Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 64


__ADS_3

Usai makan malam, Zack dan Johan kembali serius dengan pekerjaan mereka sedangkan Alanna dan Sinta sedang asyik menonton acara televisi.


"Kau sudah ingin tidur ?" tanya Alanna, melihat Sinta berjalan ke kamarnya.


"Belum, saya hanya ingin mengambil handphone di dalam kamar." Jawab Sinta, menoleh sebentar sebelum berjalan kembali ke kamarnya.


Bunyi bel pintu berbunyi, seseorang datang dan membunyikannya. Alanna berdiri untuk membukakan pintu karena hanya dirinya yang sedang tidur sibuk.


Alanna membuka pintu dan nampak wanita yang tidak begitu asing di ingatannya tapi dia melupakan nama dan dimana terakhir melihatnya.


"Ada Zack ?" tanya wanita itu langsung tanpa tersenyum sedikitpun.


"Ada tapi anda siapa ya ?" Alanna bertanya sopan.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Alanna, wanita itu mendorong Alanna untuk bisa masuk ke dalam Penthouse.


"Hai Zack." Sapa wanita itu, berjalan mendekati Zack yang sedang bekerja.


"Nurhaliza ? ada hal apa yang membuatmu datang ke sini ?" Zack terkejut dengan kehadiran Nurhaliza di tempatnya. Keluar dari meja kerjanya untuk menyambut tamu nya.


Alanna yang menyusul di belakang mendengar perkataan Zack dan baru teringat, ternyata wanita ini yang bernama Nurhaliza.


"Kau memiliki asisten baru ya ? dia tidak mengenali saya seperti Johan mengenal saya." Nurhaliza berkata tidak suka.


"Asisten baru ?" Zack bertanya bingung, berjalan menuju sofa ruang tengah.


"Iya, asisten baru." Nurhaliza mengulangi perkataannya. "Wanita itu." Tambah Nurhaliza menunjuk wanita yang baru masuk yang ternyata Alanna.


"Uhuk uhuk !" Johan terbatuk, tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Sinta. "Maaf, maaf tuan saya tersedak." Kata Johan pada Zack yang juga terkejut dengan perkataan tamunya.


"Dia bukan asisten baru saya." Zack mengoreksi perkataan Nurhaliza.


"O ya ? sekretaris mu ?" Tebak Nurhaliza sok tahu, membuat Johan yang berdiri di belakang Zack terpaksa menahan senyum mendengar nya.


"Bukan." Zack kembali mengoreksi. "Sayang ke marilah." Zack memanggil Alanna yang dari tadi hanya diam mengamati.


"Sayang ?" Nurhaliza mengerutkan kening mendengar Zack memanggil mesra wanita itu.


Alanna berjalan mendekati Zack yang tersenyum lembut padanya. "Perkenalkan ini istri saya, Alanna." Zack memeluk pinggang Alanna posesif.


"Istrimu ?" Nurhaliza terkejut dengan perkataan Zack.


"Saya sudah pernah katakan di pertemuan terakhir kita bahwa saya sudah menikah. Kenapa sekarang kau terkejut ?"


"Saya mengira saat itu kau hanya sedang bergurau saja."


"Saya tidak pernah berguru untuk hal yang seperti itu."


Alanna merasa canggung dengan situasi seperti ini. "Mas saya ke kamar Sinta dulu, sepertinya ada hal penting yang ingin di bicarakan Nona Nurhaliza." Alanna memotong pembicaraan mereka.


"Baiklah." Kata Zack melepas pelukannya, Alanna berjalan menuju kamar Sinta. "Jadi apa yang membuatmu malam-malam datang ke sini ?" tanya Zack duduk di sofa dan mempersilahkan Nurhaliza untuk duduk.


"Bukan masalah bisnis, saya ke sini hanya ingin menyampaikan undangan dari ayah saya."


"Undangan apa ?"

__ADS_1


"Undangan makan malam di kediaman kami. Kami mengundang juga rekan bisnis Ayah lainnya."


"Kapan acaranya ?"


"Besok malam."


"Baik, kami akan datang." Kata Zack singkat, menyanggupi. "Masih ada yang lain ?"


Perkataan Zack membuat Nurhaliza merasa kehadirannya tidak begitu di ingin kan. "Tidak ada hanya itu." Kata Nurhaliza. "Kalau begitu saya permisi dulu, tidak menggangu kalian lagi." Nurhaliza berdiri.


"Johan akan mengantar mu." Kata Zack yang ikut berdiri.


"Tidak usah repot-repot, saya tahu jalannya." Tolak Nurhaliza.


