Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 78


__ADS_3

Alanna terbangun dan membuka mata, menyadari dirinya tidur dalam pelukan Zack. Kedua lengan Zack melingkari tubuh polosnya yang terbungkus selimut tebal.


Alanna bergerak ingin melihat jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur.


"Kamu sudah bangun ?" Suara serak Zack menghentikan gerakan Alanna.


Alanna menoleh menatap Zack. "Maaf, mas Zack jadi terbangun. Aku ingin memeriksa jam berapa sekarang."


Zack menarik Alanna kembali dalam pelukannya. "Sepertinya hari masih gelap, kamu kembali tidur saja." Suara Zack malas.


"Aku sudah tidak mengantuk mas." Tolak Alanna. " Mas saja yang kembali tidur." Ucap Alanna sambil melepaskan diri dari pelukan Zack.


"Kamu ingin ke mana ?" Zack tidak membiarkan Alanna dan semakin mempererat pelukannya.


"Aku ingin mandi air hangat, badan ku terasa pegal."


"Mas sepertinya membuatmu kelelahan." Zack mengelus kulit punggung Alanna.


"Sedikit." Alanna mengakui dengan wajah merona.


Zack mengecup bibir Alanna, gemas melihat sikap malu-malu istrinya. "Lain kali mas akan sedikit menahan diri."


"Aku bangun duluan mas, ingin berendam air hangat sebelum bersiap-siap ke hotel. Aku sudah lama tidak masuk bekerja." Alanna mengalihkan pembicaraan, merasa canggung membahas tentang hal itu.


"Kamu tidak usah lagi pergi bekerja sudah ada yang menggantikan posisi mu di hotel, lebih baik kamu di rumah saja sayang."


"Sudah ada yang menggantikan aku ?" Alanna bertanya memperjelas pendengarannya.


"Iya, mas sudah mencari pengganti mu."


"Tapi kenapa mas tidak berbicara denganku lebih dulu sebelum mencari penggantiku ?" Alanna bertanya, protes dengan tindakan Zack.


"Maaf mas lupa memberitahu."


"Mas memberi tahu ku pun pasti saat sudah ada pengganti ku." Alanna berkata dengan nada ketus.


"Mas hanya mengkhawatirkan keadaanmu sayang." Zack berkata lembut, membujuk Alanna. "Jika tentang dirimu, keputusan mas tidak bisa di ubah." Zack menambahkan dengan raut wajah tegas.


Alanna terdiam, dia sudah memahami sifat Zack yang jika sudah memasang wajah seperti itu artinya pendapatnya tidak bisa di ubah.


"Mengerti lah dengan kekhawatiran ku." Zack kembali membujuk, dirinya tidak ingin bertengkar dengan Alanna.


"Baiklah mas." Alanna terpaksa mengalah.


Zack tersenyum lega mendengar perkataan Alanna. "Tidurlah kembali, hari masih gelap." Ucap Zack memeluk erat tubuh polos Alanna.


Merasa nyaman berada dalam pelukan Zack membuat rasa kantuknya datang, tanpa sadar dirinya tertidur dalam pelukan Zack.


"Sayang, bangunlah." Zack mengusap lembut pipi Alanna untuk membangunnya.


Dengan berat Alanna membuka matanya, refleks menutup matanya kembali dengan selimut karena silau cahaya matahari pagi yang masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Zack tersenyum melihat tingkah Alanna. "Jam berapa sekarang mas ?" Alanna bertanya menurunkan selimutnya setelah matanya menyesuaikan dengan cahaya di dalam kamar.


"Jam tujuh pagi."


Alanna melihat Zack telah berpakaian rapi dengan setelah jasnya.


"Kenapa mas baru membangunkan ku ?"


"Mas sebenarnya tidak ingin membangunkan, mas tidak tega membangunkannya mu yang sedang tertidur pulas tapi karena ada yang harus mas beritahu sebelum pergi bekerja."


"Apa itu mas ?"


"Siang ini setelah makan siang, kita harus menemui Dokter kandungan mu. Hari ini jadwal kontrol mu."


"Iya kah ? Aku tidak mengingatnya." Alanna berkata dengan nada menyesal, tidak memperhatikan hal itu sedangkan Zack mengingat semua.


"Siang nanti mas akan pulang untuk menjemputmu, kita pergi bersama."


"Baiklah." Sahut Alanna mengerti.


"Kalau begitu mas pergi dulu." Pamit Zack mengecup kening Alanna.


"Iya." Alanna membalas tersenyum.


Zack berdiri berjalan menuju pintu kamar, membuka pintu dan menutup pintu dari luar.


