Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 71


__ADS_3

Selesai menghabiskan sarapannya, Alanna memutuskan untuk duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi.


Efek suasana rumah yang tenang dan pegal yang masih dia rasakan membuat rasa ngantuk datang, tanpa Alanna sadari dirinya sudah tertidur di sofa depan televisi.


Zack pulang ke rumah lebih awal dan mendapati Alanna yang tertidur di sofa ruang tengah.


"Kenapa dia tertidur di sini ?" Zack berbicara sendiri dan melihat televisi yang sedang menyala.


Bibi Ijah berjalan melewati Zack menuju arah dapur. "Bi Ijah." Zack memanggil pelan Bi Ijah, takut membangunkan Alanna yang sedang tertidur.


Langkah Bi Ijah terhenti mendengar panggilan Zack. "Iya, ada apa Tuan ?" tanya Bi Ijah saat berbalik.


"Dari tadi Alanna tertidur di sini ?" Zack bertanya balik.


"Maaf Tuan, Bibi kurang tahu. Bibi baru saja selesai dari membersihkan lantai atas."


"Begitu, tidak apa-apa Bi. Teruskan saja pekerjaan Bibi."


"Baik Tuan." Ucap Bibi Ijah.


"Tunggu sebentar Bi !." Zack tiba-tiba berkata, menghentikan gerakan Bi Ijah yang hendak balik ke dapur.


"Ada apa Tuan ?" Bi Ijah kembali bertanya.


"Tolong ambilkan selimut di kamarku."


"Baik Tuan." Bi Ijah menurut, naik ke lantai atas untuk mengambil selimut dan turun tidak lama kemudian dengan membawa selimut yang di minta Zack. "Ini Tuan selimutnya."


Zack mengambil selimut yang di berikan Bi Ijah. "Terimakasih Bi, Bibi boleh teruskan pekerja Bibi." Ucap Zack.


Dengan tangan yang memegang selimut, Zack berjalan mendekati Alanna yang sedang tidur. Zack menyelimuti tubuh Alanna dengan hati-hati agar tidak membuatnya terbangun. Suhu ruangan agak dingin, Zack mengatur menaikan suhu AC di ruang tengah agar tidak terlalu dingin.


Zack pulang cepat karena ingin bekerja di rumah di ruang kerjanya tapi melihat Alanna yang tertidur sendiri di ruang tengah membuat Zack berubah pikiran dan memutuskan untuk bekerja di ruang tengah menemani Alanna.


Zack mengambil laptopnya di ruang kerja dan kembali ke ruang tengah, duduk di sofa di bawah kaki Alanna dengan laptop di letakan di atas pangkuannya dan mulai serius bekerja.


Bi Mun lewat dan melihat Zack yang sedang serius bekerja. "Tuan muda ingin Bibi buatkan kopi panas ?" Bi Mun mendekati Zack dan bertanya.

__ADS_1


Tanpa menoleh dari layar laptopnya, Zack menjawab. "Boleh Bi."


"Akan segera Bibi buatkan." Ucap Bibi sebelum berbalik ke dapur. Tidak lama kemudian Bibi Mun kembali dengan membawa secangkir kopi panas. "Ini Tuan muda." Bibi Mun meletakkan di atas meja.


"Iya, terimakasih Bi." Ucap Zack, bergerak mengambil kopinya dengan laptop masih di atas pangkuannya. "Tadi saat bangun, Alanna meminum susunya ?" Zack bertanya sambil menyesap kopinya.


"Iya Tuan, Nona Alanna menghabiskan susunya."


"Bagus, kembalilah bekerja."


"Anu..... Tuan muda." Bibi Mun ragu bercerita.


"Kenapa Bi Mun ?" tanya Zack penasaran dengan sikap Bibi Mun.


"Tadi pagi saat sarapan Bibi mendengar pembicaraan Tuan muda dengan Tuan besar dan Nyonya besar." Bibi Mun mulai bercerita.


"Lalu kenapa ?" Zack bertanya heran karena merasa itu bukan masalah.


"Tadi pagi saat Nona Alanna sarapan di dapur, Bibi menceritakan padanya." Kata Bibi dengan wajah merasa bersalah.


