Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 81


__ADS_3

Setelah makan malam semua anggota keluarga berkumpul duduk bersantai di ruang tengah, bahkan Johan pun ikut bergabung dengan mereka karena setelah ini masih ada pekerjaan yang akan di kerjakan nya bersama Zack di ruang kerja.


"Mama, papa, besok aku dan Alanna akan ke Surabaya." Zack memberitahu kedua orangtuanya.


"Untuk urusan pekerjaan ?" tanya mama Rani.


"Bukan, Alanna rindu ingin melihat Ibunya. Sudah lama juga dia belum bertemu dengan Ibunya." Zack menjelaskan.


"Begitu." Sahut mama Rani mengerti. "Berapa hari kalian di sana ?"


"Sekitaran dua sampai tiga hari." Jawab Zack.


"Bagaimana pekerjaan di sini ?" tanya papa Arian.


"Akan di hendel oleh Johan untuk sementara, selama aku di Surabaya."


Papa Arian mengangguk mengerti.


"Titip salam sama Ibu mu nak." Mama Rani berkata pada Alanna.


"Iya ma, akan aku sampaikan." Alanna menjawab, sedikit bingung dengan situasinya.


Terdengar bunyi bel dari pintu depan, Bibi Mun berjalan tergesa-gesa ke depan melewati mereka untuk membuka pintu rumah. Muncul tidak lama kemudian di ruang tengah.


"Nona Sinta, ada yang mencari." Bibi Mun memberitahu. Ternyata tamu yang datang ingin bertemu dengan Sinta.


Sinta mengerutkan kening, heran dengan tamu yang datang ingin bertemu karena jika temannya yang datang pasti akan menghubunginya terlebih dahulu.


"Siapa Bi ?" tanya Sinta.


"Namanya kalau tidak salah Putra Pratama."


Mendengar perkataan Bibi Mun membuat semua orang menoleh pada Sinta. Johan pun terkejut dan memasang raut wajah tidak senang mendengar siapa tamu yang datang menemui Sinta.


"Kalian berdua berteman dekat sampai dia datang ke rumah mencari mu ?" Zack bertanya penasaran.


"Tidak, kami baru pertama kali bertemu saat acara kemarin."


"Begitu." Sahut Zack mengerti.


Alanna menoleh menatap Johan dan tersenyum simpul melihat raut wajah Johan.


"Pergilah keluar, tamu mu sudah lama menunggu." Mama Rani bersuara.


Dengan berat hati Sinta bangkit berdiri di ikuti tatapan mata dari Johan.


"Mama masuk ke kamar lebih dulu." Mama Rani juga ikut berdiri di susul papa Arian.


"Kamu belum ke kamar sayang ?" tanya Zack pada Alanna saat tinggal mereka bertiga di ruang tengah.

__ADS_1


"Sedikit lagi mas."


"Kalau begitu mas ke ruang kerja dulu."


"Iya."


Zack di ikuti Johan juga pergi, tinggal Alanna sendiri duduk di ruang tengah sambil menonton acara televisi.


Sinta menuju ruang depan dan melihat Putra yang sedang duduk menunggu kedatangannya. Putra menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat dan tersenyum melihat kedatangan Sinta.


"Maaf membuat mu terkejut dengan kedatangan ku." Putra berkata sambil berdiri.


"Jujur aku memang terkejut." Sinta duduk di sofa yang berada depan Putra.


Putra tersenyum mendengar perkataan Sinta yang blak-blakan, kembali duduk di kursinya.


"Apa yang membuatmu datang ke sini mencari ku ? aku tidak akan heran kalau kamu datang kesini mencari kak Zack."


"Harus kah ada alasan jika ingin bertemu denganmu ?" Putra bertanya.


"Tidak juga tapi semua orang pasti punya alasan jika ingin bertemu seseorang."


"Aku hanya ingin datang berbincang-bincang dengan mu. Aku tidak punya nomor handphone mu untuk menghubungi mu jadi aku berpikir untuk langsung datang saja ke rumah mu."


Sinta terdiam mendengar perkataan Putra, merasa canggung dengan situasi yang dihadapinya.


Di ruang kerja Zack, Johan tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya, pikirannya melayang penasaran dengan situasi yang sedang terjadi di ruang depan.


