
"Mau ikut mas ke ruang kerja ? atau kamu menunggu di kamar ?" Zack bertanya, mereka berjalan memasuki lobby hotel.
"Aku ke kamar dulu mas, aku ingin bertemu dengan teman lama ku yang bekerja di bagian paviliun lagian juga mas Zack ada rapat pagi ini dengan kepala-kepala bagian."
Kata teman lama yang Alanna katakan menarik perhatian Zack. "Teman lama ? Pria atau wanita ?" Zack menatap penuh curiga.
Alanna terkekeh melihat sikap Zack. "Wanita mas, teman lama ketika aku masih bekerja di sini sebagai pelayan bagian paviliun." Alanna menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu mas naik ke atas dulu."
Alanna mengangguk. "Iya."
Zack berjalan terus melewati Lobby menuju lift sedang Alanna berbelok menuju ruang paviliun.
Alanna berjalan menuju kamar nomor dua, membuka pintu kamar untuk masuk ke dalam. Di dalam kamar terdengar suara dari arah kamar mandi, seseorang sedang membersihkan kamar mandi.
Alanna meletakkan tasnya di atas tempat tidur kemudian berjalan menuju lemari es untuk mencari sesuatu yang bisa di minum.
"Alanna ?" Suara wanita memanggil dengan ragu-ragu.
Alanna menoleh dan tersenyum melihat orang yang memanggilnya.
"Gita, ternyata kamu yang sedang bekerja." Alanna berkata sambil menutup kembali pintu lemari es dengan minuman jus buah botol di tangannya.
"Bagaimana kabar mu ? sudah lama kita tidak saling menghubungi." Gita berjalan mendekat, memeluk Alanna.
Alanna balas memeluk Gita. "Baik kabarku baik." Alanna melepaskan pelukannya kemudian berjalan menuju sofa yang terletak dekat tempat tidur untuk duduk di susul Gita.
"Maaf tidak menghubungi kamu dan Ayu, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk." Alanna menambahkan dengan raut wajah menyesal.
"Kami maklum jika kamu tidak menghubungi kami karena sibuk." Ucap Gita tersenyum.
"Ayu mana ? dia juga sift pagi ?"
"Iya dia juga sift pagi di kamar lain."
"Bagaimana kalau kita kumpul bersama setelah pekerjaan kalian sudah selesai ?" tanya Alanna.
"Boleh, sudah lama kita tidak kumpul bareng." Gita menyetujui. "Tapi kenapa kamu bisa ada di kamar ini ? setahuku ini kamar pribadi Pak Zack, pemilik hotel ini." Tamba Gita tiba-tiba terpikir.
Alanna tersenyum mendengarnya tidak tahu harus mulai dari mana bercerita.
"Aku pernah mendengar kalau Pak Zack telah menikah dan nama istrinya sama dengan nama mu, jangan katakan kalau itu kamu ?" Gita menganalisa dan menebak.
Alanna hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Sungguh ?!" Gita bertanya kembali untuk lebih yakin.
"Iya, aku menikah dengan mas Zack tidak lama setelah kepindahan ku ke Jakarta."
"Wah !! sungguh tidak ku duga kamu bisa menikah dengan Pak Zack." Gita berkata takjub tidak menduga.
"Aku pun tidak menyangka, jodoh semua orang tidak ada yang tahu."
Gita mengangguk setuju. "Betul yang kamu katakan."
"Bagaimana dengan kalian ? sudah dapat pacar atau belum ?"
__ADS_1
"He he he." Gita terkekeh geli.
"Kok ketawa sih ?" Alanna ikut tersenyum.
"Aku belum ada pacar, tapi kalau yang di suka sih ada." Gita berkata malu.
"Kalau Ayu ?" Alanna bertanya penasaran.
"Ayu sudah punya pacar, mereka belum lama pacaran baru sekitar dua mingguan. Pacarnya juga bekerja di hotel ini, bagian dapur hotel."
"Wah kamu di kalahkan Ayu." Gurau Alanna.
"Biarlah, apalah dayaku jika belum punya pacar." Gita berpura-pura memasang wajah sedih.
"He he he..., yang sabar ya Gita." Alanna terkekeh melihat tingkah Gita yang selalu ceria membuat Alanna sering tertawa.
"Aku kembali bekerja dulu kalau sudah selesai aku akan menghubungi mu, kita makan siang bersama dengan Ayu."
"Iya, aku sekalian menemui mas Zack dulu memberi tahu kalau aku makan siang bersama dengan kalian."
"Oke."
Alanna keluar dari dalam kamar menuju ruang kerja Zack yang berada di lantai paling atas hotel.
Pintu lift terbuka, Alanna keluar dan berjalan menuju rumah ruang kerja Zack. Di lantai itu terdapat beberapa ruangan di antaranya ruang aula untuk rapat, ruang General Manager dan ruang kerja Zack.
Alanna yang baru pertama kali ini naik ke lantai atas sedikit bingung harus ke mana walaupun dia mantan karyawan hotel ini tapi selama dia bekerja belum pernah naik ke lantai atas hotel ini.
