
Alanna masih menyesuaikan diri dengan tugas baru nya sebagai kepala room section, masih ada beberapa hal yang masih harus dia tanyakan kepada pak Ariel sebagai atasan langsung, padat nya pekerjaan yang di kerjakan nya sehingga tidak menyadari sudah
waktunya jam istirahat makan siang.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar saat merapikan meja kerjanya berniat turun ke bawah untuk makan siang.
"Ya masuk ! " Alanna menyahut.
Pintu terbuka, ternyata Johan asisten pribadi Zack yang mengetuk pintu.
"Kenapa pak Johan ? ada yang bisa saya bantu ?" tanya Alanna.
"Pak Zack menyuruh mu untuk ke ruangan nya sekarang. "
"Kalau boleh tahu untuk apa ya ? " tanya Alanna penasaran.
"Saya juga tidak tahu, dia tidak memberi tahu, cuman pesan nya kalau kau ke atas di suruh menggunakan lift khusus. "
"Naiklah , terimakasih. "
"Sama-sama, saya permisi dulu ."
Alanna langsung keluar dari ruangan nya begitu Johan telah pergi langsung menuju lift khusus untuk naik ke atas. Saat lift berhenti pintu lift terbuka Alanna berjalan menuju meja sekretaris Zack.
"Maaf, saya di suruh menghadap pak Zack, dia ada di ruangan nya ? " Ucap Alanna sebelum sekretaris itu bertanya alasannya datang.
"Dia ada di ruangan nya. " Jawab sekretaris itu datar.
"Terimakasih ." Alanna berkata dengan senyum ramah walaupun sekretaris itu tidak bersikap ramah pada nya.
Tok tok tok.
Alanna mengetuk pintu saat telah berada di depan pintu ruangan Zack.
"Masuk " Balas Zack dari dalam ruangan nya.
Alanna membuka pintu kemudian menutup kembali pintu saat telah berada dalam ruangan, tampak Zack telah duduk di atas kursi meja makan kecil yang setahu Alanna tidak ada di dalam ruangan Zack saat kemarin dia datang.
"Kemari lah Alanna, temani saya makan siang. " Ajak Zack tersenyum pada Alanna yang masih berdiri di tempat nya.
Alanna pun berjalan mendekat kemudian duduk di kursi yang ada di hadapannya Zack, kenangan mereka yang sering makan bersama saat di Surabaya teringat kembali di kepala Alanna.
"Jadi teringat saat kita masih di Surabaya." Kata Alanna tanpa sadar.
"Di sini pun kita bisa kalau kau mau, itu sebabnya saya memanggil mu agar kita bisa makam bersama."
__ADS_1
"Tapi situasi nya berbeda, sekarang anda atasan ku dan saya bawahan mu. "
"Bukan atasan tapi calon suami mu. " Zack berkata penuh penekanan.
"Saya belum memutuskan nya, bukan kah anda mengatakan akan menunggu jawaban ku sampai nanti malam ? " Alanna mengulur waktu.
"Memang betul. " Zack mengakui.
"Bisakah kita makan dulu ? jangan dulu membahas masalah itu. "
"Baiklah, kita hanya akan makan siang. " Zack menyetujui dan mulai mengambil sendok dan garpu yang berada di samping piring makan nya, Alanna pun mengikuti Zack mulai mengambil sendok dan garpu nya dan mulai menyantap makan siang mereka. "Saya sebenarnya ingin mengajak mu makan di luar tapi setelah jam makan siang saya ada meting penting jadi tidak bisa terlambat untuk menghadiri nya."
"Tidak apa-apa ini pun sudah lumayan, saya tadinya akan makan di kantin hotel tapi Johan datang dan menyuruh ku untuk datang ke sini. "
"Bagaimana dengan pekerjaan mu ? " Zack bertanya di sela-sela makan siang mereka.
"Ada masalah ? "
" Saya masih menyesuaikan diri, saya bertanya pada pak Ariel jika ada yang tidak saya mengerti. " Jawab Alanna.
"Kau pun bisa bertanya pada ku, kau bisa langsung menghubungi ku atau ke ruangan ku untuk bertanya. " Zack menawarkan bantuan.
"Anda sangat sibuk, saya tidak ingin menganggu mu untuk hal yang sepele seperti itu. " Alanna menolak tidak enak.
"Tidak ada yang menganggu kalau itu berhubungan dengan mu. " Zack meyakinkan Alanna.
"Bisa, akan ku ubah nanti setelah makan siang." Alanna mendorong piring makan nya setelah menghabiskan makan siang nya. "Saya sudah selesai."
"Kalau begitu saya juga sudah harus pergi meting. " Zack mengecek jam tangan nya. "Semoga meeting nanti tidak memakan waktu. " Harap Zack.
"Nanti saja anda datang kalau masih sibuk."
"Tidak apa-apa, masalah kita jauh lebih penting. " Zack berdiri di ikuti oleh Alanna. "Mungkin saya agak lambat datang. "
"Baiklah akan saya tunggu. " Alanna berjalan menuju pintu.
