Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 44


__ADS_3

Mereka memilih restoran yang tidak jauh dari Rumah Sakit, karena jam makan siang jadi restoran itu sedikit lebih ramai. Mereka memesan makan siang mereka dan pelayanan membawa pesanan mereka ke bagian dapur.


Melihat keadaan yang ramai tidak memungkinkan untuk bercerita sesuatu hal yang serius.


"Nanti kita bicarakan di rumah saat di Jakarta saja mas, seperti nya situasi di sini tidak memungkinkan untuk bercerita." Alanna menyarankan sambil memutar-mutar cincin kawin di jari manisnya di atas meja.


"Baiklah." Zack pun setuju.


"Jadi mas Zack kapan pulang ke Jakarta ?"


"Kita pulang sama-sama."


"Tapi mungkin saya masih beberapa hari di sini, mas pasti banyak pekerjaan."


"Di sini juga mas bekerja, mengontrol keadaan menajemen hotel yang ada di sini." Zack menjelaskan dan di balas anggukan mengerti oleh Alanna. Perhatian nya teralih pada gerakan tanpa sadar Alanna yang memutar-mutar cincinnya. "Ibu tidak bertanya tentang cincin kawin mu ?"


"Ibu belum menyadarinya." Jawab Alanna sambil memperhatikan cincin kawinnya. "Kalau nanti dia bertanya, saya tidak tahu harus menjawab apa." Alanna mengaku bingung.


Pelayan mendekati meja mereka dengan membawa pesanan mereka kemudian menyusunnya di atas meja.


"Masih ada yang anda butuhkan ?" tanya pelayan itu sebelum pergi.


"Tidak ada, terimakasih." Jawab Alanna.


"Kalau begitu selamat menikmati makanan anda." Kata pelayan restoran sebelum berbalik menuju tamu lain yang baru datang.


Mereka menghabiskan makan siang tanpa berbicara. Zack memanggil pelayan untuk membayar makan siang mereka menggunakan kartu kredit sambil menunggu pelayanan itu kembali Alanna memesan taksi melalui aplikasi online.


"Mas dari sini, langsung kembali ke hotel ?" tanya Alanna saat pelayan telah mengembalikan kartu kredit Zack.


"Saya akan mengantar mu kembali ke Rumah Sakit." Zack menjawab. Berdiri dari kursi tidak lupa membawa tas pakaian Alanna.


Alanna pun berdiri mengikuti Zack. "Tapi mas saya masih mau balik ke rumah dulu mengambil pakaian bersih."


"Saya ikut." Zack berjalan keluar di ikuti Alanna. "Kau sudah memesan taksi ?" tanya Zack saat mereka sudah di luar.


"Sudah mas, itu taksi nya." Jawab Alanna menunjuk taksi yang terparkir di dekat mereka.


Taksi berhenti di depan rumah Alanna, Alanna keluar lebih dulu di ikuti Zack. Zack mengamati rumah Alanna dan lingkungan sekitarnya sambil menunggu Alanna membuka pintu rumah.

__ADS_1


"Masuk mas." Ajak Alanna saat membuka pintu dan kemudian masuk di susul Zack. "Rumahku sederhana beda jauh dengan rumah mas Zack." Alanna menambahkan saat mereka telah berada di ruang tengah.


"Tapi nyaman dan bersih." Zack berkomentar sambil mengamati rumah Alanna.


Alanna senang mendengar perkataan Zack yang tidak membandingkan. " Mas mau saya buatkan kopi ?"


"Boleh tapi sedikit saja." Zack berkata sambil duduk di sofa yang berada di ruang tengah. "Di mana kamarmu Alanna ?" tanya Zack saat Alanna berjalan menuju dapur.


Alanna hanya menoleh sebentar. "Pintu di belakang mas." Jawab Alanna kemudian berjalan kembali menuju dapur.


Zack berdiri berjalan menuju pintu kamar Alanna, membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Zack mengakui ukuran kamar Alanna hanya setengah dari ukuran kamar mereka di Jakarta tapi terlihat nyaman. Mengamati foto-foto Alanna yang tergantung di dinding kamar dan yang tersusun rapi di rak buku dan di atas meja riasnya. Zack tersenyum melihat beberapa foto Alanna saat masih kecil dan beberapa foto saat mengenakan baju seragam SMA. Beberapa foto yang di duga Zack di ambil saat kuliah, di dalam foto itu sudah terlihat pesona yang di miliki Alanna.


"Mas ini kopi mu." Alanna muncul di pintu kamar dengan segelas kopi di tangannya.


"Taruh saja di meja ruang tengah." Kata Zack kemudian mengambil sebuah bingkai foto dan memperlihatkan pada Alanna, foto Alanna saat masih kuliah. "Jangan lupa kau bawa foto ini saat pulang ke Jakarta."


