
Zack memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah. Turun dari mobil berjalan memutar membuka pintu mobil penumpang, membantu Alanna turun dari dalam mobil.
Melewati pintu depan restoran mereka sudah di sambut pelayan restoran yang membawa mereka menuju meja yang kosong.
"Silakan duduk Tuan dan Nyonya." Pelayan restoran mempersilahkan dengan senyum ramah.
Zack menarik kursi membantu Alanna untuk duduk kemudian dirinya ikut duduk.
"Ini buku menu nya." Pelayan restoran memberikan buku menu masing-masing pada Alanna dan Zack.
"Kami pesan steak daging sapi dua dan salad buah satu." Zack memberi tahu makanan yang mereka pesan.
Pelayan langsung mencatat pesanan mereka. "Minumannya apa ?"
"Segelas air putih dan jus alpukat." Zack menjawab.
"Ada lagi Tuan ?" tanya pelayan.
"Itu saja."
"Baik." Ucap pelayan mengambil kembali buku menu. "Aku akan datang kembali membawa makanan pesanan anda." Pelayan berkata tersenyum ramah sebelum berbalik pergi.
"Kenapa mas Zack memesan dua steak ?" Alanna bertanya penasaran.
"Mas sengaja, mungkin saja kamu ada selera untuk memakannya"
"Akan aku coba."
Zack tersenyum mendengar perkataan Alanna. "Bagus."
"Mas Zack." Alanna memanggil meminta perhatian Zack.
"Ya kenapa sayang ?"
"Aku ingin menjenguk Ibu besok lusa, boleh mas ?" tanya Alanna penuh harap.
"Bisa kenapa tidak bisa."
Alanna tersenyum lega mendengarnya. "Terimakasih mas."
"Mas akan memberi tahukan Johan untuk mengatur kembali jadwal kerjaku."
"Untuk apa mas ?" Alanna bertanya heran.
"Tentu saja agar aku bisa menemanimu pergi menemui Ibu."
"Tapi aku belum memberi tahu Ibu tentang pernikahan kita."
"Itu juga alasan mengapa aku harus ikut, sudah seharusnya kita memberitahukan Ibu tentang pernikahan kita sayang."
"Entahlah mas, aku tidak yakin."
"Mas pikir sekarang waktunya, sampai kapan kamu akan menunda nya terus ? tidak lama lagi perutmu akan membesar sayang." Zack mengingatkan Alanna tentang keadaannya.
Alanna hanya terdiam berpikir mendengar perkataan Zack.
Pelayan berjalan mendekati meja mereka, membawa makanan yang tadi mereka pesan. Pelayan meletakkan dan mengatur makanan di meja.
"Silakan menikmati." Kata pelayan restoran dengan ramah.
"Terimakasih." Balas Alanna.
Pelayan berbalik pergi, Zack dan Alanna mulai menyantap makanan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana ?" tanya Zack penasaran melihat Alanna menguyah steak nya.
Alanna menunggu datangnya rasa mual tapi tidak muncul dan rasa daging sapi terasa nikmat di mulutnya.
"Rasa enak mas, rasa mual juga tidak ada."
"Baguslah kalau begitu kamu harus menghabiskannya." Zack berkata, senang dengan perubahan selera makan Alanna.
Mereka memakan makanan mereka dalam diam. Setelah menghabiskan steak sapi, Alanna mulai memakan salad buahnya.
Zack yang telah selesai lebih dulu duduk bersandar di kursi menunggu Alanna menghabiskan makanannya, senang melihat selera makan Alanna yang sudah membaik.
Alanna mendorong piring salad buah yang telah kosong.
"Sudah selesai ? masih ada yang ingin kamu makan ?" tanya Zack.
Alanna menggeleng kepala. "Sudah tidak mas, aku sudah kenyang."
"Kalau begitu kita pergi." Zack mengangkat tangannya memanggil pelayan.
Pelayan mendekati meja mereka. "Ada apa Tuan ?" tanya pelayan.
"Aku ingin membayar tagihan makanan kami."
"Menggunakan apa tuan ? memakai kartu kredit atau tunai ?"
Zack merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan dompetnya. "Memakai kartu." Ucap Zack mengeluarkan kartu kredit dan memberikan pada pelayan.
Pelayan mengambil kartu kredit itu. "Tunggu sebentar Tuan."
"Iya."
