
Orang-orang terlihat sangat sibuk saat mereka memasuki ruang tengah. Ruang tengah telah diubah menjadi ruang perjamuan dengan beberapa meja makan bundar yang telah di letakkan di bagian tengah ruangan dan beberapa meja panjang di bagian sudut ruangan yang Alanna duga akan di gunakan sebagai meja untuk menyediakan berbagai macam jenis makanan.
Balkon yang berada di samping menghubungkan ruang tengah dengan taman yang merupakan tempat utama acara malam ini.
"Ada yang perlu aku bantu ?" Alanna bertanya pada Zack.
"Tidak ada dan tidak perlu, kamu istirahat saja dulu di kamar." Zack berkata membawa Alanna meletakkan ruang tengah.
"Aku naik sendiri saja kalau mas masih sibuk di sini." Ucap Alanna
Zack menoleh pada Sinta. "Kau tidak naik ke kamar mu ?" Zack bertanya.
"Mau, aku ingin merapikan belanjaan ku."
"Baiklah." Zack menyerahkan paper bag pada Alanna.
"Kak Zack, Alanna hanya naik ke atas bukan mau pergi jauh. Makin lama kelakuan kak Zack makin aneh deh !"
Alanna hanya tersenyum geli melihat Sinta berbicara sewot pada kakaknya.
"Kakak hanya protektif pada istri dan anak kakak yang ada dalam kandungan." Zack membela diri.
"Iya, iya aku tahu." Sinta mengalah malas berargumen dengan Zack, menarik tangan Alanna berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Zack menemui Johan di taman yang sedang mengawasi persiapan acara malam ini.
"Bagaimana persiapannya ?" Zack bertanya pada Johan.
"Semuanya berjalan lancar sampai saat ini Tuan."
Zack memperhatikan sekitarnya, melihat beberapa meja bundar yang akan di gunakan untuk tamu undangan serta meja makan panjang untuk meletakan berbagai macam jenis makanan dan minuman yang akan di sediakan.
Di sudut terdapat alat pemanggang daging untuk berbeque. "Pastikan tidak ada yang terlewatkan." Perintah Zack.
"Baik Tuan, akan terus saya pantau."
"Bagus."
"Zack !" Mama Rani memanggil.
Zack menoleh, mama Rani memanggil dari balkon ruang tengah.
"Kenapa ma ?" tanya Zack berjalan mendekati mama Rani.
"Alanna di mana ?"
"Di kamar, kenapa ma ?"
"Tadi siang sebelum pergi keluar istrimu hanya minum jus buah, mama tanya katanya lagi tidak ada selera makan walaupun hanya makan buah. Coba kau tanya istri mu ingin makan apa takutnya dia kelelahan saat acara nanti malam karena tidak ada yang dia makan." Mama Rani berkata khawatir.
__ADS_1
"Baik mama, aku naik ke atas dulu."
"Bagaimana persiapan acara malam ini ?" tanya mama Rani tiba-tiba menghentikan langkah Zack yang hendak balik berjalan.
"Semua berjalan lancar sampai saat ini."
"Baguslah."
"Mama sedikit khawatir karena ini pertama kali kita membuat acara seperti ini di rumah."
"Tidak usah khawatir, tidak ada bedanya dengan acara yang biasa kita buat di hotel hanya tempatnya saja yang berbeda." Zack menyakinkan mama Rani. "Aku naik ke atas dulu."
"Iya."
Zack langsung membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu.
Alanna menoleh ke arah pintu yang terbuka. "Mas Zack." Alanna refleks berkata saat melihat Zack yang masuk ke dalam kamar.
Zack berjalan mendekati Alanna yang sedang duduk melipat kakinya di atas sofa sambil memeluk bantal, menonton acara televisi.
Zack duduk di sofa samping Alanna. "Kata mama tadi siang kamu tidak makan apapun." Ucap Zack.
"Iya mas, tadi siang lagi tidak berselera makan."
"Mas khawatir dengan keadaanmu yang seperti ini." Zack berkata dengan nada khawatir. "Tidak ada yang ingin kau makan sekarang ini ?"
"Tidak ada lagi ? hanya itu ?"
