
"Mama bilang titip salam sama Ibu." Kata Alanna.
Zack mengerutkan kening tidak mengerti. "Lalu ? ada yang salah dengan itu ?"
"Aku sudah bertanya-tanya dari awal pernikahan kita, kenapa orang tua mas Zack tidak mempertanyakan kehadiran orangtuaku saat hari pernikahan kita ?"
"Lalu ada hubungannya dengan mama yang berkata menitipkan salam ?" Zack semakin bingung.
"Bukankah itu hal yang aneh mas Zack. Mama tidak mempertanyakan kehadiran Ibu saat kita menikah tapi dia bersikap sangat ramah dah perhatian dengan keadaan Ibu." Alanna menatap curiga pada Zack. "Ada yang mas sembunyikan dariku ?"
Zack memperbaiki posisi duduknya. "Sebenarnya aku sedikit berbohong kepada mama." Zack berkata dengan nada pelan.
Alanna bingung dengan perkataan Zack. "Berbohong ?" Alanna bertanya.
"Iya, aku katakan pada mama alasan Ibu mu tidak datang karena tidak merestui hubungan kita. Aku katakan kalau Ibu mu masih sakit hati karena kejadian saat aku merenggut kesucian mu."
"Mama Rani tahu kejadian malam itu ?" Alanna bertanya terkejut tidak menyangka mama Rani mengetahuinya.
"Tentu saja, papa Arian pun juga mengetahuinya. Aku menceritakan kejadian itu pada mereka. Aku juga menceritakan kalau kamu menjauh dan tidak ingin bertemu denganku sejak kejadian itu."
Alanna terkejut tidak menyangka. "Mas menceriakan semua nya pada orang tua mas Zack ?"
"Tidak semuanya sayang, mas tidak menceritakan tentang perjanjian kita dan kenyataan kamu menolak rencana pernikahan."
"Baguslah." Alanna berkata lega.
"Dan mungkin mama berpikir kalau Ibumu sudah merestui hubungan kita saat berkata seperti itu." Zack menganalisa.
"Mungkin juga mas." Alanna menyahut sependapat.
"Mas harus kembali bekerja." Zack bangun dari duduknya tidak ingin membahas lebih lanjut. "Langsung habiskan susumu nanti." Zack mengingatkan kembali.
"Iya mas, aku tahu."
Di dapur Johan telah selesai membuat kopi. "Bibi Mun minta tolong antar kan kopi ini ke ruang kerja Tuan Zack." Ucap Johan pada Bibi Mun yang sedang bekerja membersihkan dapur sehabis makan malam.
"Baik Tuan Johan." Sahut Bibi Mun patuh, mengambil talang kemudian meletakkan cangkir kopi di atas talang dan berjalan keluar menuju ruang kerja Zack.
Johan sendiri tidak tenang memikirkan apa yang sedang terjadi di ruang depan membuatnya tanpa sadar melangkah menuju ruang depan tempat Sinta dan Putra sedang berbincang.
Sayup-sayup terdengar di telinga Johan percakapan mereka ketika dirinya mendekati ruang depan.
Sinta menoleh ke arah pintu yang menghubungi ruang tengah dan ruang depan, melihat Johan muncul dari dalam.
__ADS_1
"Kak Johan sudah ingin pulang ?" tanya Sinta.
"Belum, ada yang ingin aku ambil di dalam mobil." Jawab Johan beralasan.
"Kita bertemu kembali Johan." Sapa Putra tersenyum ramah.
Johan hanya membalas dendam anggukan. "Jujur aku terkejut, tidak menyangka akan melihat mu di rumah ini." Johan berkata dengan sedikit nada sindiran.
Putra menyadari tapi mengabaikannya. "Aku ingin mengajaknya bertemu di luar tapi aku tidak bisa menghubunginya, aku tidak mempunyai nomor handphonenya jadi aku putuskan untuk langsung datang ke sini saja." Putra menjelaskan.
"Kamu tidak harus menjelaskannya pada ku." Johan memasang wajah tidak suka.
"Kamu pasti sering berada di sini mengingat kamu sebagai Asisten pribadi Zack." Johan menangkap nada iri dari perkataan Putra padanya.
"Iya bahkan Kak Johan biasanya sampai harus bermalam di sini kalau bekerja lembur sampai dini hari." Sinta menjelaskan bersemangat, tidak mengerti situasi yang terjadi diantara Johan dan Putra.
Putra hanya tersenyum mendengar penjelasan yang tidak di minta dari Sinta.
"Bukankah ini sudah terlalu larut untuk jam bertamu seseorang ?" Johan mengingat Putra yang langsung reflek mengangkat lengannya untuk melihat jam tangannya.
