
Alanna terbangun dengan perasaan segar, mengedarkan pandangan mencari keberadaan Zack yang ternyata sedang duduk di sofa dengan posisi menghadap kearahnya sedang serius mengetik di atas keyboard leptop yang dia letakkan di pangkuannya.
Zack mengangkat pandangannya dari layar leptop, menyadari Alanna yang terbangun.
"Kamu sudah bangun sayang." Zack menutup leptop nya, berdiri dari sofa bergerak ke arah tempat tidur.
"Iya mas, baru saja." Alanna mengatur posisi untuk duduk bersandar di tempat tidur.
Zack duduk di samping tempat tidur. "Bagaimana perasaan mu ? pinggangmu masih sakit ?"
"Sudah agak mendingan mas."
"Tidak lapar ? ingin makan sesuatu ?"
"Sekarang jam berapa mas ?" Alanna bertanya, belum menjawab pertanyaan Zack.
"Sekarang sudah sore, jam empat lagi sembilan menit." Jawab Zack.
"Lama juga aku tertidur."
"Ingin makan sesuatu ?" Zack bertanya kembali.
Alanna berpikir sejenak. "Aku ingin makan iga bakar mas tapi sepertinya Bi Mun tidak memasak menu itu, bisa mas belikan di luar ?"
"Kamu makan di rumah saja ?"
"Iya."
"Baiklah, mas akan pergi membelikannya. Hari ini mas tidak mungkin menyuruh Johan." Zack menyeringai.
Alanna tersenyum geli. "Sinta akan mengamuk jika mas menyuruh Johan."
Zack ikut tersenyum. "Bisa mas bayangkan." Ucap Zack sambil berdiri. "Mas pergi dulu, kirim saja pesan jika masih ada yang kamu inginkan." Tambah Zack.
"Iya."
Zack berbalik menjauh menuju pintu kamar kemudian menutup pintu dari luar.
Merasa bosan menunggu kepulangan Zack, Alanna memilih untuk keluar kamar mencari anggota keluarga yang lain.
Alanna menemukan Mama Rani yang sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Mana Zack ? Mama belum melihatnya dari tadi siang." Tanya Mama Rani pada Alanna yang duduk di sampingnya.
"Mas Zack baru-baru saja keluar Ma, dari tadi siang mas Zack menemaniku yang sedang tidur. Mas Zack menemaniku sambil bekerja." Alanna menjelaskan.
"Zack keluar untuk apa ?"
__ADS_1
"Aku sedang ingin makan iga bakar jadi mas Zack keluar untuk membelikannya untuk ku."
Mama Rani mengangguk mengerti. "Begitu."
"Yang lain mana Ma ?" tanya Alanna celingak-celinguk mencari keberadaan anggota keluarga yang lain.
"Papa sedang keluar, ada sedikit urusan yang harus dia kerjakan sebelum acara resepsi pernikahan nanti malam. Johan dan Sinta sekarang ada di salon, bersiap-siap untuk acara resepsi pernikahan mereka." Jawab Mama Rani.
Alanna mengangguk mengerti. "Kapan Ibu mu datang ke sini Nak ? tafsiran persalinan mu tidak akan lama lagi." Mama Rani bertanya mengubah pembicaraan.
"Besok Mama, Ibu akan datang besok siang dari Surabaya." Jawab Alanna tersenyum.
"Zack sudah tahu ?"
"Sudah, mas Zack yang berbicara langsung dengan Ibu lewat handphone. Mas Zack sendiri yang akan menjemput Ibu di bandara."
"Baguslah, walaupun kami semua ada menemanimu tapi kamu pasti butuh kehadiran Ibu kamu di saat-saat seperti itu."
"Iya Ma, Mama betul." Alanna mengakuinya.
Pembicaraan mereka terhenti karena mendengar langkah kaki yang mendekat. Alanna menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ruang depan dengan ruang tengah. Zack muncul dengan membawa Paper bag di tangannya.
Alanna berdiri perlahan dari sofa. "Cepat sekali mas pulang." Komentar Alanna melihat kedatangan Zack.
Zack berhenti di hadapan Alanna. "Ini makanan pesanan mu." Zack meletakkan Paper bag di atas meja sofa.
"Kendaraan di jalan agak renggang jadi mas bisa pulang lebih cepat." Tambah Zack.
"Iya Ma." Jawab Alanna.
"Kalau begitu panggil Bi Mun untuk menyiapkannya di atas meja." Kata Mama Rani sebelum menoleh ke arah dapur.
"Bibi Mun !" Panggil Mama Rani.
Tidak lama setelah muncul Bibi Mun dari arah dapur. "Iya Nyonya." Sahut Bibi Mun.
"Tolong siapkan di atas meja makanan Alanna yang ada di dalam paper bag ini." Mama memberitahu sambil menunjuk Paper bag yang ada di atas meja.
