
Alanna berangkat pagi-pagi sekali ke Rumah Sakit sebelum Dokter memeriksa Ibunya pagi ini.
"Ibu sudah sarapan ?" tanya Alanna saat baru masuk.
"Belum."
"Kenapa Ibu belum sarapan ?"
"Makanan nya juga baru saja di antar, tidak lama sebelum kau datang."
"Ibu ingin makan di tempat tidur atau di sofa ?"
"Di sofa saja." Jawab Ibu, turun dari tempat tidur berjalan menuju sofa. "Kau sudah sarapan Alanna ?"
"Belum, Ibu dulu saja yang sarapan, saya nanti setelah Ibu selesai."
Handphone Alanna berdering tanda pesan masuk, ternyata pesan dari Zack.
|| Kau sudah sarapan ? || Zack bertanya.
Alanna membalas. || Belum mas ||
|| Akan ku suruh orang untuk mengantarkan sarapan untukmu. ||
|| Terimakasih mas, mas Zack akan datang hari ini ke Rumah Sakit ? ||
|| Iya, tapi mungkin nanti malam mas baru bisa datang. ||
|| O... begitu, kalau mas sibuk tidak usah memaksa untuk datang. ||
|| Tidak, mas akan datang. Mas memang sedikit sibuk tapi tetap akan ku usahakan untuk datang.||
|| Baiklah, saya tunggu. ||
Alanna selesai membalas pesan dari Zack dan meletakkan handphonenya di atas meja.
"Pesan dari Zack ?" tanya Ibu sambil mengunyah sarapannya.
"Iya, katanya mungkin datang nanti malam karena pagi ini dia sibuk sekalian memberi tahu kalau dia menyuruh orang untuk mengantarkan sarapan untukku." Jelas Alanna pada Ibu.
"Alanna." Panggil Ibu.
"Ya, kenapa Bu ?" Alanna menoleh menatap Ibu.
"Kau membeli cincin ?" tanya Ibu.
Pertanyaan yang sudah di tunggu Alanna akan di tanyakan Ibunya. "Ini maksud Ibu ?" tanya Alanna balik sambil memperlihatkan jarinya yang memakai cincin.
"Iya, terlihat seperti cincin kawin."
Perkataan Ibu sedikit membuat Alanna gugup. "Ini pemberian dari mas Zack." Alanna berkata, berusaha terlihat santai untuk menutupi rasa gugupnya. "Saya tidak ingin mengambilnya tapi dia memaksa ku untuk memakainya."
"Bukankah cincin itu terlalu mewah ? Ibu tidak begitu banyak tahu tentang batu permata tapi bukankah permata di cincin itu terlihat seperti berlian ?"
"Entahlah Bu, Alanna juga tidak tahu. Ibu tidak suka saya memakainya ?"
"Tidak, Ibu hanya penasaran makanya bertanya padamu. Pakailah kalau itu pemberian dari Zack, asal bukan kau yang meminta."
"Ibu kan tahu saya bukan orang seperti itu."
"Iya, iya, Ibu tahu dan Ibu bangga dengan sifat mu yang seperti itu." Kata Ibu tersenyum bangga.
Kurang lebih lima belas menit kemudian sarapan Alanna datang, di antar oleh pegawai hotel pria tempat Alanna bekerja lalu yang sekarang di miliki Zack, Alanna tahu dari seragam yang dia pakai.
"Terimakasih." Kata Alanna saat menerima sarapannya.
"Sama-sama Nyonya, saya hanya menjalankan tugas dari Pak Zack." Kata pegawai hotel itu tersenyum ramah sebelum pergi.
"Bukankah pakaian yang di pakai laki-laki itu sama dengan pakaian seragam hotel tempat kau bekerja lalu saat masih di sini ?" tanya Ibu penasaran saat melihat pria dengan seragam hotel mengantar sarapan untuk Alanna.
__ADS_1
"Iya, mas Zack menginap di hotel itu dan meminta pegawai di sana untuk mengantarkan sarapanku." Alanna menjelaskan sambil membuka kotak makanan nya dan memulai memakan sarapannya.
