
Alanna berpikir sebelum menjawab pertanyaan Dokter Risal. "Saya sudah lupa Dokter kapan haid terakhirku."
"Apa haid mu rutin setiap bulan ?" tanya Dokter.
"Rutin Dok, tiap bulan pasti ada."
"Bulan ini kau sudah haid ?"
Alanna berpikir sejenak. "Sepertinya belum Dok." Kata Alanna tidak begitu yakin.
"Saya sarankan Alanna untuk tes kehamilan." Dokter berkata sambil melihat Alanna dan Zack bergantian.
"Kapan Alanna harus melakukan tes kehamilan ?" Zack bersuara saat keluar dari keterkejutannya.
"Tes kehamilan bagus di lakukan saat pagi hari saat bangun tidur. Saat buang air kecil pertama di pagi hari, karena hasilnya lebih akurat dari pada di waktu yang lain." Dokter Risal menjelaskan.
"Tes kehamilannya di dapat di mana ? Dokter membawanya ?" mama Rani ikut bertanya.
"Maaf, saya sedang tidak membawanya tapi bisa di beli di Apotik." Dokter Risal menjawab.
"Baik Dok, saya akan pergi membelinya." Zack berkata antusias.
"Kalau hasilnya positif, saya sarankan untuk datang ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih jelas. Hubungi saja saya, nanti akan saya perkenalkan dengan Dokter kandungan kenalanku."
"Baik Dok terimakasih." Kata Zack tersenyum.
"Saya hanya akan memberikan obat anti muntah untuk sekarang ini. Alanna harus makan walaupun hanya sedikit dan lebih baik dia makan bubur untuk sekarang ini." Kata Dokter Risal sambil memberikan obat pada Zack. "Kalau begitu saya permisi dulu, hubungi kembali saya kalau muntahnya makin sering."
"Baik Dok."
"Zack, mama dan papa mengantar Dokter ke bawa dulu." Ucap mama Rani kemudian menoleh pada Sinta. "Sinta kau ke dapur dulu, periksa apakah bubur sudah masak atau belum." Perintah mama Rani pada Sinta.
"Iya ma." Sinta menyahut menurut.
Zack menutup pintu kamar saat semua orang sudah keluar kemudian kembali duduk di samping tempat tidur menatap Alanna yang dari tadi hanya terdiam.
"Kenapa kau terdiam ?" Zack bertanya sambil merapikan anak rambut Alanna.
"Hanya masih belum percaya dengan keadaan yang terjadi." Jawab Alanna.
"Keadaan kalau kau hamil ?"
"Iya."
"Kita belum bisa mengatakan kau hamil kalau belum ada hasil pemeriksaannya. Kenapa ? kau tidak senang jika ternyata kau hamil ?" Zack bertanya dengan kening yang mengerut.
"Entahlah mas, saya tidak tahu." Alanna mengakui perasaannya.
"Mungkin karena kau kurang sehat jadi pikiranmu sedang tidak fokus."
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Masuk !" Zack bersuara.
Pintu terbuka, Bibi masuk dengan membawa baki yang berisi sebuah mangkuk dan segelas air.
"Ini bubur yang tuan muda suruh buat." Kata Bibi menaruh baki di atas meja sofa.
"Terimakasih Bi." Kata Zack mendekati meja dan mengambil bubur.
"Masih ada yang tuan muda butuhkan ?"
"Sudah tidak ada, Bibi boleh istirahat."
Bibi keluar setelah mendengar perkataan Zack dan menutup pintu dari luar. Zack kembali duduk di samping tempat tidur dengan membawa bubur dan gelas air minum. Gelas air minum Zack letakkan di nakas samping tempat tidur dan mulai mengaduk bubur yang masih panas supaya menjadi lebih hangat dan bisa segera di makan Alanna.
__ADS_1
"Buka mulut." Zack menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut Alanna.
Alanna menurut dan membuka mulut, membiarkan Zack menyuapinya.
Alanna menolak makan setelah beberapa kali suapan. "Mas, saya sudah tidak."
"Harus di habiskan." Zack ngotot memaksa Alanna untuk menghabiskan buburnya.
"Tapi saya tidak berselera karena mual kalau di paksa nanti jadi muntah."
Zack terpaksa menurut, melihat isi mangkuk yang juga kini tersisa setengah, memberikan Alanna gelas air untuk di minum.
"Ini obatmu, minumlah." Zack memberikan obat.
Alanna langsung meminum obatnya, meletakkan gelas minumannya di atas nakas samping tempat tidur dan kembali berbaring.
"Mas keluar dulu, mau ke Apotik untuk membeli alat tes kehamilan untukmu."
