
Alanna sedang sibuk di dapur, membuat makan malam untuk dirinya sendiri. Malam ini dirinya memanjakan diri lebih atau lebih tepatnya merepotkan diri dengan membuat beberapa menu untuk makan malamnya.
Mungkin aku berharap mas Zack akan datang malam ini untuk makan malam di sini. Alanna tidak bisa kamu pungkiri atau membohongi dirimu, di hatimu sebenarnya masih ada pria bernama Zack Ibrahim.
Alanna menghela nafas panjang sambil mengaduk-aduk makanan yang sedang di masaknya di atas kompor.
Kurang lebih satu jam kemudian semua masakan telah siap di atas meja. Alanna melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh enam menit.
Alanna Manarik kursi meja makan. "Dia tidak mungkin datang." Gumam Alanna mulai mengambil nasi dan meletakkan di atas piring makannya.
Bunyi bel pintu depan tiba-tiba berbunyi, Alanna refleks berdiri tidak jadi menuangkan lauk di atas piringnya berharap tamu yang datang adalah Zack.
Alanna membuka pintu dan kecewa begitu yang datang bukan Zack melainkan pengurus gedung apartemen.
"Maaf mengganggu waktu anda Nyonya." Ucap pria itu dengan senyum ramah.
"Ya Pak ? ada hal apa ya ?" Alanna bertanya ramah menyembunyikan rasa kecewanya.
"Siang tadi aku datang ke sini mengetuk dan membunyikan bel tapi tidak ada balasan." Pria itu memberi tahu.
"Siang tadi aku keluar tapi tidak lama, memangnya ada hal apa ya Pak ?" Alanna bertanya penasaran.
"Aku ke sini ingin memberi tahu kalau malam ini dari jam delapan sampai jam sembilan malam aliran listrik akan kami matikan karena sedang perbaikan instalasi listrik."
"O... begitu." Sahut Alanna. "Baiklah aku mengerti, terimakasih atas informasinya Pak." Tambah Alanna tersenyum ramah.
"Sama-sama Nyonya, maaf atas ketidaksamaan anda selama perbaikan ini."
"Tidak apa-apa Pak, aku mengerti."
"Kalau begitu aku permisi dulu."
"Iya Pak."
Alanna menutup pintu begitu pria itu berbalik pergi, kembali masuk dan melanjutkan makan malamnya. Makanan tidak bisa Alanna habiskan sendiri karena banyaknya yang dia buat.
"Lebih baik sisanya aku simpan di kulkas, besok bagi bisa di panaskan kembali di microwave untuk aku makan saat sarapan pagi." Gumam Alanna sambil berdiri, membawa makan ke dalam kulkas.
Cahaya dalam apartemen tiba-tiba temaram, Alanna melihat hanya lampu darurat yang menyala.
__ADS_1
"Mereka sudah mematikan aliran listrik." Gumam Alanna beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
Tak ada lagi yang bisa di kerjakan, Alanna memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Alanna langsung ke dalam kamar mandi untuk menyikat gigi dan membersihkan wajahnya dari sisa-sisa makeup.
Alanna keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Zack yang telah duduk dengan santai di sofa yang berada di dalam kamar.
Zack telah melepas jasnya dan dia letakkan di lengan sofa, dasinya sudah tergantung longgar di lehernya, rambutnya yang bisanya rapi sekarang terlihat sedikit berantakan.
Alanna berdiri di depan pintu kamar mandi, melipat kedua tangannya di atas dadanya dengan kening mengerut melihat ke arah Zack.
"Sudah berapa lama mas Zack duduk di sana ?" Alanna bertanya dengan nada kesal.
"Baru saja, mungkin sekitar lima menit yang lalu." Jawab Zack tersenyum simpul, sedikit terhibur melihat sikap Alanna yang baru kali ini di lihatnya.
Alanna berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Zack yang masih duduk di tempatnya.
"Tadi siang aku lupa menanyakan hal ini pada mas Zack." Ucap Alanna.
"Menanyakan apa ?
"Bagaimana bisa mas Zack masuk dalam apartemen ku yang terkunci ?"
Zack tersenyum simpul. "Tentu saja menggunakan kunci sayang tidak mungkin aku mendobraknya bukan ?" Zack menggoda Alanna.
"Aku mendapatkannya dari pemilik gedung ini." Jawab Zack enteng.
