Lelaki Penuh Luka

Lelaki Penuh Luka
Bab 104


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Keluarga Ibrahim berkumpul di ruang tengah setelah selesai makan malam.


"Bagaimana pembukaan hotel baru kita di Malaysia ?" tanya Papa pada Zack.


"Berjalan lancar Pa." Jawab Zack yang baru tiba tadi sore dari Malaysia setelah pembukaan hotel baru mereka.


"Kamu yakin tidak ingin memberikan jabatan Johan sebagai direktur di hotel baru kita di Malaysia ? karena menurut Papa Johan pantas untuk memegang jabatan itu."


"Aku tahu Johan pantas untuk itu hanya saja aku belum dapat pengganti yang cocok untuk bisa menggantikan Johan di posisinya sekarang."


Papa mengangguk mengerti. "Papa mengerti kalau tentang hal itu, kamu juga agak kewalahan jika tidak ada Johan yang membantumu."


"Baiklah karena kita sudah berkumpul semua, Mama ingin mengatakan sesuatu terutama untuk Sinta." Mama Rani menyela pembicaraan.


Sinta menoleh ke arah Mama yang dari tadi hanya serius menonton acara televisi.


"Kenapa Mama ? sepertinya sesuatu yang serius." Sinta bertanya.


"Dua hari yang lalu, Mama dan Papa kedatangan tamu. Tujuan tamu itu awalnya membuat Mama terkejut. Tapi setelah kami pikir, Mama dan Papa menyetujui maksud tamu itu." Mama berkata penuh misteri.


Sinta mengerutkan kening. "Apa sih maksudnya Mama ? aku tidak mengerti." Sinta berkata bingung.


Mama tersenyum menatap Sinta. "Tamu itu datang ke rumah ini untuk melamar mu untuk jadi istrinya dan kami menerima lamaran itu."


"Hah !!!" Sinta melongo mendengar perkataan Mama Rani, masih belum percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Maksudnya, Mama dan Papa menerima lamaran pria yang datang melamar ku ?" Sinta menambahkan setelah keluar dari rasa keterkejutannya.


"Iya dan acara pertunangan kalian akan di langsungkan besok malam." Jawab Mama Rani.


"Pertunangannya besok malam ?!" Sinta kembali terkejut.


"Iya kamu besok sore dengan Mama akan ke salon untuk persiapan acara pertunangan. Mama sudah menyiapkan gaun yang akan kamu pakai untuk acara pertunangan mu."


Sinta menarik nafas panjang untuk menetralisir perasaannya yang campur aduk antara terkejut, tidak percaya dan marah mendengar kabar tidak terduga ini.


"Mama, Sinta tidak ingin menikah dengan pria yang tidak kukenal dan lagi kenapa kalian menerima lamaran pria itu tanpa bertanya dulu dengan ku ?" Sinta berkata protes.


"Kami sangat mengenalnya oleh karena itu Mama dan Papa langsung menerimanya." Papa berkata menambahkan.

__ADS_1


"Kalian yang mengenalnya tapi aku tidak."


"Bagaimana kamu bisa mengatakan tidak mengenalnya sedangkan kamu belum tahu pria yang datang melamar mu ?" Mama Rani bertanya.


"Memangnya kamu sedang berkencan dengan seorang pria ?" Zack ikut bertanya, penasaran.


"Tidak sih cuman jika aku ingin menikah nanti aku ingin menikah dengan pria pilihan ku sendiri." Sinta berkata.


"Tapi maaf sayang undangan untuk acara besok malam sudah tersebar, kita tidak bisa membatalkan acara besok malam." Mama Rani berkata dengan nada menyesal.


"Mama, aku tidak mau." Rengek Sinta.


"Ini baru pertunangan Sinta belum menikah, jalani dulu kalau tidak cocok kamu bisa menolak untuk meneruskan ke pernikahan." Saran Zack.


Sinta terdiam memikirkan perkataan Zack yang ada betul nya, berpikir jika dia menolak pertunangan ini keluarga nya akan menanggung malu karena undangan yang telah tersebar.


"Baiklah." Sinta terpaksa setuju.


Mama Rani tersenyum lega. "Syukurlah, Mama senang mendengarnya."


"Kamu sendiri bagaimana Zack ?" tanya Papa Arian pada Zack.


