Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 61


__ADS_3

Alanna naik lebih dulu ke kamar mereka, berniat mengepak pakaian yang akan di bawa besok pagi.


Alanna sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara di televisi saat Zack masuk ke dalam kamar dengan susu di tangannya.


"Ini susu mu." Kata Zack seraya menyerahkan gelas di tangannya ke pada Alanna.


Alanna mengambilnya dan langsung meminumnya, meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja di hadapannya.


Zack bergabung dengan Alanna duduk di sofa. "Kau sudah selesai mengepak pakaianmu ?"


"Sudah mas, saya tidak membawa banyak pakaian."


"Obat dan susumu sudah kau isi juga ?" Zach bertanya mengecek persiapan Alanna berangkat.


"Sudah semua mas."


"Bagus kalau begitu."


Zack bangkit berdiri berjalan ke nakas samping tempat tidur untuk mengambil handphonenya dan kembali lagi ke sofa menemani Alanna menonton acara televisi.


"Mas Zack." Panggil Alanna beberapa saat kemudian, berbalik ke samping menghadap Zack dengan melipat kedua kakinya di atas sofa.


"Hmmm." Zack menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari handphone yang sedang di pegang nya.


"Mas tidak menyadari kalau Sinta memiliki perasaan khusus pada Johan ?" Alanna bertanya.


"Iya kah ?" Ucap Zack menyahut tidak peduli, masih fokus dan serius dengan handphone di tangannya.


"Mas.... ."Panggilan Alanna meminta perhatian Zack padanya.


"Hmmm." Zack menyahut sekenanya.


"Mas Zack !, dengar tidak sih ?!" Alanna berkata dengan nada ketus sambil merampas handphone Zack dari tangannya.


Zack terkejut ketika Alanna merampas handphone dari tangannya, menatap Alanna yang cemberut padanya.


"Kenapa sayang ? kok handphone mas di rebut begitu?" tanya Zack.


"Mas dengar tidak yang saya bilang tadi ?" tanya Alanna, belum mengembalikan handphone Zack.


"Dengarlah, kau katakan kalau Sinta memiliki perasaan khusus terhadap Johan."


"Lalu bagaimana pendapat mas Zack ?" tanya Alanna antusias.


"Mas tidak masalah, itu hak Sinta ingin menyukai siapa saja."


"Mas tidak masalah biarpun itu Johan, asisten pribadinya mas Zack ?"

__ADS_1


"Tidak." Zack menjawab dengan yakin. "Johan seorang dengan pribadi yang baik, malah bagus kalau dia mau berhubungan dengan Sinta dan malah berjodoh dengan Sinta setidaknya bisa membantuku mengurus hotel-hotel kita." Zack menambah sambil berpikir.


"Bagaimana kalau saya membantu." Ucap Alanna.


"Membantu apa ?" tanya Zack heran.


"Membantu Sinta dan Johan agar bisa bersama."


Zack menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Alanna. "Biarkan saja mereka urus sendiri masalah itu, lagipula masalah perasaan tidak bisa di paksakan."


"Mungkin saja dengan sedikit bantuan dari orang lain bisa membuat mereka bisa bersama." Alanna masih bersikeras dengan pemikirannya.


"Lebih baik kau fokus pada kehamilan dan kesehatanmu." Saran Zack.


"Iya saya tahu tentang itu, tapi saya juga ingin membantu Sinta." Alanna berkata, ngotot dengan keinginannya.


"Terserah kau saja tapi ingat pesan mas." Zack terpaksa mengalah.


"Tentu, pasti selalu saya ingat." Kata Alanna tersenyum senang.


"Kalau begitu kembalikan handphone mas."


"Mas sedang apa sih ? kok serius sekali dengan Handphone nya."


"Sedang membaca pesan dari beberapa rekan bisnis."


"Sampai serius begitu ? sampai istri sendiri sedang bicara di cuek." Kata Alanna, menyindir Zack.


"Hari ini mas Zack saya maafkan." Alanna mengalah, memberikan kembali handphone Zack. "Mas boleh kembali fokus membalas pesan dari rekan bisnis mas Zack, saya mau tidur duluan." Tambah Alanna hendak bangkit berdiri.


Zack tiba-tiba menahan Alanna dengan memegang tangannya. "Mas sudah hilang fokus dengan pesan dari rekan mas. Sekarang mas lebih fokus pada istri cantikku." Ucap Zack kemudian menarik Alanna ke dalam pelukannya.


"Mas Zack - ." Apapun perkataan yang ingin Alanna katakan selanjutnya tidak keluar dari mulutnya karena ciuman Zack pada bibirnya.


Ciuman lembut Zack membuat Alanna terbuai, protes yang hendak keluar dari mulutnya terlupakan. Alanna tanpa sadar melingkarkan lengannya di leher Zack.


Alanna yang pasrah dalam pelukannya memberi keberanian pada Zack untuk memperdalam ciuman.


