Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 52


__ADS_3

"Mas harus mandi." Alanna kembali mengulang perkataannya.


"Hmmm.... ." Hanya itu tanggapan dari Zack yang sedang asik memberikan kecupan-kecupan kecil di bahu Alanna, kecupan Zack kini naik ke tengkuk dan leher Alanna.


Pelukan Zack semakin erat, kecupan dari Zack menimbulkan sensasi asing yang baru Alanna rasakan, membuatnya terbuai.


Zack merasakan Alanna yang mulai pasrah dalam pelukannya, mulai menikmati kecupan Zack di kulitnya yang terbuka. Zack membalikkan tubuh Alanna menghadap padanya. Alanna mendongkak menatap Zack dengan pandangan bertanya. Tanpa menunggu lama Zack menunduk mencium b**ir Alanna yang sedikit terbuka, m*l*mat b*b*r indah Alanna.


Alanna hanya terdiam membiarkan Zack menguasai bibirnya, bergelayut pada Zack yang memeluk erat tubuhnya agar tidak terjatuh, merasakan kedua kakinya yang terasa lemas.


Ketukan di pintu kamar menghentikan kegiatan Zack.


"Zack !!" Teriak mama Rani dari luar.


Zack sedikit menjauh tapi masih tetap memeluk tubuh Alanna. "Huh ! mama datang di waktu yang tidak tepat." Zack mendengus kesal. Menatap wajah Alanna yang merona dan mengelus lembut pipinya.


"Kau saja yang keluar menemui mama, mas perlu mandi air dingin untuk meredakan hasrat yang tidak selesai." tambah Zack dengan senyum masam, melepaskan pelukannya bergerak masuk ke dalam kamar mandi.


Alanna menarik nafas panjang beberapa kali untuk mengatur jantungnya yang masih berdetak kencang kemudian keluar dari ruang walking closet untuk membuka pintu kamar. "Mas Zack sedang mandi ma." Kata Alanna setelah membuka pintu.


"Mama hanya memberi tahu kalau Dokter Risal mengirim alamat dan nama Dokter yang akan kalian temui, Dokter Risal akan menghubungi temannya itu dan memberi tahu kalau kalian akan datang. Kalian langsung saja menemuinya."


"Iya ma, akan kuberi tahu mas Zack saat dia selesai mandi."


"Mama sudah mengirim alamatnya di handphone milik Zack. Kalian bersiap-siaplah, mama juga mau keluar berbelanja bahan dapur dengan Bibi."


"Iya ma." Ucap Alanna menurut. Mama Rani kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Alanna menutup pintu dan bersiap-siap untuk pergi.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Mobil Zack berhenti di depan sebuah Rumah Sakit swasta Ibu dan Anak. Seperti pesan mama mereka langsung menemui Dokter yang sudah menunggu mereka. Mereka sampai di pintu yang tertulis nama Dokter Rosa dan mengetuknya.


"Masuk !" teriak wanita dari dalam.


Zack membuka pintu dan masuk di susul Alanna dari belakang.


"Anda Pak Zack dan Nyonya Alanna ?" tanya Dokter itu tersenyum ramah.


"Iya Dok." Jawab Zack singkat.


"Mari duduk." Ucap Dokter Rosa ramah, menunjuk dua kursi yang berada di depan mejanya.


Zack membantu Alanna duduk baru kemudian dirinya duduk.


"Dokter Risal tadi sudah menelepon, memberi tahu kalau kalian akan datang untuk memeriksakan kehamilan Nyonya Alanna." Dokter Rosa ingin memperjelas maksud kedatangan mereka.


"Iya Dok, tadi pagi saya melakukan tes kehamilan dengan alat tes kehamilan yang suamiku beli di Apotik dan hasilnya positif. Kami datang untuk memperjelas hasil tes itu." Alanna menjelaskan maksud kedatangan mereka.


"Begitu ?" Dokter Rosa menyahut mengerti. "Kapan haid terakhir mu ?"


"Saya sudah tidak ingin Dok." Jawab Alanna.


"Baiklah kalau begitu anda berbaring saja di sana." Dokter Rosa menunjuk tempat tidur pasien yang merasa di sudut ruangan. "Kita akan periksa melalui alat USG untuk mengetahui lebih jelas." Dokter Rosa menjelaskan seraya bangkit berdiri di ikuti oleh Alanna dan juga Zack.


Alanna berbaring di tempat tidur dan asisten Dokter membantu menyelimuti Alanna dari kaki sampai perut bagian bawah dan mengangkat sedikit baju Alanna yang memperlihatkan perut bagian bawah, area untuk di lakukan USG. Zack duduk di kursi yang berada di bagian kepala Alanna menatap layar mesin USG yang masih gelap.


Dokter Rosa mulai menghidupkan mesin USG dan meletakkan alat pemindai atau probe ke kulit perut Alanna yang terbuka. Langsung nampak gambar di layar monitor, Zack dan Alanna tidak mengerti dengan gambar yang tampak di layar monitor hanya terdiam memperhatikan Dokter Rosa bekerja.