"Mas tidak makan dulu sebelum pergi ?"
"Nanti pulang saja, ini sudah hampir larut malam takutnya sudah tidak ada Apotik yang masih buka." Zack berkata sambil berjalan menuju pintu kamar dan keluar.
Alanna berbaring menatap langit-langit kamar berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya jika dirinya betul-betul hamil, berpikir apa yang akan dia katakan pada Ibunya tentang pernikahannya yang tidak di ketahui Ibunya, terus berpikir tanpa sadar kantuk datang dan membuatnya tanda sadar tertidur.
Gerakan di atas tempat tidur membuat Alanna tersadar dari tidurnya membuatnya membuka mata dengan malas karena masih mengantuk.
"Saya membangunkan mu ?" Zack berbicara dengan suara pelan
Alanna melihat keadaan kamar temaram karena lampu kamar yang sudah di matikan. "Mas baru naik ke tempat tidur ?" Alanna balik bertanya tidak menjawab pertanyaan Zack.
"Iya."
"Jam berapa ini mas ?"
"Kenapa mas begadang ? sibuk memeriksa laporan ?"
Zack mendekati Alanna, meletakkan lengannya di bawah bahu Alanna dan menariknya mendekat, melingkarkan tangannya di badan Alanna, memeluknya erat membuat Alanna berbaring di atas lengannya dengan wajah yang menempel di dada Zack.
"Dari Apotik mas langsung makan, setelah itu mas memeriksa sebentar laporan yang ada di atas meja di ruang kerja. Saat selesai mas teringat dengan foto yang kemarin mas suruh bawa jadi terpaksa mas membongkar kopermu untuk mencarinya dan menemukannya." Jelas Zack sambil mengusap pelan punggung Alanna.
Dengan posisi tidurnya membuat Alanna leluasa mencium aroma tubuh Zack. "Mas mengira saya lupa membawanya ?"
"Iya." Kata Zack singkat. "Tidurlah, besok mungkin kita akan sibuk."
"Mas senang jika saya ternyata hamil ?" tanya Alanna penasaran mendongkak sedikit menatap mata Zack dalam cahaya temaram.
"Tentu saja, saya bahagia sekali jika ternyata kau hamil." Zack tersenyum lembut menatap Alanna. "Mempunyai anak darimu terutama darimu." Zack menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Alanna yang mendongkak padanya. Mencium lembut bibir Alanna yang lembab sedikit lebih lama dari kecupan terakhir yang Zack berikan. "Tidurlah, mas menahan diri untuk saat ini." Kata Zack parau setelah melepas ciumannya.
Mendengar perkataan Zack membuat Alanna tersipu malu dan menunduk memelih menutup mata untuk tidur.
Tidak lama kemudian Zack bisa mendengar nafas Alanna yang teratur yang menandakan dirinya telah tertidur. Zack sendiri belum bisa tidur karena rasa kantuk yang belum datang di tambah dengan hasrat yang tidak tersampaikan membuatnya semakin susah untuk menutup mata.
Memikirkan bagaimana besok membuat Zack sedikit gugup. Memikirkan kemungkinan Alanna hamil sungguh membuat jantungnya berdebar kencang. Zack dapat tertidur setelah jam kecil di nakas samping tempat tidur menunjukkan pukul tiga pagi.
Alanna terbangun esok paginya dan tidak melihat Zack di sampingnya. "Mungkin dia sudah ada di bawah." Gumam Alanna bergerak turun dari tempat tidur hendak ke kamar mandi dan teringat pesan Dokter Risal untuk melakukan tes kehamilan saat buang air kecil pertama saat bangun tidur. Hendak keluar kamar untuk mencari Zack tapi tertahan karena pintu ruang walking closet terbuka dan Zack keluar dari sana.
"Kau mau ke mana ?" tanya Zack.
"Mau mencari mas Zack di bawah." Jawab Alanna berjalan mendekati Zack. "Mau tanya di mana mas menyimpan alat tes kehamilan yang mas beli."
"Mas simpan di atas meja wastafel dengan wadah untuk menampung air kencing."
"Mas Zack seperti orang yang sudah biasa melakukannya." Alanna berkata dengan nada sinis.
Mendengar perkataan Alanna tidak membuat Zack marah malah sebaliknya membuatnya tersenyum geli. "Mas bertanya pada pemilik Apotik saat membeli tes itu."
__ADS_1
"O.... begitu." Alanna menyahut mengerti. "Kalau begitu saya masuk dulu ke kamar mandi."
"Mas menunggu di sini."
