
"Sayang, kamu di sini rupanya." Suara Zack terdengar dari belakang Alanna.
Alanna yang terkejut dengan kehadiran Zack, refleks menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
Zack melangkah mendekat, berjalan memutari kursi dan duduk tepat di samping Alanna.
Alanna menunduk tidak menatap ke arah Zack.
"Mas mencari mu karena Sinta mengatakan kalau kamu dari tadi sudah kembali ke kamar." Zack kembali berbicara, menoleh menatap Alanna yang hanya menunduk tidak menanggapi perkataannya.
Zack mengerutkan kening melihat tingkah Alanna yang terlihat lain dari biasanya.
"Kenapa sayang ? ada yang salah atau ada yang sakit ?" Zack bertanya.
Hatiku yang sakit mas !!
Alanna hanya sanggup menggelengkan kepala masih menunduk tanpa bisa mengutarakan isi hatinya. Air mata yang tadi sudah berhenti kini kembali membanjiri pelupuk matanya.
"Aku baik-baik saja mas." Suara Alanna serak berusaha menahan air matanya.
Zack mengulurkan tangan ke wajah Alanna, memaksa Alanna menatap padanya.
"Kamu kenapa menangis ? ada yang sakit atau ada yang membuat mu menangis ? katakan pada mas." Zack bertanya dengan nada panik memegang kedua bahu Alanna.
Hatiku sakit mas dan kamu yang membuat ku menangis seperti ini. Berhenti berpura-pura baik di hadapan ku, ingin sekali aku mengatakan seperti itu langsung padamu.
Alanna hanya bisa bersuara dalam hati menatap Zack.
"Kepala ku sakit mas." Alanna beralasan tidak sanggup berbicara jujur di hadapan Zack.
"Kalau begitu kita kembali ke kamarmu, mas kan sudah bilang jangan dulu berjalan keluar." Zack berkata dengan nada khawatir membantu Alanna untuk berdiri.
Zack memeluk pinggang Alanna dengan tangan sebelah kanan dan mendorong tiang infus di sebelah kiri.
Alanna hanya terdiam, Zack yang membawanya kembali ke kamarnya.
Mereka masuk dan di sambut raut wajah keheranan dari Mama Rani, Papa Arian dan juga Sinta.
"Kenapa dengan Alanna, Zack ?" tanya Mama Rani.
Zack membantu Alanna untuk naik ke atas tempat tidurnya.
"Kepala Alanna sakit Mama." Jawab Zack.
"Kalau begitu kita panggil Dokter." Kata Mama Rani dan menoleh pada Sinta. "Panggil kemari Dokter." Perintah Mama Rani.
"Tidak usah Ma." Alanna segera menyahut. "Takutnya nanti infusnya tidak jadi di lepas sore ini kalau aku masih mengeluh sakit di bagian kepala." Alanna beralasan.
"Betul yang Mama bilang sayang, kita harus memanggil dokter untuk memeriksa mu." Zack bersikeras.
"Tidak apa-apa mas, istirahat sedikit pasti langsung hilang." Alanna menyakinkan.
"Baiklah, tapi kita akan memanggil Dokter jika sakitnya tidak hilang." Zack terpaksa menurut.
Alanna mengangguk setuju. "Iya."
__ADS_1
"Istirahatlah kalau begitu." Kata Zack, Alanna menutup mata berusaha untuk tidur.
"Lebih baik kita pulang saja agar Alanna bisa beristirahat." Kata Papa Arian.
"Iya, betul yang Papa katakan." Mama Rani setuju, berdiri dari duduknya.
"Zack tetap kabari rumah kalau ada apa-apa dengan Alanna." Pesan Papa Arian.
"Iya Pa, akan ku kabari."
"Kami pulang dulu Zack." Pamit Mama Rani hanya pada Zack karena melihat Alanna yang telah tertidur.
"Iya Mama."
Alanna sendiri tanpa sadar telah lelap tertidur, kelelahan sehabis menangis.
Sore itu sesuai instruksi dari Dokter, infus Alanna di lepas dan tinggal mengkonsumsi obat minum saja.
"Jadi kapan istriku bisa pulang Dokter ?" tanya Zack.
"Jika tidak ada keluhan malam ini besok pagi istri anda sudah bisa pulang." Jawab Dokter dengan ramah.
"Syukurlah kalau begitu, terimakasih Dokter." Zack berkata lega.
