
Pak Risno memberhentikan mobil di sebuah gedung butik.
"Pak Risno tunggu di sini saja, karena setelah ini kita pergi ke salon." Mama Rani memberi tahu.
"Iya Nyonya besar." Pak Risno patuh.
Mereka bertiga turun dari mobil, masuk ke dalam butik yang langsung di sambut pelayan butik.
"Selamat datang Nyonya Rani, sudah lama tidak berkunjung ke sini." Sapa pelayan dengan senyum ramah.
"Iya." Mama Rani mengakui, balas tersenyum ramah.
"Kami ada koleksi gaun terbaru." Ucap pelayan mengantar mereka ke dalam menuju gantungan gaun yang di maksud pelayan butik.
"Ternyata Nyonya Rani." Suara wanita tiba-tiba mengalikan perhatian mereka.
Mereka serentak menoleh ke arah suara yang muncul. Tampak wanita seumuran mama Rani tersenyum ramah pada mereka melangkah mendekat dari dalam butik. "Nyonya Elisa, lama tidak bertemu." Mama Rani berkata, balas tersenyum ramah.
"Ada yang bisa aku bantu ?" Nyonya Elisa bertanya saat berdiri di hadapan mereka.
"Kami ingin melihat koleksi gaun terbaru di butik ini."
"Tentu, silahkan ke sini." Nyonya Elisa berjalan mendekati jejeran gaun cantik berbagai warna yang tergantung rapi. "Ini koleksi terbaru butik kami.
"Kalian berdua, pilih saja yang mana kalian suka." Mama Rani berkata pada Alanna dan Sinta.
"Baik ma." Ucap Alanna dan Sinta bersamaan.
"Kalian ingin menghadiri acara ?" Nyonya Elisa bertanya penasaran.
"Iya, malam ini akan ada perayaan ulang tahun untuk suami ku." Jawab mama Rani tersenyum ramah. "Nyonya Elisa jika ada kesempatan bisa datang malam ini di kediaman kami." Tambah mama Rani mengundang Nyonya Elisa.
"Terimakasih atas undangannya, akan ku usahakan untuk datang." Kata Nyonya Elisa tersenyum. "Dan siapa wanita itu ? Baru kali ini aku melihatnya datang bersama kalian."
Mama Rani mengikuti arah pandangan Nyonya Elisa yang menatap ke arah Alanna yang sedang serius melihat-lihat gaun yang tergantung rapi.
"Wanita itu menantuku namanya Alanna, istrinya Zack." Jawab mama Rani.
Nyonya Elisa terkejut mendengar kabar itu. "Anak anda ternyata sudah menikah ?"
__ADS_1
"Iya, sudah lama. Mereka memang tidak mengadakan acara resepsi, mereka hanya melaksanakan akad nikah yang hanya di hadiri keluarga dekat saja. Acara malam ini sekaligus memperkenalkan menantu baru kami."
"Begitu ya." Kata Nyonya Elisa mengerti. "Menantu yang unik, jika wanita lain pasti ingin menyelenggarakan pesta pernikahan yang meriah."
"Begitulah menantuku." Kata mama Rani, tersirat nada bangga pada suaranya saat berbicara. Mama Rani menoleh pada Alanna dan Sinta. "Kalian sudah memilih gaun yang kalian suka ?" tanya mama Rani.
"Mama bisa pilih dua gaun ?" Sinta bertanya penuh harap, memasang wajah permohonan.
Mama Rani geleng-geleng kepala tersenyum geli melihat tingkah Sinta.
"Boleh, pilihlah yang kamu suka." Mama Rani berkata membuat Sinta kegirangan.
"Aku bingung pilih yang mana." Kata Alanna dengan kening berkerut.
Mama Rani tersenyum maklum mendengarnya, berjalan mendekati Alanna. Mama Rani membantu memilihkan Alanna gaun.
"Bagaimana kalau yang ini ?" tanya mama Rani mengangkat sebuah gaun panjang dengan warna peach blossom dengan pita di bagian pinggangnya, gaun yang sederhana tapi terlihat elegan.
"Gaun itu sangat cocok untuk menantu mu." Nyonya Elisa berpendapat.
"Baiklah, yang ini saja ma." Alanna berkata setuju, mengambil gaun itu dari tangan mama Rani.
"Sinta, bagaimana denganmu ? sudah ada yang kau pilih ?" tanya mama Rani setelah Nyonya Elisa pergi dengan membawa gaun pilihan Alanna.