Alanna masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa alat tes kehamilan. Zack menunggu Alanna di depan pintu kamar mandi dengan jantung berdebar kencang. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Alanna keluar dengan alat tes kehamilan di tangannya.
"Bagaimana hasilnya ?" tanya Zack penasaran tidak bisa membaca raut wajah Alanna.
Alanna hanya memberi alat tes kehamilan itu pada Zack. Zack menerima dan membaca hasilnya.
"Saya hamil mas." Kata Alanna sebelum Zack berbicara.
"Syukurlah, mas senang sekali !." Zack berseru, tersenyum lebar sambil menarik Alanna ke dalam pelukannya, memeluknya erat. "Sungguh ini kabar yang sangat membahagiakan." Tamba Zack mencium lama kening Alanna.
"Mas sangat bahagia sekali." Komentar Alanna, ikut tersenyum melihat Zack yang tersenyum bahagia.
"Tentu, kita ke bawah menemui yang lain untuk memberitahukan kabar baik ini." Zack menarik tangan Alanna, membawanya untuk turun ke bawah.
Senyum terus menghiasi wajah Zack sampai mereka tiba di meja makan dan duduk bergabung dengan yang lain.
Mama Rani yang melihat raut wajah Zack sudah menduga hasilnya. "Bagaimana hasilnya ? Alanna hamil ?" mama Rani tetap bertanya penasaran.
"Dari hasil tesnya terbaca kalau saya hamil ma." Jawab Alanna.
"Betulkah !?" tanya mama Rani kembali belum percaya.
"Iya ma, Alanna hamil." Zack meyakinkan mama Rani.
"Kabar yang menggembirakan untuk keluarga kita pa." Mama Rani tersenyum senang menatap papa Arian yang juga tersenyum senang mengangguk setuju.
"Berarti sebentar lagi saya akan menjadi Tante." Sinta ikut bersuara, tersenyum senang.
"Tapi kata Dokter Risal kita harus periksa ke Rumah Sakit untuk lebih jelasnya." Alanna mengingatkan mereka.
"Ahk ! iya betul katamu, kita harus memberi tahu Dokter Risal tentang kabar ini." Zack baru teringat.
"Nanti selesai sarapan mama akan menelpon Dokter Risal." Ucap mama Rani bersemangat.
"Selesai sarapan saya akan menelpon Johan untuk memberi tahu kalau saya belum masuk kantor hari ini, menyuruhnya untuk menghendel dulu pekerjaan hari ini." Zack berkata sambil mulai menyantap sarapannya.
"Mas Zack mau ke mana ?" tanya Alanna heran.
"Menemanimu ke Rumah Sakit."
Alanna menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa mas, saya bisa sendiri kok." Kata Alanna.
"Tidak bisa, mulai sekarang kau tidak saya biarkan ke mana-mana sendiri." Zack berkata tegas.
"Sudah sewajarnya Zack menemanimu pergi ke Rumah Sakit untuk periksa kehamilan mu karena anak dalam kandungan mu itu anaknya." Mama Rani menyetujui perkataan Zack.
"Baiklah." Alanna terpaksa menurut.
Selesai sarapan Alanna naik ke atas, ke kamar mereka untuk mandi dan bersiap-siap, sedangkan Zack saat selesai sarapan langsung menuju ruang kerjanya untuk menelepon Johan sekalian menunggu Johan di sana karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan Johan hari ini menggantikan Zack yang tidak masuk.
Alanna keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk besar yang melilit tubuh sampai lututnya, dia lupa membawa jubah mandinya ke dalam kamar mandi. Berdiri di depan lemari pakaian membelakangi pintu yang menghubungkan kamar tidur membuatnya tidak menyadari kehadiran Zack yang berjalan mendekatinya dari arah belakang.
"Ibu hamil ini kenapa terlihat seksi sekali dengan hanya menggunakan handuk, hmmm ?" Kata Zack parau memeluk tubuh Alanna dari belakang sambil mencium puncak kepala Alanna.
"Saya kira mas Zack masih lama berbicara dengan Johan." Alanna terkejut dengan kedatangan Zack.
"Tidak banyak yang perlu di bicarakan, Johan sudah mengerti tugasnya." Zack berkata sambil mengusap perut Alanna. "Tidak sabar ingin mengetahui dengan jelas tentang kehamilan mu nanti saat di Rumah Sakit."
"Mas tidak ingin mandi ?" tanya Alanna menoleh sedikit ke belakang.
"Mas akan mandi tapi terlebih dahulu ingin memelukmu lebih lama, mas sangat menyukai aroma tubuhmu." Zack menunduk mencium bahu Alanna yang terbuka.
__ADS_1