Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 76


__ADS_3

Acara berjalan lancar, para tamu undangan menikmati hidangan yang di sediakan. Chef dengan cekatan memanggang daging di alat pemanggang untuk tamu yang ingin menikmati hidangan berbeque.


Di sisi lain taman, Sinta sedang menikmati mocktailnya di tangannya seorang diri menjauh dari kerumunan. Duduk di kursi taman memandang keindahan taman yang di sinari cahaya lampu.


"Hanya sendiri ? keberatan jika aku bergabung ?" Suara asing pria mengganggu lamunannya.


Sinta menoleh menatap pria yang baru kali ini di lihatnya. "Sebenarnya iya, aku sedang ingin sendiri." Jawab Sinta ketus.


Pria itu hanya tersenyum mendengar jawaban dari Sinta. "Wanita cantik tidak seharusnya duduk sendiri menyendiri di saat yang lain sedang asyik bergembira di sana." Ucap pria asing itu sambil menoleh menatap kerumuman tamu undangan.


Sinta ikut menoleh menatap ke kerumunan tamu undangan mendengar pria itu berbicara. "Aku sedang ingin sendiri saja." Sinta berkata.


Pria itu kemudian duduk di sebelah Sinta, tidak menghiraukan perkataan Sinta untuk tidak mau di ganggu.


"Kamu sepertinya tidak mengerti perkataan ku." Sinta berkata ketus melihat pria asing itu tetap duduk di sebelahnya.


"Putra Pratama."


"Hah !" Ucap Sinta refleks tidak mengerti maksud pria asing itu.


"Namaku Putra Pratama kamu boleh memanggilku Putra saja."


"Aku tidak menanyakan dan tidak berminat mengetahui namamu." Sinta berkata ketus.


"Ternyata sifat Sinta Ibrahim seperti ini, tidak ramah dengan orang lain."


Sinta terkejut mengetahui pria itu mengenal dirinya. "Kamu mengenal ku ?"


"Tentu saja kenal, yang datang di acara malam ini semuanya adalah rekan bisnis keluargamu dan kami mengetahui semua anggota keluarga Arian Ibrahim."


"Begitu ternyata." Ucap Sinta mulai menyukai sifat terbuka dan jujur pria yang di sampingnya.


"Kenapa kamu tidak bergabung dengan yang lain ?" tanya Putra penasaran.


"Dengan yang lain siapa maksudmu ?" Sinta balik bertanya. "Aku serasa bagai anti nyamuk ketika bergabung dengan kak Zack dan Alanna. Membosankan saat bersama mama dan papa, bersama Johan lebih tidak mungkin." Sinta menambahkan dengan raut wajah muram.


"Karena itu aku jarang melihat mu di acara seperti ini ?"


"Begitulah."


Perhatian mereka teralih pada langkah kaki yang mendekat dari arah belakang.


"Aku dari tadi mencari mu." Johan berkata dengan nada kesal pada Sinta.


"Ada apa kamu mencari ku ?" Sinta tidak menghiraukan nada kesal yang di perlihatkan Johan padanya.

__ADS_1


"Kamu menghilang dari acara jadi orang tua mu menyuruhku untuk mencari mu." Johan berkata sambil melirik pria yang duduk di samping Sinta.


"Apa kabar Johan ?" Putra berdiri menyapa Johan sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Kabar baik, Putra Pratama." Johan menyambut jabatan tangan dari Putra. "Aku tidak menyangka kamu akan datang jauh-jauh dari Singapura untuk menghadiri acara malam ini." Johan berkata formal.


"Aku tidak mungkin tidak datang menghadiri undangan dari Arian Ibrahim."


"Sudah lama kamu tidak datang ke Indonesia."


"Iya, aku jarang pulang ke Indonesia sejak mengurus hotel milik keluarga Ibrahim di Singapura." Putra berkata sambil tersenyum ramah.


"Kamu terlalu merendahkan diri, kamu menjabat sebagai General Manager di sana bukan tanpa alasan karena keluargamu memiliki saham terbesar ke dua setelah keluarga Ibrahim." Ucap Johan.


Sinta sebagai pendengar menjadi tahu tanpa harus bertanya siapa sebenarnya Putra Pratama yang sejak tadi mengajaknya bercerita tapi hal itu tidak membuat dirinya tertarik mengetahui lebih banyak tentang pria itu.


