
Sinta bingung sekaligus terkejut. "Apa maksudmu ? Malam pertunangan kita ?!"
"Iya, malam pertunangan kita." Johan kembali mengulangi kata yang sama.
"Jadi calon tunangan ku itu kak Johan ?" Sinta kembali bertanya ingin memperjelas keadaan yang sedang terjadi.
"Iya, memangnya orang tua mu tidak memberitahu mu ?" Johan balik bertanya.
"Mereka hanya mengatakan kalau mereka mengenal pria yang datang melamar ku." Jawab Sinta. "Tapi salah ku juga kenapa tidak bertanya lebih jelas siapa pria itu." Sinta dengan cepat menambahkan.
"Kamu kecewa mengetahui pria itu adalah aku ?" Johan menatap serius wajah Sinta.
"Aku-."
"Silahkan sang pria memasangkan cincin pertunangan di jari manis sang wanita." Suara MC memotong perkataan Sinta.
Pembicaraan mereka terpaksa terhenti. Johan mengikuti arahan pembawa acara, mengeluarkan kotak segi empat berwarna hitam dari saku jas bagian dalam.
Johan membuka tutupnya, kemudian mengeluarkan cincin berwarna putih dengan permata berlian menghiasi cincin pertunangan itu.
Sinta mengulurkan tangannya, Johan kemudian memasang cincin itu di jari manis Sinta yang langsung tersenyum lebar.
Johan ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia Sinta, memberanikan diri maju mendekati Sinta menariknya mendekat dan memeluk erat tubuh kecil Sinta.
"Aku bahagia." Kata Sinta sebelum melepaskan pelukan Johan.
Tepuk tangan dari tamu undangan bergemuruh di dalam ruang ballroom. Sinta dan Johan tersenyum menghadap para tamu undangan yang hadir.
Sinta di gandeng oleh Johan turun dari panggung untuk kembali ke meja mereka dan acara kembali di teruskan oleh MC.
Malam itu semua orang bergembira, bahkan Zack ikut senang melihat kebahagiaan Johan dan Sinta, melupakan sejenak perasaan sedihnya akan nasib rumah tangganya yang hancur.
🍃🍃🍃🍃
"Kamu belum berencana untuk pulang nak ?" tanya Ibu.
"Aku ingin hanya saja belum bisa Bu." Alanna menjawab dengan nada rasa bersalah mendengar nada suara Ibu dari sambungan telepon.
"Ibu kan tahu sendiri kalau aku belum lama ini mendapatkan pekerjaan baru di hotel yang baru di buka di sini, jadi aku belum bisa langsung mendapatkan cuti." Alanna menambahkan memberi alasan.
"Jadi kapan kamu bisa pulang Nak ? ini sudah dua tahun sejak kamu pergi."
"Aku akan langsung pulang begitu mendapatkan cuti dari Bos ku." Janji Alanna.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Zack ? makanya kamu belum pernah pulang ?"
__ADS_1
Alanna hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Nak......, Bukankah sudah lama kalian berpisah ? Zack bahkan mengikuti permintaan mu dengan mengirim surat persyaratan pengajuan perceraian ke rumah walaupun surat perceraian belum dia kirim ke rumah. Jadi apa lagi yang mengganggu pikiranmu ?"
Alanna menghela nafas berat. "Jujur Bu, aku masih belum bisa melupakan perasaan ku pada mas Zack. Aku pasti akan mendapatkan kabar tentang nya jika kembali ke Surabaya atau bahkan mungkin bertemu dengannya secara tidak sengaja. Ibu, aku belum bisa menerima kenyataan jika seandainya mas Zack telah menikah kembali." Alanna mengeluarkan isi hatinya.
"Sabar Nak, kita tidak bisa berbuat apa-apa jika ternyata takdir Tuhan berkata kalau dia bukan jodohmu." Nasehat Ibu.
"Aku tahu itu Bu."
"Tidak bisa selamanya kamu menghindar Nak."
"Aku juga tahu itu Bu."
Ibu menghela nafas panjang. "Ya sudah, kita tidak usah membahas masalah itu lagi. Walaupun sibuk bekerja jangan lupa makan yang teratur."
"Iya Bu."
"Sudah larut, kamu istirahat saja lain kali kita bicara lagi."
"Iya, Ibu juga istirahatlah nanti aku telepon lagi."
Ibu kemudian mematikan sambungan telepon. Alanna meletakkan kembali handphonenya di nakas samping tempat tidur, merapikan selimutnya dan berusaha untuk tidur walaupun rasa ngantuk belum datang.
Alanna menyetel jam pukul enam pagi karena sebelum berangkat kerja dia harus membuat sarapan pagi untuk dirinya sendiri.
