
Alanna mengetuk pintu ruangan Zack.
"Masuk lah Alanna." Zack berkata dari dalam, mengetahui bahwa yang mengetuk pintu adalah diri nya.
Alanna pun masuk, melihat Zack duduk di kursi meja kecil yang biasa mereka tempati untuk makan siang bersama. Terlihat beberapa jenis makanan di atas meja membuat perasaan Alanna tidak enak di tambah saat melihat raut wajah Zack yang tidak senang, dengan sedikit ragu Alanna mendekat.
"Kemari Alanna, duduklah di sini temani saya makan siang."
Alanna berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berada di depan Zack.
"Saya sudah makan mas, saya ada di kantin saat Johan memanggil ku."
"Saya tadi menelepon mu beberapa kali tapi tidak kau angkat." Zack berkata dengan nada tidak suka.
" Maaf mas, saya lupa membawa handphone saat pergi makan siang tadi." Alanna menjawab dengan raut wajah menyesal.
"Kenapa kau tidak datang ke ruangan ku untuk makan siang ? malah datang ke kantin untuk makan."
"Saya tidak tahu kalau mas ada di hotel dan tidak ada rapat di luar, tadi pagi mas Zack tidak memberitahu ku." Alanna membela diri.
"Kau kan bisa menelpon ku untuk bertanya." Zack berkata masih belum puas.
"Saya tidak kepikiran sampai ke sana mas, kebetulan tadi saya lapar sekali, saat selesai rapat tadi saya langsung ke kantin. Lain kali saya akan menelpon mas Zack." Alanna berkata berusaha membujuk Zack yang masih terlihat tidak senang sambil mengisi piring makan Zack dengan lauk yang berada di atas meja.
"Apa yang kalian bahas di rapat ?" Zack bertanya mulai santai di sela-sela menguyah makanan nya.
"Tentang Artis yang menyelenggarakan pernikahan nya di hotel kita."
"Hmmm." Zack bergumam sambil mengangguk kan kepala. "Berapa tamu yang ingin dia undang ?" Zack bertanya sedikit penasaran.
"Sekitar seribu undangan mas. Mas Zack tidak di beritahu general manager tentang hal ini ?" Alanna bertanya sedikit heran.
"Masalah seperti itu General manager yang mengurus nya langsung." Zack menjelas singkat.
"O....." Reaksi spontan Alanna membuat Zack terseyum.
"Johan bilang kau makan dengan pria saat di kantin tadi." Zack tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"O......itu, teman mas, sama-sama staf hotel. Kebetulan ketemu di kantin."
"Laki-laki yang sama saya lihat lalu saat berbicara dengan mu di lobby hotel ?" Zack bertanya pura-pura tidak tahu.
"Iya mas."
"Kenapa kalian bisa makan bersama ?" Zack bertanya dengan raut wajah tidak suka.
"Kan tadi saya sudah bilang mas kalau kebetulan ketemu di kantin." Alanna menjelaskan dengan sabar. "Hampir semua staf hotel makan di kantin hotel jadi tidak heran kalau kami ketemu dan makan sama-sama."
Zack diam sambil mengerutkan keningnya untuk berpikir, sudah meletakkan sendok makan dan garpu nya tanda dirinya sudah selesai dengan makan siang nya walaupun masih banyak makanan yang masih tersisa di piring nya.
"Saat mas ada urusan di luar hotel, kau makan saja di ruangan mu, nanti akan di antar kan makan siang di ruangan mu, tidak usah makan di kantin hotel."
Mendengar perkataan Zack membuat Alanna terkejut. "Mas Zack bukankah itu terlalu berlebihan ? nanti staf hotel yang lain akan heran dan bertanya-tanya."
"Kalau begitu kau pulang ke rumah, makan siang di rumah saja."
"Kenapa mas tiba-tiba mengatur makan siang ku ? memangnya kenapa kalau makan di kantin kantor ? di sana makanan nya juga enak-enak."
"Mas Zack, kami ini hanya berteman, tidak lebih."