Johan terkejut tersadar. "Ma, maaf Tuan. Aku tidak perhatikan." Johan berkata kelabakan, merasa bersalah ketahuan karena tidak berkonsentrasi dengan pekerjaan yang berada di depannya.


"Tumben kamu tidak fokus Johan, ada yang mengganggu pikiran mu ?" Zack bertanya penasaran heran dengan sikap Johan.


"Tidak ada Tuan, mungkin karena kelelahan." Johan memberi alasan.


Zack melihat jam tangannya. "Tapi ini belum begitu larut malam, kita bahkan pernah bekerja lebih larut dari ini."


"Aku ke dapur dulu Tuan ingin membuat secangkir kopi, sepertinya aku butuh kafein untuk lebih fokus."


"Iya sepertinya memang kamu butuh itu." Zack menyutujui.


Johan berdiri dari kursinya berjalan menyeberangi ruangan menuju pintu.


"Johan !" Panggilan Zack ketika pintu terbuka.


Johan membalikkan badannya menatap ke arah Zack yang juga ikut berdiri dari kursinya.


"Ya Tuan."


Zack berjalan mendekati Johan. "Buatkan aku juga secangkir kopi dan letakkan di atas meja kerjaku. Aku pergi melihat Alanna dulu."

__ADS_1


"Baik Tuan." Johan menyahut patuh sebelum Zack berjalan menjauh menuju ruang tengah.


Tidak menemukan Alanna di ruang tengah Zack langsung naik tangga menuju lantai dua kamar mereka.


Membuka pintu kamar Zack mendapati Alanna sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi.


"Kamu sudah meminum susumu ?" Zack bertanya berjalan mendekati Alanna.


Alanna menoleh sekejap sebelum kembali menatap televisi. "Belum mas sedikit lagi, aku juga belum mau tidur."


Zack duduk bergabung dengan Alanna di sofa. "Kenapa belum tidur ? ibu hamil tidak boleh tidur larut malam." Zack mengingatkan sambil memeluk Alanna dalam pelukannya.


Alanna mendongkak menatap wajah Zack yang sangat dekat dengan wajahnya. "Belum mengantuk mas."


Zack mengecup bibir Alanna. "Jangan tidur terlalu larut sayang."


"Iya mas, aku tahu."


"Mas akan menyuruh Bibi membuat kan susu mu saat mas turun."


"Mas masih mau kembali ke ruang kerja ?"


"Iya, mas hanya naik sebentar melihatmu sebelum kembali bekerja kebetulan Johan juga sedang ada di dapur membuat kopi." Zack menjelaskan. "Johan tadi tidak fokus bekerja jadi dia pergi untuk membuat kopi."


Alanna tersenyum mendengar perkataan Zack.


"Kenapa tersenyum, ada yang lucu dari perkataan ku ?"


"Jelas lah mas, Johan tidak fokus bekerja karena ada Putra Pratama di ruang depan sedang berbicara dengan Sinta."


"Apa hubungannya mereka dengan Johan yang sedang tidak fokus ?"


Alanna mendesah napas panjang melepas pelukan Zack. "Dia gelisah lah kan mas, karena ada pria lain yang sedang mendekati Sinta."


Zack mengerutkan kening semakin bingung. "Jujur mas semakin bingung."


"Mas Zack, Johan gelisah kerena cemburu ada pria lain yang artinya dia sebenernya menyukai Sinta hanya tidak bisa atau tidak berani mengakuinya." Alanna gemas dengan Zack yang tidak sensitif membaca situasi.


Zack mengangguk-angguk mulai mengerti. "Kenapa dia tidak mau atau tidak bisa mengakui perasaannya ?" Zack penasaran.


"Itu hanya Johan yang tahu jawabannya." Ucap Alanna. "Laki-laki memang seperti itu selalu memperumit sesuatu hal yang mudah." Alanna menggeleng-gelengkan kepalanya menghela nafas.


Zack tersenyum gemas melihat tingkah Alanna. "Kamu jangan terlalu banyak berpikir masalah orang lain, pikiran saja dirimu dan bayi kita."


"Tapi Johan dan Sinta bukan orang lain mas Zack." protes Alanna.


"Iya iya mereka bukan orang lain." Zack mengakui mengalah.


"Eh ! mas Zack, aku jadi teringat perkataan mama tadi saat kita berkumpul di ruang tengah."

__ADS_1


"Perkataan yang nama ?"


__ADS_2