"Baik Nyonya." Kata Bi Mun patuh, bergerak mengambil Paper bag itu dan membawanya ke dapur.
Alanna bergerak menuju ruang makan di susul Zack. Zack menarik kursi untuk Alanna duduk.
Bi Mun muncul dengan membawa makanan dan menyajikan di atas meja.
"Banyak sekali makanan yang mas belikan." Komentar Alanna begitu melihat porsi makanan yang Zack beli.
"Mas takutnya kamu masih mau tapi sudah habis jadi mas pesan tiga porsi, kalaupun tidak habis bisa buat yang lain."
__ADS_1
Alanna mengangguk setuju dan mulai memakan makanannya. Karena bayinya yang aktif bergerak di kandungan dan di tambah dengan bayi kembar membuat porsi makan Alanna dua kali lipat dari pada awal-awal kehamilannya.
"Mas Zack tidak makan ikut makan ?" tanya Alanna di sela-sela menguyah makanannya.
Zack menggeleng kepala sambil tersenyum. "Tidak, kamu saja yang makan. Mas belum lapar, mas hanya menemanimu makan."
"Baiklah."
Alanna kembali melanjutkan makannya dan berhenti setelah menghabiskan lebih dari setengah porsi yang ada di atas meja.
"Aku sudah kenyang." Alanna mendorong piringnya kemudian meminum air putih.
Zack melihat jam tangannya. "Istirahatlah satu jam baru kemudian kita bersiap-siap untuk datang ke acara resepsi pernikahan Johan dan Sinta."
"Baik mas."
"Atau kamu tidak usah saja pergi ke acara resepsi pernikahan mereka, lebih baik kamu istirahat saja di rumah, mas khawatir kamu jadi kelelahan." Zack tiba-tiba berubah pikiran.
"Tidak apa-apa mas, aku baik-baik saja. Aku sangat ingin melihat Sinta dengan gaun pengantinnya." Alanna bergegas berdiri walaupun dengan sedikit bersusah payah, tidak ingin Zack menghalanginya untuk pergi.
Zack ikut berdiri. "Kalau begitu kamu istirahat saja dulu agar tidak kelelahan saat di sana." Zack terpaksa mengalah.
Alanna memilih untuk duduk santai di ruang tengah sambil menonton acara televisi sedangkan Zack masuk sebentar ke ruang kerjanya untuk mengerjakan sedikit pekerjaannya.
Satu jam tidak terasa, Zack muncul kembali ke ruang tengah menghampiri Alanna.
"Mama mana sayang ?" Zack bertanya.
Alanna menoleh ke belakang menatap Zack. "Mama sudah naik lebih dulu ke atas ke kamarnya. Kata Mama tadi dia harus tiba di sana lebih dulu untuk melihat kesiapan di ruang acara resepsi."
"Kita juga sudah boleh bersiap-siap kalau ingin pergi." Zack berkata.
Alanna berdiri dengan susah payah, Zack yang melihat langsung bergerak cepat menghampiri dan membantu Alanna untuk berdiri.
Kening Zack mengerut tidak yakin dengan keadaan Alanna. "Kamu baik-baik saja sayang ?" Zack melihat sedikit keringat di kening Alanna.
Alanna tersenyum meyakinkan. "Aku baik-baik saja mas."
Alanna melangkah pelan menuju kamar dengan lengan Zack yang memeluk pinggangnya.
Sejujurnya Alanna mulai merasakan sakit di bagian pinggangnya dari setengah jam yang lalu hanya saja sakitnya hilang timbul. Alanna tidak ingin membuat Zack panik dan khawatir yang bisa membuat Zack tidak membiarkannya untuk pergi ke acara resepsi pernikahan Johan dan Sinta.
Zack membiarkan Alanna mandi lebih dulu yang tentu saja pintu kamar mandi yang di biarkan tidak tertutup rapat untuk menjaga agar Zack bisa langsung masuk jika terjadi sesuatu pada Alanna. Sejak umur kehamilan Alanna memasuki bulan kesembilan, Zack sudah memberlakukan hal itu walaupun pada awalnya Alanna tidak menyetujui karena merasa kurang nyaman tapi Zack bersikeras dengan alasan keselamatan Alanna.
Alanna selesai mandi kemudian giliran Zack untuk mandi, karena sakit di bagian pinggangnya membuat Alanna lebih pelan untuk bergerak.
Agar tidak ketahuan menahan rasa sakit Alanna berusaha agar lebih dulu memakai pakaiannya sebelum Zack selesai mandi dan berlama-lama duduk di depan meja rias.
__ADS_1
"Tumben kamu memakai pakaian lebih dulu baru memakai make up." Zack berkomentar begitu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
Alanna menatap Zack dari pantulan cermin. "Bukan apa-apa, lebih baik mas segera berpakaian agar kita tidak terlalu terlambat." Alanna mengalihkan pembicaraan.