Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 65


__ADS_3

"Kau memang harus terus mengikuti kami berdua ?" tanya Sinta menoleh ke belakang pada Johan.


"Pesan dari Tuan Zack seperti itu." Jawab Johan.


Sinta memutar kedua bola matanya, jengah mendengar perkataan Johan. "Kak Johan jangan terlalu patuh." Saran Sinta pada Johan.


Johan yang mendengar hanya diam tidak bereaksi membuat Sinta gemas di buatnya. Alanna yang melihat interaksi mereka berdua hanya tersenyum simpul.


Mereka memasuk toko di dalam mall yang sama mereka datangi kemarin. Mereka tidak bisa pergi terlalu lama jadi memilih pergi ke mall yang dekat dari tempat tinggal mereka, dari menemani Alanna dan Sinta Johan masih harus kembali pada Zack yang sekarang sedang melihat langsung proyek pembangunan hotel.


Mereka masuk ke dalam sebuah butik yang ada di dalam mall. Alanna dan Sinta mulai memilih milih pakaian sedangkan Johan duduk di kursi yang tersedia di dalam butik sambil mengotak-atik handphonenya.


"Kak Johan bagaimana dengan gaun ini ?" Tanya Sinta antusias menanyakan pendapat pada Johan.


"Bagus." Kata Johan hanya melirik sebentar dari layar handphonenya


"Kalau ini ?" tanya Sinta kembali, berdiri di hadapan Johan.


"Bagus." Jawab Johan kembali bahkan tanpa melirik gaun yang di bawa Sinta di hadapannya.


"Kak Johan yang serius dong !" Sinta kesal melihat sifat cuek Johan padanya.


Johan menghela napas panjang, mendongkak menatap wajah Sinta dengan serius.


"Kau betul-betul ingin mendengar pendapatku ?" Johan bertanya pada Sinta.


"Iya."


"Baiklah." Kata Johan, menatap gaun yang di pegang Sinta. "Warnanya terlalu mencolok dan sedikit terbuka, gaun ini tidak cocok untuk mu."


"Benarkah ?" Sinta menatap kembali gaun yang di pegang.


"Itu pendapatku terserah padamu ingin mendengarnya atau tidak."


"Saya cari yang lain saja." Sinta berbalik memilih kembali gaun yang lainnya.


"Kau belum menemukan yang cocok ?" tanya Alanna pada Sinta yang masih sibuk memilih milih.


"Belum, kalau kau sudah ?" tanya Sinta balik.


"Sudah, saya baru dari kasir membayar pakaianku."


"Cepat sekali, kau yakin kak Zack tidak akan protes dengan pilihanmu ?"


"Tadi pagi sebelum pergi dia hanya bilang jangan membeli pakaian yang pendek dan terbuka."


"Sama dengan kak Johan katakan saat saya memperlihatkan gaun yang tadi saya pilih."


"O ya ?" tanya Alanna tersenyum penasaran dengan sikap Johan pada Sinta.


"Iya." Kata Sinta.


"Mau saya bantu untuk memilih ?" Alanna memberi bantuan.


"Boleh, lagian kau juga sudah selesai memilih pakaian." Ucap Sinta bersemangat.


Sinta membawa gaun yang telah dia pilih bersama Alanna ke hadapan Johan.


"Bagaimana dengan ini ?" tanya Sinta untuk yang kesekian kalinya pada Johan, berharap kali ini Johan menyukai pilihannya.


Johan mengangkat pandangannya dari layar handphone, menatap beberapa saat sebelum berkata. "Yang ini bagus, cocok untukmu."


Sinta tersenyum senang mendengar perkataan Johan. "Baguslah kalau kau juga suka."

__ADS_1


"Apa pendapatku sangat penting untukmu ?" Johan bertanya, menatap wajah Sinta dengan raut wajah tidak terbaca.


"Tentu saja, pendapatmu sangat penting untukku." Jawab Sinta terus terang membuat Johan tersenyum mendengarnya.


"Masih ada lagi yang ingin kalian beli ?" tanya Johan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Kalau saya tidak ada lagi." Jawab Alanna berjalan mendekati mereka berdua.


"Saya juga." Ucap Sinta.


"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang." Kata Johan bangkit berdiri.


"Saya pergi ke kasir dulu, membayar gaun ini." Kata Sinta.


"Biar saya saja." Johan mengambil gaun dari tangan Sinta. "Kalian duluan saja ke mobil."


"Ini kartu kredit saya." Kata Sinta sambil membuka dompetnya.


"Saya tidak memintanya." Kata Johan dengan nada kesal tersinggung membuat gerakan Sinta terhenti.


"Baiklah." Kata Sinta mengalah.


Johan berbalik pergi menuju kasir pembayaran. "Kita duluan ke mobil." Alanna mengajak Sinta.


"Iya."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Selamat datang Zack Ibrahim." Sambut hangat Datuk Malik, mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan.


Zack menyambut jabatan tangan Datuk Malik seraya tersenyum hangat. "Terimakasih atas undangan anda."


