Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 98


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit Zack bersama pengacara langsung menghubungi dokter yang menangani Alanna, berkonsultasi masalah bukti Visum yang mereka butuhkan.


Dokter yang menangani Alanna bersedia membantu memberikan hasil pemeriksaan rekam medik milik Alanna.


Para pengacara itu pun pergi dengan membawa berkas itu ke kantor polisi. Zack sendiri memutuskan untuk kembali ke kamar Alanna.


"Bagaimana urusan nya mas Zack, sudah beres ?" tanya Alanna mengatur posisi untuk duduk melihat Zack masuk.


"Sementara di urus pengacara kita." Jawab Zack duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Alanna.


"Mana Mama ?" tanya Zack, tidak melihat keberadaan Mama Rani di dalam ruangan.


"Ada keluar sebentar, dia pergi membeli kopi di Cafe depan Rumah Sakit."


"Bagaimana keadaan mu sayang ?" tanya Zack lembut membelai lembut pipi Alanna yang masih memerah memar akibat benturan.


"Masih sakit di beberapa tempat, masih pusing jika bergerak tiba-tiba."


"Kalau begitu jangan dulu duduk, lebih baik berbaring saja dulu."


Alanna menurut, berbaring kembali di tempat tidurnya.


"Sudah sarapan sayang ?" tanya Zack kembali.


"Sudah mas, Mama membantu ku makan. Dia menyuapiku sarapan tadi."


"Baguslah." Zack tersenyum. "Masih merasa sedih dengan kabar keguguran mu ?" Zack menambahkan.


"Masih mas, bagaimana pun itu bayi kita. Aku sangat senang dan mengharapkan dia lahir dengan selamat." Alanna berkata sedih.


"Sabar sayang, ini sudah nasib kita hanya bisa bersabar dan menerimanya." Zack memberi semangat menggenggam erat tangan Alanna.


Alanna hanya bisa tersenyum masam. "Akan ku coba mas."


"Bagus, itu baru wanita ku." Puji Zack.


"Ibu sudah tahu kejadian ini mas ?"


"Mas belum sempat memberi tahukan Ibu." Zack berkata dengan raut wajah menyesal.


"Lebih baik kita jangan dulu memberitahu Ibu, aku tahu dia akan terkejut dan stress yang bisa mengakibatkan kesehatannya terganggu." Alanna berkata penuh khawatir.


Zack berpikir dan mengangguk setuju. "Betul perkataan mu sayang, lebih baik kita jangan dulu memberitahukan Ibu. Kita beritahu saat berkunjung ke Surabaya."


Dering handphone terdengar dari dalam saku jas Zack.


Zack melihat panggilan masuk dari Johan di layar handphonenya.


"Hallo Johan." Jawab Zack ketika sambungan telepon terhubung.


"Hallo Tuan." Balas Johan dari seberang.


"Ada perkembangan apa Johan ?"


"Seperti yang kita curiga, Maya melarikan diri. Kami melihat dia keluar dari rumahnya membawa sebuah koper dan masuk ke dalam mobil dengan ayahnya."


Zack mengerutkan kening mendengar kabar dari Johan. "Kalian tidak mengikuti ke mana dia pergi ?"


"Aku memerintahkan orang untuk mengikuti mereka, mereka sekarang masih terus mengikuti mobil yang membawa Maya beserta Ayahnya."

__ADS_1


"Sudah ada kabar dari orang yang mengikuti mereka ? Ke arah mana mereka bergerak sekarang ?" Zack sedikit panik takut kehilangan jejak mereka.


"Mobil mereka bergerak keluar kota menuju arah Surabaya, Tuan Zack."


"Bagus Johan, pantau terus keberadaan mereka. Pengacara kita sekarang sedang melengkapi berkas tuntutan. Aku akan menghubungi mu jika sudah keluar surat penangkapan Maya dari kepolisian."


"Baik Tuan, akan terus kami pantau."


"Berhati-hati, jangan sampai keberadaan kalian di ketahui mereka."


"Baik Tuan, aku akan terus berhati-hati." Johan berkata sebelum memutuskan sambungan telepon. Zack memasukan kembali handphonenya.


"Ada apa mas ? ada masalah ?" tanya Alanna khawatir.


"Seperti yang mas sudah duga, Maya kabur keluar kota."


Alanna menutup mulut dengan kedua tangannya, terkejut mendengar perkataan Zack.


"Jadi bagaimana mas ?" Alanna berkata panik.


"Tenang sayang, Johan dan beberapa orang yang dia perintahkan sedang mengawasi dan mengikuti mobil mereka secara diam-diam." Zack menjelaskan, menenangkan Alanna.


Alanna menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu mas."