Beberapa saat kemudian Dokter Rosa berkata dengan senyum ramah. "Selamat, Nyonya Alanna telah hamil dengan umur kehamilan empat minggu."


Zack dan Alanna tersenyum mendengar perkataan Dokter Rosa.


"Bagaimana keadaan bayiku Dok ?" tanya Alanna.


"Keadaan bayi sehat, ukuran bayi sesuai dengan umur kehamilan." Dokter Rosa menjelaskan. "Ini anak pertama ?"


"Iya Dok, ini anak pertama kami." Zack berkata antusias.


"Pantas."


"Kenapa Dok ?" tanya Zack penasaran.


"Para orang tua yang baru biasanya memang lebih antusias dengan kehadiran bayi mereka." Dokter menjelaskan. "Nyonya Alanna sudah bisa bangun."

__ADS_1


Zack merapikan baju Alanna, membantunya bangun dan turun dari tempat tidur. Dokter kembali ke kursi meja kerjanya di susul oleh Zack dan Alanna.


"Nyonya Alanna ada keluhan ?" tanya Dokter Rosa.


"Hanya rasa mual Dok, kemarin sempat beberapa kali muntah tapi sudah di berikan obat oleh Dokter Risal." Alanna menjelaskan.


Dokter lalu menulis di kertas resep. "Saya akan meresepkan obat yang harus di konsumsi. Nyonya Alanna dan harus di minum secara teratur."


"Baik Dok." Alanna menurut.


Dokter Rosa memberikan kertas resep ke asistennya yang kemudian keluar ruangan setelah menerima resep tersebut.


"Anda bisa mengambil obatnya di Apotik Rumah Sakit, dan jadwal kontrol untuk Nyonya Alanna bulan depan tapi jika ada keluhan bisa langsung datang kembali sebelum jadwal kontrol kandungan." Dokter Rosa menjelaskan.


"Baik, terimakasih Dok." Kata Alanna.


"Kalau begitu kamu permisi Dok." Zack berdiri lebih dulu dah membantu Alanna berdiri.


Saat di luar Zack membawa Alanna duduk di kursi ruang tunggu pasien rawat jalan. "Kau tunggu di sini, mas pergi mengambil obat untukmu."


"Saya ikut."


"Kau tunggu di sini saja." Zack bersikeras.


"Mas ini memperlakukan saya seperti orang saksi saja." Alanna mengeluh dengan raut wajah tidak suka.


"Saya hanya bersikap hati-hati dengan dirimu yang sekarang sedang hamil anak kita." Zack berkata lembut pada Alanna kemudian berbalik pergi menuju Apotik.


Tidak lama menunggu Zack telah kembali dengan obat di tangannya.


"Kau ingin makan siang di mana ?" tanya Zack pada Alanna saat mereka sudah di dalam mobil.


"Tidak tahu mas."


"Makan di luar atau mau langsung pulang ?" Zack bertanya kembali, menghidupkan mobil dan mulai berjalan keluar dari tempat parkiran.


"Makan siang di rumah saja mas."


"Baiklah." Zack menyetujui, mengemudikan mobil menuju rumah.


Mama Rani sedang di kamarnya istirahat, lelah dari berbelanja kebutuhan dapur dengan Bibi.


Terdengar bunyi dering panggilan masuk dari handphone Alanna. Alanna melihat panggilan masuk dari Rudy, sedikit heran dengan panggilan itu dan memutuskan untuk mengangkatnya.


"Hallo ?" Ucap Alanna saat sambungan telepon terhubung.


"Hallo Alanna." Balas Rudy dari seberang.


"Kenapa menelepon ? ada masalah ?" Alanna bertanya penasaran.


"Tidak ada masalah." Jawab Rudy riang dari seberang.


"Oh....saya mengira ada masalah."


"Tidak ada." Rudy kembali meyakinkan.


"Jadi kenapa kau menelponku ?"


"Hanya ingin mengetahui kabar mu, sudah lama kau cuti dan tidak ada kabar."


"Saya cuti karena alasan keluarga."


"Begitu." Rudy menyahut mengerti. "Jadi kapan kau masuk kerja ?"


"Saya juga tidak yakin kapan bisa masuk kerja."


Tiba-tiba seseorang menarik telepon Alanna dari belakang, refleks Alanna membalikkan tubuhnya dan ternyata Zack yang mengambil handphone dari tangannya.


"Alanna tidak akan masuk kerja karena dia sudah berhenti." Kata Zack sebelum mematikan sambungan telepon.


"Mas !!" protes Alanna tidak suka. "Kenapa mas mengganggu pembicaraanku di telepon dan mengatakan hal seperti itu ?!" Alanna marah, berbicara dengan nada tinggi. Tidak menyukai tindakan yang Zack lakukan tadi.


"Siapa tadi itu yang menelepon ?" Zack bertanya dengan raut wajah tidak suka. "Pasti Rudy." Zack menerka karena Alanna hanya terdiam.