"Saya senang anda bisa datang di sela-sela kesibukan anda di Malaysia."


"Tidak sopan rasanya jika menolak undangan dari anda." Zack berkata.


Zack menoleh ke belakang menarik Alanna ke sampingnya, Sinta mengikuti Alanna berdiri sejajar.


"Perkenalkan ini Alanna, istriku. Sedangkan yang di sampingnya adik perempuanku Sinta." Alanna dan Sinta hanya tersenyum saat di perkenalkan.


"Wah ! ternyata anda sudah menikah." Datuk Malik terkejut mendengar perkataan Zack. "Saya terkejut karena tidak pernah mendengar kabar pernikahan anda."


"Saya memang tidak menyebarkan kabar pernikahanku." Zack berkata maklum.


"Istri anda terlihat masih muda." Datuk Malik mengamati. Zack hanya tersenyum tidak berkomentar.


"Ayah ! dari tadi saya mencari mu." Seru suara wanita mendekati mereka.


Mereka semua menoleh, melihat Nurhaliza yang datang mendekati mereka.


"Ada apa nak ?" tanya Datuk Malik pada Nurhaliza yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sepertinya para tamu undangan telah hadir semua." Kata Nurhaliza sambil memandang rombongan Zack.


"Zack datang bersama istri dan adik perempuannya. Kau sudah kenal mereka ?" tanya Datuk Malik melihat arah pandangan Nurhaliza.


"Zack sudah memperkenalkan istrinya pada saya saat datang ke tempatnya kemarin." Jawab Nurhaliza tersenyum ramah.


"Begitu." Datuk Malik menyahut mengerti.


"Ayah lebih baik kita mulai makan malamnya." Nurhaliza mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kita tidak boleh membiarkan para tamu undangan kelaparan." Datuk Malik menyetujui seraya bercanda. "Mari kita ke meja makan sekarang." Tambah Datuk Malik mengajak Zack dan yang lainnya.

__ADS_1


Mereka berkumpul di meja panjang, Zack duduk di bagian tengah dengan Alanna di sampingnya sedangkan Johan dan Sinta duduk di depan mereka.


Jamuan makan malam di mulai, beberapa pelayan membawa makanan dalam troli makanan dan mulai meletakan dengan rapi dan hati-hati di depan para tamu undangan.


Zack melirik pada Alanna saat melihat menu pembuka."Kau bisa memakannya ?"


"Saya tidak yakin mas, tapi akan saya coba." Kata Alanna.


"Jangan memaksa jika tidak bisa."


"Iya mas."


Menu pembuka masih bisa Alanna nikmati tapi saat menu utama di hidangkan Alanna menoleh pada Zack. "Mas saya tidak bisa memakannya." Alanna berkata menahan rasa mual karena aroma daging sapi dan berbagai macam jenis rempah yang terdapat di dalamnya.


Zack mengambil piring Alanna, menjauhkan dari penciuman Alanna.


"Kau ingin muntah ?" Zack berkata khawatir.


Alanna meminum air putih yang berada di hadapannya.


"Sudah berkurang mas."


"Kau ingin sesuatu ?"


"Tidak apa meminta menu lain ?" Alanna bertanya balik, merasa tidak enak merepotkan Zack.


"Tidak apa-apa, saya akan memberi tahu pelayan." Zack menenangkan Alanna. "Kau ingin buah ?"


"Iya mas, tolong."


Zack membelai singkat pipi Alanna seraya tersenyum lembut. "Apapun untukmu."


Zack mengangkat tangannya memanggil pelayan. Pelayan yang berdiri di dekat meja mereka mendekat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan ?" tanya pelayan setelah berdiri di hadapan mereka.


"Bisa saya minta sepiring buah yang telah di potong-potong kecil ?" Zack meminta pada pelayan.


"Buah apa Tuan ?" pelayan bertanya lebih jelas.


"Terserah buah jenis apa saja."


"Baik Tuan, akan segera saya bawakan."


Perhatian Datuk Malik teralih pada mereka. "Kenapa Zack ? makanannya tidak sesuai selera istri anda ?"


"Maaf jika Datuk Malik tersinggung, ini tidak ada masalah dengan makanan nya." Zack menjelaskan.


"Lalu kenapa ?"


"Istri saya tidak bisa memakan makanan yang seperti ini karena sedang mengidam, dia hanya bisa makan buah atau makanan manis yang berbahan buah."


"Ternyata istri anda telah hamil." Datuk Malik kembali terkejut mendengar kabar itu. "Anda hebat, baru menikah dan tidak lama istri anda telah hamil." Canda Datuk Malik yang membuat para tamu undangan lainnya tertawa mendengarnya.


"Terimakasih, saya anggap itu sebagai pujiannya." Zack tersenyum lebar.


Tidak lama kemudian pelayan membawa buah yang di pesan oleh Zack, makan malam pun di lanjutkan kembali.


-


-


-

__ADS_1


-


...terimakasih atas dukungannya dan tetap terus dukung author ya dengan cara like, coment dan vote terimakasih ☺️☺️...


__ADS_2