Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 111


__ADS_3

Alanna tertidur dalam pelukan Zack, kelelahan sehabis kegiatan mereka di atas tempat tidur.


Zack sendiri hanya berbaring menatap wajah Alanna yang tertidur pulas sambil mengusap lembut punggung polos Alanna dari balik selimut.


"Akhirnya kita bersama untuk selamanya, pikiran yang menghantuiku akan kehilangan dirimu lenyap sudah." Gumam Zack, mengecup lama kening Alanna.


Alanna bergerak dan membuka mata karena kecupan Zack di keningnya.


Zack tersenyum lembut. "Aku membangunkan mu ya ?"


"Iya." Ucap Alanna dengan suara serak khas orang baru terbangun dari tidur.


"Maaf." Kata Zack walaupun tidak terdengar nada menyesal dari mulutnya.


"Mas Zack tidak tidur ?"


"Mas tidak mengantuk."


"Sekarang jam berapa ?"


Zack melirik jam yang berada di nakas samping tempat tidur. "Jam sebelas malam." Jawab Zack. "Ada makanan di dapur ? Mas lapar belum sempat makan malam."


"Ada makanan aku simpan di dalam kulkas, akan aku panaskan dulu di microwave." Alanna bergerak menjauh tapi tiba-tiba terhenti tersadar dirinya tidak memakai apa-apa pun di balik selimut.


"Ada apa sayang ?" tanya Zack.


"Mas bisa tutup mata dulu sebentar ?" Alanna tersenyum malu-malu.


Zack mengerutkan kening, heran. "Kenapa ?"


"Aku malu berdiri, aku tidak memakai apa-apa." Jawab Alanna dengan wajah merona malu.


Zack terkekeh geli. "He he he kenapa mesti malu sayang, bukankah mas sudah sering melihat tubuh polos mu ? bahkan beberapa saat yang lalu mas melihat tubuh polos mu sampai sekarang pun masih menyentuhmu." Zack tidak habis pikir dengan tingkah Alanna.


Alanna memukul dada Zack dengan gemas. "Tapi itu kan beda mas Zack." Ucap Alanna kikuk. "Kalau tidak tutup mata, aku tidak akan bangun dan mas Zack tidak akan bisa makan malam." Tamba Alanna mengancam.


"Baiklah, mas akan menutup mata." Zack berkata mengalah dan menutup kedua matanya.


Alanna langsung bergerak begitu Zack menutup matanya, turun dari tempat tidur. "Awas ya kalau mas tiba-tiba buka mata."


"Iya iya mas tidak akan membuka mata."


Dengan langkah cepat Alanna bergerak menuju lemari membukanya dan mengambil pakaian dengan cepat tanpa lagi memilih, berlari kecil menuju kamar mandi tanpa menyadari Zack yang dari tadi membuka mata melihatnya.


Alanna berkutat di dalam dapur memanaskan semua makanan yang dia simpan di dalam kulkas sedangkan Zack menunggu di dalam kamar.


Usai menata makanan di atas meja, Alanna kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Mas Zack, makanannya sudah siap." Panggil Alanna dari pintu kamar.


Zack turun dari tempat tidur, dengan lugas tanpa risih bergerak memakai pakaian dalamnya kemudian celana panjangnya. Alanna yang berdiri di depan pintu malu menatap ke arah Zack dan memilih melihat ke arah lain.


Zack hanya tersenyum geli melihat tingkah Alanna, sengaja ingin menggoda istrinya yang polos.


Zack makan malam dengan lahap, menyisakan setengah dari makanan yang Alanna siapkan.


"Mas sudah kenyang." Ucap Zack mengambil gelas minum nya.


Alanna berdiri merapikan meja makan. "Kenapa mas Zack terlambat makan malam ? bukannya di hotel mas Zack tinggal menelepon pihak dapur untuk mengantarkan mas makan malam ?" tanya Alanna sambil meletakkan piring dan gelas kotor di wastafel tempat cuci piring.


"Mas sedang tidak ingin makan malam sendiri."


Alanna duduk kembali di kursinya. "Jadi kapan kita akan pulang ?"


"Lusa kita pulang, mas harus menyelesaikan beberapa urusan di sini sebelum kita kembali."


"Baiklah." Ucap Alanna. "Bagaimana kabar orang di rumah ?" tambahnya.


"Kabar mereka semua baik-baik saja dan kabar terbaru Johan sudah melamar Sinta langsung pada Mama dan Papa tanpa sepengetahuan Sinta. Sebelum aku ke mari mereka telah melangsungkan acara pertunangan." Zack tersenyum bercerita.