"Kak Johan bilang tadi kalau mama dan papa mencari ku, di mana mereka berdua ?" Sinta bertanya memotong pembicaraan mereka berdua.


"Mereka di taman tempat acara berlangsung." Jawab Johan mengalihkan perhatiannya pada Sinta.


"Tunjukkan padaku." Pinta Sinta.


"Baiklah akan ku tunjukkan." Johan mengalah. "Permisi, aku harus menemani Nona Sinta." Johan pamit pada Putra.


"Silahkan." Ucap Putra. "Lain kali kita bertemu dan berbincang-bincang." Putra berkata pada Sinta sebelum mereka berbalik pergi yang hanya di balas anggukan kepala oleh Sinta tanpa tersenyum.


"Tadi mereka di sini, mungkin ada yang mengajak mereka berbincang di tempat lain."


"Tidak masalah kan jika aku masuk ke dalam ? Aku ingin istirahat di dalam kamarku. Acara ini membosankan karena tidak ada yang orang yang ku kenal dan yang bisa ku ajak untuk ngobrol." Sinta mengeluh memasang wajah malas.


"Bukankah tadi kamu mengobrol dengan Putra Pratama ?" Johan bertanya heran.


"Kami tidak mengobrol, dia saja yang tiba-tiba mengajak berbicara."


"Kau tidak tertarik padanya ?" Johan bertanya penasaran.


Sinta mengerutkan kening mendengar perkataan Johan. "Aku bukan wanita yang langsung suka tanpa mengenalnya lebih dulu."


"Bukankah lalu kamu begitu terhadapku ?"


Sinta membuang wajahnya mendengar perkataan Johan. "Itu dulu, sekarang tidak lagi. Lagipula kamu langsung menolak ku saat itu." Ucap Sinta dengan nada ketus.


"Saat itu kamu masih anak-anak, tidak tahu membedakan antara rasa cinta dan rasa tertarik dengan sesuatu yang baru."


"Aku bukan anak-anak yang tidak bisa membedakan ke dua hal itu." Gumam Sinta pelan.

__ADS_1


Johan mendengar tapi berpura-pura tidak tahu. "Kita temui kakak mu untuk memberi tahu jika kamu ingin kembali ke kamarmu." Johan berkata mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah." Sinta menurut, mengetahui dengan jelas maksud dari perkataan Johan yang tidak ingin membahas tentang hal ini lebih jauh.


Mereka masuk ke dalam rumah melalui balkon ruang tengah yang menghubungkan taman. Mereka menemukan Zack dan Alanna yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tengah yang di letakan di sudut ruangan.


Sinta ikut duduk, bergabung dengan mereka di sofa. "Kak Zack, aku lelah dan ingin beristirahat lebih awal." Kata Sinta.


"Kenapa ? kamu kurang sehat ?" Zack bertanya.


"Tidak, hanya lelah saja."


"Pergilah istirahat."


"Aku akan mengantarnya ke atas." Johan menyela.


"Iya Johan, antar Sinta ke atas." Alanna dengan cepat berkata sebelum yang lain menyahut.


"Aku bisa sendiri." Sinta menolak. "Hanya naik ke lantai atas, aku tidak mungkin tersesat di rumah ku sendiri."


"Aku tetap akan menemanimu ke atas." Johan bersikeras membuat Sinta menghela nafas pasrah.


"Terserah kamu saja." Kata Sinta berjalan menuju tangga menuju lantai dua.


Alanna hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku ke duanya.


Zack menoleh menatap Alanna. "Ada yang lucu ?" Zack bertanya penasaran.


"Sepertinya ada yang mulai tidak bisa menyembunyikan perasaannya." Kata Alanna misterius.


"Apa maksudmu ?" Zack tidak mengerti.


"Johan terlihat lain seperti biasanya. Dia biasanya terlihat tenang dan bisa mengontrol perasaannya tapi sekarang dia terlihat seperti orang yang resah."


"Betulkah ? aku melihatnya biasa saja."


Alanna gemas melihat Zack yang tidak sensitif. "Huh ! Mas Zack ini tidak peka sama sekali."


-


-


-


-

__ADS_1


...Maaf jika author update agak lama 🙏...


...tetap dukung author ya dengan cara like, coment, dan vote terimakasih 😊😊...


__ADS_2