Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 63


__ADS_3

Zack dan Johan telah pergi untuk menghadiri rapat dengan investor mereka. Alanna dan Sinta sedang bersiap-siap di kamar mereka masing-masing untuk pergi keluar sesuai rencana mereka.


Alanna telah selesai dan menunggu Sinta yang belum selesai berdandan di ruang tengah.


"Nona Alanna ingin ke luar ?" Tanya Mak Daiyang saat melihat penampilan Alanna yang terlihat rapi.


"Iya, saya dan Sinta rencananya ingin jalan-jalan sebentar. Kami akan pulang sebelum malam." Alanna memberi tahu.


"Kalau begitu selamat bersenang-senang Nona Alanna." Kata Mak Daiyang tersenyum.


"Terimakasih."


"Yuk berangkat sekarang." Sinta muncul di ruang tengah.


"Mak Daiyang, kami pergi dulu." Kata Alanna berdiri.


"Hati-hati di jalan." Pesan Mak Daiyang.


"Iya." Jawab Alanna dan Sinta bersamaan.


Mereka keluar menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


"Kita akan ke mana ?" Tanya Alanna penasaran saat mereka sudah sampai di depan pintu masuk gedung apartemen.


"Kita pergi ke mall yang berada di dekat sini, bagaimana ?" Saran Sinta.


"Boleh juga."


"Kalau begitu kita panggil taksi dulu."


Tidak lama menunggu, mereka melihat taksi yang mendekat. Sinta kemudian menahan taksi itu. Sopir taksi menanyakan tujuan mereka, Sinta memberi tahu dan mobil pun bergerak ke arah tujuan mereka.


Taksi berhenti di depan sebuah mall, mereka membayar tagihan sebelum keluar dari dalam taksi.


"Kurang lebih seperti mall yang ada di Jakarta." Komentar Alanna saat masuk ke dalam.


"Semua mall pada umumnya pasti samalah." Sinta berkata. "Hanya yang membedakan barang-barang yang mereka jual." Sinta menambahkan, seperti mengajarkan anak kecil.


"Kalau begitu kita ke mana dulu ?" Tanya Alanna bingung.


"Kita jalan-jalan saja dulu sambil melihat-lihat, siapa tahu nanti ada barang yang kita minati." Jawab Sinta.


"Boleh."


Mereka berjalan santai, masuk keluar toko yang ada di dalam mall. Mengomentari beberapa barang tanpa membeli dan membeli barang yang di sukai.


"Kau hanya membeli itu ?" tanya Sinta melihat tas belanjaan Alanna yang hanya terdiri dari dua tas paper bag.


"Iya."


Mereka sedang duduk santai sambil meminum minuman di sebuah cafe yang terdapat didalam mall.


"Kenapa kau hanya berbelanja sedikit ?"


"Karena hanya ini yang saya butuhkan."


"Memangnya kau belanja apa ?"

__ADS_1


"Tas untuk Ibuku dan sepatu flat shoes, mulai sekarang saya harus mengurangi memakai sepatu berhak tinggi."


"Berapa sepatu yang kau beli ?"


"Hanya satu."


"Kenapa hanya satu kalau kau ingin sering memakainya ?" Sinta bertanya heran.


Alanna memikirkan perkataan Sinta yang ada betul nya. "Lain kali saja saya membelinya, kakiku sudah pegal karena lama berjalan."


"Kalau begitu kita pulang saja."


"Iya kita pulang saja, hari juga sudah hampir gelap."


"Kau tunggu di sini, saya pergi membayar minuman kita dulu."


"Baiklah."


Sinta berdiri berjalan menuju kasir dan kembali tidak lama kemudian.


"Sudah, kita pulang sekarang." Kata Sinta.


Mereka pulang dengan kembali menggunakan taksi.


"Semoga Kak Zack dan Johan belum pulang." Ucap Sinta, mereka keluar dari lift menuju pintu Penthouse.


"Tadi siang sih mas Zack bilang pulang sebelum makan malam."


"Berarti mereka belum pulang."


"Sepertinya begitu."


Sinta terdiam di tempatnya, membuat Alanna yang hendak masuk ke dalam terhalang oleh Sinta yang berdiri di pintu.


"Kenapa kau berhenti di pintu ?" Alanna bertanya heran di belakang Sinta.


"Kalian dari mana saja ?" Suara Zack terdengar dari dalam, dengan nada terdengar menahan marah.


"Kak Zack." Sinta tidak tahu harus berkata apa, bergeser sedikit memberi ruang untuk Alanna masuk.


Alanna ragu-ragu untuk masuk, tahu bahwa dirinya telah membuat kesalahan yang membuat Zack marah.


"Alanna, kenapa masih berdiri di luar ?" Zack bertanya.