"Bagi mu mungkin hanya sebatas itu tapi kita tidak tahu bagaimana dengan pria itu."
"Tidak kah menurut mas, sikap mas ini terlalu berlebihan dan terlalu mengekang ?"
"Sudah sewajarnya seorang suami bersikap seperti ini jika ada pria lain yang berusaha mendekati istrinya."
"Mungkin saja untuk pernikahan normal pada umumnya tapi untuk kita itu terlalu berlebihan. Mas Zack tidak bisa terlalu mengekang ku mengingat perjanjian dan perkataan mas sebelum kita menikah." Alanna berbicara dengan nada yang mulai meninggi.
"Tapi biar bagaimanapun saya ini suami mu yang sah menurut hukum dan agama jadi sudah sepantasnya kau harus mendengar perkataan ku terlepas dari perjanjian kita sebelum menikah." Zack pun mulai berbicara tegas tidak ingin di bantah.
Perkataan terakhir Zack membuat Alanna terdiam tidak bisa membantah.
"Alanna, saya harap kau mengerti maksud ku." Zack kembali berkata dengan nada lembut. "Saya tidak ingin bertengkar dengan mu hanya karena orang lain." Zack mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi Alanna.
Dalam hati Alanna menyetujui perkataan Zack, tidak ingin bertengkar dengan Zack hanya karena orang lain. "Iya mas, saya mengerti." Alanna akhirnya berkata.
__ADS_1
"Bagus lah." Zack tersenyum lega.
"Saya balik ke ruangan ku dulu, kalau mas sudah selesai makan."
"Iya mas sudah selesai, siang ini mas ada urusan di luar kantor mungkin sampai malam jadi kau pulang sendiri saja di antar pak Risno." Zack memberi tahu.
"Iya mas, saya balik dulu ke ruangan ku." Alanna bangkit berdiri berjalan keluar ruangan.
Saat makan malam Zack ternyata belum pulang dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, sambil menunggu Zack pulang Alanna memilih untuk menelpon Ibu nya di Surabaya. Sambungan telepon terhubung saat dering ke dua.
"Hallo Ibu."
"Hallo nak." Balas Ibu.
"Bagaimana kabar Ibu ?"
"Alhamdulillah, baik nak."
"Bagaimana usaha catering nya ? Ibu sudah tidak terlalu memaksa kan ?"
"Iya, sudah tidak. Ibu hanya sekali-sekali menerima pesanan bahkan langganan Ibu sampai mengeluh karena Ibu sudah sering menolak pesanannya."
"Bagus lah, saya hanya khawatir kalau Ibu kenapa-kenapa saat saya tidak di sana bersama dengan Ibu."
"Nak, uang yang kau kirim kemarin menurut Ibu terlalu banyak." Ibu berkata tidak enak. "Belanja untuk satu tahun pun belum tentu habis, sedangkan yang sebelumnya kau kirim saja masih banyak. Kau sendiri masih ada uang ? mengirim begitu banyak."
Mendengar perkataan Ibu membuat Alanna heran, karena dia tidak merasa mengirim uang baru-baru ini. "Kapan Ibu terima transferan uang yang terakhir ?" tanya Alanna.
"Dua hari yang lalu." Jawab Ibu. "Kenapa nak ? Bukan kau yang mengirim nya ?" tanya Ibu heran dengan pertanyaan Alanna.
Alanna berpikir pasti ini perbuatan mas Zack. "Tidak kenapa-kenapa Ibu, saya yang mengirim nya, saya hanya lupa kapan mengirim nya." Alanna meyakinkan Ibu nya.
"Ibu istirahat dulu ya nak ? nanti kita sambung lagi bicara nya, akhir-akhir ini Ibu gampang lelah."
"Iya, Ibu istirahat saja, nanti lagi Alanna telpon Ibu." Kata Alanna dan sambungan telepon terputus.
Kenapa mas Zack tidak memberitahukan ku ?Seperti saya harus bertanya tentang hal itu pada mas Zack saat dia pulang nanti dalam hati Alanna berkata.
__ADS_1