Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 53


__ADS_3

"Akan saya pikirkan bagaimana cara memberitahukan Ibu." Kata Alanna.


"Saya juga akan membantumu memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan masalah ini."


Alanna mengangguk mendengar perkataan Zack. "Mana handphoneku mas ?"


Zack memutar kembali kursinya menghadap meja kerjanya kemudian membuka laci dengan Alanna yang masih di atas di pangkuannya. Meletakan handphone di atas meja untuk Alanna ambil.


Perhatian Alanna tertuju pada bingkai foto yang ada di atas meja. Zack meletakkan foto pernikahan mereka di samping bingkai foto dirinya yang Alanna bawa dari Surabaya atas permintaan Zack.


"Mas menyimpan foto ini di sini ?" Tanya Alanna sambil mengambil handphone miliknya.


"Foto apa ?" tanya Zack balik tidak mengerti maksud Alanna.


"Foto yang mas suruh untuk saya bawa dari Surabaya." Alanna menjelaskan.


"O... foto itu." Kata Zack sambil menatap foto yang di maksud Alanna. "Sebenarnya mas juga ingin meletakkannya di atas meja kerja mas di kantor tapi karena hanya satu jadi mas lebih memilih meletakkannya di sini."


Alanna senang dengan perkataan dan tindakan Zack, walaupun dirinya tahu tidak ada maksud apapun dari hal itu. Zack sudah menekankan dari awal hubungan ini bahwa dirinya tidak mungkin mencintai Alanna. Alanna bergerak untuk turun dari pangkuan Zack, bermaksud untuk tidak lagi menggangu Zack bekerja.


Zack memeluk erat pinggang Alanna, menahannya. "Kau mau apa ?" Zack bertanya.


"Saya ingin balik ke kamar mas, saya tidak ingin menggangu mas bekerja."


"Selesai menelpon Ibu kau harus tidur siang sedikit" Zack memerintah Alanna.


"Iya mas, saya tahu."


"Bagus." Zack lalu melepas pelukannya membiarkan Alanna untuk turun, berjalan ke arah pintu untuk keluar.


Saat di dalam kamar, Alanna langsung menelepon Ibunya. Menanyakan kabar dan bertanya apakah Ibunya teratur meminum obatnya. Usai menelpon Ibu, Alanna berbaring di tempat tidur dan tidak lama rasa kantuk datang membuatnya tertidur.


Usai makan malam Alanna kembali ke kamar sendiri karena Zack masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Biar pun Zack tidak datang ke kantor tapi pekerjaan dia kerjakan di rumah.


Alanna berniat berbicara dengan Zack, membahas kembali masalah tentang dirinya yang tidak di beri izin Zack untuk bekerja. Jadi Alanna memutuskan untuk belum tidur dan menunggu Zack kembali ke kamar.


Pintu kamar terbuka dan Zack masuk pukul sepuluh malam, heran melihat Alanna yang belum tidur.


"Kenapa belum tidur ?" tanya Zack pada Alanna, duduk bergabung di sofa.


"Menunggu mas Zack." Jawab Alanna tersenyum lembut.


"Kenapa ? ada yang ingin kau bicarakan ?"


"Iya mas, tentang pembicaraan kita tadi siang."


"Kau yang masih ingin bekerja ?"


"Iya mas, mas Zack sudah memikirkannya ?" Alanna bertanya balik, penasaran dengan jawaban dari Zack.

__ADS_1


"Mas belum memutuskannya." Zack berkata jujur.


"Bisa mas biarkan saya bekerja." Bujuk Alanna menggenggam tangan Zack. "Saya akan hati-hati saat bekerja."


"Bagaimana dengan kesepakatan kita sebelum menikah ?"


"Kenapa dengan kesepakatan kita ?" tanya Alanna heran dengan perkataan Zack yang tiba-tiba pindah arah pembicaraan.


"Saya setuju merahasiakan pernikahan kita sampai kau di nyatakan hamil, dan sekarang kau hamil jadi pernikahan kita tidak akan lagi di rahasiakan."


"Baiklah, saya mengikuti keputusan mas Zack."Kata Alanna setuju. "Lalu bagaimana dengan pekerjaanku ?"


"Karena pernikahan kita yang tidak lagi di rahasiakan, bagaimana mungkin kau bekerja sebagai kepala room section kalau sebenarnya suamimu pemilik hotel itu ?"


"Memangnya tidak boleh ?" Alanna balik bertanya. "Ada yang melarang saya bekerja sebagai kepala room section ? bukankah karena suamiku pemilik hotel sehingga tidak masalah saya bekerja di bagian manapun ?" tamba Alanna menganalisa.


"Tapi mungkin staf hotel tidak akan nyaman, apalagi Ariel yang merupakan atasan langsung mu, mereka tidak akan nyaman dan merasa seperti di awasi." Zack menjelaskan.


Alanna mengerti dengan maksud perkataan Zack, tapi dirinya juga sangat ingin bekerja. "Tapi mas, saya ingin sekali bekerja." Alanna kembali membujuk Zack.


Zack terdiam, berpikir segala kemungkinan yang mungkin terjadi. "Baiklah, saya mengizinkanmu bekerja tapi dengan syarat." Kata Zack akhirnya setelah beberapa menit terdiam berpikir.