Mendengar Zack menyebut namanya, mau tidak mau Alanna terpaksa masuk ke dalam. Ingin kabur juga tidak mungkin kata Alanna dalam hatinya.


"Mas Zack." Ucap Alanna berjalan pelan mendekati Zack yang duduk di sofa dengan Johan yang berdiri di belakangnya. "Mas Zack cepat sekali pulangnya."


"Kalian berdua dari mana ?" Zack bertanya kembali, tidak mengomentari perkataan Alanna.


"Kami dari mall yang berada di dekat sini." Jawab Sinta yang juga telah masuk menyusul Alanna.


"Alanna, masuk ke dalam kamarmu." Zack berkata tegas, berdiri berjalan menuju kamar mereka.


Alanna mengikuti Zack dari belakang, Sinta yang melihat merasa bersalah pada Alanna karena ini adalah ide darinya.


"Kenapa kau nekat keluar dengan Nona Alanna tanpa sepengetahuan Tuan ?" Johan menegur Sinta yang dari tadi hanya diam mengamati.

__ADS_1


"Maaf, saya pikir tidak masalah jika hanya berjalan-jalan sebentar saja." Sinta berkata dengan wajah menyesal.


"Kau tahukan kalau Tuan sangat protektif terhadap Nona Alanna di tambah lagi sekarang Nona Alanna sedang hamil."


"Iya maaf, saya tahu saya salah. Bisa tidak jangan terlalu menyudutkan ku." Sinta berkata pada Johan.


"Lebih baik kau masuk saja ke dalam kamarmu." Johan berkata sedikit pelan dari nada awal.


Sinta berbalik masuk ke dalam kamar nya, Johan hanya menatap dalam diam Sinta yang berjalan menjauh.


Alanna menutup pintu kamar di belakangnya, masih terdiam tidak tahu harus mulai berbicara dari mana. Ini pertama kali untuknya telah membuat Zack marah.


Zack berbalik menghadap Alanna yang masih berdiri di dekat pintu kamar. Berjalan mendekati Alanna, mengambil tas paper bag yang masih di pegang Alanna dan meletakkan nya di atas meja sofa yang ada di dalam kamar. Zack duduk di sofa dan menatap Alanna yang masih terdiam.


"Kemarilah." Zack berkata dengan nada lembut, menepuk sofa kosong di sampingnya.


Alanna mendekat dan duduk. "Maaf, saya tidak tahu kalau mas Zack akan semarah ini." Alanna bersuara dengan nada pelan.


Zack menghela nafas panjang, meredakan emosinya menatap Alanna.


"Mas tidak masalah kau yang pergi berbelanja." Zack berkata. "Mas hanya mengkhawatirkan mu, ini bukan negara kita dan kalau terjadi apa-apa dengan mu bagaimana ?"


"Maaf mas." Alanna memasang raut wajah menyesal.


"Katakan pada mas jika kau ingin keluar, mas pasti akan mengizinkan. Mas tenang mengetahui keberadaan mu jika kau sedang di luar rumah."


"Mas mengizinkan saya keluar asalkan memberi tahu mas Zack ?"


"Mas mengizinkan tapi tidak sendiri."


"Tapi tadi saya keluar dengan Sinta."


"Tidak bisa hanya dengan Sinta, harus ada pria yang menemani. Bisa saya, Johan atau bahkan Pak Risno jika di Jakarta, dan yang membuatku marah tadi kau yang pergi tanpa memberi tahu." Zack menekankan kalimat terakhir.


Alanna hanya terdiam mendengar perkataan Zack. Zack menarik Alanna ke dalam pelukannya, memeluknya erat. "Kau harus maklum dengan sifat mas yang protektif terhadap mu."


Alanna membalas pelukan Zack, menghirup aroma tubuh Zack yang sudah familiar. "Akan saya usahakan untuk terbiasa."


"Apa yang kau beli ?" Zack mengalihkan pembicaraan mereka, melepaskan pelukannya.


"Tidak banyak, saya hanya membeli tas untuk Ibu dan satu flat shoes untuk saya pakai." Jawab Alanna. "Saya harus mulai mengurangi memakai sepatu dengan hak yang tinggi." Alanna menambahkan.


"Kalau begitu harusnya kau membeli banyak bukan hanya satu buah."


Alanna terkekeh geli mendengar perkataan Zack yang mirip dengan perkataan Sinta.


"Kenapa kau tertawa ?" tanya Zack heran melihat Alanna.


"Kata-kata mas sama persis seperti yang Sinta katakan."


"Karena kami bersaudara." Zack berkata lembut.


-


-


-

__ADS_1


...tolong dukung author ya dengan cara like, coment dan vote terimakasih 😊😊...


__ADS_2