"Zack sepertinya dari keluarga berada."
"Seperti begitu lah."
"Keluarganya sudah mengetahui hubungan kalian ?"
"Sudah." Jawab Alanna di sela-sela menguyah makanannya.
"Ibu khawatir keluarganya tidak menyukaimu saat mereka bertemu denganmu karena kita hanya orang biasa."
"Ibu terlalu khawatir, saya sudah bertemu keluarga mas Zack dan mereka semuanya sangat baik." Alanna berkata menenangkan Ibunya.
"Betulkah ? saya kira kalau orang kaya pasti tidak suka jika anaknya berhubungan dengan orang biasa seperti kita."
"Ha...ha....ha.... ." Alanna tertawa mendengar perkataan Ibunya. "Ibu ini terpengaruh drama di televisi karena terlalu sering menonton."
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka, Alanna menghentikan makannya dan bangkit berdiri berjalan untuk membuka pintu. Dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Ibu.
"Masuk Dokter." Kata Alanna mundur mempersilahkan Dokter dan perawat untuk masuk.
"Bagaimana keadaan anda ?" tanya Dokter pada Ibu.
"Sudah sangat baik Dok." Jawab Ibu tersenyum.
"Melihat hasil pemeriksaan anda pagi ini, sore nanti anda sudah boleh pulang tinggal menghabiskan cairan infus dan menyelesaikan jadwal suntikan obat lewat infus pagi ini." Dokter menerangkan dengan ramah.
"Syukurlah sudah bisa pulang." Ibu berkata lega. "Terimakasih Dokter." Tambah Ibu tersenyum ramah.
"Tapi obat tekanan darahnya harus rutin di minum dan pola makan harus di jaga juga perbanyak minum air putih." Dokter mengingatkan.
"Baik Dok."
"Kalau begitu saya permisi."
"Ibu senang sekali sudah bisa pulang." Kata Ibu pada Alanna saat Dokter telah pergi.
"Baguslah, Alanna juga senang karena Ibu sudah sehat."
"Lebih baik kau mengabari Zack kalau kita akan keluar sore ini takutnya dia datang ke Rumah Sakit malam saat kita sudah pulang." Ibu memberitahu Alanna.
"Ah ! iya, betul yang Ibu bilang." Alanna teringat. "Ibu istirahatlah, saya akan menelpon mas Zack di luar sekalian mau menghubungi Gita dan Ayu, memberi kabar kalau Ibu sudah boleh pulang."
Alanna keluar menuju taman yang berada di luar. Mengirim pesan pada Ayu dan Gita, tidak menelpon karena mereka bekerja sif pagi dan takut mengganggu mereka saat sedang bekerja.
Sudah dua hari tidak mengabari mama Rani membuat Alanna memutuskan untuk menghubungi mama Rani terebih dulu. Sambungan telepon terhubung saat dering telepon ke dua.
"Hallo mama." Kata Alanna.
"Hallo Alanna, bagaimana kabar Ibumu ? mama kemarin menelpon Zack katanya keadaan Ibu mu sudah membaik."
"Iya mama, tadi Dokter bilang kalau sore ini sudah bisa pulang."
"Syukurlah kalau begitu, mama turut senang mendengarnya. Zack sudah tahu ?"
"Belum ma, akan saya telepon setelah mengabari mama."
"Kalau begitu sebaiknya kau segera menghubunginya."
"Iya ma, kalau begitu saya sudahi dulu teleponnya."
"Iya." Kata mama Rani kemudian memutuskan sambungan telepon.
Alanna kemudian menelepon Zack, sambungan telepon terhubung pada dering pertama.
"Hallo mas Zack."
"Ya kenapa Alanna ?"
__ADS_1
"Mas sibuk ?"
"Sedang briefing dengan kepala-kepala bagian." Kata Zack dari seberang.
"Kalau begitu nanti siang saya telepon ulang." Alanna berkata, merasa bersalah mengganggu Zack bekerja.
"Tidak apa-apa Alanna, katakan kenapa kau menelponku." Zack menenangkan Alanna.