"Syarat apa ?" Alanna bertanya penuh semangat.


"Kau harus berhenti bekerja saat perutmu mulai membesar." Zack berkata tegas. " Saya tidak ingin mengambil resiko untuk kalian berdua." Zack menambah, tidak ingin di bantah.


"Tapi itu hanya tinggal beberapa bulan saja mas." Protes Alanna.


Alanna berpikir setelah mendengar perkataan Zack yang masuk akal. "Baik mas, saya setuju." Ucap Alanna akhirnya. "Terimakasih mas." tambah Alanna senang sambil memeluk Zack.


Zack tersenyum membalas pelukan Alanna. "Sekarang kau harus tidur." Zack berkata sambil melepaskan pelukannya.


Alanna menuruti perkataan Zack, berjalan menuju tempat tidur sedangkan Zack sendiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian tidur menyusul Alanna ke tempat tidur tetapi terlebih dahulu mematikan semua lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang berada di nakas samping tempat tidur.


Zack berbaring menyamping menghadap Alanna, menariknya mendekat dan memeluk tubuhnya. "Tidurlah". Bisik Zack pelan, mengecup kening Alanna sebelum dirinya menutup mata dan tertidur.


Pagi hari setelah sarapan Zack dan Alanna bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Kau naik mobil bersama denganku." Kata Zack saat mereka berjalan menuju pintu depan. Saat tiba di luar nampak pak Risno sudah menunggu, berdiri di samping mobil yang terparkir. Pak Risno kemudian membukakan pintu mobil saat melihat Zack dan Alanna yang berjalan mendekat.


"Terimakasih pak Risno." Ucap Alanna tersenyum ramah saat telah masuk dan duduk di kursi belakang bersama Zack.


"Sama-sama Nona Alanna." Balas pak Risno kemudian menutup pintu mobil, berjalan ke depan membuka pintu pengemudi dan menghidupkan mobil, keluar dari area rumah menuju jalan raya.


"Kenapa Johan tidak menjemput mu mas ?" tanya Alanna saat dalam perjalanan menuju hotel.


"Saya menyuruhnya langsung ke hotel."


"Saya sedikit gugup dengan reaksi staf hotel saat melihat kita turun di mobil yang sama, apa yang nanti mereka katakan." Alanna berkata sambil menatap keluar melalui jendela mobil di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa ? kau takut mereka berbicara hal yang negatif tentang kita ?"


Alanna menoleh menatap Zack. "Bukan kita mas, tapi saya. Mereka pasti berpikir yang macam-macam tentang saya. Mereka pasti berpikir saya merayu atau menjebak mas hingga mau menikah denganku." Alanna berkata dengan raut wajah sedih.


"Kau terlalu memikirkan pendapat orang lain." Zack menegur Alanna. "Biarkan mereka bercerita sesuka hati mereka, tidak mungkin kau menjelaskan satu persatu pada setiap orang yang bercerita tentang hubungan kita."


"Saya tahu mas, hanya tetap saja hal itu mengganggu ku."


"Jangan terlalu stress, Ibu hamil tidak boleh terlalu stress." Zack mengingatkan, mengulurkan tangan mengusap lembut pipi Alanna. "Nanti mas yang pikirkan bagaimana cara agar staf hotel tidak berbicara yang bukan-bukan tentangmu." Zack menenangkan Alanna.


"Terimakasih mas Zack." Alanna tersenyum lega mendengar perkataan Zack.


Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan pintu masuk hotel, Johan berdiri di depan pintu masuk menunggu kedatangan mereka.


Johan membukakan pintu mobil dari luar, Zack keluar dari mobil di susul Alanna dengan bantuan Zack.


"Makasih mas." Ucap Alanna tersenyum setelah keluar yang di balas senyum lembut dari Zack.


"Selamat bagi Tuan Zack, Nona Alanna." Sapa Johan pada mereka.


"Selamat pagi juga Johan." Balas Alanna tersenyum.


Zack berjalan masuk ke dalam hotel dengan Alanna di sampingnya, meletakkan tangannya di punggung Alanna posesif dan Johan berjalan menyusul dari belakang.


Perhatian semua orang yang berada di lobby hotel mengarah pada mereka membuat Alanna sedikit canggung.


"Tidak usah canggung." Zack berbisik di telinga Alanna karena merasakan punggung Alanna yang kaku di bawah telapak tangannya.


Alanna menoleh menatap Zack. "Jelas sekali ya mas ?" tanya Alanna tersenyum masam.


Melihat raut wajah Alanna membuat Zack terkekeh geli. "Hehehe sedikit, karena saya berada di dekatmu tapi dari jauh mereka yang melihat mungkin tidak menyadarinya."


Mendengar perkataan Zack membuat bernapas lega. "Baguslah."


Sepanjang jalan melewati lobby hotel menuju lift khusus terdengar suara bisik-bisik staf yang berkomentar melihat kedekatan mereka.


Johan langsung menekan tombol naik saat telah berdiri di depan pintu lift khusus, tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka pun masuk.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


...|| tolong dukung author dengan cara like, coment, vote dan beri bintang lima terimakasih ☺️||...


__ADS_2