"Maksud Papa ?" Zack bertanya balik, tidak mengerti.


Zack hanya terdiam dengan wajah muram.


"Papa tahu kamu masih terus mencari informasi tentang Alanna." Kata Papa berterus terang.


Mama memasang wajah serius menatap Zack. "Sampai kapan kamu berdiam terus seperti ini ? ini sudah berlangsung lama Nak." Mama memberi nasehat.


Zack menghela nafas berat. "Jujur aku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi Alanna." Zack berkata muram.


"Tapi jika kamu masih mencintainya, kamu harus bertindak tidak bisa hanya berdiam diri terus. Alanna wanita yang baik dan cantik pasti banyak pria lain di luar sana yang juga menginginkannya." Mama memperingatkan.


Rahang Zack mengeras mendengar perkataan Mama Rani.


"Aku tahu Ma."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Acara pertunangan Sinta di selenggarakan di ballroom Hotel utama keluarga Ibrahim. Para undangan mulai berdatangan memasuki pintu ruang ballroom.

__ADS_1


Menunggu para tamu undangan datang Sinta menunggu dengan wajah cemberut di dalam kamar hotel yang terletak di dekat ruang ballroom hotel tempat acara di selenggarakan.


"Sudah, tidak usah memasang wajah seperti itu, wajah mu terlihat jelek padahal riasan wajahmu sudah bagus." Tegur Mama Rani.


"Aku tidak mungkin memasang wajah bahagia di saat aku tidak menyukai pria itu." Sinta membela diri.


"Kamu pasti menyukainya, insting orang tua biasanya tidak akan salah." Mama Rani tersenyum meyakinkan.


"Entahlah, aku tidak yakin." Gumam Sinta.


"Mama keluar dulu, mau melihat undangan yang sudah hadir." Mama Rani bangkit berdiri berjalan ke arah pintu kamar.


Mama muncul kembali tidak lama kemudian. "Kita keluar sekarang, undangan sudah hadir semua."


"Baiklah." Sinta berdiri dengan malas dari kursinya.


Mereka masuk ke dalam ruang ballroom yang telah di penuhi para tamu undangan. Tatapan mata orang tertuju pada mereka berdua yang baru memasuki ruangan.


"Kita langsung ke depan, calon tunangan mu sudah menunggu dari tadi." Mama Rani memberi tahu.


Sinta hanya mengangguk setuju tanpa bersuara. Sinta dan Mama Rani bergabung dengan Zack, Papa dan Johan yang telah menunggu mereka di meja dekat panggung lamaran.


Acara di buka oleh MC, perhatian Sinta tertuju pada Johan.


Dia memang tidak memiliki perasaan sama sekali padaku, dia bahkan datang di acara pertunangan ku tanpa ada raut wajah sedih sama sekali di wajahnya.


Sinta menghela nafas panjang, meratapi nasibnya percintaannya yang sungguh tragis.


Terlalu hanyut dengan pemikirannya, dia bahkan lupa bertanya di meja mana calon tunangannya duduk.


Tepuk tangan seluruh tamu undangan membuyarkan lamunan Sinta.


"Jangan melamun terus, MC sudah mempersilahkan kamu untuk naik ke panggung. Sudah saatnya untuk bertukar cincin." Mama Rani memberi tahu.


Sinta berdiri dengan enggan, di susul oleh Johan yang juga ikut berdiri. Johan berjalan memutari meja menghampiri Sinta, meraih tangan Sinta dan berjalan berdampingan ke panggung pertunangan yang di desain dengan sangat indah dan mewah.


Sinta menatap Johan dengan wajah sedih, berusaha tidak menangis dan meneteskan air matanya.


Dia bahkan dengan sukarela mengantar ku ke panggung dengan wajah tersenyum seperti itu. Dia pasti bahagia dan lega karena wanita yang selama ini mengganggu nya akan bertunangan dengan pria lain.


"Apakah sebahagia itu ?" Sinta tidak bisa untuk tidak bertanya begitu mereka telah berdiri di tengah panggung.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat bahagia." Johan tersenyum untuk yang kesekian kalinya malam ini. Rekor terbanyak di mana Sinta bisa melihat senyuman Johan dalam beberapa jam saja.


"Bagaimana dengan mu ? kamu tidak bahagia di malam pertunangan kita ?" Johan menambahkan, balik bertanya.


__ADS_2