"Sama-sama Pak Zack." Balas Dokter sebelum keluar dari kamar Alanna.
Zack mendekati Alanna yang duduk di atas tempat tidur.
"Bagaimana perasaan mu ?" Zack bertanya.
"Kita besok sudah bisa pulang, mas senang akhirnya kamu sudah sembuh." Zack mengulurkan tangan berniat mengusap pipi Alanna tapi terhenti begitu Alanna refleks menghindari sentuhan Zack.
Alanna melihat Zack terkejut dengan sikapnya. "Aku ingin istirahat lebih awal mas karena besok kita sudah bisa pulang." Alanna asal berbicara mencari alasan.
"Baiklah, istirahatlah." Zack terpaksa berkata, merasa ada yang tidak beres tapi tidak tahu apa. Sikap Alanna terasa berbeda sejak siang tadi tapi dirinya tidak ingin bertanya dan memaksa nya untuk berbicara karena Alanna yang masih kurang sehat.
Pagi itu Dokter kembali datang untuk memastikan keadaan Alanna sebelum keluar dari Rumah Sakit. Merasa tidak ada masalah Dokter mengizinkan Alanna untuk pulang.
"Kita harus menelepon memberitahukan orang di rumah." Kata Zack sambil menekan layar handphone nya.
"Siapa yang mas ingin hubungi ?" tanya Alanna.
"Mama, kenapa sayang ? ada yang kamu inginkan ?"
"Tidak ada mas, aku hanya bertanya saja. Papa dan Sinta di mana mas ?"
"Rencana pagi ini Papa akan bertemu dengan temannya kalau Sinta mungkin ke kampus, mas tidak begitu tahu." Jawab Zack bingung dengan pertanyaan Alanna yang sedikit aneh.
"Kenapa sayang, ada yang kamu butuhkan ?" Zack kembali bertanya.
"Tidak ada mas, lebih baik mas menelepon Mama saja."
"Baiklah." kata Zack akhirnya walaupun masih penasaran dengan maksud perkataan Alanna.
Zack menelepon dan terhubung, Zack menekan tombol loudspeaker.
__ADS_1
"Hallo Ma."
"Hallo Zack, kenapa pagi-pagi menelepon Mama ?" tanya Mama.
"Dokter baru saja memeriksa Alanna dan mengatakan Alanna boleh pulang pagi ini." Zack memberitahu.
"Syukurlah, kamu ingin Mama ke sana ?"
"Tidak usah Mama, aku hanya ingin mengabari Mama saja."
"Baiklah kalau begitu mau mu."
"Mama tunggu kalian di rumah."
"Iya Ma, aku tutup dulu teleponnya."
"Iya." Kata Mama dan sambungan telepon terputus.
Zack meletakkan handphonenya di atas tempat tidur Alanna.
"Kamu berganti pakaian saja, mas ke bagian administrasi dulu sebelum kita pulang."
"Iya mas."
Zack berjalan ke arah pintu dan menutup pintu dari luar.
Alanna bergegas turun dari tempat tidur menuju lemari pakaian, mengambil pakaiannya yang tergantung rapi dan melangkah menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Usai berganti pakaian, Alanna segera keluar dari kamarnya sebelum Zack kembali dari bagian administrasi.
Melangkah cepat setengah berlari menuju pintu keluar gedung Rumah Sakit dengan jantung berdegup kencang.
Sampai di luar, Alanna langsung menuju jalan raya menunggu mobil taksi yang lewat.
Melihat mobil taksi yang mendekat, Alanna segera menahannya. Memberikan alamat tujuan begitu masuk.
"Bisa minta tolong cepat sedikit Pak." Alanna berkata gelisah, takut rencana untuk pergi yang dia pikirkan sejak kemarin gagal.
"Baik Nona." Sahut Sopir taksi yang langsung menaikan kecepatan laju mobil taksinya.
Alanna duduk gelisah menunggu mobil sampai ke tempat tujuan.
"Pak, bisa Bapak menungguku ? aku hanya masuk sebentar untuk mengambil dompet setelah itu aku masih ingin pergi ke tempat lain." Alanna menjelaskan begitu mobil berhenti di depan pintu gerbang rumah keluarga Ibrahim.
"Baik Nona." Kata Pak sopir setuju.
-
-
-
...yuk intip novel terbaru author dengan judul...
..."Terbelenggu cinta seorang pangeran"...
__ADS_1