"Sudah ma, saya pilih ini dan ini." Jawab Sinta, mengangkat memperlihatkan satu persatu gaun pilihannya.
"Kamu bawa ke depan untuk di kemas, setelah ini kita masih harus ke salon. Kita tidak boleh terlalu lama, kau tidak mendengar pesan kakak mu sebelum pergi tadi pagi ?"
"Iya ma, aku dengar dan ingat. Kak Zack bilang jangan terlalu lama keluar, jangan sampai Alanna kelelahan." Sinta mendengus kesal. "Bagaimana tidak mau ingat kalau terus dia katakan."
Alanna hanya tersenyum melihat tingkah laku Sinta. "Kak Zack jadi sedikit menyebalkan kalau berhubungan dengan Alanna." Sinta menambahkan sambil berjalan ke depan dengan membawa keduanya gaunnya.
"Anak ini." Mama Rani berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nanti kamu juga akan mengalaminya." Mama Rani menambahkan tanpa di dengar oleh Sinta.
Mama Rani membayar gaun yang Alanna dan Sinta pilih. Dari butik mereka langsung menuju salon kecantikan. Di salon itu perlakuan sama mereka dapatkan seperti yang mereka terima di butik sebelumnya. Alanna menduga kalau salon yang mereka masuki adalah salon yang biasa mama Rani datangi. Alanna penasaran tapi segan untuk bertanya.
Salon yang mereka masuki itu memiliki perawatan tubuh lengkap, dari wajah, rambut, sampai seluruh tubuh dan mama Rani meminta perawatan tubuh lengkap.
Hari sudah sore saat mereka selesai. Handphone Alanna berdering dalam perjalanan pulang ke rumah, tertulis di layar handphone panggilan masuk dari Zack.
__ADS_1
"Hallo mas Zack." Alanna berkata saat sambungan telepon terhubung.
"Kalian di mana ? kenapa sudah sore belum pulang ? mama bersama kamu ?" pertanyaan beruntun yang Zack tanyakan saat sambungan telepon terhubung.
"Mama dan Sinta dengan ku, kami sedang dalam perjalanan pulang." Alanna menjawab pertanyaan Zack, mama Rani dan Sinta hanya melirik mendengar Alanna menyebut nama mereka yang membuat mereka tahu siapa yang sedang berbicara dengan Alanna. "Mas Zack di mana ? kenapa tahu kalau kami belum pulang ?"
"Mas sudah di rumah, mas pulang lebih awal."
"Begitu." Ucap Alanna mengerti.
"Hati-hati di jalan, mas tunggu di rumah. Beritahu Pak Risno untuk hati-hati mengemudi." Pesan Zack.
"Iya mas."
"Pak Risno dengarkan pesan kak Zack ? hati-hati mengemudi." Kata Sinta dengan nada jail yang duduk di kursi depan samping Pak Risno sesaat setelah Alanna memutuskan sambungan telepon dari Zack.
Pak Risno tersenyum. "Iya Non Sinta."
"Terdengar ya ?" Alanna bertanya dengan kikuk.
Sinta memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Alanna. "Terdengar lah Alanna, bagaimana tidak terdengar kalau suara kak Zack begitu besar."
Mama Rani yang terdiam mengamati hanya tersenyum maklum.
Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah, dari luar mereka bisa mendengar kebisingan dari dalam rumah.
Mama Rani masuk lebih dulu ke dalam rumah sedangkan Alanna dan Sinta menunggu Pak Risno mengambil kan belanjaan mereka di bagasi belakang mobil.
"Tidak lelah sayang ?" Zack muncul dari dalam berjalan mendekati Alanna.
Alanna menoleh kesamping menatap Zack. "Tidak, kami tidak berjalan lama."
"Kita hanya lama di salon kak Zack, tidak berjalan memutar-mutar sedangkan di butik pun kami tidak lama karena mama mengingatkan aku pesan kak Zack untuk tidak berlama-lama." Sinta berkata.
"Bagus." Ucap Zack tersenyum sambil mengacak-acak puncak kepala Sinta.
"Iiihhh kak Zack ! aku kan bukan anak-anak." Protes Sinta dengan perlakuan Zack padanya.
"Di mata ku kamu masih anak-anak." Zack berkata sebelum berbalik menghadap Alanna. "Ayo kita masuk." Zack berkata pada Alanna seraya mengambil paper bag dari tangan Alanna.
__ADS_1