
"Jadi kamu sudah bertemu dengan teman lama mu ?" Zack bertanya.
"Sudah mas, tapi baru satu orang. Teman lama ku ada dua orang, Mereka berdua bekerja di bagian paviliun tempat yang sama dengan ku ketika aku masih bekerja di hotel ini."
Zack mengangguk-angguk kepala mengerti.
"Mas Zack boleh aku makan siang bersama teman ku ?" tanya Alanna.
"Tidak bisa." Tolak Zack langsung.
"Tapi mas Zack kami jarang bertemu, masa pergi makan siang bersama saja tidak bisa ?" protes Alanna dengan muka cemberut.
"Sayang ku..... masalahnya waktunya, kalau kamu pergi makan siang dengan temanmu bagaimana dengan mas ? mas harus makan siang sendiri ?" Bujuk Zack.
"Jadi kapan ? Sedangkan makan malam juga tidak bisa karena kita sudah bilang ke Ibu kalau kita akan makan malam di rumah."
"Hhmmm......" Gumam Zack berpikir, Alanna menatap menunggu tanggapan.
"Bagaimana kalau kalian berkumpul sekarang." Zack berkata sambil melihat jam tangannya.
"Tapi ini belum jam istirahat mereka, tidak apa-apa begitu ?"
"Tidak apa-apa, sekarang juga sudah pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit tidak lama lagi istirahat. Nanti mas yang akan memberi tahukan ke kepala room section agar mereka tidak terkena teguran. Kalian berkumpul di mana ?" Zack meyakinkan.
Alanna mengangkat kedua bahunya. "Entahlah belum kami bahas."
"Berkumpul di restoran hotel saja, tidak usah keluar dari hotel."
"Tidak usah mas, terlalu menarik perhatian kalau di sana dengan mereka yang hanya memakai baju seragam hotel."
Zack mengerutkan kening. "Maksudnya ? Kamu malu di lihat berkumpul dengan teman mu yang hanya pelayan hotel."
"Tidak lah mas ! Kenapa harus malu ?!" Alanna berkata, sedikit tersinggung dengan perkataan Zack.
"Lantas apa maksudmu dengan menarik perhatian orang ?" Zack berkata bingung.
"Maksudku nanti orang bercerita jelek di belakang tentang teman-teman ku." Jelas Alanna.
"Jadi kalian berkumpul di mana ? Mas tidak mengizinkan kalau harus keluar."
"Bagaimana kalau di kantin hotel saja mas, di sana juga bagus dan makanan juga enak."
"Baiklah, terserah kalian saja." Zack menyetujui.
"Kalau begitu aku menelepon mereka dulu."
Alanna mengambil handphone di dari dalam tasnya, mencari nama Gita di kontak handphonenya dan langsung meneleponnya.
Sambungan telepon terhubung, tapi tidak di angkat sampai dering terakhir.
"Kenapa ? nomornya tidak aktif ?" Zack bertanya
"Aktif kok mas hanya saja tidak di angkat, aku coba menelepon ulang."
__ADS_1
"Iya coba telepon kembali, mungkin handphonenya di mode silent karena jam kerja."
"Mungkin juga karena aku juga begitu saat lalu bekerja di sini."
Alanna kembali menghubungi nomor handphone Gita, kali ini sambungan telepon terhubung pada dering ketiga.
"Hallo Gita."
"Hallo Alanna, bagaimana ? Pak Zack memberi izin ?" Gita bertanya dari seberang.
"Iya hanya saja tidak bisa jam makan siang karena mas Zack tidak ingin makan siang sendiri."
"Jadi ?" Gita menyahut dengan nada suara bingung.
"Kita kumpul sekarang dan sekalian beritahu Ayu juga."
"Tapi Alanna ini masih jam kerja."
"Mas Zack sudah memberi izin, nanti mas Zack akan memberitahukan kepala room section."
"Tidak apa-apa seperti itu ?" Gita berkata tidak yakin.
Alanna tersenyum melirik Zack yang dari tadi hanya diam melihat mendengar pembicaraan mereka.
"Tidak apa-apa, sekali-kali mengambil untung dari suami teman yang kebetulan Bos sendiri." Gurau Alanna, Zack yang mendengar hanya tersenyum sambil mengacak-acak puncak kepala Alanna dengan gemas.
"He he he..... betul juga katamu." Kekeh Gita. "Jadi kita bertemu di mana ?" Gita menambahkan.
"Boleh, kita ketemu di sana sekarang."
