Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 85


__ADS_3

Zack memperbaiki posisi duduknya. "Mereka mempertanyakan hal itu tapi aku terpaksa berbohong mengatakan kalau kalian tidak merestui pernikahan kami." Zack mengakui, berkata jujur pada Ibu.


"Dan mereka menyetujui pernikahan kalian ?"


"Iya, aku yang memaksa mereka."


"Ke dua orang tua mu pasti berpikir yang bukan-bukan tentang Alanna." Ibu berkata khawatir.


"Tidak Ibu, mereka menyayangi aku." Alanna membantah, menyela pembicaraan Ibu dan Zack.


"Betulkah ?" Ibu bertanya tidak yakin.


"Betul Ibu, aku tidak berbohong." Alanna menyakinkan.


Ibu menghela nafas panjang, memijat keningnya yang mulai sakit akibat mendengar kabar dari Zack dan Alanna.


"Ibu ke kamar dulu untuk beristirahat, Ibu perlu waktu untuk memahami situasi ini." Kata Ibu dengan wajah sedih dan nampak kecewa sambil bangkit berdiri dari duduknya.


Zack dan Alanna hanya terdiam melihat Ibu yang berjalan menuju kamarnya.


Alanna menoleh pada Zack. "Mas tidak apa-apa ?" Alanna bertanya khawatir.


"Mas baik-baik saja sayang, keadaan sekarang ini tidak seberapa dengan keadaan yang mas khawatirkan."


"Maksud mas Zack ? aku tidak mengerti."


Zack tersenyum simpul. "Mas membayangkan Ibu akan marah dan berteriak padaku, mengusirku dengan melemparkan pisau dapur padaku." Zack bercanda menggoda Alanna.


Alanna refleks tertawa geli memukul lengan Zack. "Mas Zack bisa saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Ibu marah sambil melemparkan pisau dapur ke arah mas Zack." Ucap Alanna di sela-sela tawanya.


Zack mengulurkan tangannya membelai lembut pipi Alanna. "Mas senang kamu tertawa, tidak usah terlalu memikirkan masalah ini lambat-laun Ibu pasti tidak akan marah dan menerima kenyataan pernikahan kita."


"Kenapa mas tidak memberi tahu tentang kejadian malam itu ?" Alanna bertanya karena rencana Zack ingin memberitahu Ibu.


"Mas sebenarnya ingin memberitahu hanya tadi saat sedang berbicara dengan Ibu tidak ada kesempatan di tambah lagi Ibu sepertinya tidak begitu sehat jika aku memaksa bercerita takut nya tidak baik untuk kesehatan Ibu." Zack berkata khawatir.


"Betul yang mas katakan, aku juga khawatir dengan kesehatan Ibu jika kita langsung memberitahukan semuanya." Alanna berkata setuju.


"Nanti kita beri tahukan padanya setelah keadaan sudah sedikit membaik."


Alanna mengangguk setuju. "Iya mas."


Zack mengangkat cangkir kopinya dari atas meja, meneguk kopinya yang mulai dingin.


"Mas Zack, malam ini aku tidur di sini menemani Ibu." Kata Alanna. "Mas Zack sudah mau kembali ke hotel ?"


Zack mengangguk. "Iya, mas kembali ke hotel dulu, besok pagi mas akan datang kembali. Kita harus memberi ruang untuk Ibu menerima kabar ini."

__ADS_1


"Iya mas, aku mengerti."


Zack meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja. "Kamu dan Ibu tidak usah memasak untuk makan malam, nanti mas suruh pihak dapur hotel untuk membuatkan makan malam untuk kalian dan akan mereka antar ke sini."


"Baik mas."


Zack bangkit berdiri di susul Alanna. "Mas pergi dulu, baik-baik di rumah kalau ada apa-apa hubungi mas." Pesan Zack.


"Iya mas, aku tahu."


Alanna mengantar Zack sampai pintu depan rumah, menutup pintu setelah Zack pergi.


Menunggu perasaan Ibu membaik, Alanna memilih istirahat di dalam kamarnya.


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika terdengar ketukan dari seseorang di pintu depan rumah.


"Mungkin orang yang mas Zack suruh untuk mengantar makan malam." Gumam Alanna keluar dari dalam kamarnya menuju pintu depan.


Tebakan Alanna tepat, orang yang mengetuk pintu adalah pegawai hotel. Alanna mengetahuinya lewat seragam hotel yang di pakainya.


"Ini makanan yang di perintahkan Tuan Zack untuk di antar ke sini." Ucap pegawai hotel yang membawa beberapa paper bag besar.


"Iya, terimakasih." Kata Alanna mengulurkan tangan untuk mengambil paper bag dari tangan pegawai hotel.


