Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 46


__ADS_3

Mereka berjalan melewati lorong menuju pintu depan Rumah Sakit.


"Kau ingin makan apa malam ini ?" Zack bertanya pada Alanna.


"Makan apa ya ?" Ucap Alanna sambil berpikir setelah sebelumnya memesan taksi online melalui aplikasi di dalam handphone miliknya. "Bagaimana kalau makan bakso." Saran Alanna pada Zack.


"Bakso ?" Zack bertanya dengan wajah heran.


"Iya, tiba-tiba saja kepingin makan bakso." Alanna berkata sambil tersenyum. "Jangan bilang mas Zack tidak pernah makan bakso." Kata Alanna curiga.


"Pernah lah." Jawan Zack ragu-ragu.


Perkataan Zack membuat Alanna sedikit tidak percaya. "Kapan mas terakhir makan ?"


"hmmm......." Zack bergumam sambil berpikir. "Kalau tidak salah saat kuliah." Jawab Zack akhirnya.


"Hah !" Alanna berkata spontan terheran-heran. "Mas Zack, kalau tidak salah mas bilang tadi pagi saat masih kuliah itu dua belas tahun yang lalu. Jadi dua belas tahun yang lalu terakhir kali mas makan bakso ?!" Alanna menganalisa dan terkejut.


"Wah.... sudah lama juga ya ?" Zack berkata, kepikiran juga ternyata sudah begitu lama.


"Jadi malam ini kita makan bakso saja ya ?" tanya Alanna saat telah berada di depan pintu masuk Rumah Sakit sambil mencari mobil taksi yang telah dia pesan.


"Terserah kau saja." Zack berkata pasrah kebetulan juga ingin merasakan kembali nikmatnya makan bakso.


"Kalau begitu sepakat." Kata Alanna, mencari dan menemukan mobil taksi yang di pesannya. "Itu mobil taksinya mas." Alanna menunjuk mobil yang terparkir agak jauh dari mereka berdiri.


"Apa lebih bagus kalau menyuruh Johan untuk mengantar mobil ke sini ? sepertinya agak repot kalau setiap keluar harus memesan taksi." Zack berkata saat mereka berjalan menuju taksi yang Alanna pesan.


"Bukannya Johan masih ada di Singapura ?"


"Tadi sore dia sudah sampai di Jakarta." Jawab Zack, membuka pintu mobil dan mempersilahkan Alanna untuk masuk lebih dulu baru kemudian dirinya.


"Kasihan Johan baru sampai dan pasti masih capek tapi sudah di suruh ke Surabaya hanya untuk mengantar mobil kemudian kembali lagi ke Jakarta." Kata Alanna saat sudah duduk di kursi belakang bersama Zack.


"Bukan Johan juga yang harus antar, diakan bisa menyuruh orang."


"Lalu saat pulang ke Jakarta nanti bagaimana dengan mobilnya ? Bukannya mas ke sini dari Singapura naik pesawat pribadi dan sekarang pesawat itu ada terparkir di bandara." Alanna berkata. "Sepertinya lebih repot lagi mas, mending begini saja. Tidak usah merepotkan banyak orang." Alanna menambahkan.


"Mereka kan di bayar untuk itu." Zack berkata ngotot.


"Iya, iya saya tahu."


"Mau ke mana Mas dan Mbak nya ? " tanya sopir taksi, menyela pembicaraan mereka.


"Pak, tahu tempat makan yang jualan bakso enak di dekat sini ?" tanya Alanna balik.


"Tahu, Mbaknya mau makan di sana ?"


"Iya Pak, tolong antar kan ke sana ya ?"


"Boleh Mbak." Jawab Pak sopir taksi dan mobil bergerak ke jalan raya menuju tempat tujuan yang hanya Pak sopir taksi yang tahu.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan yang sederhana tapi terlihat rapi dan bersih dari luar.


"Terimakasih Pak." Kata Alanna sambil membayar sewa taksi.


"Sama-sama Mbak, mau saya tungguin untuk pulang ?" tanya sopir taksi ramah.


"Boleh Pak kalau mau menunggu." Jawab Alanna dengan senang hati.


"Akan saya tunggu tapi tetap harus pesan lewat aplikasi ya Mbak." Kata Pak sopir taksi mengingatkan.

__ADS_1


"Ah ! iya pak, saya akan pesan sebelum naik mobil saat pulang nanti." Kata Alanna sebelum masuk ke dalam rumah makan bersama dengan Zack.


Rumah makan itu ternyata memiliki banyak pengunjung, beberapa kursi kosong yang tersedia berada di dekat jendela dan mereka menuju kursi yang kosong itu. Tidak lama mereka duduk datang pelayan membawa makanan.


"Kami pesan dua bakso dan jus jeruk saja." Alanna memesan makanan.


"Hanya itu ?" tanya pelayan.


"Iya, hanya itu." Jawab Alanna dan pelayan itu berbalik pergi ke dapur membawa pesanan makanan mereka.


"Ibu belum menyadari cincin kawin mu ?" tanya Zack saat melihat kebiasaan baru Alanna yang suka memutar memainkan cincin kawin di jari manisnya.


"Ibu sudah menyadari nya, tadi sore saya melihat dia menatap lama ke arah telapak tanganku." Alanna bercerita. "Sepertinya tidak lama lagi dia pasti akan bertanya karena penasaran."