"Iya, hanya itu saja dulu."
Zack mengeluarkan handphone dari saku jasnya dan menghubungi Johan.
"Hallo Tuan." Suara Johan, Zack melospeaker sambungan telepon.
"Hubungi pihak dapur hotel untuk membuatkan Alanna salad buah dan sekotak es krim rasa vanilla." Perintah Zack.
"Hanya itu saja Tuan ?" tanya Johan.
"Iya hanya itu untuk sementara ini."
"Baik Tuan." Johan menjawab patuh dan sambungan telepon terputus.
"Semua urusan sepertinya Johan yang mengerjakan sampai hal kecil seperti ini." Alanna berkomentar setelah mengamati interaksi antara bos dan asistennya.
"Yang berhubungan dengan mu bukan hal kecil, sayang." Zack menekankan.
"Bagaimana jika Johan tidak ada ? sepertinya mas Zack sudah terbiasa dengan adanya keberadaan Johan."
"Entahlah, mas tidak pernah memikirkannya." Zack mengakui.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku juga tiba-tiba pergi ?" Alanna bertanya penasaran.
"Entahlah, mas juga tidak pernah berpikir sampai ke hal seperti itu." Zack kembali mengakui dengan kening berkerut. "Yang pasti mas tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu ? kamu berencana untuk pergi dariku ?"
Alanna menatap balik wajah Zack yang menatap serius padanya.
"Tidak mas, pertanyaan itu hanya terlintas dipikiran ku."
"Kalau pun itu yang kau inginkan, mas tidak akan mengizinkan ataupun membiarkan itu terjadi." Ucap Zack kembali berkata dengan nada tegas.
Alanna terdiam dan tidak berkomentar lebih jauh, tidak ingin berdebat dengan Zack.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Alanna sedang bersiap-siap, Zack sudah turun lebih awal untuk menyambut tamu yang mulai berdatangan.
Alanna hanya memakai makeup natural seperti biasa, rambut panjangnya di biarkan terurai kontras dengan gaun yang di pakainya. Berdiri di depan lemari sepatu mencari sepatu flatshoes dan teringat kalau sepatu itu tertinggal di Penthouse mereka di Malaysia.
"Acara malam ini pasti lama, kakiku pasti akan pegal jika memakai sepatu berhak tinggi." Gumam Alanna terpaksa mengambil salah satu sepatu yang tersusun rapi di dalam lemari dan memakainya.
Bercermin untuk terakhir kalinya, memastikan penampilannya telah sempurna.
"Kamu cantik sekali malam ini." Zack bersuara dari belakang.
Alanna melihat dari pantulan cermin Zack yang berjalan mendekatinya.
"Terimakasih mas." Ucap Alanna tersipu malu mendengar pujian dari Zack.
Zack berhenti tepat di belakang Alanna, merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya.
"Penampilanmu akan semakin memukau dengan ini." Ucap Zack menyematkan kalung di leher Alanna. Kalung sederhana dengan liontin berlian bulat kecil.
Alanna refleks memegang kalung yang tersemat di lehernya, melihat lebih jelas liontin berlian itu.
"Mas ini sebenarnya tidak perlu." Ucap Alanna menatap pantulan wajah Zack di cermin.
"Apapun untuk istri cantikku." Zack mencium puncak kepala Alanna. "Sudah siap ? kita keluar sekarang ?"
Alanna berbalik menghadap Zack. "Mas Zack."
"Kenapa ? ada masalah ?"
"Jujur, aku sedikit gugup."
Zack tersenyum lembut mendengar perkataan Alanna. "Tidak usah gugup, aku akan terus di sampingmu." Zack menenangkan Alanna yang di jawab anggukan kepala oleh Alanna. "Sudah siap untuk turun ?"
Alanna menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Iya, aku siap."
Mereka keluar dari dalam kamar, berjalan berdampingan. Saat akan menuruni tangga, Zack memberi lengannya untuk Alanna pegang dan tersenyum lembut menenangkan Alanna. Dengan perlahan mereka menuruni tangga dan mulai tampak kerumuman orang yang berada di ruang tengah.
__ADS_1