Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 34


__ADS_3

"Mama kaget melihat mu pulang lebih awal." Kata mama Rani saat mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.


"Pekerjaan nya selesai lebih awal dari perkiraan." Jawab Zack masih menikmati sarapan paginya.


"Jadi bagaimana kerjaan di sana ?" Papa Arian ikut bertanya.


"Sudah hampir mencapai lima puluh persen pa."


"Bagus, kerja bagus nak." Papa Arian memuji.


"Mama bisa minta tolong belikan Alanna meja rias ?" Zack meminta tolong, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Permintaan yang membuat Alanna kaget mendengar nya dan langsung menatap Zack. "Mas Zack." Alanna menegur Zack, tidak enak merepotkan mama Rani.


"Dia tidak mengeluh tapi saya rasa pasti repot harus berias di depan cermin meja wastafel." Jelas Zack, membuat Alanna salah tingkah.


"Oh.... iya ya betul juga mama tidak kepikiran."


"Bagaimana kalau kita pergi bertiga saja, supaya Alanna bisa pilih sendiri meja nya." Sinta memberi saran penuh semangat.


"Boleh, seperti nya ide yang bagus." Mama Rani berkata. "Bagaimana Alanna ?"


"Boleh ma, tapi pergi nya kapan ? soalnya hari ini masih harus kerja." Jawab Alanna.


"Kalau begitu kita pergi nya hari minggu saja."


"Besok kalau begitu." Sinta menegaskan.


"Iya, berarti sudah sepakat, hari minggu." Kata mama Rani yang di balas anggukan oleh Alanna dan Sinta. "Hampir mama lupa, nanti siang foto pernikahan kalian akan di kirim ke rumah." Sambung mama Rani.


"Nanti siang kami pulang sekalian makan siang di rumah." Zack berkata sambil melihat jam tangannya. "Saya harus berangkat sekarang, Johan sudah menunggu di luar, Alanna tunggu di jemput pak Risno ya ?"


"Iya mas."


"Santai saja, masih terlalu pagi untuk ke kantor, mas ada urusan yang harus di kerjakan pagi ini jadi harus berangkat sekarang." Zack berkata seraya bangkit dari duduknya.


Mencium kening Alanna singkat sebelum meninggal meja makan. Tindakan Zack yang tidak terduga membuat Alanna sedikit terpaku dan di tatap dengan senyuman oleh mama Rani dan Sinta.

__ADS_1


"Mesra sekali pengantin baru." Sinta menggoda membuat Alanna malu.


Alanna berjalan melewati lobby hotel menuju pintu lift untuk naik ke lantai atas ruangan nya dan terhenti saat seseorang memanggil namanya.


"Alanna !" Panggil Rudy berjalan mendekat.


"Ada apa Rudy ?" tanya Alanna saat Rudy telah berdiri di hadapan nya.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin bertanya nanti siang kau makan di kantin ?"


"Tidak, hari saya rencana pulang ke rumah untuk makan siang, memang nya kenapa ?"


"Saya ingin mengajak mu untuk makan siang sama-sama." Jawab Rudy dengan sedikit raut wajah kecewa. "Kalau lain kali bagaimana ?" tanya Rudy tidak menyerah.


"Saya tidak bisa janji." Kata Alanna dengan raut wajah menyesal. "Tapi kalau ada kesempatan, saya pasti mau."


Mendengar perkataan Alanna membuat Rudy sedikit terhibur, bersama itu pintu lift khusus terbuka, Zack bersama Johan keluar dari lift itu. Tatapan Zack langsung tertuju pada Alanna dan Rudy yang berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan interaksi keduanya dan tidak menyukai ekspresi wajah Rudy yang berbicara dengan Alanna.


"Johan, kau berikan data pria yang sedang berbicara dengan Alanna siang ini, sudah ada di meja ku saat saya pulang dari makan siang." Perintah Zack.


Mendengar perintah Zack membuat Johan mengedarkan pandangan mencari kebenaran Alanna dan menemukan nya. "Baik Pak." Jawab Johan.


"Ah ! iya." Jawab Rudy, Alanna langsung berbalik pergi sebelum Rudy menawarkan untuk naik bersama.


Pagi ini Alanna memeriksa dan mengontrol keadaan kamar VIP dan VVIP yang belum di cek in oleh tamu, mengingat para tamu yang menyewa kamar biasa buka orang sembarangan dan jarang di boking membuat Alanna harus lebih memperhatikan keadaan kamar dan fasilitas yang tersedia agar tidak mengecewakan paru tamu hotel.


