak dapur hotel."
"Untuk apa Tuan ?"
"Suruh mereka untuk mengirim persediaan buah di hotel ini ke rumah, masing-masing dua kilogram dari semua jenis persediaan buah di hotel ini."
"Kalau boleh tahu untuk apa buah sebanyak itu Tuan."
"Alanna dari pagi hanya ingin makan buah saja, saya tidak yakin persediaan buah di rumah cukup melihat ***** makan buahnya yang tinggi sejak tadi pagi." Zack menjelaskan. "Dan ingatkan saya saat pulang untuk singgah di supermarket, mama menyuruhku untuk membeli susu untuk Alanna."
"Baik Tuan, hanya itu saja ?"
"Ada satu lagi !" Zack berkata dengan nada sedikit tinggi membuat Johan terkejut.
"Apa itu Tuan." Johan berkata, dengan sabar menghadapi kerepotan Tuannya.
"Suruh seseorang untuk membelikan saya televisi."
"Ukuran berapa inch ?"
"Ukuran 32 inch dan langsung kirim ke alamat rumahku."
"Baik Tuan, masih ada lagi ?"
"Sudah tidak ada, kau boleh pergi." Kata Zack, Johan berbalik pergi untuk melaksanakan pekerjaan yang di perintahkan Zack.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sarapan pagi ini Alanna hanya memakan selembar roti yang di oleskan selai strawberry dan semangkuk buah yang di potong-potong kecil.
"Kau harus makan makanan selain buah, sayang." Zack mengomentari pola makan Alanna.
"Tidak selera mas." Kata Alanna di sela-sela menguyah buahnya.
"Buah yang ada di kulkas sudah habis dari tadi malam karena Alanna hanya memakan itu. Untung kau berpikir mengirim buah dari hotel karena rencananya baru pagi ini mama akan menyuruh Bibi berbelanja buah kalau tidak pagi ini istrimu tidak bisa makan." Kata mama Rani.
"Alanna lagi ngidam makan buah ?" Sinta menyahut melihat Alanna yang sedang makan menikmati buahnya yang sisa setengah mangkuk.
"Sepertinya begitu." Kata mama Rani sambil menatap menantunya yang tersenyum padanya.
"Kalau mama waktu hamil mas Zack dan Sinta pernah ngidam juga ?" tanya Alanna penasaran.
__ADS_1
"Mama waktu hamil Zack tidak ngidam apa-apa hanya tidak menyukai aroma yang tajam sedangkan saat hamil Sinta, mama suka sekali makan martabak manis." Papa Arian yang menjawab pertanyaan Alanna.
Mama Rani tersenyum mendengar perkataan papa Arian.
"Wah ! hebat, papa masih ingat." Sinta berkata penuh semangat.
"Tentu papa masih ingat, anak papa kan cuman kalian."
Zack menoleh pada Alanna. "Sesudah ini kau harus meminum susu mu." Zack mengingatkan.
"Iya mas." Alanna menyahut patuh.
"Alanna, siang ini saya jemput ya ? kita makan di luar." Sinta mengajak Alanna. "Ada restoran yang menyediakan salad buah yang enak, mungkin kau suka." Sinta menambahkan.
"Boleh, saya tunggu jam makan siang." Alanna menyahut bersemangat.
"Sinta hati-hati jika bersama dengan kakak ipar mu, kau tahukan dia sedang hamil." Zack mengingatkan dengan nada tegas.
Sinta memutar bola matanya mendengar perkataan Zack. "Saya tahu kak Zack, saya ini bukan anak kecil, saya tahulah mesti hati-hati."
"Bagus." Kata Zack.
"Permisi Tuan muda, Pak Johan sudah menunggu anda di ruang tengah." Kata Bibi menyela pembicaraan mereka.
"Baik, terimakasih Bi." Kata Zack.
"Kita di jemput Johan ke hotel mas ?" tanya Alanna setelah selesai meminum susunya.
"Iya karena Pak Risno mau mengantar Bibi Ijah pergi berbelanja."
Sinta tersedak air minum mendengar perkataan Alanna. "Sudah lama di sini kau tidak tahu siapa Bibi Ijah ?" tanya Sinta heran.
"He eh." Jawab Alanna.
"Ha ha ha ha !" Picah suara tawa Sinta dan kekehan geli dari papa Arian dan mama Rani.
Zack hanya tersenyum melihat tingkah polos istrinya.
"Kalau Bibi Mun ?" tanya Sinta kembali, berusaha berbicara di sela-sela tawa nya.
"Tidak tahu juga." Alanna kembali menjawab, mulai merasa bersalah karena sedikit tidak peduli dengan orang di sekitarnya.