"Kamu Istirahat lah, tidak apa-apa mas tinggal sendiri ? Mas harus ke kantor polisi memastikan dengan mata kepala mas sendiri saat polisi menangkap Maya yang sedang dalam pelarian."


"Aku tidak apa-apa mas, Mama juga pasti tidak lama akan kembali. Mas Zack pergi saja mengurus masalah ini." Alanna tersenyum menyakinkan Zack.


Zack mengangguk mengerti, mendekat ke arah Alanna dan mengecup pelan dan lembut kening Alanna.


"Mas pergi dulu sayang." Pamit Zack.


Di depan pintu Zack berpapasan dengan Mama Rani yang berjalan masuk.


"Ingin pergi lagi nak ?" tanya Mama Rani.


"Iya Ma aku harus ke kantor polisi sekarang juga, titip Alanna Mama."


"Iya, hati-hati di jalan Nak." Pesan Mama.


Zack melangkah menjauh dan menghilang di belokan lorong Rumah Sakit yang mengarah ke pintu keluar.


Zack di sambut para pengacaranya begitu masuk ke dalam gedung kantor kepolisian.


"Bagaimana perkembangan kasusnya ?" tanya Zack.


"Para polisi yang menangani kasus kita sedang menunggu keluarnya surat penangkapan untuk Maya." Pengacara Daniel menjelaskan.


"Bagus, kerja kalian sangat bagus." Puji Zack.


"Anda ingin ikut dengan para polisi dalam penangkapan Maya ?"


"Jika di bolehkan, aku sangat ingin ikut. Aku ingin melihat raut wajah Maya ketika polisi menangkapnya." Kata Zack dingin.


"Aku sudah berbicara dengan mereka, kita bisa ikut dengan catatan jangan sampai kita menggangu atau menghambat pekerjaan mereka." Kata Pengacara Daniel.


"Tentu, kita tidak akan menggangu pekerjaan mereka." Zack berkata dengan semangat.


"Lebih baik anda menunggu di sini, aku dan rekan-rekan pengacara akan melihat ke adaan di dalam." Kata pengacara Daniel pada Zack di ruang tunggu.

__ADS_1


"Aku ingin masuk, ada yang ingin aku katakan pada polisi yang menangani kasus kita." Kata Zack menolak.


"Baiklah, aku akan mengantar anda ke dalam."


Zack masuk mengikuti Pengacaranya, melewati beberapa ruangan dan masuk kedalam ruangan yang terdapat beberapa meja yang penuh dengan tumpukan kertas dan leptop di masing-masing meja.


Pengacara Daniel mendekati meja yang terletak di samping jendela.


Zack dan Pengacara Daniel duduk di kursi yang berada di depan meja.


Polisi yang berada di balik meja mengangkat pandangannya dari layar leptopnya.


"Ini Zack Ibrahim, klien kami yang mengajukan gugatan." Pengacara Daniel memberi tahu sebelum polisi itu bertanya.


Polisi itu mengangguk menanggapi. "Istri anda yang mengalami tindakan kekerasan ?" Polisi itu bertanya.


"Betul Pak." Jawab Zack.


"Klien kami ingin mengatakan sesuatu." Pengacara Daniel memberi tahu.


"Silahkan, apa yang ingin anda katakan." Kata Pak Polisi.


"Aku ingin ikut dalam penangkapan Maya, aku tidak akan menggangu atau menghalangi pekerjaan anda." Janji Zack.


"Bisa, anda bisa ikut bersama kami."


"Terimakasih Pak."


"Ada lagi yang ingin anda bicarakan ? karena kami sudah ingin bergerak menuju rumah tersangka." Tanya Pak Polisi.


"Ada satu masalah lagi Pak, anda tidak akan menemukan Maya di rumahnya." Kata Zack.


Kening Pak Polisi mengerut mendengar perkataan Zack. "Kenapa ? tersangka melarikan diri ?"


"Iya Pak." Jawab Zack.


"Dari mana anda mengetahuinya ?"


"Asisten pribadiku sejak pagi mengawasi rumah mereka berjaga-jaga jika mereka berniat untuk melarikan diri dan ternyata dugaanku benar, Maya dalam perjalanan melarikan diri keluar kota."


"Kalau begitu kita bergerak sekarang." Pak Polisi berdiri di susul Zack dan para pengacara nya.


"Orang anda masih terus mengawasi mereka ?"


"Masih Pak, mereka masih terus mengawasi."


"Bagus, aku akan mengambil surat penangkapan Maya dan akan memanggil beberapa rekan ku untuk mulai bergerak. Kita bertemu di tempat parkiran dan bergerak bersama-sama."


-


-


-


-


-


...yuk intip novel terbaru author dengan judul...

__ADS_1


..."Terbelenggu cinta seorang pangeran"...


__ADS_2