
Zack memeluk pinggang Alanna posesif begitu mereka masuk ke dalam ballroom hotel tempat acara resepsi pernikahan berlangsung.
Para tamu mulai banyak berdatangan, kehadiran Zack dan Alanna menarik perhatian mereka. Alanna melirik beberapa wanita yang berbicara sambil menatap ke arah mereka.
"Mereka membicarakan kita mas." Alanna berbicara pelan pada Zack dengan perasaan tidak nyaman.
Zack semakin mempererat pelukannya. "Biarkan saja, mereka seperti itu karena sudah lama tidak melihatmu, melihat kita terlihat bersama. Ada bahkan yang mengira kalau kita telah berpisah."
Alanna mengerutkan kening. "Dari mana mas tahu ?" tanya Alanna pemasaran.
"Johan tahu dari grup media sosial perusahaan. Johan admin nya tapi semua staf yang ada di grup itu tidak mengetahuinya. Para staf mengatakan karena lama tidak melihatmu, mereka berpikir bahwa kita mungkin telah bercerai." Zack menjelaskan.
"Hmmm begitu." Gumam Alanna mengerti.
Mereka berjalan menuju meja yang terlihat tidak jauh dari panggung pelaminan, di mana Mama Rani dan Papa Arian sedang duduk. Di pelaminan berdiri Johan dan Sinta yang tersenyum bahagia menerima ucapan selamat dari pada tamu undangan yang baru datang.
Alanna mengedarkan pandangannya melihat banyaknya tamu undangan yang ada di dalam ruang ballroom hotel yang sangat luas itu.
Zack menarik kursi untuk Alanna duduk, baru kemudian dirinya.
"Tamu sudah banyak berdatangan." Komentar Zack pada Mama Rani.
"Iya sudah lebih dari setengah tamu undangan yang hadir." Kata Mama Rani.
"Pengantinnya gagah dan cantik." Alanna berkata sambil tersenyum menatap Johan dan Sinta yang terlihat lebih jelas dari tempatnya duduk.
"Sayang sekali kalian tidak melangsungkan acara resepsi pernikahan kala itu. Kalian juga pasti terlihat gagah dan cantik seperti mereka." Ucap Mama Rani dengan nada menyesal mengikuti arah pandangan Alanna.
"Tidak usah di sesal yang sudah lewat, yang penting kan mereka sekarang tetap bersama itu hal yang terpenting." Papa Arian mengingatkan.
"Iya Pa, Mama tahu."
Zack dan Alanna hanya tersenyum melihat mereka.
Pelayan lewat membawa baki berisi beberapa jenis minuman, Zack memberi kode dan pelayan mendekat.
__ADS_1
Zack mengambil segelas mocktail untuknya dan segelas jus buah untuk Alanna.
"Papa dan Mama ingin menambah minuman kalian ?" Zack menawarkan.
"Tidak usah." Jawab Papa Arian dan Mama Rani bersama, pelayan pun pergi setelah mendengar perkataan mereka.
Acara pernikahan berlangsung lancar dan sangat meriah, Alanna sesekali mengusap belakangnya menahan sakit yang semakin terasa kuat tanpa penglihatan Zack.
Alanna bahkan menolak tawaran Zack untuk mengambilkan makanan untuk dirinya dengan alasan masih kenyang, sedangkan Mama Rani dan Papa Arian dari tadi meninggalkan meja untuk menyapa para tamu undangan.
Keringat mulai membasahi kedua pelipis Alanna, rasa sakit yang semakin meningkat membuat Alanna tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit di raut wajahnya. Alanna refleks memegang erat lengan Zack yang duduk di kursi sampingnya.
Zack refleks menoleh begitu merasakan genggaman tangan Alanna yang lebih cenderung meremas.
"Ada apa sayang ? kenapa dengan kamu ?" Zack mulai panik, memutar menghadap Alanna yang terlihat menahan sakit dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya.
"Mas Zack, pinggangku sakit sekali." Ucap Alanna lirih, akhirnya mengaku menahan sakit.
"Sejak kapan sakit lagi ?" tanya Zack dengan wajah panik.
"Sakitnya hilang timbul dari tadi siang tapi sakitnya tidak mau hilang saat habis mandi." Alanna terpaksa mengakui.