"Tidak masalah Bibi Mun, aku memang berencana ingin menceritakan hal itu pada Alanna." Zack menenangkan Bibi Mun.


"Iya Bi, kembalilah bekerja."


Alanna bergerak terbangun dari tidurnya, mendengar suara percakapan orang. Alanna membuka mata dan melihat Zack yang sedang duduk di bawah kakinya dengan laptop di pangkuannya dan baru menyadari dirinya yang terbungkus selimut.


"Mas Zack." Suara serak Alanna saat bangun tidur.


Zack menoleh mendengar suara Alanna memanggilnya. "Kau sudah bangun." Ucap Zack sambil meletakkan laptop di meja samping cangkir kopi.


"Bukannya mas Zack seharusnya masih ada di kantor ?" Alanna bertanya heran melihat kehadiran Zack seraya bangun dan duduk bersila di atas sofa menghadap Zack.


"Mas pulang untuk menemanimu makan siang karena mama dan papa mungkin belum pulang ke rumah siang ini."


"Aku bisa makan siang sendiri, tadi pagi aku juga sarapan sendiri karena kecapaian sampai tidur kesiangan dan tidak ada yang membangunkan." Alanna berkata menyindir Zack.


Zack bersikap biasa mendengar sindiran Alanna, memaklumi Alanna yang masih marah padanya. "Mas sengaja tidak membangunkan mu karena mas tahu kamu pasti capek dan butuh istirahat. Kebetulan pagi ini setelah berbicara dengan papa mas harus rapat dengan beberapa staf hotel membahas beberapa hal untuk acara yang akan di selenggarakan besok malam di rumah ini." Zack menjelaskan pada Alanna.

__ADS_1


"Acara ulang tahun papa ?"


"Iya, kita perlu banyak pelayan dan juga staf hotel yang akan mengatur acara besok malam. Acaranya akan di buat di halaman rumah dan di dalam rumah untuk menjaga jika cuaca tidak memungkinkan."


Perkataan Zack membuat Alanna ngeri, sepertinya acara besok bukan hanya pesta ulang tahun biasa mendengar dari penjelasan Zack.


"Memangnya berapa orang yang akan di undang ?"


"Paling sedikit mungkin sekitar dua ratus orang, mas tidak tahu pastinya berapa karena mama yang mengurus undangannya."


"Sepertinya akan ramai." Komentar Alanna mendengar perkataan Zack.


"Kenapa sayang ? Kamu gugup ?" Zack bertanya.


"Sedikit." Alanna mengakui. "Baru kemarin aku menghadiri acara seperti ini dan di permalukan. Aku takut kejadian kemarin terulang di karenakan orang yang tidak menyukai keberadaan ku." Alanna menambahkan dengan senyum masam.


Zack merasa bersalah mendengar perkataan Alanna. "Mas janji hal seperti itu tidak akan pernah terulang lagi." Zack meyakinkan Alanna dengan raut wajah serius.


"Terkadang ada beberapa hal terjadi di luar kendali kita mas." Alanna berkata muram. "Seperti perasaan seseorang terhadap kita, baik itu rasa benci atau rasa suka."


"Hal seperti itu memang di luar kendaliku tapi tidak jika berhubungan dengan mu, saya akan pastikan semua ada di dalam kendaliku."


Tapi perasaanku padamu mas Zack tidak bisa kau kendalikan dalam hati Alanna berkata, menoleh menatap televisi agar Zack tidak melihat ekspresi sakit hati di wajahnya.


Zack melihat jam tangannya. "Sudah hampir jam makan siang."


Alanna bangkit berdiri, meletakkan selimut di atas sofa. "Aku ke dapur dulu, memeriksa apa makanan sudah siap atau belum."


Alanna berjalan menuju ke ruang makan dan melihat Bi Mun dan Bi Ijah yang sedang mengatur makanan di meja makan.


"Yang makan siang hanya kami berdua Bi. Mama dan papa makan siang di luar." Alanna memberi tahu.


"Baik Non." Jawab Bi Ijah dan Bi Mun bersamaan.


Alanna kemudian kembali ke ruang tengah menemui Zack.


"Mas Zack, makanannya sudah siap." Kata Alanna.

__ADS_1


"Baiklah." Zack berdiri, berjalan menuju ruang makan.


__ADS_2