
Zack menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil. Menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil, merasa kelelahan.
Johan melirik Zack dari kaca spion depan pengemudi.
"Kau mengantar mereka sampai di depan pintu ?" Zack bertanya pada Johan.
"Iya tuan, saya pastikan mereka telah masuk sebelum menjemput anda."
"Bagus." Jawab Zack singkat. Memijit pelipisnya dengan satu tangan, merasakan sakit kepala yang datang.
"Anda kurang sehat Tuan ?" tanya Johan melirik Zack dari kaca spion depan.
"Tidak apa-apa Johan, hanya sakit kepala biasa. Bagaimana keadaan Alanna saat kau antar tadi."
"Nona Alanna menangis sepanjang jalan, Tuan."
Mendengar perkataan Johan membuat kepala Zack semakin sakit. Zack menghela nafas panjang menatap keluar jendela. Jantungnya serasa di remas mendengar perkataan Johan.
Johan kembali melirik Zack, merasa kasian melihat keadaan Bos nya. "Sebenarnya Nona Alanna tidak bersalah Tuan, apa yang dia katakan dan Sinta katakan itu benar." Ucap Johan pelan.
"Aku tahu Alanna tidak bersalah, dia tidak akan berani berbuat seperti itu jika dirinya tidak terpojok. Situasi saat itu tidak menguntungkan bagi Alanna, tidak ada orang yang melihat keadaan sebenarnya selain kalian yang pasti akan membela dia." Zack menjelaskan. "Apa sebenarnya yang terjadi Johan ?" Zack menatap serius ke depan pada Johan yang duduk di kursi pengemudi.
"Nurhaliza mengatakan pada Nona Alanna kalau dia menyukai anda." Kata Johan yang di tanggapi dengusan mengejek oleh Zack. "Lalu dia berkata kenapa bisa anda menyukai wanita yang bekerja sebagai pelayan hotel."
"Berarti dia menyelidiki kehidupan Alanna." Komentar Zack mendengar perkataan Johan.
"Sepertinya begitu Tuan."
"Lalu apa lagi yang Nurhaliza katakan ?"
"Dia menyiram gaun Nona Alanna dan mengatakan biarpun memakai pakaian bagus dan mahal Nona Alanna tetaplah wanita rendahan yang menjual diri untuk bisa mendapatkan Tuan." Johan sedikit ragu mengatakan kalimat terakhir.
"Kurang ajar !! berani sekali dia mengatakan hal seperti itu pada Alanna !" Zack emosi, memaki dengan nada tinggi.
"Itu sebabnya Nona Alanna menampar Nurhaliza."
"Dan saya memaksanya meminta maaf pada orang yang bersalah." Zack frustasi mengusap kasar wajahnya.
"Tapi betul juga yang anda katakan, Nona Alanna tidak ada bukti bahwa dirinya tidak bersalah sedangkan Nurhaliza dengan liciknya memanfaatkan situasi seakan dirinya yang menjadi korban."
Zack gelisah ingin secepatnya bertemu dengan Alanna. "Johan percepat sedikit."
"Baik Tuan."
Johan mempercepat laju kendaraannya menuju Penthouse.
Saat sampai, Zack langsung bergegas naik dan terkejut tidak mendapati siapa-siapa di dalam rumah.
"Kau yakin mereka masuk saat kau pergi ?" tanya Zack pada Johan, sedikit panik tidak melihat keberadaan Alanna ataupun Sinta.
__ADS_1
"Iya Tuan, saya yakin sekali."
"Kau hubungi Sinta, saya akan menelpon Alanna." Perintah Zack yang langsung di kerjakan Johan.
Zack mengeluarkan handphone dari dalam kantong jasnya, menekan nomor Alanna tapi ternyata tidak terhubung karena nomor handphonenya tidak aktif.
"Bagaimana ? Terhubung dengan Sinta ?" Zack bertanya, cemas dan panik menjadi satu karena nomor handphone Alanna tidak bisa di hubungi.
"Dia sementara perjalanan ke sini Tuan."
"Sebenarnya mereka dari mana ? Saya sudah melarang Alanna untuk tidak keluar sendirian."
"Anda tenang dulu dan lebih baik anda duduk dulu, kita menunggu Sinta untuk mengetahui lebih jelas."
Zack menuruti saran Johan untuk duduk dan berusaha tenang walaupun hatinya gelisah memikirkan keberadaan Alanna.
