Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 26


__ADS_3

Alanna terbangun saat merasakan kehadiran seseorang dalam kamar dan saat membuka mata melihat Zack yang sedang duduk di sofa menatap ke arahnya, Alanna mengerutkan kening heran terbangun bukan lagi di sofa melainkan di atas tempat tidur.


"Saya yang memindahkan mu dari sofa ke tempat tidur." Zack menjawab kebingungan Alanna. "Kenapa kau tidak berbaring tempat tidur jika ingin tidur dan malah berbaring di sofa ?" Zack bertanya.


"Saya sebenarnya tidak ingin tidur hanya ingin berbaring sebentar dan tidak sadar telah tertidur." Alanna menjelaskan seraya bangun dan duduk di samping tempat tidur menghadap Zack. "Jam berapa sekarang ? kita belum terlambat kan ? " tanya Alanna mengedarkan pandangannya mencari jam di dalam kamar, melihat jam kecil berada di nakas samping tempat tidur menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. "seharusnya mas bangunkan saya, kita akan ketinggalan pesawat." Alanna merasa bersalah membuat mereka terlambat.


"Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang."


"Tapi mas Zack, saya belum menyiapkan apa pun keperluan kita."


"Tidak usah menyiapkan apa pun Alanna, kau cukup berganti pakaian saja. Keperluan kita sudah lengkap di tempat yang akan kita tuju." Zack menjelaskan.


"Baiklah mas." Alanna menyahut lalu berdiri berjalan menuju kamar mandi. Alanna melihat penampilan nya di depan cermin panjang yang berada di ruang walking closet, dress berwarna biru muda yang panjangnya sampai di bawah lutut, rambut panjang nya dibiarkan terurai di lengkapi dengan tas tangan branded berwarna hitam dan sepatu berwarna senada dengan tas nya. Merasa terlalu mewah dengan penampilan nya membuat Alanna yang terbiasa sederhana merasa tidak nyaman dan tidak yakin untuk keluar.


"Kau sudah cantik Alanna." Zack berkata dari belakang, mengagetkan Alanna membuat nya berbalik mendapati Zack yang sedang bersandar di pintu depan tangan di masukan ke dalam saku celana panjang nya menatap ke arah Alanna.


Mengangkat bahu merasa tidak yakin dengan penampilannya. "Saya belum begitu menyesuaikan diri dengan gaya hidup keluarga mas." Alanna tersenyum masam. "Ini semua pasti mama yang menyediakan." Tebak Alanna.


Dan di balas anggukan oleh Zack dan berjalan mendekati Alanna. "Pelan-pelan saja, saya menyukai dirimu apa adanya." Zack berkata lembut. Menarik Alanna ke dalam pelukannya, menyukai aroma tubuh Alanna yang bercampur aroma sabun tanpa memakai parfum. "Ini pelukan pertama ku sebagai suami mu dan rasa nya damai saat aku memeluk tubuh kecil mu."


Mendengar perkataan Zack membuat Alanna tersenyum dalam pelukan Zack. "Kita akan sangat terlambat jika mas masih terus memeluk ku seperti ini."


"Kau benar sekali." Zack mengakui sambil melepaskan pelukannya. "Sebaiknya kita keluar sekarang."


Mereka keluar kamar bersamaan, saat di lantai bawah sudah ada mama Rani menunggu bersama Sinta.


"Kalian sudah harus berangkat, pak Risno sudah dari tadi menunggu." Mama Rani berkata saat mereka mendekat.


"Maaf ma, saya tadi ketiduran." Alanna berkata menyesal.


"Seandainya kalian tidak bulan madu saya pasti akan ikut." Sinta berkata penuh dengan raut penyesalan.


Mendengar perkataan nya membuat mama Rani memukul gemas bahu Sinta. "Lain kali saja kau ikut, kakak mu kan mau pergi bulan madu."


"Iya, Sinta tahu ma, makanya Sinta bilang kalau bukan bulan madu pasti Sinta ikut."

__ADS_1


Zack hanya menggeleng kepala melihat perdebatan mama dan adik nya. "Tidak apa-apa kalau kau mau ikut." Zack berkata pada Sinta.


"Malas ah!, nanti di sana saya seperti anti nyamuk lagi."


Alanna hanya tersenyum melihat interaksi keluarga Zack.


"Mana papa ma ?" tanya Alanna saat tidak melihat papa Arian.


"Papa kalian ada terima telepon penting."


"Tadi saya sudah pamit sama papa, bilang kalau kita sudah mau pergi sebelum papa naik ke atas tadi." Zack menjelaskan pada Alanna.


Alanna mengangguk mendengar penjelasan Zack. "Jadi sudah mau pergi sekarang ?" tanya Alanna.