Putra mengerutkan kening melihat jam masih menunjukkan pukul sembilan malam lewat dua puluh lima menit. "Ini masih pukul sembilan lebih sedikit Johan, belum terlalu larut aku rasa."
"Saran ku, tidak baik bertamu terlalu lama, mungkin saja tuan rumah sudah ingin beristirahat atau mungkin saja ada yang ingin dia kerjakan, bukan begitu Sinta ?" Johan menatap Sinta meminta dukungan untuk perkataannya.
"I, i, iya, betul apa yang Kak Johan katakan. Aku masih harus mengerjakan tugas kuliahku." Sinta agak kelabakan menjawab.
Merasa terpojok dengan situasi yang ada membuat Putra tersenyum masam, mengerti maksud dari tingkah Johan padanya tapi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap mendekati Sinta.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu." Putra bangun dari duduknya. "Boleh aku meminta nomor handphone mu ?" tanya Putra pada Sinta.
Sinta refleks ingin menolak memberi nomor handphone tapi berpikir tindakan itu terlalu kasar melihat Putra yang ramah padanya yang juga merupakan rekan bisnisnya kakaknya.
Sinta mengangguk setuju, Putra bergerak mengambil handphone dari saku dalam jasnya kemudian Sinta menyebutkan nomor handphonenya.
Johan hanya terdiam tidak bisa menghalangi Sinta untuk tidak memberikan nomor handphonenya.
"Aku akan menelpon mu besok." Putra berkata sambil menyiapkan kembali handphone ke dalam kantong jasnya. "Kalau begitu aku permisi dulu."
Putra pamit yang di balas anggukan kepala kaku oleh Johan dan senyum ramah dari Sinta.
"Lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam." Perintah Johan pada Sinta setelah Putra pergi, tinggal mereka berdua di ruangan itu.
"Biar tidak Kak Johan katakan juga aku ingin masuk ke dalam."
__ADS_1
Sinta berbalik masuk ke dalam dengan Johan menyusul di belakangnya.
Sinta menoleh kemudian menghentikan langkah kakinya berbalik menghadap Johan, memasang wajah heran melihat Johan yang ikut masuk kedalam.
"Bukankah tadi Kak Johan bilang ingin mengambil sesuatu di dalam mobil ?"
"Aku teringat kalau ternyata sudah membawanya ke dalam ruang kerja Tuan Zack." Johan beralasan.
"Begitu." Sahut Sinta mengerti walaupun sedikit curiga.
"Masuklah ke dalam kamarmu, aku juga harus kembali ke ruang kerja Tuan Zack." Johan mengalihkan pembicaraan.
"Baik." Jawab Sinta patuh, kembali berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua kamar nya.
Johan membuka pintu ruang kerja Zack yang ternyata masih kosong, Zack belum ada di dalam ruangannya. Johan melihat cangkir kopi yang Bibi Mun letakkan di atas meja sofa.
"Lebih baik aku minum kopi dulu sambil menunggu Tuan Zack." Gumam Johan berjalan mendekati sofa.
Johan duduk di sofa sambil menikmati kopinya tidak lama kemudian pintu terbaru, Zack masuk ke dalam ruangan.
"Dari tadi kamu menunggu ?" tanya Zack ikut bergabung dengan Johan di sofa.
"Belum lama Tuan."
Zack mengambil cangkir kopi nya, menyeruput kopi panasnya. "Tamu Sinta masih ada ?"
"Sudah pulang Tuan."
Zack mengangkat kening sebelah, heran mendengar jawaban cepat dari Johan.
Johan salah tingkah menyadari perkataannya membuat Zack bertanya-tanya dan pasti heran.
"Tadi aku keluar dan melihat Putra Pratama pamit pulang." Jawab Johan kelabakan membuat perkataannya tidak jelas.
Zack tersenyum di balik cangkir kopinya, merasa lucu dengan tingkah laku yang Johan perlihatkan.
"Bukannya tadi kamu berkata ingin ke dapur tapi kenapa malah ke luar ?" Zack kembali bertanya ingin sedikit menjaili Johan yang biasa bersikap tenang dan kaku sekarang malah terlihat salah tingkah.
"Anu..., itu...... ." Johan kehabisan kata-kata. "Ada yang aku lupa di dalam mobil jadi aku keluar sebentar." Johan terpaksa berbohong kembali.
"Hmmm.... Begitu." Zack menyahut mengerti, meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja.
Merasa sudah cukup bermain-main, Zack kembali serius. "Kita lanjutkan kembali pekerjaan kita, waktu semakin larut."
__ADS_1
"Baik Tuan." Sahut Johan mengerti.