
Pagi harinya Alanna bersiap-siap untuk pergi berbelanja setelah sebelumnya sudah mengirim pesan pada Zack untuk datang mengantarnya.
Zack datang empat puluh menit setelah Alanna mengirim pesan.
"Mas Zack cepat juga datangnya." Ucap Alanna saat keluar dari kamar mendapati Zack yang sudah menunggunya di ruang tengah. "Siapa yang membukakan pintu ? Ibu ?"
"Pertanyaan mu ini aneh." Zack berkata dengan kening berkerut tidak langsung menjawab pertanyaan Alanna. "Kalian hanya berdua di rumah kalau bukan kau pasti Ibu."
Perkataan Zack membuat Alanna sadar dan tertawa akan pertanyaan anehnya. "Ha ha ha.. . Maaf mas ha ha... ." Alanna berbicara di sela-sela tawa lepasnya.
"Sudah lama tidak melihatmu tertawa lepas seperti ini." Kata Zack ikut tersenyum melihat Alanna tertawa.
"Benarkah ?" tanya Alanna berhenti tertawa tapi masih tersenyum lebar.
"Iya." Zack mengulur tangan mengusap lembut pipi Alanna yang merona karena tertawa.
"Nanti dilihat Ibu." Alanna mengingatkan walaupun dirinya tidak menolak sentuhan Zack.
"Kalau Ibu melihat terpaksa saya harus mengakui kalau saya adalah suami mu." Zack berkata dengan nada jail menggoda Alanna.
"Mas Zack ! tidak lucu tahu !" Alanna cemberut memukul dada Zack.
Giliran Zack yang terkekeh geli. " He..he..he.. . Mas bercanda."
"Kita berangkat sekarang ?" tanya Alanna.
"Boleh."
"Kalau begitu saya pamit dulu sama Ibu." Alanna berkata berbalik berjalan ke arah dapur dan tidak lama kemudian muncul kembali. "Sudah mas, kita pergi sekarang."
Alanna menjadi penunjuk arah selama perjalanan ke tempat tujuan mereka dan Zack tidak menduga ternyata tujuan mereka adalah pasar tradisional.
"Kita berbelanja di sini ?" tanya Zack tidak yakin.
"Iya, kita berbelanja di sini." Alanna menjawab pertanyaan Zack dengan yakin.
"Saya mengira kita akan berbelanja di dalam mall."
"Berbelanja di sini juga bagus kok, tidak kalah dengan berbelanja di dalam mall dan yang pasti lebih murah."
"Saya tidak masalah dengan harganya."
"Harusnya mas senang mempunyai istri yang hemat, tidak banyak menghabiskan uang suaminya." Alanna menggoda Zack.
"Sudah kewajiban ku sebagai suami untuk menafkahi istri dan anakku kelak jadi tidak masalah jika istriku menghabiskan uangku." Zack berkata dengan wajah serius.
"Iih...! mas Zack, saya kan hanya menggoda mas, jangan di bawa serius." Alanna berkata gemes.
Zack tersenyum simpul melihat raut wajah Alanna. "Hari ini kau sangat ceria, saya sangat menyukainya."
"Betulkah ?"
"Iya, seperti ini Alanna saat pertama kali saya jumpai yang membuat hari suram ku menjadi lebih cerah dengan senyum cerianya."
"Perkataan mas Zack membuatku malu." Alanna mengakui.
"He..he..he.. " Zack terkekeh geli mendengar perkataan Alanna. "Istriku yang polos." tambahnya menarik Alanna kedalam pelukannya, memeluknya dengan gemas.
"Mas kita harus berbelanja." Kata Alanna beberapa saat kemudian menunggu Zack untuk melepaskan pelukannya.
"Saya rindu dengan aroma tubuhmu, sudah empat hari kita tidak bersama, saya sudah sangat rindu untuk memelukmu saat tidur." Zack berkata dengan suara sedikit parau.
"Kita sudah akan pulang malam ini, mas pasti senang."
__ADS_1
"Sebenarnya saya masih mengkhawatirkan keadaan Ibu tapi jujur saya juga senang karena kita akan pulang." Zack melepas pelukannya.