Kening Alanna semakin mengerut. "Bagaimana bisa ?"
Zack bergerak berdiri menatap langsung ke wajah Alanna. "Itu hal yang sangat mudah untuk aku lakukan."
"Tentu saja, apa yang tidak bisa d lakukan seorang Zack Ibrahim." Ketus Alanna. "Apa yang membuat mas Zack datang ke sini ?" tambah Alanna, mundur dan berbalik melangkah menjauhi Zack.
Alanna memilih duduk di samping tempat tidur, menjaga jarak dari Zack jika ingin berpikir dengan pikiran jernih.
"Aku ingin kita pulang secepatnya."
"Bukannya mas Zack memberikan aku waktu untuk berpikir ?" Protes Alanna.
"Mas sudah memberikan mu waktu berpikir dari siang tadi."
__ADS_1
"Tapi itu tidak cukup, aku butuh setidaknya beberapa hari."
"Agar kamu bisa pergi menjauh kembali ? maaf sayang aku tidak berani mengambil resiko itu."
Perkataan Zack membuat Alanna terdiam. "Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi." Ucap Alanna beberapa saat kemudian.
"Aku tidak percaya."
Alanna menghela nafas panjang. "Jika mas membaca surat ku, mas Zack akan tahu alasan aku pergi. Aku melakukan hal itu demi kepentingan kita berdua."
"Apa aku menyuruh mu untuk melakukan hal itu ?" tanya Zack.
"Tidak memang, aku hanya membantu mas karena kupikir mas Zack serba salah untuk mengatakan hal itu pada ku."
"Itu menurut mu sayang." Zack berkata tegas. "Semua ini terjadi karena menurut mu seperti itu, dari mana kamu mendapatkan kesimpulan seperti itu ? hanya dari perkataan antara aku dan Mama yang tidak sengaja kamu dengar ?"
"Iya dari itu dan dari kenyataan bahwa mas Zack tidak pernah dan ingin mencoba untuk mencintaiku." Ucap Alanna terpaksa mengatakan hal yang selama ini tersimpan didalam hatinya.
Zack menghela nafas panjang. "Harus mas akui mas salah untuk hal terakhir yang kamu katakan." Zack mengakui dengan wajah menyesal.
"Mas Zack, jujur aku sudah tidak sanggup hidup dalam rumah tangga yang tidak di dasari atas cinta jadi aku memutuskan untuk pergi."
"Kenapa kamu berpikir rumah tangga kita tidak di dasari atas cinta ?" Zack bertanya, melangkah mendekati Alanna.
Zack berdiri tepat di hadapannya, memegang erat kedua tangannya. "Sayang, tidak bisa kah kamu melihatnya ? harus kah aku katakan baru kamu menyadarinya ? tidak bisa kamu melihat dari tindakan dan sikapku padamu ?" Zack memasang wajah sedih.
Alanna menggeleng-gelengkan kepala. "Maksud mas Zack apa ? aku tidak mengerti."
"Tidak mungkin aku bertahan hidup dengan mu jika aku tidak mencintaimu sayang, aku memang yang salah karena tidak mengatakan hal itu langsung kepadamu tapi kamu juga salah kenapa tidak bertanya dan berbicara langsung padaku malah memilih untuk pergi."
Alanna terkejut mendengar perkataan Zack yang tidak terduga, kata-kata yang sudah lama ingin dia dengar.
"Ta ta tapi bagaimana dengan perkataan antara mas Zack dengan Mama yang tidak sengaja kudengar." Alanna belum sepenuhnya ingin percaya, terlalu takut untuk berharap.
Zack mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa ketika kamu mengalami keguguran. Alasanmu menikahi ku karena adanya anak kita, aku berpikir ketika kamu mengalami keguguran alasanmu untuk bertahan hidup denganku tidak ada lagi."
Alanna tersenyum masam. "Cukup katakan kamu mencintaiku mas Zack, cukup katakan itu tidak perlu alasan lain."
Zack menarik Alanna ke dalam pelukannya, memeluk erat tubuh kecil Alanna.
__ADS_1
"Sayang, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu tetap di sisi ku. Maaf karena kebodohan ku waktu dua tahun jadi terbuang sia-sia." Sesal Zack dengan suara serak.
Air mata Alanna mengalir dari pelupuk matanya mendengar perkataan Zack. Kekecewaan dan penantian panjang selama ini hilang sudah yang tertinggal kini hanya perasaan lega.