Alanna mengontrak sebuah apartemen sederhana dengan satu kamar di pusat kota Kuala lumpur Malaysia untuk dia tinggali.
Sejak berpisah dengan Zack, Alanna memutuskan untuk tinggal di Malaysia dan bekerja di sana. Sebelum bekerja di hotel yang sekarang, Alanna juga bekerja sebagai pelayan di hotel yang lebih kecil dari tempatnya bekerja sekarang.
Penghasilnya dari bekerja sebagai pelayan hotel sebenarnya tidak cukup baginya untuk menyewa sebuah apartemen walaupun itu hanya apartemen sederhana. Zack tanpa sepengetahuan Alanna setiap bulannya dari awal pernikahan mereka selalu mentransfer dana ke rekening pribadinya bahkan sampai sekarang walaupun mereka tidak pernah berhubungan entah kenapa dana itu selalu teratur masuk ke rekeningnya setiap bulan.
Dengan jumlah dana di rekeningnya Alanna sebenarnya tidak perlu sampai harus bersusah payah untuk bekerja hanya saja dia merasa bosan jika tidak melakukan sesuatu.
Usai sarapan, Alanna bergerak untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Bus adalah alat transportasi yang biasa di gunakan Alanna ketika berpergian ke manapun begitu pula saat berangkat kerja.
Tiba di hotel tempatnya bekerja, Alanna langsung masuk ke bagian room section. Sebagai orang yang masih minim pengalaman, dirinya memutuskan untuk melamar kerja sebagai pelayan bekerja mulai dari nol kembali.
Selesai berganti pakaian dengan seragam pelayan, Alanna mulai bekerja seperti rutinitas sehari-hari yang biasa dia kerjakan. Hidup Alanna biasa-biasa saja bahkan cenderung ke arah monoton yang membosankan tapi itu merupakan pilihannya sendiri membuatnya tidak bisa mengeluh.
Pagi hari di tempat lain seperti biasa Johan sudah menunggu kedatangan Zack di dalam ruang kerjanya.
Zack membuka pintu dan masuk, langsung melangkah menuju meja kerjanya.
__ADS_1
"Kamu pagi-pagi sudah ada di dalam ruangan ku, ada kabar terbaru Johan ?" Zack bertanya setelah duduk di kursi meja kerjanya.
"Orang kita memberikan kabar terbaru tentang Nona Alanna, Tuan." Jawab Johan. Dirinya tetap bersikap profesional saat bekerja tetap bersikap sopan pada Zack sebagai atasannya langsung walaupun dirinya berstatus tunangan adik Bos nya.
Gerakan tangan Zack yang sedang membuka berkas di atas mejanya terhenti, menatap Johan dengan wajah serius.
"Katakan." Katanya singkat.
"Nona Alanna berhenti bekerja sebagai pelayan di hotel."
"Baguslah, aku sangat kesal mengetahui dia bekerja di sana sebagai pelayan hotel apalagi di hotel kecil seperti itu. Kamu yakin tidak pernah lalai mengirimkan uang ke rekeningnya ?" Zack bertanya untuk yang kesekian kalinya pada Johan hal yang sama setiap bulannya sejak dua tahun lalu.
Johan berusaha bersikap sabar dengan sikap Bosnya yang berubah menjadi menjengkelkan jika berhubungan dengan istrinya.
"Aku yakin Tuan, aku sendiri yang mentransfer uang itu ke rekeningnya dengan jumlah yang anda perintahkan." Johan meyakinkan.
"Bagus." Puji Zack. "Ada kabar apa lagi ?" Zack manambahkan.
"Berhenti bekerja di hotel kecil itu, Nona Alanna kembali melamar kerja sebagai pelayan hotel tapi tidak di sangka ternyata Nona Alanna melamar kerja di hotel baru kita di Malaysia."
Zack langsung tersenyum mendengar kabar dari Johan.
"Berarti insting ku untuk tidak menugaskan mu untuk bekerja di hotel baru kita ternyata benar karena jika dia tahu kamu bekerja di sana dia pasti tidak akan melamar kerja di sana."
"Aku sedikit bingung, memangnya Nona Alanna tidak mengetahui kalau itu hotel kita ?" Johan bertanya.
"Dia tidak tahu, dia tidak pernah bertanya dan tidak pernah pergi ke sana ketika hotel masih dalam proses pembangunan."
Johan mengangguk mengerti. "Ternyata begitu."
"Dia berusaha menjauhi ku tapi takdir berkata lain, ternyata dia semakin dekat padaku." Gumam Zack dengan senyum misterius.
-
-
-
-
-
...yuk intip novel terbaru author dengan judul...
..."Terbelenggu cinta seorang pangeran"...
__ADS_1