
Sore hari Ayu dan Gita datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ibu dan Alanna. Mereka berbicara panjang lebar melepas rindu, Gita dan Ayu sempat menyinggung tentang Zack, mereka bercerita baru mengetahui kalau ternyata orang yang mengakuisisi hotel tempat mereka bekerja adalah Zack Ibrahim, orang yang menyewa kamar hotel nomor dua, tidak lama setelah Alanna pindah ke Jakarta. Alanna pun memberi tahu kalau dia pun baru tahu saat sudah berada di Jakarta, mereka kemudian membahas masalah lain dan tidak menyinggung tentang Zack lagi. Ayu dan Gita pulang saat menjelang malam dan berencana akan datang kembali.
Alanna menemani Ibunya makan malam sebelum keluar menuju bangku-bangku yang berada di taman untuk makan makanan yang di pesan nya lewat aplikasi online karena malas untuk keluar.
"Kenapa kau makan di sini dan tidak pergi keluar untuk makan di restoran ?" Tanya suara pria yang tidak asing di pendengaran Alanna, menoleh ke samping untuk meyakinkan bahwa dugaannya benar. Dan benar saja pria itu adalah Zack.
"Mas Zack ! kenapa bisa ada di sini ?" Alanna terkejut dengan kehadiran Zack. "Bukannya mas masih ada di Singapure ? bagaimana dengan pekerjaan di sana ?"
"Kemarin saat Johan memberi tahu ku kalau Ibu mu sakit dan kau di sini, secepat mungkin saya menyelesaikan pekerjaan yang penting dan sisanya Johan yang menyelesaikan, dari Singapure saya langsung terbang ke sini." Zack menjelaskan. "Makanan cepat saji tidak sehat untuk selalu di konsumsi ?" Zack menegur tidak suka dan bergabung duduk dengan Alanna di bangku taman.
"Sekali-sekali mas, tidak sering juga saya makan makanan begini, lagi malas keluar untuk makan." Alanna menghabiskan makanan nya kemudian meminum minumannya dan membuang sampahnya ke tempat sampah yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Bagaimana keadaan Ibumu ?" tanya Zack pada Alanna saat Alanna kembali duduk.
"Sudah lumayan membaik."
"Saya ingin bertemu dengan Ibumu."
Perkataan Zack mengejutkan Alanna. "Lalu mas ingin memperkenalkan diri sebagai apa di hadapan Ibu ?"
"hmmm...... ." Zack bergumam sambil berpikir.
"Tidak mungkin sebagai suami." Alanna berkata.
"Sebagai pacarmu saja kalau begitu."
"Boleh juga." Alanna mengangguk setuju. "Kalau begitu kita masuk sekarang sebelum Ibu tidur." Alanna bangkit berdiri di susul Zack dan sama-sama masuk ke dalam menuju kamar perawatan Ibu.
Alanna mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk di susul Zack di belakangnya. "Ibu belum tidur ?" tanya Alanna sambil berjalan mendekat.
"Belum mengantuk." Jawab Ibu kemudian perhatiannya teralih pada Zack yang sekarang berdiri di samping Alanna. "Siapa dia nak ?" tanya Ibu penasaran.
"Perkenalkan saya Zack Ibrahim, kekasih Alanna." Zack memperkenalkan diri sebelum Alanna memperkenalkan dirinya.
"Iya Ibu, mas Zack pacar Alanna. Dia datang dari Jakarta ingin menjenguk Ibu yang sakit." Alanna menambahkan.
"Terima kasih sudah datang jauh-jauh dari Jakarta untuk menemui ku." Ibu tersenyum ramah.
"Saya yang merasa senang bisa bertemu dengan anda." Zack balas tersenyum. "Anda harus istirahat, saya hanya datang untuk menyapa dan akan datang lagi besok kalau anda tidak merasa terganggu."
__ADS_1
"Tidak, saya tidak merasa terganggu. Senang mengetahui ternyata Alanna sudah memiliki pacar dan ternyata lebih dewasa dari dia."
"Terimakasih atas pujiannya, kalau begitu saya permisi dulu."
"Alanna antar Zack sampai di luar." Perintah Ibu.
"Baik Bu." Kata Alanna.
"Sebaiknya Ibu kita pindahkan ke Rumah Sakit Swasta saja, agar dia lebih nyaman dan pelayanan kesehatannya bagus." Kata Zack saat mereka sudah berjalan di lorong Rumah Sakit menuju pintu keluar.
"Tidak usah mas, di sini juga pelayanannya bagus kok." Alanna menolak tawaran Zack.
"Ibu menginap di kelas berapa ?"
"Kelas satu mas."
"Kalau begitu pindahkan dia di VVIP."
"Tapi mas -."