"Soalnya belum terlalu sakit lagian kalau aku bilang pasti mas Zack tidak akan membiarkan aku pergi." Alanna memberi alasan di sela-sela menahan sakit, bersamaan dengan itu tiba-tiba Alanna merasakan keluar cairan hangat dari dalam tubuhnya.
Alanna refleks menunduk ke bawah melihat kedua kakinya, Zack mengikuti arah pandangan Alanna.
"Mas Zack sepertinya air ketubanku pecah." Alanna berkata lirih.
Zack berjongkok di hadapan Alanna tidak menghiraukan tatapan penasaran orang-orang di sekitar mereka.
"Bagaimana ini ? mas mesti bagaimana ?" Zack panik, pikirannya kosong tidak tahu mesti bagaimana karena rasa panik yang dia rasakan.
Alanna mengulurkan tangan, meremas bahu Zack begitu rasa sakit yang sangat datang kembali.
Alanna terus menarik nafas panjang untuk mereda rasa sakitnya. "Telepon Dokter Rosa, katakan kita akan ke sana sekarang." Alanna berusaha berbicara di sela-sela rasa sakitnya.
__ADS_1
Papa Arian dan Mama Rani berjalan mendekat karena melihat banyak orang yang berkerumun di dekat meja tempat Zack dan Alanna duduk.
"Ada apa dengan Alanna Zack ?" tanya Mama Rani begitu berada di samping mereka.
"Sepertinya air ketuban Alanna pecah Mama." Jawab Zack linglung masih dengan posisi jongkok di hadapan Alanna.
"Kalau begitu cepat bawa Alanna ke rumah sakit, kenapa masih di sini ?" Mama menegur Zack.
Zack berdiri. "Betul yang Mama katakan, aku harus membawa Alanna ke Rumah Sakit." Zack tersadar begitu mendengar perkataan Mama Rani.
"Cepat bawa istrimu, nanti Papa yang akan menelepon Dokter Rosa memberitahu kalau kalian ke sana." Papa Arian ikut berbicara.
"Kami akan segera menyusul, kami harus memberi tahukan Johan dan Sinta terlebih dahulu." Mama Rani memberi tahu.
"Baik Ma." Ucap Zack sebelum mengangkat Alanna, menggendong ala bridal style. "Kita ke Rumah Sakit sekarang sayang." Zack menatap Alanna yang menahan sakit, respon Alanna hanya bisa mengangguk karena sakit yang dia rasakan.
Zack berjalan dengan Alanna dalam pelukannya, membela kerumunan orang yang berkumpul.
Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, pandangan Zack tidak berhenti menatap Alanna.
"Pak Risno, tolong cepat sedikit." Perintah Zack panik melihat Alanna yang semakin meringis kesakitan.
"Iya Tuan." Kata Pak Risno, menekan pedal gas mempercepat laju mobil.
"Tarik napas dalam-dalam sayang, jangan dulu kamu ber kuat. Ingat pesan Dokter Rosa saat kelas ibu hamil." Zack mengingatkan, hanya itu yang bisa dia lakukan membuatnya sedikit frustasi.
Alanna mengikuti arahan Zack, menarik nafas panjang. "Mas Zack..... , sakit......... ." Rintih Alanna di sela-sela menarik napas.
Zack mengangguk-angguk, panik. "Iya sayang, mas tahu tapi mas tidak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa sakit mu." Zack menarik Alanna untuk bersandar di dadanya. Satu tangan mengusap pinggang Alanna, satu tangan memeluk erat tubuh Alanna dengan telapak tangan berada di perut bagian bawah Alanna.
Telapak tangan Zack merasakan perut Alanna yang mengeras ketika Alanna kembali merasakan sakit. Alanna meremas lengan Zack yang melingkar di tubuhnya begitu rasa sakit kembali menyerangnya. Zack sendiri hanya bisa membiarkan kuku Alanna mencengkeram kuat lengannya.
"Pak Risno, masih jauh ?" Zack mulai emosi karena panik.
"Tidak lama Tuan, sedikit lagi." Pak Risno menyahut, mengerti dengan situasi Tuannya.
__ADS_1
"Mas Zack..... , sakitnya semakin sering." Rintih Alanna lirih.
"Tahan ya sayang, tidak lama lagi kita sampai di Rumah Sakit." Bujuk Zack lembut.