"Aku permisi kalau begitu, Nyonya Alanna." Pamit pegawai hotel.


Pegawai hotel itu berbalik pergi, Alanna menutup pintu dan masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa paper bag yang berisi makanan.


Terdengar suara pintu terbuka, Ibu keluar dari dalam kamarnya berjalan mendekati meja makan.


"Mana nak Zack ?" tanya Ibu yang tidak melihat keberadaan Zack, menarik kursi untuk duduk.


"Sudah kembali ke hotel Bu, mas Zack menginap di sana." Jawab Alanna sambil mengatur makanan di atas meja makan.


"Kenapa dia menginap di hotel ? dia tidak nyaman menginap di rumah kita ?" Ibu bertanya dengan nada tersinggung.


Gerakan tangan Alanna terhenti mendengar perkataan Ibu. "Ibu, dengarkan aku." Alanna menarik kursi di samping Ibunya, menatap serius pada Ibu.


"Mas Zack tidak pernah membanding-bandingkan status sosial di antara keluarga kita dan keluarganya begitupun semua anggota keluarga mas Zack. Mereka orang-orang yang baik Ibu, aku bersyukur bersuamikan mas Zack.


"Kenapa mas Zack tidak menginap di sini karena dia ingin memberi ruang dan waktu bagi Ibu untuk menerima kenyataan bahwa kami telah menikah. Mas Zack akan datang kembali ke sini besok pagi dan makanan ini di antar dari hotel atas perintah dari mas Zack."


Ibu terdiam mendengar penjelasan dari Alanna.


"Ibu kecewa dengan tindakan kalian yang menikah tanpa restu dari Ibu dan merahasiakan pernikahan kalian. Anak Ibu hanya kamu Alanna, Ibu bahkan tidak bisa melihat hari bahagia mu." Kata Ibu sedih.


Memeluk erat tubuh Ibu, Alanna berusaha menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Maafkan Alanna Bu." Suara Alanna serak.


Ibu melepaskan pelukannya, menatap serius wajah Alanna.


"Ibu ingin marah pun percuma nak karena sudah terlanjur terjadi. Betul mereka memperlakukan mu dengan baik ?"


Alanna mengangguk menyakinkan Ibu. "Iya Bu, aku tidak berbohong kali ini. Mereka semua sangat baik padaku. Mas Zack sangat menyayangi ku."


Tapi dia tidak ingin mencintai ku, sambung Alanna dalam hatinya merasa sedih.


"Syukurlah kalau begitu, Ibu lega mendengarnya."


"Mama mas Zack menitipkan salam untuk Ibu sebelum kami ke sini." Kata Alanna tersenyum.


"Betulkah ?" Ibu tidak yakin.


"Iya, kalau mau Ibu bisa ikut kami ke Jakarta dan bertemu dengan keluarga mas Zack."


"Nanti kalau ada kesempatan Ibu akan pertimbangkan." Ibu balas tersenyum mulai menerima kenyataan pernikahan Alanna dan Zack.


"Kalau begitu kita makan malam dulu, tidak enak kalau makanannya sudah dingin." Alanna kembali mengatur makanan yang tadi terhenti.


Mereka makan malam sambil bercerita keseharian dan kehidupan Alanna di keluarga Zack membuat Alanna sangat lega karena Ibu nya yang sudah menerima kehadiran Zack.


Alanna bersiap untuk tidur, kelelahan setelah tadi mencuci piring dan merapikan dapur sehabis makan malam, dia yang tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur setelah menikah dengan Zack agak kelelahan setelah bekerja sedikit membuatnya malu dengan diri sendiri yang mulai manja.


Dering panggilan masuk dari handphone nya mengalihkan perhatian Alanna, melihat layar handphone tertulis nama Zack.


"Hallo mas Zack." Kata Alanna ketika sambungan telepon terhubung.


"Sedang apa ?" tanya Zack langsung.


"Aku bersiap tidur, sedikit lelah." Jawab Alanna.


"Sudah makan ?"


"Sudah mas, tadi makan dengan Ibu."


"Makanannya enak ? kamu suka menunya ?"


Alanna tersenyum mendengar rentetan pertanyaan Zack yang terdengar sangat penasaran.


"Enak aku suka, tadi aku habiskan makan malam ku. Ibu juga menyukainya."


"Baguslah kalau kalian menyukainya, bagaimana keadaan Ibu ? dia menanyakan ku ?"


"Dia menanyakan mas Zack, jadi aku katakan kalau mas Zack menginap di hotel dan akan ke sini besok pagi."

__ADS_1


"Mas berharap Ibu sudah tidak marah lagi."


__ADS_2