"Baiklah." Zack berkata, menatap Nurhaliza yang berjalan keluar.


Zack berjalan kembali ke meja kerjanya di susul Johan dari belakang, mereka kembali berkonsentrasi bekerja.


"Ada apa ?" tanya Sinta melihat Alanna yang masuk ke dalam kamarnya.


"Mas Zack ada tamu." Alanna duduk di samping tempat tidur.


"Siapa ?"


"Nurhaliza."


"Siapa itu Nurhaliza ?"


"Anak dari salah satu investor mas Zack."


"O.... begitu, lalu kenapa muka mu cemberut begitu ?" Kata Sinta bergabung dengan Alanna duduk di samping tempat tidur.


"Apa !" Sinta terkejut. "Ha ha ha !" Sinta tertawa terbahak-bahak setelah keluar dari keterkejutannya.


"Jangan tertawa." Alanna menegur Sinta.


"Maaf, maaf soalnya lucu." Kata Sinta di sela-sela tawanya. "Wanita itu tidak melihat pakaian yang kau pakai dan tidak berpikir ? Tidak mungkin ada seorang asisten yang sedang bekerja dengan Bos nya hanya memakai pakaian santai."


"Entahlah, saya tidak tahu juga."


"Jadi apa yang kak Zack katakan ?"


"Dia mengoreksi dan memberi tahu kalau saya ini istrinya."


"Begitu."


"Johan sampai harus menahan tawanya mendengar wanita itu berbicara."


"Benarkah ?" Sinta berkata penasaran. "Pasti situasinya lucu sekali sampai kak Johan tertawa begitu."


Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. "Masuk !" Sinta menyahut.


Pintu kamar terbuka, Zack masuk ke dalam kamar.


"Kalian keluarlah, ada yang ingin saya katakan." Ucap Zack.

__ADS_1


"Tamu mas sudah pulang ?" Tanya Alanna turun dari tempat tidur.


"Sudah dari tadi." Jawab Zack sebelum berbalik keluar kamar yang di ikuti Alanna dan Sinta dari belakang.


Mereka berempat duduk bersama di sofa ruang tengah.


"Ada apa mas ?"Alanna bersuara lebih dulu.


"Besok malam kita akan memenuhi undangan makan malam dari Tuan Malik investor kita."


"Ayah dari Nona Nurhaliza ?" tanya Alanna.


"Iya." Jawab Zack.


"Jadi dia datang ke sini untuk memberitahukan hal itu ?" tanya Alanna kembali.


"Iya."


"Kak Zack, saya tidak ada gaun untuk menghadiri acara seperti itu." Sinta berkata panik.


"Johan akan menemani kalian sebentar, besok sesudah makan siang untuk pergi berbelanja." Zack memberi tahu.


"Kami bisa pergi sendiri kak Zack."


"Tidak, jika ingin keluar kalian harus di temani Johan. " Zack berkata tegas tidak ingin di bantah.


"Baiklah." Sinta mengalah melirik pada Johan yang seperti biasa memasang wajah datar.


Alanna hanya mendengar tidak bersuara karena tahu jika Zack sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa mengubahnya.


Malam mulai larut, Alanna bersiap siap untuk tidur. Alanna masuk ke kamar lebih dulu karena Zack dan Johan masih sibuk dengan pekerjaan mereka walaupun hari mulai larut malam.


Alanna terbangun dari tidurnya saat merasakan lengan kokoh yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Saya membangunkan mu ?" Zack bertanya sambil mempererat pelukannya.


"Mas baru selesai bekerja ?" tanya Alanna serak.


"Iya, baru saja." Zack menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Alanna, menghirup aroma tubuhnya.


"Jam berapa sekarang mas ?" tanya Alanna kembali, geli merasakan napas Zack di lehernya.


"Jam satu subuh." Gumam Zack tidak begitu jelas karena mulai sibuk dengan tubuh Alanna yang berada dalam pelukannya.


Alanna sedikit menjauh tapi Zack menariknya kembali, kedalam pelukannya. "Mas lebih baik tidur, ini sudah larut malam sekali dan mas butuh istirahat." Alanna mulai hilang konsentrasi karena tangan Zack yang mulai membelai lembut tubuhnya.


"Sebentar lagi." Kata terakhir Zack sebelum membalikkan tubuh Alanna menghadap padanya.


Zack mencium bi**r Alanna membelai seluruh tubuh Alanna, membuat Alanna kembali terbuai dengan sentuhan Zack hingga dirinya merasakan puncak kenikmatan bersama Zack.


-


-


-

__ADS_1


...tolong dukung author ya dengan cara like, coment, dan vote terimakasih 😊...


"


__ADS_2