"Benarkah ?! tidak menyangka Johan langsung melamar." Komentar Alanna bersemangat mendengar cerita Zack.


"Aku juga tidak menyangka tanpa berpacaran atau menyatakan cinta terlebih dahulu pada Sinta, Johan memilih langsung melamar Sinta." Zack geleng-geleng kepala mengingat sikap Johan yang nekad.


"Kurasa kamu benar sayang." Ucap Zack menyetujui. "Aku telah memberi sebuah rumah." Tambahnya.


"Untuk apa siapa mas ?"


"Untuk kita tinggali, pulang dari sini kita bisa langsung tinggal di sana."


"Memangnya kenapa dengan rumah yang sekarang ?" Alanna bertanya penasaran.


"Mas berpikir kita perlu tinggal di rumah kita sendiri agar kamu bisa merasa nyaman."


"Tapi aku nyaman kok tinggal di rumah yang sekarang. Di rumah yang begitu besar, Mama dan Papa pasti akan sunyi jika hanya mereka berdua yang tinggal di sana."


"Sinta kan ada menemani mereka."


"Mas tidak ingat ? Sinta sudah di lamar Johan dan mereka pasti tidak lama lagi akan menikah. Setelah menikah Sinta pasti akan ikut suaminya."


Zack manggut-manggut mengerti. "Kamu benar sekali sayang."


"Kita tidak usah pindah mas, aku senang tinggal di rumah dengan Mama dan Papa."


"Bagaimana dengan anak-anak kita nanti ?"

__ADS_1


"Maksudnya ?" Alanna bingung.


"Mas berpikir kita mungkin butuh rumah sendiri saat kita telah memiliki satu anak, dua atau mungkin lebih."


"Mas Zack tidak menghitung jumlah kamar dan ruangan kosong di rumah ? masih banyak ruangan yang belum terpakai. Tidak akan habis walaupun kita memiliki anak lebih dari tiga." Ucap Alanna tidak habis pikir.


"Jadi bagaimana dengan rumah yang sudah terlanjur mas beli ?"


Alanna berpikir beberapa saat sebelum menjawab. "Mas hadiahkan pada Sinta dan Johan sebagai kado pernikahan mereka."


"Boleh juga, idemu bagus sekali sayang." Zack tersenyum puas.


"Mas Zack ?" tanya Alanna meminta perhatian penuh pada Zack.


"Ya kenapa sayang." Zack menyahut lembut.


"Sejak kapan mas Zack tahu aku ada di sini ?" tanya Alanna penasaran, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Sejak awal kamu tinggal di sini."


"Dari awal ?" tanya Alanna kembali, kaget dengan jawaban Zack.


"Iya dari awal."


"Kalau mas Zack tahu dari awal kenapa mas tidak mengirimkan surat-surat persyaratan pengajuan perceraian langsung pada ku ?" Alanna bertanya heran, mengerutkan keningnya.


Zack tersenyum simpul. "Aku mengikuti cara mainmu, kamu tidak ingin keberadaan mu di ketahui oleh ku jadi aku mengikuti maumu dengan berpura-pura tidak mengetahui keberadaan mu.


"Kalau mas tidak berniat untuk bercerai denganku kenapa mas harus repot-repot mengirimkan padaku surat-surat itu ?"


"Jujur dulu mas sangat marah padamu karena meninggalkan ku tanpa bertanya. Aku melakukan itu bisa di katakan seperti membalas dendam padamu karena sakit hati yang aku rasakan." Zack tersenyum masam.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mas Zack sakit hati. Seandainya aku bertanya langsung pada mas, kita pasti tidak akan seperti ini. Kita telah melewatkan dua tahun dengan sia-sia." Sesal Alanna.


Zack mengulurkan tangannya di atas meja, memegang erat tangan Alanna.


"Sekarang itu sudah menjadi masalah lalu, sekarang kita sudah bersama dan itu hal yang terpenting."


"Iya mas." Alanna tersenyum, membalas genggaman tangan Zack.


"Mas jadi teringat tentang pria yang bernama Mohammad Fasli, bagaimana urusan mu dengannya ?"


"Urusanku dengannya sudah selesai, aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika pulang dari hotel tadi siang."


"Apa yang kamu katakan padanya ?" Selidik Zack.


"Aku katakan kalau aku tidak akan bertemu dengannya lagi dan itu pertemuan terakhir kami."

__ADS_1


"Bagus." Puji Zack, puas mendengar perkataan Alanna. "Mas sudah lelah, lebih baik kita istirahat saja."


__ADS_2