"Ha.. ha.. ha.. !" Sinta kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Sudah-sudah." Zack berbicara menengahi, merasa kasian melihat raut wajah Alanna. "Yang Sinta katakan itu nama-nama Bibi yang bekerja di sini. Bibi yang tadi berbicara itu namanya Bi Ijah sedangkan yang kemarin membantumu mengupas buah namanya Bi Mun." Zack menjelaskan pada Alanna.
"Maaf, saya terbiasa hanya memanggil Bibi dan tidak pernah kepikiran untuk menanyakan nama mereka." Alanna memberi penjelasan, memasang raut wajah bersalah.
"Sudah Sinta, kau tertawa begitu kasian Alanna nya." Mama Rani juga bersuara, menegur Sinta yang masih terkekeh geli.
"Maaf-maaf, soalnya Alanna lucu sih !" Kata Sinta penuh semangat.
Zack bergerak bangkit berdiri. "Kita sebaiknya berangkat sekarang, Johan sudah menunggu kita dari tadi." Kata Zack pada Alanna.
"Iya mas." Alanna juga ikut berdiri.
" Alanna jangan lupa ya ? siang ini saya jemput." Kata Sinta mengingatkan Alanna.
__ADS_1
"Iya." Ucap Alanna sebelum pergi menyusul Zack yang telah keluar lebih dulu.
Mobil yang di kemudikan Johan berhenti tepat di depan pintu hotel.
Zack keluar lebih dulu baru kemudian Alanna dengan bantuan Zack. Hari ini para staf hotel yang berada di lobby hotel yang melihat kedatangan mereka tidak bereaksi terlalu heboh seperti kemarin membuat Alanna sedikit lebih lega.
Zack mengantar Alanna sampai di depan pintu ruangannya.
"Jangan bekerja terlalu keras." Pesan Zack.
"Iya mas, saya tahu."
"Kalau butuh apa-apa hubungi mas atau Johan."
"Iya."
"Kalau begitu mas naik ke ruangan dulu." Pamit Zack yang di balas anggukan kepala oleh Alanna sebelum berbalik pergi menuju lift khusus.
Alanna masuk ke dalam ruangannya, baru hendak duduk di kursinya terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk !" Alanna menyahut, penasaran dengan orang yang pagi-pagi mencarinya.
Pintu terbuka nampak Pak Ariel muncul dari balik pintu.
"Masuk Pak Ariel." Kata Alanna melihat Pak Ariel yang ragu untuk masuk. "Ada masalah Pak ?" tanya Alanna penasaran melihat tingkah laku aneh Pak Ariel yang sudah duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Begini..... ." Kata Pak Ariel ragu-ragu untuk berbicara.
"Ya ? kenapa Pak ?" Ucap Alanna.
"Begini, pertama jujur saya tidak tahu harus memanggilmu dengan apa." Pak Ariel bersuara.
"Seperti biasa saja Pak Ariel, seperti kemarin-kemarin Pak Ariel memanggilku." Ucap Alanna heran dengan kening berkerut.
"Tidak mungkin lah !, mengingat statusmu." Pak Ariel berkata heboh.
Mendengar perkataan Pak Ariel membuat Alanna mulai mengerti dengan sikap Pak Ariel ke padanya sekarang ini.
"Kalau begitu Pak Ariel bisa memanggilku seperti Johan memanggilku. Biasanya Johan memanggilku dengan panggilan Nona Alanna." Saran Alanna tersenyum pada Pak Ariel.
"Baiklah Nona Alanna." Ucap Pak Ariel. "Saya kemari karena ingin meminta maaf untuk perkataan ku yang kemarin pagi."
"Memangnya kenapa dengan perkataan anda yang kemarin ?" tanya Alanna heran.
"Perkataan ku yang mengatakan kau bercanda mengatakan dirimu istri Bos kita." Kata Pak Ariel memperjelas dengan raut wajah bersalah.
"O.... yang itu." Kata Alanna teringat. "Tidak apa-apa Pak Ariel, saya memakluminya. Pak Ariel tidak usah merasa bersalah dengan hal itu." Alanna menambahkan, tersenyum ramah.
"Syukurlah kalau anda berpikir seperti itu." Pak Ariel berkata lega.
"Saya tahu tidak ada maksud apa-apa dari perkataan Pak Ariel kemarin." Alanna menenangkan. "Pak Ariel tenang saja, saya tidak mengatakan apa-apa pada mas Zack, kalau itu juga yang Pak Ariel khawatirkan."
Pak Ariel tersenyum lega mendengar perkataan Alanna. "Baguslah."
"Masih ada lagi yang Pak Ariel ingin bicarakan ?"
"Tidak ada kalau begitu saya permisi dulu, tidak lagi menggangu." Pak Ariel bangkit berdiri, keluar dari ruangan dan menutup pintu dari luar.
__ADS_1