"Saya juga sebenarnya belum ingin balik ke Jakarta hanya Ibu memaksa, membuatku terpaksa menyetujui keinginannya." Alanna berkata. "Sudah tidak usah di bahas lagi, lebih baik kita belanja saja, mas mau ikut atau ingin menunggu di mobil saja ?"
"Saya ikut." Jawab Zack sambil membuka pintu mobil diikuti Alanna.
Di dalam pasar Alanna sibuk melihat, menawar dan membeli kebutuhan dapur, Zack hanya berjalan mengikut di sampingnya sambil membawa dua tas belanjaan yang hampir penuh dan tentu saja berat.
"Sepertinya keputusan yang tepat mas ikut denganmu untuk masuk ke dalam pasar." Zack berkata.
"Kenapa mas ?"
"Kalau saya tidak ikut, berarti kau harus membawa semua belanjaan ini sendiri." Jawab Zack memperlihatkan kedua tas belanjaan yang hampir penuh.
"O.... itu." Alanna menyahut. "Sudah biasa kok mas, apalagi saat bekerja di hotel sebagai pelayan."
Mendengarnya membuat Zack sedih dengan kehidupan yang dulu dijalani Alanna. Mereka selesai berbelanja saat kedua tas belanjaan sudah penuh.
"Banyak sekali belanjaan kalian." Ucap Ibu saat mereka sudah sampai di rumah dan meletakkan tas belanjaan mereka di atas meja dapur.
"Kebutuhan dapur Ibu." Alanna berkata sambil mengeluarkan barang belanjaan dari dalam tas.
"Nak Zack makan siang di sini kan ?" tanya Ibu.
"Maaf Bu, saya makan di hotel saja. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan sebelum balik ke Jakarta."
"Bukan ini hari minggu ? Nak Zack juga bekerja hari minggu ?" tanya Ibu penasaran.
"Kadang-kadang tapi ini pekerjaan yang sebenarnya mau saya kerjakan besok hanya karena pulang mendadak jadi harus saya kerjakan dan selesaikan sore ini sebelum balik ke Jakarta." Zack menjelaskan membuat Alanna dan Ibu mengerti.
"Jadi mas langsung mau pergi ?" tanya Alanna.
"Iya, mas pergi dulu. Kita nanti bertemu di bandara jam delapan malam. Hubungi mas kalau sudah di jalan."
"Kalau begitu saya pergi dulu Bu, Alanna." Pamit Zack.
"Hati-hati di jalan, kapan-kapan kalau ada kesempatan Nak Zack berkunjung ke sini ya ?"
"Tentu, saya akan datang bersama Alanna untuk mengunjungi Ibu." Zack berkata sambil tersenyum. "Saya permisi dulu Bu." Zack pamit kembali dan di balas anggukan oleh Ibu.
Kesibukan Alanna bersama dengan Ibunya dari pagi hingga sore dan mulai berbenah untuk berangkat balik ke Jakarta saat mulai petang hari tidak membutuhkan waktu yang lama karena saat datang Alanna tidak banyak membawa pakaian. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat dirinya mulai pamit pada Ibu.
"Ibu harus teratur minum obatnya." Pesan Alanna pada Ibunya.
"Iya Ibu tahu."
"Alanna akan datang akhir bulan depan. Saya akan usahakan tiap bulan datang melihat Ibu." Alanna berkata. "Saya pergi dulu Bu." Alanna pamit memeluk Ibunya.
"Iya, hati-hati di jalan, kabari Ibu kalau sudah sampai." Pesan Ibu sebelum Alanna pergi.
"Iya akan saya kabari kalau sudah sampai." Alanna berbalik berjalan menuju mobil taksi yang telah menunggunya.
Sesampainya di Bandara, Alanna langsung menelepon Zack. Dering pertama telepon langsung terhubung.
"Hallo mas Zack."
"Hallo Alanna, kau sudah di mana ?" Zack bertanya.
"Sudah di bandara mas, mas sekarang di mana ?"
"Masih di jalan, tapi sudah tidak lama sampai, sudah terlihat bandara."
Mendengar perkataan Zack membuat Alanna kembali keluar menuju pintu utama Bandara. "Saya ada di luar."
__ADS_1
"Iya, mas melihatmu." Kata Zack lalu panggilan telepon terputus. Tak lama ada mobil yang berhenti tidak jauh dari Alanna berdiri, dan Zack keluar dari mobil itu.