Alanna bangun dari tempat tidur, memakai selimut untuk membungkus tubuh polosnya dan berjalan menuju pintu ruang walking closet yang terhubung dengan pintu kamar mandi.


Selesai mandi dan berpakaian, Alanna duduk di depan meja rias memakai bedak dan sedikit lipstik. Pandangan Alanna jatuh pada kalung yang tersemat di lehernya, ragu antara ingin melepas atau tetap memakainya.


"Lebih baik aku tetap memakainya takutnya nanti seperti kejadian lalu, mas Zack memarahiku karena melepas cincin kawin tanpa sepengetahuannya." Gumam Alanna sebelum terdiri berjalan keluar kamar menuju lantai bawah.


Di lantai bawah Alanna heran mendapati Sinta yang masih ada di rumah duduk di sofa ruang tengah.


"Tumben jam begini kamu masih ada di rumah ? tidak ke kampus ?" Alanna bergabung dengan Sinta duduk di sofa.


"Lagi malas kebetulan juga tidak ada jam kuliah pagi."


"Begitu." Sahut Alanna mengerti.


"Yuk kita pergi ke mall." Ajak Sinta antusias.


Alanna berpikir sejenak. "Sebenarnya sih aku mau, sepatu flat yang kemarin aku beli di Malaysia tertinggal di sana." Alanna berkata beberapa saat kemudian.


"Kita pergi saja kalau begitu."


"Tapi aku harus pergi ke Dokter siang ini untuk kontrol kandunganku."


"Kita pergi sebentar saja kok, kita pulang sebelum jam makan siang."


"Boleh juga." Alanna berkata. "Tapi aku tetap harus minta izin sama mas Zack." Alanna menambahkan dengan wajah muram tidak yakin bisa pergi, tiba-tiba teringat perkataan Zack yang lalu.

__ADS_1


"Kamu coba dulu menelepon, siapa tahu kak Zack memberi izin." Sinta memberi saran.


"Baiklah, aku ke kamar dulu untuk mengambil handphone." Alanna berkata hendak berdiri.


"Tidak usah, pakai saja handphone milik ku." Sinta memberikan handphonenya.


Alanna mengambil handphone dari tangan Sinta dan menelpon nomor Zack. Sambungan telepon terhubung saat dering pertama.


"Hallo mas ?"


"Hallo sayang, ada apa meneleponku ? kenapa kamu menelpon pakai nomornya Sinta ? Handphone mu rusak ?" tanya Zack dari seberang.


"Handphone ku di atas di dalam kamar, aku ada di bawah di ruang tengah dengan Sinta." Jawan Alanna. "Mas Zack sudah di mana ?" Alanna balik bertanya.


"Mas baru sampai di ruangan, kenapa sayang ?"


"Mas Zack, aku ingin keluar sebentar dengan Sinta." Alanna berkata dengan ragu-ragu.


Hening sejenak sebelum Zack bersuara. "Kalian ingin pergi ke mana ?"


"Hanya pergi ke mall saja, Sinta mengajak dan kebetulan juga ada yang ingin aku beli." Alanna menjawab. "Aku ingin membeli sepatu flat." Alanna menambahkan.


"Mas tidak bertanya apa yang ingin kau beli dan tidak keberatan dengan banyaknya uang yang kau keluarkan sayang." Zack berkata lembut. "Mas hanya bertanya dengan jelas kemana kamu akan pergi."


"Jadi mas mengizinkan ?" Alanna bertanya penuh harap.


"Iya pergilah, tapi kalian akan di antar dan di temani Pak Risno selama berbelanja."


Alanna tersenyum senang mendengar perkataan Zack. "Iya tidak masalah."


"Pak Risno sedang perjalanan pulang ke rumah, kalian tunggu saja dia. Mas akan memberi tahukan padanya dan kalian pulang sebelum makan siang karena kita ada janji dengan Dokter kandungan mu." Pesan panjang dari Zack.


"Iya mas, aku tahu."


"Sudah kalau begitu mas tutup teleponnya."


"Iya." Kata Alanna sebelum sambungan telepon terputus.


"Bagaimana ?" tanya Sinta penasaran.


"Mas Zack izinkan tapi kita harus pergi dengan Pak Risno."


"Baguslah, tidak apa-apa kita pergi dengan Pak Risno asalkan bisa keluar." Sinta berkata senang. "Kalau begitu kita bersiap-siap dulu."


"Iya tapi aku sarapan dulu."


"Kamu belum sarapan ?"


"Belum."


"Kamu sarapan saja dulu takutnya nanti kamu kenapa-kenapa lagi karena belum sarapan, ekor ekornya kita berdua kena marah sama kak Zack." Sinta berkata.

__ADS_1


__ADS_2