Karena tidak tahu harus ke mana, dia memilih menelepon Zack.
Sambungan telepon terhubung saat dering pertama.
"Hallo mas." Balas Alanna.
"Kenapa menelepon sayang ?"
"Mas di mana ? Aku depan lift lantai ruang kerja mas Zack."
"Mas masih rapat di ruang aula, kamu langsung saja ke ruangan mas, tunggu aku di sana." Zack memberitahu.
"Tapi mas, aku tidak tahu kearah mana ruang kerja mas Zack makanya aku masih berdiri di depan pintu lift."
Zack tersenyum simpul mendengarnya. "Kamu lurus saja kemudian belok kiri, ada meja sekretaris di depan ruang kerja mas, katakan pada sekretaris itu kalau kamu menunggu ku di dalam."
"Baiklah." Kata Alanna sebelum mematikan sambungan telepon.
Sesuai arahan Zack, Alanna berjalan dan menemukan ruang kerja Zack yang terdapat meja sekretaris di depan nya.
Alanna memasang raut wajah tersenyum dan menyapa sekretaris yang sedang sibuk mengetik di keyboard komputernya.
"Selamat pagi Mba." Sapa Alanna.
Sekretaris itu mengangkat pandangannya dari layar komputer di depan dan menatap Alanna
"Kenapa Mba, ada yang bisa aku bantu ? Mba ingin bertemu dengan siapa ?" Sekretaris itu bertanya dengan ramah.
Sepertinya dia tidak mengenal ku karena dia bertanya seperti itu, dalam hati Alanna berkata.
__ADS_1
"Aku di suruh mas Zack untuk menunggunya di dalam ruang kerjanya." Ucap Alanna tersenyum ramah.
Sekretaris itu mengerutkan kening, bingung. "Tapi maaf Mba, aku tidak menerima pesan atau arahan dari Pak Zack jika ada tamu yang akan datang di persilahkan menunggu di dalam ruang kerjanya Pak Zack."
"Tapi sebelum ke sini aku sudah menelepon mas Zack dan dia menyuruhku untuk menunggunya di dalam karena dia masih sedang rapat." Alanna menjelaskan berusaha untuk tidak emosi.
"Maaf Mba tapi kalau boleh tahu anda siapa ? aku harus mengkonfirmasi dulu ke Pak Zack karena anda sangat ngotot ingin masuk ke dalam ruang kerja Pak Zack."
Pertanyaan yang dari tadi Alanna tunggu keluar dari mulut sekretaris itu.
"Aku istrinya."
"Dia istriku."
Alanna dan Zack berkata bersamaan, Alanna menoleh ke belakang terkejut dengan kehadiran Zack yang tiba-tiba.
"Mas Zack." Ucap Alanna tersenyum.
Zack berjalan mendekati Alanna, memeluk pinggangnya posesif.
Sekretaris yang telah membaca situasinya terlihat merasa bersalah.
"Maaf Pak Zack, aku tidak mengenali istri anda." Sekretaris itu berkata dengan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa bukan salahmu jika belum mengenal istriku, dia memang baru pertama kali ke sini jadi tidak heran jika kamu tidak mengenalnya." Zack memaklumi.
"Maaf Nyonya jika anda tersinggung." Sekretaris itu menatap Alanna.
Alanna tersenyum maklum. "Kerja bagus Mba, kamu bekerja sesuai prosedur tidak langsung membiarkan sembarang orang untuk masuk ke dalam ruang kerja mas Zack." Puji Alanna.
"Terimakasih Nyonya." Ucap sekretaris itu tersenyum lega.
"Kita masuk ke dalam." Ajak Zack, membawa Alanna berjalan menuju pintu ruangannya.
"Aku kira mas Zack sedang rapat." Kata Alanna pada Zack yang sedang membuka pintu ruang kerjanya.
Zack membiarkan Alanna masuk lebih dulu baru kemudian dirinya dan menutup pintu dibelakangnya.
"Mas datang karena menduga dan ternyata betul kamu akan tertahan oleh sekretaris ku yang ketat karena mengikuti arahan ku."
Alanna duduk di sofa yang di susul dengan Zack yang duduk di sampingnya, memeluk bahu Alanna.
"Jadi bagaimana dengan rapatnya ?" Alanna bertanya penasaran.
"Langsung ku tutup, akan di sambung kembali setelah jam makan siang." Zack berkata enteng.
"Tidak apa-apa mas Zack bersikap begitu ? Apa kata pegawai mas Zack nantinya." Tegur Alanna dengan sikap Zack.
Zack tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, mereka tidak akan berani berkata apa-apa karena mereka tahu mas pemilik hotel ini dan mereka bekerja pada mas."
Alanna hanya menggeleng kepala melihat sikap angkuh Zack yang terkadang muncul seperti sekarang ini.
-
-
...tolong terus dukung author dengan cara like, coment, vote, terimakasih ☺️...
__ADS_1
...singgah yuk di novel terbaru author...
...untuk yang suka cerita perjodohan kerajaan dengan judul "Terbelenggu cinta seorang pangeran "...