Setelah selesai Alanna langsung menuju ruangan nya, terduduk lelah di kursi nya. Mengurut betisnya yang capek berjalan kerena menggunakan hak tinggi.


Tidak lama kemudian suara pintu di ketuk terdengar.


"Masuk ! " teriak Alanna masih dengan mengurut betisnya.


Pintu terbuka nampak Johan muncul dari balik pintu. "Tuan muda sudah menunggu anda di bawah." Kata Johan sedikit heran melihat kegiatan Alanna.


Alanna melihat jam dinding di ruangan nya menunjukkan pukul dua belas lewat tujuan menit. "Oh ! sudah siang ya, tidak di rasa karena berjalan mengontrol ruang kamar hotel." Kata Alanna terkejut kemudian merapikan meja kerjanya. " Pak Risno sudah ada di bawah ?"


"Sudah ada."

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih Johan sudah memberi tahu kan ku." Alanna mengambil tas nya dan berjalan menuju pintu.


"Sama-sama nona Alanna." Jawab Johan menyingkir dari pintu memberi Alanna jalan kemudian menutup pintu.


Saat tiba di pintu muka, Alanna melihat Pak Risno yang sudah menunggu nya, berdiri di samping mobil yang terparkir.


"Maaf ya pak Risno nunggu lama." Ucap Alanna dengan raut wajah menyesal saat sampai di samping mobil. "Kalau Johan tidak datang memberi tahu, saya pasti tidak sadar kalau ini sudah siang."


"Tidak apa-apa nona Alanna." Pak Risno lalu membukakan pintu mobil belakang. Dan terkejut melihat Zack yang ternyata sudah ada di dalam.


"Kenapa mas ada di mobil ini ? bukannya mas pulang di antar Johan ?" tanya Alanna saat sudah duduk di samping Zack dan mobil mulai bergerak menjauh pintu masuk hotel.


"Johan harus mengerjakan pekerjaan yang saya berikan, jadi memilih untuk makan di hotel saja." Jelas Zack.


"Tapi pasti ada orang yang melihat kita naik mobil yang sama mas."


"Tidak ada yang melihat ku saat masuk ke dalam mobil, lagian ini jam istirahat makan siang. Para staf hotel jarang yang keluar makan dan lebih memilih makan di kantin hotel." Zack meyakinkan Alanna.


"Bagus lah kalau begitu." Alanna berkata lega.


"Siapa yang berbicara dengan mu tadi pagi di lobby hotel ?" tanya Zack berusaha menyembunyikan nada tidak suka pada suara dan raut wajahnya.


"Teman mas, sama-sama bekerja di hotel." Jawab Alanna yang di balas anggukan mengerti dari Zack.


"Apa yang kau kerjakan pagi ini ?" tanya Zack mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas masalah itu lagi.


"Mengontrol kamar tamu VIP dan VVIP yang belum di boking, melihat keadaan kamar apakah sudah sesuai standar pelayanan hotel kita, tidak boleh membuat tamu hotel mengeluh dan komplen dengan pelayanan kita."


"Jangan terlalu memaksakan diri."


"Iya mas, Alanna tahu. Mas Zack tidak usah khawatir."


Tidak lama kemudian mobil sudah memasuki pintu gerbang rumah melewati area taman dan berhenti tepat di pintu depan rumah. Saat mereka masuk terlihat mama Rani tengah sibuk membuka-buka album foto, mereka juga melihat beberapa bingkai foto pernikahan mereka nampak tersusun rapi di atas meja, dan yang menarik perhatian Alanna adalah bingkai foto pernikahan dengan ukuran yang sangat besar tersandar di sofa ruang tengah.


"Eh ! kalian sudah datang." sambut mama Rani saat menyadari kehadiran mereka. "Foto nya juga baru-baru sampai, mama sangat penasaran jadi langsung membuka nya."


Zack dan Alanna duduk bergabung dengan mama Rani di sofa.

__ADS_1


"Banyak juga foto nya ya ma ?" Kata Alanna mendekat ke arah meja, melihat satu persatu bingkai foto yang ada di atas meja.


"Iya karena banyak tempat yang mesti kita letakan foto ini. Di ruang keluarga tempat foto-foto keluarga kita dan di sana bukan cuman satu bingkai foto yang harus di letakan, di kamar kalian, di meja kerja Zack di ruang kerja di rumah ini dan meja kerja Zack di ruang kantor nya di hotel." Mama Rani menjelaskan. "Kalau foto yang itu nanti di gantung di dinding kamar kalian, nanti mama menyuruh orang untuk memasang nya." Mama Rani menunjuk bingkai foto besar yang di sandar di sofa.


__ADS_2