Sepuluh menit telah berlalu terasa bagaikan sepuluh jam bagi Zack menunggu. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu depan terbuka.
Sinta muncul tapi hanya seorang diri. "Mana Alanna ? kenapa hanya kau pulang sendiri." Zack bertanya.
"Aku dari mengantar Alanna ke bandara untuk pulang." Jawab Sinta takut-takut.
Emosi Zack naik mendengar perkataan Sinta. "Siapa yang menyuruhmu mengantarnya ke sana ?" Geram Zack berusaha mengendalikan emosi.
Nyali Sinta menciut melihat Zack begitu emosi. "Alanna yang meminta, aku tidak ingin tapi dia memohon untuk di temani karena baru kali ini dia terbang antar negara."
"Aku kasian melihatnya terus menangis dan tidak tega apalagi setelah kak Zack mempermalukan dirinya seperti itu di depan banyak orang." Sinta menyudutkan Zack.
Perkataan Sinta membuat Zack semakin frustasi "Dia naik pesawat penerbangan ke mana ?"
"Ke Jakarta."
"Bukan ke Surabaya ?"
"Tidak, ke Jakarta."
"Kau yakin ?"
"Iya karena aku yang memesankan tiketnya."
"Dia naik penerbangan jam berapa ?"
"Aku pulang ke sini setelah pesawatnya lepas landas."
"Baiklah, kita tunggu paling lama dua jam kemudian. Aku belum tenang kalau belum mendapatkan kabar dia sampai di rumah dengan selamat." Zack berkata, berjalan bolak-balik di depan sofa.
"Anda ingin kopi Tuan ?" Johan bertanya, melihat Bos nya yang tampak kacau membuat Johan prihatin.
"Iya, tolong buat yang sedikit kental." Kata Zack sambil membuka jasnya dan kembali duduk di sofa.
__ADS_1
Sinta ikut duduk di sofa, menghadap Zack. Tidak lama Johan muncul dengan membawa secangkir kopi panas dan meletakkannya di depan Zack.
Zack kembali menunggu, menunggu dua jam berlalu sungguh menguji kesabaran Zack. Entah sudah berapa kali Johan bolak-balik membawa cangkir kosong untuk di ganti dengan cangkir berisi kopi panas. Zack yang berjalan bolak-balik di ruang tengah sambil menatap jam dinding yang berada di ruang tengah.
Sinta yang tadinya kesal pada Zack berubah kasian melihat Zack yang frustasi dan gelisah memikirkan keberadaan istrinya.
Dua jam telah berlalu, Zack langsung mengambil handphonenya menghubungi nomor handphone Alanna tapi tetap tidak bisa tersambung.
"Nomornya tidak bisa di hubungi." Zack berkata kecewa.
"Coba kak Zack hubungi mama." Saran Sinta.
Zack menghubungi mama Rani, terhubung dan di angkat saat dering telepon ke dua.
"Hallo Zack ?" Suara mama Rani dari seberang.
"Hallo mama." Balas Zack.
"Tumben menelepon jam begini, ada apa Zack ?"
"Ma, Alanna sudah ada di rumah ?"
"Alanna ?" tanya mama Rani heran. "Alanna tidak ada di sini Zack, bukankah dia bersama kalian ?"
Mendengar perkataan mama Rani membuat jantung Zack seperti di remas membuatnya sesak napas. Rasa panik mulai muncul kembali padanya. "Dia pulang ke Jakarta dua jam lalu ma." Suara Zack tercekat berusaha berbicara.
"Kenapa kau biarkan di pulang sendiri ? Mana Sinta ?" mama Rani heran.
"Sinta ada di sini mama, dia ingin pulang sendiri."
"Kalian bertengkar ?" tebak mama Rani.
"Lebih tepatnya, aku membuat Alanna marah." Zack mengakui dengan terpaksa.
"Zack, mama tidak suka kalau kalian sering bertengkar. Apalagi istri mu sekarang sedang hamil muda." Mama Rani berkata dengan nada marah. "Kau membiarkannya pulang sendiri, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya ? Dan sekarang dia entah di mana karena dia tidak ada di rumah."
"Zack akan mencarinya saat ini juga, mama tenang saja."
"Kabari mama kalau kau sudah menemukan Alanna."
"Iya ma." Ucap Zack dan sambungan telepon terputus.
-
-
-
...terus dukung author ya dengan cara like, coment,dan vote terimakasih ☺️☺️...
__ADS_1