"Mas Zack." Alanna berjalan mendekat dan ternyata Zack di antar oleh seorang pria yang kalau Alanna tidak salah ingat adalah General Manager hotel Zack tempatnya menginap, keluar dari dalam mobil menyusul Zack.
"Dari tadi kau datang ?" Tanya Zack saat Alanna sudah ada di depannya.
"Baru juga sampai mas." Jawab Alanna tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Zack saat ada orang lain bersama mereka.
"Apa kabar Nyonya Alanna ? saya General Manager hotel milik Pak Zack yang di Surabaya." Pria itu memperkenalkan diri.
"Kabar baik, terimakasih." Jawab Alanna kaku saat ada pria yang lebih tua darinya memanggilnya sopan dengan panggilan Nyonya.
Mengetahui Alanna tidak nyaman dengan situasi yang ada membuat Zack bersuara. "Kalau begitu kami permisi, terimakasih telah mengantarku."
"Sama-sama pak Zack, senang bisa membantu anda." Balas General Manager tersenyum ramah.
Zack kemudian mengambil alih memegang koper Alanna, mendorongnya dan meletakkan tangannya di punggung belakang Alanna membawanya berjalan menuju pesawat yang berada di landasan.
"Selamat datang Pak Zack, Nyonya Alanna." Sambut pramugari ramah.
"Terimakasih." Alanna berkata saat masuk tapi Zack tidak berkomentar apa-apa.
"Duduklah Alanna." Kata Zack membawa Alanna ke kursinya dan dia kemudian duduk di kursi bagian sebelah.
Alanna baru sadar kalau Zack tidak membawa koper saat telah berada di dalam pesawat. "Mas tidak membawa Koper ? Pakaian mas bagaimana ?"
"Mas tinggalkan di hotel, mas tidak mengizinkan kamar nomor dua itu di sewakan untuk pelanggan hotel jadi pakaian mas simpan di dalam kamar itu. Dari Singapura pun mas tidak membawa apa-apa." Zack menjelaskan.
"Jadi saat di Singapura dan Surabaya mas membeli pakaian ?" tanya Alanna terkejut tidak percaya.
"Hanya saat di Surabaya mas terpaksa membeli beberapa lembar pakaian tapi saat di Singapura mas tidak membeli karena pakaian mas sudah ada di tersimpan di suite hotel di hotel Singapura."
"O... begitu." Alanna menyahut mengerti.
"Selamat datang Pak Zack, Nyonya Alanna." Suara pria tiba-tiba memotong pembicaraan mereka yang ternyata Pilot Pesawat. "Kita bertemu lagi Nyonya Alanna, ini pertemuan kedua kita setelah yang pertama saat anda melakukan penerbangan untuk bulan madu anda bersama Pak Zack." Tambah Pilot pesawat pada Alanna.
"Ah ! iya." Jawab Alanna teringat. "Senang bertemu dengan anda kembali." Alanna berkata dengan senyum ramah.
"Kapan kita berangkat ?" tanya Zack pada pilot walaupun dia tahu jam berapa akan lepas landas, tidak menyukai Alanna yang terlalu ramah pada Pilot pesawat.
"Sesuai rencana Pak Zack." Jawab Pilot, menyadari Zack yang tidak suka dengan dirinya yang terlalu ramah dengan istrinya, sifat cemburu seorang suami yang tidak suka jika istrinya ramah dengan pria lain. "Kalau begitu saya permisi untuk bersiap-siap." Pamit Pilot sebelum kembali masuk ke dalam kokpit pesawat.
"Kau sudah makan malam ?" tanya Zack pada Alanna.
"Belum mas, kalau mas ?" Alanna balik bertanya.
"Belum juga. Kita makan cemilan di pesawat saja saat pesawat sudah lepas landas. Nanti sampai di rumah baru kita makan malam."
"Iya, boleh mas." Alanna menyetujui.
Tidak lama kemudian terdengar pemberitahuan dari dalam kokpit pesawat kalau pesawat akan bersiap-siap untuk lepas landas dan penumpang di harapkan memakai sabuk pengaman. Sepuluh menit kemudian pesawat telah mengudara menuju Jakarta.
-
-
-
-
-
...|| tolong dukungannya ya dengan cara like, coment, vote, dan beri bintang lima terimakasih ☺️☺️||...
__ADS_1