"Hanya ingin memberitahu kalau Ibu sore ini sudah bisa pulang."
"Bagus sekali." Zack senang mendengarnya. "Saya usahakan ke sana pukul tiga sore."
"Baik mas, sudah dulu kalau begitu, mas bekerjalah saya tidak menggangu lagi."
"Iya, mas tutup dulu teleponnya." Kata Zack lalu sambungan telepon terputus.
Alanna kemudian masuk kembali ke dalam untuk menemani Ibunya. Sementara di tempat yang lain, Zack kembali mengalihkan perhatiannya pada orang-orang di hadapannya.
"Maaf dengan telepon barusan, keluargaku menelepon, saya harus mengangkatnya." Zack berkata pada para pegawai yang terdiri dari kepala-kepala bagian dan General Manager hotel.
"Tidak apa-apa Pak, kami maklum pasti hal yang penting sampai saudara perempuan anda menelepon." Kata General Manager yang mengetahui Zack hanya memiliki satu saudara perempuan.
"Telepon tadi bukan dari saudara perempuanku tapi dari istriku." Zack mengoreksi seraya tersenyum simpul.
"Maaf Pak, kami tidak tahu kalau anda sudah menikah." Kata General Manager salah tingkah.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu. Tidak banyak orang yang tahu kalau saya sudah menikah." Zack berkata memaklumi. "Tidak usah di bahas lagi, kita teruskan kembali yang tadi." Zack kembali fokus dengan pekerjaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, tetapi Zack belum datang. Perawat sudah melepas infus yang terpasang di tangan Ibu, memberikan obat yang harus d minum saat di rumah.
"Ibu, saya ke bagian administrasi dulu untuk membayar tagihan Rumah Sakit." Kata Alanna saat Perawat telah keluar.
"Pasti tagihan Rumah Sakitnya mahal." Kata Ibu dengan raut wajah khawatir.
"Ibu tentang saja, tidak usah mengkhawatirkan yang tidak perlu." Alanna tersenyum, menenangkan Ibunya. "Alanna pergi dulu."
Saat keluar Alanna hampir menambrak Zack yang juga hendak masuk. Zack refleks mengulurkan tangan untuk memegangi Alanna.
"Hati-hati Alanna." Zack menegur Alanna yang kurang perhatian dengan sekitar.
"Maaf mas." Alanna tersenyum salah tingkah.
"Kau mau ke mana ?"
"Mau ke bagian administrasi untuk membayar tagihan Rumah Sakit Ibu."
"Kau membawa uang tunai yang cukup ?" tanya Zack heran karena menurut ingatannya dia belum memberi Alanna kartu debit untuk menarik uang, minggu lalu dia memang mentransfer uang ke rekening lama Alanna karena menyuruh Alanna mentransfer uang itu ke rekening Ibunya melalui rekeningnya. Dia menyuruh Alanna untuk membaginya, setengah untuk dia transfer sisanya untuk di simpan sebagai tabungannya.
"Tidak banyak mas, hanya dua juta. Uang di rekeningku yang mas transfer kemarin masih ada, saya tidak mengambilnya karena mas bilang itu harus di simpan sebagai tabungan. "
"Sepertinya itu tidak cukup, kenapa tidak menungguku ?"
"Saya mengira mas mungkin tidak bisa datang karena masih sibuk."
"Kalau ternyata uang yang kau bawa tidak cukup bagaimana ?"
"Bukankah bisa membayar menggunakan kartu kredit ?" Alanna balik bertanya.
Mendengar perkataan Alanna membuat Zack menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alanna yang tidak berpikir panjang.
"Sudah, kau masuk saja nanti mas yang mengurus administrasinya."
"Baik mas." Alanna berkata menurut dan berbalik masuk.
"Cepat sekali kau kembali." tanya Ibu melihat Alanna kembali.
"Alanna ketemu mas Zack di depan, dia berkata akan mengurus administrasinya." Alanna menjelaskan.
"Begitu.... ." Ibu menyahut mengerti.
__ADS_1