"Alanna, saya berharap jawaban dari mu tidak mengecewakan ku. " Ucapan Zack menghentikan gerakan Alanna saat hendak membuka pintu, menoleh menatap Zack sebentar kemudian menghilang ke balik pintu.
Pulang dari kantor Alanna langsung mandi membersihkan diri kemudian menuju dapur untuk membuat makan malam untuk dirinya sendiri. Menunggu kedatangan Zack yang mungkin agak lambat Alanna memutuskan untuk menonton siaran televisi. Alanna melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam memutuskan untuk menghubungi Zack untuk jangan dulu datang jika dirinya masih sibuk.
Alanna ingin mengambil handphone nya yang berada di dalam kamar saat terdengar suara bel dari pintu depan, Alanna kemudian membuka pintu dan tampak Zack dengan penampilan yang sedikit berantakan dari yang biasa Alanna lihat, kancing kemeja bagian atas sudah terbuka, dasi tergantung longgar di leher nya dan jas nya sudah dia lepas. Alanna bergeser sedikit memberi zack jalan kemudian menutup pintu.
"Anda tampak berantakan. " Ucap Alanna saat mereka sudah berada di dalam.
"Ingin saya buat kan kopi ? " tanya Alanna berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Boleh. " jawab Zack menjatuhkan dirinya di atas sofa tampak kelelahan.
"Kenapa anda memaksakan diri untuk ke sini kalau sangat lelah ? " tanya Alanna mendekat meletakkan kopi yang di pesan Zack di atas meja dan duduk di sofa samping Zack.
"Saya ingin mendengar jawaban mu. " Zack duduk tegak menatap Alanna serius.
Alanna menelan ludah gugup di tatap seperti itu oleh zack. "Saya setuju menikah dengan mu tapi dengan syarat. " Alanna akhirnya bersuara dan melihat Zack yang menghela nafas lega.
"Syarat apa ? " Zack penasaran.
"Saya ingin pernikahan kita di rahasiakan."
"Kenapa harus di rahasiakan ? " tanya Zack heran.
"Anda akan berpikir seperti diriku jika berada di posisi ku. " Jelas Alanna yang belum di mengerti oleh Zack. "Anda berkata pernikahan ini mungkin hanya sementara kalau ternyata saya tidak hamil, saya tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang karena pernikahan yang hanya seusia jagung. " Tambah Alanna.
"Bahkan dari ibu mu pun ingin kau rahasiakan ?" tanya Zack mulai memahami alasan Alanna.
"Iya , bahkan dari ibu ku. " Alanna meyakinkan Zack sudah mantap dengan keputusan nya.
"Tapi saya tidak bisa merahasiakan nya dari keluarga ku." Ucap Zack keberatan.
"Tidak masalah untuk ku kalau keluarga mu tidak keberatan dengan alasan kenapa kita menikah dan mungkin tidak lama kemudian kita akan bercerai. "
"Oke saya tidak keberatan kalau pernikahan ini di rahasiakan, tapi setelah menikah kita akan tinggal di rumah keluarga ku. " Zack berkata dengan nada tidak ingin di bantah.
"Bisa kah saya masih bekerja di hotel setelah kita menikah ? " Alanna bertanya berharap Zack mengizinkan.
"Bisa tapi tidak selamanya, kita lihat bagaimana nanti kedepannya." Jawaban dari Zack sudah cukup membuat Alanna senang.
"Pak Zack masih ada satu hal yang ingin saya tanyakan. " Alanna berkata sedikit ragu.
"Katakan. " Kata Zack singkat sambil menikmati kopi nya yang sudah mulai dingin.
"Masih bisa apartemen ini saya tinggali jika nanti kita bercerai ? "
"Kenapa tidak bisa, ini apartemen mu atas nama mu. "
"Kenapa bisa atas nama ku ?, saya merasa tidak pernah membeli apartemen ini." Alanna berkata bingung.
"Saya membeli nya atas nama mu ." Jawab Zack singkat.
"Kenapa anda berbuat begitu ? saya tidak ingin berutang budi pada seseorang. " Ucap Alanna tidak senang.
"Kalau begitu kau bisa bayar pada ku dengan mencicil nya karena setahu ku kau tidak mempunyai uang tunai untuk membayar nya sekaligus. Sudah lah Alanna saya tidak mau membahas hal yang tidak begitu penting. " Zack berkata tidak ingin lagi di bantah, bangkit dari duduknya setelah menghabiskan kopinya.
__ADS_1
Melihat nya berdiri Alanna berpikir Zack akan bersiap untuk pulang. "Anda sudah akan pulang ? " Alanna bertanya.
"Iya ini sudah larut sekali. " Zack menjawab sambil melihat jam tangannya. "Istirahat lah Alanna, besok saya ada rapat di luar kantor jadi kita mungkin tidak bisa bertemu tapi jam tujuh malam saya akan menjemput mu untuk berkenalan dan makan malam dengan keluarga ku."