Tanpa melepas c*um*annya, Zack menggendong Alanna ke teman tidur dan dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Zack menjauhkan sedikit wajahnya, menatap wajah Alanna yang menatap pasrah padanya.


"Katakan sekarang jika kau belum siap, karena setelah ini mas tidak bisa menghentikannya dan kau pasti tahu bagaimana akhirnya." Zack berkata dengan suara serak menahan gair**.


Alanna menelan ludah gugup dan menganggukkan kepala tidak dapat bersuara.


Tidak menunggu lama Zack kembali menunduk mencium bi**r Alanna setelah mendapat persetujuan.

__ADS_1


Alanna terbuai dengan sentuhan dan ciu*an bibir Zack di tubuhnya. Sensasi yang dia rasakan sungguh berbeda dengan sensasi saat Zack pertama menyentuhnya. Tidak ada rasa sakit hanya kenikmatan yang membuatnya melayang tinggi sampai ke puncak kenikmatan.


"Terima kasih karena sudah menerimaku sebagai suamimu seutuhnya." Zack berkata kelelahan setelah beberapa saat kemudian, memeluk erat tubuh polos Alanna di balik selimut. "Kau tahu bahwa mas menyayangimu, semoga pernikahan kita bisa bertahan selamanya."


"Semoga mas." Ucap Alanna menyandarkan wajahnya di dada polos Zack.


"Tidurlah, kita butuh istirahat untuk keberangkatan kita besok." Gumam Zack.


Tidak lama kemudian Alanna mulai merasakan nafas Zack yang teratur, menandakan dirinya mulai tertidur pulas.


Alanna mendongkak menatap wajah Zack yang tertidur pulas.


"Entah sampai kapan saya bisa bertahan dengan perasaan mas yang tetap menjaga jarak dariku walaupun tubuh kita sudah menyatu tapi hatimu masih tetap menjauh." Alanna berkata sedih. Termenung dengan berada di dalam pelukan Zack membuat Alanna tanpa sadar tertidur.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Penerbangan dari Jakarta ke Kuala lumpur memakan waktu kurang lebih satu jam lima puluh menit. Pesawat mendarat dengan mulus di landasan Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur. Kedatangan mereka telah di tunggu oleh sopir yang akan mengantar mereka ke Penthouse.


Saat masuk Alanna takjub melihat kemegahan di dalam Penthouse itu, walaupun rumah di Jakarta masih lebih mewah tapi untuk ukuran sebuah Apartemen Alanna berpikir ini sudah termasuk mewah.


"Sinta kau di tidur di kamar kedua, saya akan membawa Alanna ke kamar utama." Kata Zack.


Sinta menoleh pada Johan. "Kak Johan bagaimana ? dia tidur di mana ?" tanya Sinta menoleh kembali pada Zack.


"Dia biasanya tidur di kamar ke dua tapi karena kau ikut terpaksa dia tidur di hotel yang berada di dekat sini." Zack memberi tahu. "Tidak mungkin kan kalian tidur sekamar." Zack menambahkan.


Membawa Alanna bersamanya menuju kamar utama sambil mendorong koper pakaian Alanna.


"Ini kamar kita." Ucap Zack saat tiba di depan sebuah pintu dan membukanya.


Nuansa maskulin yang Alanna lihat saat pertama masuk ke dalam kamar dengan warna cat kamar putih abu-abu.


"Kau istirahatlah dulu sebelum makan siang." Kata Zack mendorong koper pakaian Alanna ke samping lemari pakaian yang berada di dalam kamar."


"Mas Zack mau ke mana ?" tanya Alanna duduk di samping tempat tidur.


" Tidak ke mana-mana, mas harus memeriksa beberapa dokumen dengan Johan di ruang tengah." Jawab Zack. "Kenapa ? ada yang kau butuhkan ?" Zack bertanya balik berjalan mendekati Alanna.


"Tidak, saya hanya mengira mas akan keluar." Jawab Alanna.


"Kenapa ? tidak ingin jauh-jauh dari mas ?" Zack tersenyum menggoda Alanna.


Alanna hanya terkekeh mendengar perkataan Zack. "Mas ini ada-ada aja."


"Mas sebenarnya yang tidak ingin jauh-jauh darimu, masih terbayang di kepala mas apa yang kita lakukan semalam." Kata Zack berbisik di telinga Alanna.


Mendengar perkataan Zack membuat wajah Alanna merona malu. "Ihk ! mas Zack !" Ucap Alanna salah tingkah, memukul pelan dada Zack.

__ADS_1


Zack terkekeh geli melihat tingkah Alanna. "He he he, mas suka melihat wajahmu yang merona seperti ini." Kata Zack mengusap sayang wajah Alanna. "Kau istirahat, mas bekerja dulu." Tambah Zack mengecup bibir Alanna.


"Iya mas." Ucap Alanna sebelum Zack berbalik keluar kamar dan menutup pintu kamar dari luar.


__ADS_2