"Iya." Jawab Zack dan pamit pada mama Rani. "Mama kami pergi dulu."


"Iya, hati-hati saat di perjalanan, kabari mama jika sudah sampai."


"Iya, akan kami kabari." Jawab Zack sebelum menuntun Alanna menuju mobil, membukakan pintu mobil untuk Alanna masuk duluan baru kemudian dirinya sekaligus menutup pintu mobil.


"Kita akan naik pesawat ini." Zack berkata saat mereka akan menaiki tangga pesawat, membiarkan Alanna untuk naik duluan baru kemudian dirinya menyusul di belakang dan langsung di sapa ramah oleh pilot dan co-pilot serta pramugari yang ada di dalam pesawat menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang Pak Zack, kita akan berangkat sekarang." Kata pilot itu dengan ramah.


"Maaf agak telat sedikit." Kata Zack saat sudah duduk di kursi nya dan Alanna duduk di kursi sebelah Zack.


"Tidak jadi masalah, saya sudah menghubungi pihak bandara, kalau begitu saya bersiap lepas landas." Kata pilot itu kemudian masuk ke dalam kokpit pesawat.


"Sudah pasang sabuk pengaman Alanna ?" tanya Zack.


"Sudah mas." Jawab Alanna dan Zack melihat ke arah sabuk pengaman Alanna untuk lebih memastikan. "Kalau saya boleh tahu pesawat milik siapa ini mas ?"


"Pesawat pribadi milik keluarga."


"O...... ."Hanya itu tanggapan Alanna. Melihat secara teliti keadaan dalam pesawat yang hanya memiliki enam kursi penumpang dengan hanya dua baris di masing masing-masing sebelah sisi jendela. "Kita akan ke mana mas ?"

__ADS_1


"Kita hanya akan ke Bali, kita tidak bisa keluar negeri karena Paspor dan Visa mu belum jadi."


Tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam kokpit kalau pesawat akan lepas landas di harapkan untuk penumpang memasang sabuk pengaman. Penerbangan memakan waktu satu jam empat puluh lima menit, mereka menikmati makan siang di dalam pesawat yang menuju ke Bali.


Sesampainya di luar bandara mereka sudah di jemput dengan mobil sedan hitam menuju tempat mereka menginap selama dua hari ke depan.


Mereka sampai di daerah dekat pantai dan berhenti di depan rumah yang berada persis di depan pantai, membuat Alanna sedikit takjub dengan pemandangan pantai nya yang indah. Rumah itu tidaklah besar seperti rumah Zack di Jakarta dan hanya terdiri dari dua tingkat, rumah dengan banyak dinding kaca sehingga dapat dengan mudah melihat pemandangan indah di luar rumah. Saat masuk di salah satu kamar di lantai dua yang ternyata semua dinding nya terbuat dari kaca bening transparan dan hanya tirai putih yang membuat kamar itu lebih tertutup. Saat masuk kita langsung bisa melihat pemandangan laut yang indah.


Alanna refleks menutup mulut dengan kedua tangan nya. "Cantik sekali pemandangan nya mas." Alanna takjub dengan pemandangan indah laut di depan nya.


"Syukur lah kalau kau suka." Zack berkata senang, pilihan nya untuk membawa Alanna ke sini tidak lah salah. "Kalau kau suka, kita bisa sering-sering ke sini."


" Susah untuk booking penginapan seperti ini mas, di saat mas tidak sibuk belum tentu rumah ini tidak di booking orang lain."


"Ini vila keluarga jadi tidak akan susah untuk di booking, kapan pun saya tidak sibuk kalau kau mau ke sini pasti akan saya temani." Janji Zack membuat Alanna tersenyum senang


"Mas harus tepati janji lho, nanti saya tagih janji nya mas."


"Iya, saya janji."


"Berapa kamar di rumah ini mas ?" Alanna bertanya sambil berjalan menuju kursi yang menghadap ke arah laut di dalam kamar itu.


"Ada empat, masing-masing kami memiliki satu kamar dan kamar satu yang di bawah di pakai oleh ibu Amina, dia bekerja merawat rumah ini. Dia warga di sini. datang rutin merawat rumah ini dan akan tinggal di sini jika kami datang berlibur mengurus semua kebutuhan kami."


"Maaf kalau mas tersinggung, saya hanya ingin bertanya." Alanna berkata sedikit ragu membuat Zack menatap Alanna penuh perhatian.


"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan."


"Jadi kita akan tidur sekamar ?" tanya Alanna akhirnya.


-


-


-

__ADS_1


|| Tolong dukungan nya ya...dengan cara like, coment, vote dan bintang lima terimakasih ☺️☺️||


__ADS_2