Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 59


__ADS_3

Alanna melihat jam dinding di dalam ruangan sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh enam menit, tidak lama lagi Sinta akan datang menjemputnya dan memilih untuk mulai merapikan atas meja kerjanya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuklah Sinta !" Alanna bersuara, mengira Sinta yang telah datang untuk menjemputnya.


Pintu terbuka dan yang muncul dari luar bukanlah Sinta melainkan Rudy.


"Oh kau Rudy, saya mengira keluargaku yang datang." Kata Alanna sedikit terkejut dengan kehadiran Rudy.


"Maaf mengganggu, saya tidak menyangka kalau kau sedang menungguku keluarga mu." Rudy berkata tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kami berencana untuk makan di luar." Alanna menyakinkan. "Tumben kau datang ke ruangan ku ? ada yang ingin kau bicarakan ?" tanya Alanna menambahkan.


"Iya, ini tentang masalah pribadi." Rudy berkata salah tingkah. "Saya langsung ke intinya saja karena tidak ingin mengambil waktumu terlalu banyak."


"Iya, katakan saja."


"Saya mendengar perkataan Pak Johan kemarin saat di lobby hotel." Rudy mulai berbicara.


"Memangnya apa yang Johan katakan kemarin ?" Alanna mulai penasaran.


"Dia mengatakan kalau kau sudah lama menikah dengan Pak Zack."


"Begitu ?" Alanna menyahut mengerti.


"Jujur saya sangat terkejut mendengarnya, itu kabar yang tidak terduga. Saya tidak mengetahui dan terkejut kalau ternyata kau sudah menikah, yang lebih mengejutkan ternyata suamimu adalah Bos saya sendiri."


"Saya memang merahasiakan pernikahanku, maaf jika kau terkejut."


"Bukan salahmu, itu hakmu jika ingin merahasiakan pernikahanmu." Rudy berkata kelabakan. "Saya yang seharusnya menyadari dari sikapmu yang dari awal menjaga jarak dariku. Saya tidak pernah dan tidak ada niat untuk menjalin hubungan istimewa dengan wanita yang telah menikah." Rudy menamakan.


"Saya tahu kalau kau pria yang baik, kau pasti akan menemukan wanita yang cocok denganmu." Alanna berkata sambil tersenyum.


"Terimakasih Alanna." Rudy balas tersenyum. "Tapi kita masih bisa berteman bukan ?" tanya Rudy tidak yakin.


"Tentu kenapa tidak."


"Baguslah." Rudy berkata lega.


"Alanna kau sudah siap ?" Sinta muncul dari pintu yang terbuka. "Eh ! maaf, saya tidak tahu kalau kau sedang ada tamu." Kata Sinta saat melihat Alanna tidak sendirian di ruangannya.


"Tidak apa-apa Sinta, masuklah." Alanna berkata.


"Kalau begitu saya permisi dulu Alanna, lain kali kita bicara lagi." Kata Rudy pamit.


"Baiklah."


"Siapa itu ?" Sinta bertanya penasaran saat tinggal mereka berdua di dalam ruangan.


"Teman kantor." Jawab Alanna singkat. "Kau tertarik padanya ?"

__ADS_1


"Memang tampan tapi masih kalah jauh dari kak Johan."


Perkataan Sinta menarik perhatian Alanna. "Kau ada perasaan istimewa pada Johan ?" Alanna bertanya penasaran.


"He eh." Kata Sinta sedikit muram.


"Kenapa wajah mu seperti itu, jangan-jangan cinta bertepuk sebelah tangan ?" tebak Alanna.


"Kak Johan hanya menganggap ku seperti adiknya saja." Sinta berkata sedih.


"Memangnya kau pernah mengatakan perasaanmu padanya ?"


"Pernah dan langsung di tolak."


"Apa yang dia katakan padamu ?" Alanna terkejut dengan perkataan Sinta.


"Dia bilang perasaanku hanya perasaan tertarik pada sesuatu hal yang baru." Sinta bercerita sambil mengenang kembali kejadian itu.


"Kapan itu terjadi ?"


"Kalau tidak salah tiga tahun yang lalu."


"Sudah lama juga ya." Komentar Alanna. "Dan kau masih memiliki perasaan pada Johan setelah di tolak begitu ?" Alanna menambahkan heran dengan sikap Sinta.


"Iya, mau bagaimana lagi namanya juga sudah cinta." Sinta berkata dengan wajah pasrah.


"Jadi kepikiran sebenarnya Johan sudah bekerja dengan mas Zack sudah berada tahun sih ?" tanya Alanna penasaran.


"Kurang lebih lima tahun."


"Sudahlah tidak usah di bahan lagi, lebih baik kita pergi sekarang." Ucap Sinta.


"Tunggu, saya ambil tas dulu." Kata Alanna bergerak mengambil tasnya yang tergantung di gantungan yang terletak di belakang kursinya.


Bersama mereka keluar dari ruang kerja Alanna, berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah hotel. Saat berjalan melewati lobby hotel terdengar seseorang memanggil Alanna dari belakang.