Perkataan Zack membuat amarah Alanna reda dan di ganti dengan rasa bersalah karena mengetahui Zack yang tidak menyukai jika dia berhubungan dengan Rudy. "Dia menelepon hanya ingin menanyakan kabarku."

__ADS_1


"Dan kenapa dia sangat ingin tahu kapan kau masuk ?"


"Saya juga tidak tahu mas." Alanna berkata. "Kenapa mas berkata pada Rudy kalau saya tidak akan bekerja lagi ? jangan katakan kalau mas tidak ingin saya bekerja lagi." Alanna balik bertanya.


"Mas memang berencana untuk tidak membiarkan kau bekerja lagi." Zack membenarkan perkataan Alanna.


Mendengar perkataan Zack membuat Alanna marah. "Kenapa mas berkata seperti itu ?! saya tidak ingin berhenti bekerja." Protes Alanna.


"Kau sedang hamil dan tidak boleh capek, nanti terjadi apa-apa dengan bayi kita."


"Tapi mas, pekerjaanku tidak berat. Kebanyakan waktu bekerjaku hanya duduk di ruangan ku." Alanna menjelaskan.


"Saya tidak ingin mengambil resiko."


"Tapi mas Zack, saya tidak ingin berhenti kerja, saya akan bosan kalau hanya di rumah saja."


"Banyak kegiatan yang bisa kau lakukan di rumah."


"Mas Zack..... saya mohon." Alanna berkata. Memasang wajah memelas, merasa kalah beradu pendapat dengan Zack, mendekati Zack memeluk pinggang Zack dengan manja.


Tidak tega melihat Alanna membuat Zack sedikit mengalah. "Mas pikirkan dulu baik-baik." Zack membalas pelukan Alanna. "Kau jadi manja padaku, mungkin karena efek hormon kehamilan mu." Zack berkata lembut.


"Betulkah ?" Alanna berkata, tanpa sadar dengan tindakannya.


"Iya." jawab Zack, melepas pelukannya. "Lebih baik kita makan siang dulu." Kata Zack melihat jam tangannya.


Semua anggota keluarga berkumpul untuk makan siang kecuali Sinta yang masih sibuk di kampusnya.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilan mu di Rumah Sakit tadi ?" tanya mama Rani pada Alanna di sela-sela makan siang mereka.


"Sehat ma, ukuran bayi sesuai dengan umur kehamilanku." Jawab Alanna.


"Sudah berapa umur kehamilanmu ?" tanya mama Rani kembali.


"Empat minggu ma."


"Begitu." Mama Rani menyahut mengerti dan menoleh menatap Zack. "Berarti karena kejadian itu Zack ?" tanya mama Rani pada Zack.


"Iya ma." Jawab Zack dengan raut wajah tidak terbaca, yang di balas anggukan kepala oleh mama Rani dan papa Arian.


Alanna hanya mendengar tidak mengerti arah pembicaraan mereka, tidak berani bertanya pada Zack maupun pada mama Rani dan papa Arian dan memilih untuk diam.


Selesai makan siang Alanna memilih naik ke atas ke kamar mereka. Saat di dalam kamar Alanna bermaksud ingin menelepon Ibunya tapi teringat handphonenya ada pada Zack membuatnya harus turun kembali ke bawah karena Zack setelah makan siang masuk kembali ke ruang kerjanya.


Tok tok tok


Alanna mengetuk pintu saat sampai di depan pintu ruang kerja Zack.


"Masuk !" Zack menyahut dari dalam. Alanna membuka pintu dan masuk kedalam.


"Mas Zack sibuk ?" Alanna bertanya sambil berjalan mendekat.


"Sedikit."


Alanna berhenti di samping kursi tempat Zack duduk. "Kalau begitu saya tidak akan mengganggu mas lama-lama. Saya hanya ingin mengambil handphoneku." Kata Alanna mengulurkan tangannya, meminta handphonenya.


Zack memutar kursi kerjanya menghadap Alanna, menarik lembut tangan Alanna yang terulur hingga membuat Alanna maju ke depan membuat Zack mudah memangku Alanna duduk di atas pangkuannya.


"Ada yang ingin kau hubungi ?" tanya Zack saat Alanna sudah duduk di atas pangkuannya.


Alanna sedikit canggung dengan tindakan Zack akhir-akhir ini. "Ibu, saya ingin menelepon Ibu." Jawab Alanna canggung, jantungnya berdebar kencang berharap Zack tidak mendengarnya mengingat posisi mereka yang berdekatan.


Zack menaruh satu tangan Alanna di belakang lehernya sedangkan tangannya sendiri memeluk pinggang Alanna posesif.


"Sebaiknya kita mencari cara bagaimana memberitahukan Ibu tentang pernikahan kita yang tidak dia ketahui." Zack berkata serius menatap Alanna.


-


-


-


-


-

__ADS_1


...||Tolong dukung author dengan cara like, coment, vote dan beri bintang lima terimakasih ☺️☺️||...


__ADS_2