"Kalau dia bertanya bilang saja cincin itu pemberian dari saya." Zack memberi saran.


"Baiklah, akan saya katakan seperti itu."


Pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Alanna menambahkan sedikit kecap dan saos tomat pada bakso di depannya, mengaduk sebentar dan memberikannya pada Zack, mengambil bakso yang ada di depan Zack untuk dirinya.


"Bagaimana, enak ?" tanya Alanna saat melihat Zack mencicipi baksonya.


"Enak." Jawab Zack singkat.


Alanna mulai memakan baksonya tapi tiba-tiba rasa mual datang saat tidak sengaja menggigit bawang goreng yang tercampur di dalam bakso.


"hooek !." Alanna langsung membekap mulutnya.


"Kenapa Alanna ?" tanya Zack khawatir dan menyodorkan gelas berisi air putih.


Alanna segera meminumnya. "Tiba-tiba muncul rasa mual mas." Alanna berkata sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Kau tidak enak badan ?" tanya Zack lagi sambil meletakkan telapak tangan di dahi Alanna, mengecek suhu tubuhnya.


"Kau sudah tidak ingin makan ?"


"Sudah tidak mas, sudah tidak berselera."


"Jadi ingin pulang sekarang ?"


"Mas sudah tidak ingin makan ?"


"Tidak, lebih baik kita cepat pulang agar kau bisa istirahat." Zack memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka, memberikan selembar uang berwarna merah.


"Kembaliannya pak." Kata pelayan saat melihat Zack dan Alanna yang hendak pergi.


"Tidak usah, untuk kau saja kembaliannya." Ucap Zack.


"Terimakasih pak." Kata pelayan itu tersenyum.


Zack hanya mengangguk dan pelayan itu pergi melayani tamu yang lain. Zack membantu Alanna berdiri. "Masih ingin muntah ?" tanya Zack.


"Sudah tidak tapi rasa mual masih ada."


Zack memeluk pinggang Alanna, berjalan menuju taksi yang menunggu mereka. Di dalam taksi menuju ke Rumah Sakit, Zack mengelus lembut belakang Alanna untuk mengurangi rasa mual yang dirasakan Alanna.


"Kenapa cepat sekali kalian pulang ?" tanya Ibu saat mereka muncul di dalam kamar perawatan.


"Alanna tidak enak badan." Jawab Zack, membawa Alanna untuk duduk di sofa. "Mungkin lebih baik kau pulang malam ini, kau tidur di rumah saja dulu untuk malam ini." Saran Zack pada Alanna.


"Iya Nak betul yang di katakan Zack, lebih baik kau pulang tidur di rumah saja untuk malam ini." Ibu berkata, setuju dengan perkataan Zack.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu, Alanna sudah sedikit enakan." Alanna menolak.


"Ibu sudah baikan kalau kau mengkhawatirkanku, di sini juga ada perawatan yang menjaga. Lebih repot lagi kalau kita berdua sama-sama sakit." Ibu meyakinkan.


"Baiklah, Alanna pulang ke rumah dulu kalau begitu." Alanna terpaksa mengalah.


"Saya akan mengantarmu pulang." Ucap Zack bangkit berdiri di susul Alanna.


"Kalian hati-hati di jalan." Pesan Ibu.


"Iya, kami pulang dulu." Pamit Zack.


Saat tiba di rumah, Alanna langsung menuju kamarnya.


"Kau ingin minum sesuatu ?" tanya Zack pada Alanna.


"Tidak mas." Jawab Alanna duduk di samping tempat tidur. "Mas tidak lapar ? tadi mas makan hanya sedikit."


"Saya bisa makan di hotel saat pulang nanti." Zack berkata. Duduk di kursi meja rias, menghadap Alanna.


"Mas belum pulang ? saya sudah baikan, rasa mualku sudah hilang."


"Baguslah kalau begitu." Zack berkata lega. "Istirahatlah lebih awal malam ini."


"Iya, setelah mas pulang saya akan langsung tidur."


"Jangan membuat ku khawatir."


"Iya."


"Kalau begitu mas pulang dulu." Zack bangkit berdiri.


"Iya." Alanna berdiri ingin mengantar Zack ke depan.


"Tidak usah mengantar ku, kau berbaring saja."


"Tapi pintunya siapa yang kunci saat mas pulang ?"


"Kunci yang tergantung di dinding samping pintu depan itu kunci serep ?" tanya Zack tiba-tiba.


"Iya." Jawab Alanna heran.


"Mas pinjam kunci serep nya, nanti mas yang kunci pintu dari luar."


"Iya, baiklah kalau begitu."


Zack bergerak mendekati Alanna, menunduk mengecup singkat bibir Alanna dan mencium sedikit lebih lama keningnya.


"Tidur lah, mas pulang dulu." Pamit Zack kembali.


Alanna hanya mengangguk, masih terkejut dengan kecupan dari Zack yang tiba-tiba, kecupan pertama sejak mereka menikah. Zack keluar dan menutup pintu kamar dari luar meninggalkan Alanna yang masih berdiri di tempatnya.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


...|| tolong dukungannya ya..... dengan cara like, coment, vote, dan beri bintang lima terimakasih ☺️☺️||...


__ADS_2