Alanna berhenti dan berbalik, ternyata yang memanggilnya adalah Zack yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kenapa mas ?" tanya Alanna saat Zack telah berdiri di depannya.


"Johan akan ikut dengan kalian, dia yang akan mengantar dan mengawal kalian." Jawab Zack.


"Kami tidak perlu di antar atau di kawal mas. Sinta bisa menyetir kok, malah mungkin lebih ahli dari mas yang terbiasa memakai supir." Ucap Alanna sambil menyindir Zack.


"Kak Zack kan sudah izinkan tadi pagi kami berdua keluar untuk makan di luar. Kak Zack menyuruh Johan kenapa tidak sekalian kak Zack saja yang mengantar ?" Sinta ikut bersuara.


"Sebenarnya saya mau hanya saja saya ada pekerjaan yang harus saya lakukan siang ini jadi terpaksa saya menyuruh Johan." Jawab Zack tidak terpengaruh dengan sindiran kedua wanita di hadapannya.


"Terserahlah." Kata Sinta pasrah.


"Kalau begitu kami pergi dulu mas." Pamit Alanna.

__ADS_1


"Iya." Balas Zack sebelum mereka pergi.


Mereka menaiki mobil Sinta yang terparkir di depan pintu masuk hotel. Johan duduk sendiri di kursi pengemudi sedangkan Alanna dan Sinta duduk di kursi belakang. Johan menanyakan alamat tujuan mereka sebelum mengemudikan mobil keluar dari area hotel menuju tempat tujuan.


"Kau tidak merasa risih nanti duduk dengan kami berdua di restoran nanti Johan ?" Tanya Alanna pada Johan di depan yang serius mengemudikan mobil.


"Tidak Nona Alanna, saya akan duduk di meja yang lain dan mengerjakan pekerjaan saya selagi menunggu kalian selesai." Jawab Johan datar seperti biasanya.


"Begitu, baiklah terserah kau saja." Ucap Alanna tidak tahu ingin berkata apa.


Johan berhenti di depan restoran yang di maksud Sinta, mereka berdua keluar lebih dulu sementara Johan memarkirkan mobil.


Alanna dan Sinta memilih meja yang berada di bagian tengah, sedangkan Johan saat masuk memilih untuk duduk di meja yang terletak dekat dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan dari luar.


Alanna melirik Johan yang mengeluarkan laptop dari dalam tasnya seraya menunggu pelayan datang.


"Anda ingin pesan menu apa mba ?" tanya suara wanita yang mengalihkan perhatian Alanna dari Johan.


Alanna menoleh menatap Sinta yang sedang membuka buku menu yang di berikan pelayan restoran.


"Kau ingin pesan apa ?" tanya Sinta pada Alanna.


"Pesan salad buah yang kau ceritakan tadi pagi di rumah." Jawab Alanna.


"Minumnya apa ?" tanya Sinta kembali.


"Air putih saja."


Sinta menoleh pada pelayanan restoran. "Kau sudah catat pesanannya ?" tanya Sinta pada pelayanan.


"Sudah mba, ada lagi ?"


"Ayam bakar satu porsi, minumnya Jus jeruk saja." Ucap Sinta dan pelayan menulis pesanannya. "Dan untuk pria di sana, iga bakar satu porsi, air putih dan segelas kopi capuccino panas." Tambah Sinta sambil menunjuk ke arah Johan yang masih sibuk mengetik di keyboard laptopnya.


"Baik mba." Kata pelayan tersenyum ramah, selesai menulis pesanan mereka kemudian berbalik pergi ke arah dapur.


"Tidak apa-apa kau memesankan makanan untuk Johan ? siapa tahu dia tidak menyukai makanan yang kau pesan." Kata Alanna saat pelayan telah pergi.


"Tidak apa-apa, dia pasti akan makan. Makanan yang saya pesan itu makanan yang biasa dia makan saat makan siang." Kata Sinta berbicara dengan nada santai.


"O... begitu." Alanna menyambut mengerti. "Ternyata kau sangat mengenal Johan." Alanna menambah sambil terkagum-kagum.


"Iyalah, saya rasa wajar kalau kita mengetahui semua hal tentang orang yang kita sukai." Ucap Sinta.


"Saya tidak tahu apapun tentang mas Zack." Kata Alanna muram.


"Lama kelamaan kau pasti akan mengetahui semua hal tentang kak Zack." Sinta menghibur Alanna.


"Semoga saja." Ucap Alanna menatap kosong ke arah luar.


Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan telah datang. Alanna menoleh ke arah Johan, penasaran dengan reaksi Johan melihat makanan yang di antar ke mejanya.

__ADS_1


Seperti perkataan Sinta, Johan tidak menolak atau terkejut dengan makanan yang di antar ke mejanya mengingat dia belum memesan makanan. Menurut Alanna reaksi Johan malah seperti sudah menduga makanan yang akan di antar ke meja.


...Tolong dukung author ya dengan cara like, coment, vote, terimakasih😊😊...


__ADS_2