"Jangan membantah Alanna, kau tidak ingin Ibu pindah Rumah Sakit kalau begitu biarkan dia pindah kamar agar lebih nyaman untuknya." Zack berkata tegas memotong perkataan Alanna.
"Di hotel tempatmu bekerja lalu, di bagian paviliun kamar nomor dua. Kamar yang lalu saya tinggali."
"Iya mas, Alanna masih ingat." Ekspresi muka Alanna berubah kaku karena teringat kejadian malam itu.
Menyadari raut wajah Alanna yang berubah membuat Zack yakin Alanna kembali mengingat kejadian itu, membuatnya merasa bersalah.
Zack meminta perhatian penuh Alanna dengan memegang ke dua bahunya dan menatap serius ke dalam mata Alanna. " Besok mas akan datang dan akan menceritakan alasan kejadian malam itu, dan masa lalu pernikahan mas." Zack berkata.
"Baik, saya tunggu mas besok."
"Dua hari ini mas bertahan untuk tidak menghubungi mu, ingin memberimu waktu untuk menenangkan pikiran mu walau mas tahu kau pasti kesusahan mengurus sendiri Ibu." Zack menarik Alanna ke dalam pelukannya dan merasa senang karena Alanna tidak menolak lagi untuk di peluk. "Mas sangat merindukanmu." Ucap Zack sebelum melepaskan pelukannya.
Tidak di pungkiri Alanna merasa senang mendengar perkataan Zack yang terakhir tapi dirinya tidak terlalu berharap.
"Sudah larut malam, sebaiknya mas pulang istirahat, pasti capek dari Singapure langsung ke sini."
"Kau tidur di mana malam ini ?" Zack bertanya.
__ADS_1
"Tidur di kursi panjang yang ada di dalam kamar Ibu."
Mendengar perkataan Alanna membuat kening Zack berkerut tanda tidak suka. "Pasti tidak nyaman, secepatnya konfirmasi untuk ganti kamar supaya kau tidak lagi tidur di kursi." Zack memerintahkan.
"Iya mas, kau tenang saja. Sebaiknya mas cepat pulang untuk istirahat."
"Kalau begitu mas pergi dulu, kau juga istirahat lah." Kata Zack kemudian berbalik pergi.
Pagi harinya Ibu di pindahkan ke kamar VVIP sesuai permintaan Alanna kemarin malam sebelum Dokter datang untuk melakukan visite pagi. Tidak lama setelah Dokter pergi usai memeriksa Ibu, datang orang yang di perintahkan Zack untuk mengantar sarapan pagi untuk Alanna. Zack mengirim pesan lewat sms akan datang siang hari saat jam makan siang sekalian mengajak Alanna untuk makan siang di luar dan bertanya apakah Ibu sudah pindah kamar atau belum.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar dan Alanna menduga pasti Zack yang datang karena sekarang waktu hampir menunjukkan pukul dua belas siang.
"Masuklah mas." Kata Alanna saat membuka pintu dan memang betul yang datang adalah Zack.
"Bagaimana keadaan Anda ?" Zack bertanya pada Ibu saat sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Sudah lebih baik, Alanna bilang kalau kau yang memaksa untuk pindah kamar."
"Iya, saya yang memaksa supaya anda dan Alanna merasa lebih nyaman. Anda tidak usah memikirkan hal lain selain kesembuhan anda, untuk biaya Rumah Sakit biar saya yang mengurusnya." Zack menenangkan Ibu.
"Kau sangat baik nak, padahal kita baru pertama bertemu." Ibu memuji Zack.
"Tidak usah sungkan denganku, anggap saja saya seperti anak anda sendiri dan apakah saya boleh memanggil anda dengan panggilan Ibu ?"
Alanna merasa tidak baik jika Zack terlalu dekat dengan Ibunya mengingat kemungkinan besar mereka akan berpisah. Membuka mulut ingin berbicara, mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
"Tentu, kau bisa memanggilku seperti Alanna memanggil ku dan tidak usah sungkan nak Zack." Ibu berkata senang, niat Alanna untuk memotong pembicaraan mereka terhalang dengan Ibu yang duluan menjawab pertanyaan Zack.
"Ibu kami keluar dulu untuk makan siang, setelah itu saya ke rumah dulu sebentar untuk mengantar pakaian kotor dan mengambil beberapa baju bersih." Alanna berkata, ingin segera membawa Zack keluar dari dalam kamar perawatan Ibu.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Iya Bu." Alanna berkata seraya mengambil tas pakaian dari lantai tapi Zack mengambil tas itu dari tangan Alanna dan memegangnya.
"Saya permisi dulu Ibu, besok saya akan datang lagi untuk menjenguk Ibu." Pamit Zack tersenyum hangat.
"Iya, hati-hati di jalan kalian berdua." Pesan Ibu kembali sebelum mereka berdua berbalik pergi.
__ADS_1