"Kenapa mau di bawa ke Jakarta mas ?" tanya Alanna heran.


"Ingin ku simpan di atas meja kerjaku di rumah." Jawab Zack.


"Baiklah, nanti akan saya bawa saat kembali ke Jakarta." Alanna menyetujui keinginan Zack. Menuju sofa untuk meletakan kopi Zack di atas meja.


Alanna duduk bergabung bersama Zack di sofa. "Sangat menyenangkan." Alanna tersenyum sambil mengenang kembali masa-masa saat masih kuliah dulu.


"Banyak yang mengajakmu berkenan ?" tanya Zack penasaran.


"Ada beberapa." Alanna mengakui. "Berkencan pada umumnya, pergi nonton atau sekedar duduk di cafe sambil bercerita tentang banyak hal." Alanna menambahkan. "Bagaimana dengan mas, masa kuliah mas menyenangkan ?" tanya Alanna penasaran."


"Mas sudah sedikit lupa." Zack menjawab. "Itu kejadian dua belas tahun lalu."


"Umur mas sekarang berapa tahun ?" Alanna tiba-tiba bertanya, baru sadar kalau dia tidak mengetahui tanggal lahir suami nya sendiri.


"Kau tidak membaca isi buku nikah ?" tanya Zack balik, terkejut dengan pertanyaan Alanna.


"Tidak, saat itu tidak terpikir untuk memikirkan hal itu." Jawab Alanna salah tingkah.


"Tiga puluh lima tahun." Zack berkata. "Istriku tidak sensitif, bahkan umur suaminya sendiri tidak di tahu." Zack menegur Alanna.


"Mas sendiri juga pasti tidak tahu tanggal lahir ku." Alanna menuduh Zack, tidak menyukai perkataan Zack padanya.

__ADS_1


"Tanggal dua belas bulan sebelas tahun sembilan puluhan delapan itu tanggal lahir mu yang sama dengan kode pintu apartemen mu." Zack berkata membuat Alanna terkejut, tidak menyangka Zack mengetahui hal kecil seperti tanggal lahirnya.


"Mas tahu ternyata."


"Tentang dirimu tidak ada yang tidak ku ketahui. Bahkan saya yang merupakan pria pertama yang menyentuh mu pun mas tahu."


"Tahu dari mana ?" Alanna bertanya penasaran walaupun sedikit canggung membahas tentang hak itu.


"Noda darah yang ada di seprei, paginya saat mas terbangun setelah kejadian malam itu." Jawab Zack sedikit muram. "Alanna, mas bukan pria yang sembarangan menyentuh wanita." Zack menjelaskan. "Malam itu mas sedang terpengaruh dengan obat perangsang yang di berikan Maya dalam minumanku saat dia mengajak untuk bertemu denganku di sebuah restoran."


"Kenapa mas datang menemui nya ? bukannya mas tidak menyukainya ?" tanya Alanna heran dan mulai sedikit mengerti kejadian malam itu.


"Dia ingin membicarakan sesuatu tentang Mariana, makanya saya terpaksa menemuinya dan termakan perangkapnya. Beruntung bagiku dan mungkin sial bagimu datang ke kamarku malam itu sehingga saya terbebas darinya dan kejadian itu malah menimpamu." Zack menjelaskan.


"Mungkin sudah takdirku seperti ini mas, saya pun tidak menyangka kalau kejadian itu menimpaku." Alanna berkata pasrah. "Saya marah dan menyalahkan takdir pun tidak ada gunanya karena sudah terjadi dan tidak mungkin kembali."


Mendengar perkataan Alanna membuat Zack memeluk Alanna. "Maafkan mas atas kejadian itu. Sebenarnya di balik kejadian itu mas bersyukur."


"Bersyukur ?" tanya Alanna heran, masih di dalam pelukan Zack.


"Kau datang malam itu ke kamarku dan wanita yang ku sentuh adalah kau dan bukan Maya." Zack menjelaskan sambil melepaskan pelukannya.


"Maya sepertinya sangat tertarik dengan mas."


"Saya tidak peduli dengan hal itu." Zack berkata ketus. "Kita tidak usah membahas wanita itu lagi." Zack menambahkan dengan raut wajah tidak suka.


"Saya ingat pernah melihat wallpaper foto wanita cantik di handphone mu, apa wanita itu yang bernama Mariana ?" tanya Alanna.


"Iya, dia yang bernama Mariana tapi sudah ku hapus. Semua fotonya sudah ku hapus sejak kejadian malam itu." Zack mengakui.


"Kemana Mariana mas ? kalian masih berhubungan ?"


"Kami sudah tidak berhubungan karena dia sudah meninggal." Zack berkata muram.


-


-


...|| Tolong dukung author ya dengan cara like, coment, vote, dan beri bintang lima terimakasih ☺️☺️||...

__ADS_1


__ADS_2