"Oke sudah dulu kalau begitu." Ucap Alanna sebelum mematikan handphone.
"Jadi mau pergi sekarang ?" tanya Zack.
Alanna mengangguk. "He eh."
"Kiss dulu." Ucap Zack tiba-tiba tersenyum lembut.
Wajah Alanna sontak merah merona tersenyum malu mendengar perkataan tiba-tiba dari Zack.
"Mas Zack, kenapa tiba-tiba sih ?" Alanna berkata salah tingkah.
"Tidak boleh ?" Zack tersenyum lebar, gemas melihat sikap malu-malu istrinya.
"Bukan begitu, hanya saja terlalu tiba-tiba."
"Jadi boleh ?"
Alanna tidak menjawab, sebagai jawaban dirinya maju ke depan mendekatkan wajahnya ke wajah Zack dan mengecup pelan bibir Zack. Refleks tangan Zack naik memegang belakang tengkuk leher Alanna menahannya saat hendak menjauh. Tidak melepaskan kesempatan yang ada, Zack memperdalam ciumannya.
Alanna yang terbuai dengan ciuman Zack bersandar pasrah pada tubuh Zack. Merasakan Alanna yang pasrah bersandar padanya membuat Zack semakin memperdalam c*umannya, meng*s*p b*bir Alanna dan menjelajahi setiap sudut mulut Alanna dengan l*dahnya membuat Alanna tanpa sadar mengerang nikmat menyebut nama Zack.
Zack membaringkan tubuh mereka di atas sofa dengan posisi Alanna di bawah tubuhnya, lengan Alanna naik merangkul leher Zack.
__ADS_1
Ciu*an Zack semakin menuntut dari b*bir turun ke tengkuk Alanna, tangan Zack yang tidak sabaran langsung masuk kedalam blouse Alanna menyentuh kulit lembut di dalamnya. Alanna hanya pasrah menikmati sentuhan Zack di tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar dering telepon masuk dari handphone Alanna membuat mereka terkejut dan menghentikan kegiatan mereka.
"Shitt !! kurang ajar. Siapa itu yang menelepon di waktu yang tidak tepat !" Zack memaki marah karena terganggu.
Alanna sendiri butuh beberapa detik untuk kembali tersadar melihat sekeliling dan teringat kalau mereka sedang berada di ruang kerja Zack.
Zack bangkit untuk duduk, menyisir dengan kasar rambutnya masih kesal dengan dering handphone yang masih berbunyi.
Alanna juga ikut duduk wajahnya masih merona merah karena kegiatan mereka tadi dan mulai merapikan kembali pakaiannya yang kusut oleh ulah Zack.
Zack melirik Alanna, mengulurkan tangan merapikan kembali pakaian Alanna walaupun dirinya masih kesal karena terganggu.
"Sepertinya tadi itu telepon dari Gita." Alanna berkata dengan nada serak.
Zack tersenyum masam. "Temanmu tidak mengerti dengan pengantin baru, seharusnya dia sabar menunggumu."
"Hi hi hi." Alanna tertawa geli. "Mereka semua masih bujang mas jadi sudah tentu tidak mengerti lagian ini di kantor mu mas bagaimana kalau ada orang masuk tiba-tiba ?" Alanna menambahkan.
"Tidak akan ada yang berani masuk, mas juga sudah mengunci pintu tadi saat kita masuk."
"O... Begitu, selalu menjaga kemungkinan." Komentar Alanna.
"Tapi tetap terganggu juga, sepertinya mas perlu mandi air dingin." Zack berkata muram.
Alanna melihat Zack merasa kasihan, maju ke depan mengecup pipi Zack dan tersenyum lembut.
"Kan bisa di lanjut nanti malam." Bujuk Alanna.
Senyum Zack merekah mendengarnya. "Mas akan tagih janjimu sebentar malam."
Alanna mengangguk menyakinkan. "Iya, kalau begitu aku pergi dulu mas soalnya sudah telat sekali."
"Pergilah, nanti mas hubungi jika sudah jam makan siang."
Alanna berdiri di susul Zack, mereka berjalan menuju pintu. Zack membukakan Alanna pintu, menunggu Alanna menjauh dan berbelok menghilang dari pandangannya baru kemudian menutup kembali pintu ruangannya.
-
-
-
-
-
...intip novel baru author yuk...
...untuk yang suka cerita perjodohan kerajaan...
...dengan judul "Terbelenggu cinta seorang pangeran" ☺️...
__ADS_1