Pelayan itu pergi dan tidak lama kemudian muncul kembali dengan struk pembayaran dan kartu kredit milik Zack.
Alanna dan Zack bangun berdiri berjalan menuju pintu keluar restoran menuju mobil mereka yang terparkir di tempat parkiran yang di sediakan pihak restoran.
Zack mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat dr. Rosa bekerja.
Sesampainya di rumah sakit mereka seperti biasa langsung menuju ruang kerja dr. Rosa yang telah menunggunya kedatangan mereka.
Tok tok tok
Zack mengetuk pintu ruang kerja dr. Rosa.
"Masuk !" Suara dari dalam.
Zack menarik kenop pintu dan masuklah ke dalam ruangan dengan Alanna menyusul dari belakang.
"Silahkan duduk Tuan Zack dan Nyonya Alanna." Dokter Rosa menyambut mereka dengan ramah.
"Terimakasih Dok." Alanna berkata tersenyum ramah.
"Bagaimana kesehatan Nyonya Alanna ?" dr. Rosa bertanya.
"Baik Dok."
"Tidak ada keluhan yang dirasakan sekarang ?"
"Tidak ada Dok."
"Tapi tadi siang selera makannya sudah bagus Dok." Zack menambahkan.
"Baguslah kalau begitu." dr. Rosa tersenyum. "Mari kita periksa kandungan Nyonya Alanna." dr. Rosa bangkit dari kursinya berjalan menuju tempat tidur pemeriksaan.
__ADS_1
Alanna dan Zack juga menyusul mengikuti dr. Rosa menuju tempat tidur pemeriksaan. Zack membantu Alanna naik ke atas tempat tidur.
Asisten dokter menyelimuti tubuh Alanna sampai di perut bagian bawah dan mengangkat pakaian Alanna sampai terlihat perutnya yang masih terlihat rata.
Dokter Rosa mulai memeriksa kandungan Alanna dengan menggunakan mesin USG dengan wajah serius memperhatikan layar USG.
"Kandungan Nyonya Alanna sangat sehat, pertumbuhan bayi kalian sangat sehat, ukuran janin sesuai dengan umur kehamilan." Dokter Rosa menjelaskan setelah melihat hasil pemeriksaan di layar monitor USG.
"Syukurlah." Alanna dan Zack menyahut bersama.
"Nyonya Alanna boleh bangun." dr. Rosa berdiri dari kursinya.
Asisten dokter membersihkan kulit perut Alanna yang tadi di berikan jeli sesaat sebelum di periksa menggunakan tisu setelah itu merapikan kembali pakaian Alanna.
Zack membantu Alanna kembali turun dari tempat tidur menyusul dr. Rosa yang telah lebih dulu duduk di kursi meja kerjanya.
"Aku akan memberikan resep untuk Nyonya Alanna." dr. Rosa berkata sambil menulis resep di selembar kertas.
"Kapan lagi jadwal kontrol kandunganku Dok ?" tanya Alanna.
"Bulan depan anda bisa datang kembali tapi jika ada keluhan bisa langsung datang tanpa menunggu jadwal kontrol berikutnya." Jelas dr. Rosa kemudian memberikan kertas resep pada asistennya.
"Baik Dok, aku mengerti." Alanna mengangguk mengerti.
"Anda bisa mengambil obatnya di apotik."
"Terimakasih Dok, kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Zack.
"Iya."
Zack bangkit berdiri di susul Alanna berjalan menuju pintu.
"Kamu tunggu mas di mobil saja, mas ke apotek dulu mengambil obatmu." Zack memberitahu ketika mereka telah berada di luar, di lorong Rumah Sakit.
"Baik mas." Alanna menurut.
Alanna berjalan ke arah luar sedangkan Zack berjalan ke arah apotik.
Tidak lama menunggu, Alanna melihat Zack berjalan ke arahnya.
Zack membuka pintu pengemudi kemudian masuk. "Mas lama ?" tanya Zack.
"Tidak." Alanna menggelengkan kepala, tersenyum.
"Kita mau ke mana lagi ? ada lagi yang ingin kau tuju ?" Zack menyalakan mobil.
"Tidak ada mas, aku lelah ingin pulang istirahat."
"Baiklah, kita pulang saja kalau begitu." Zack mengemudikan mobil keluar dari tempat parkir menuju jalan raya.
"Mas setelah ini kembali ke hotel ?" tanya Alanna, mereka dalam perjalanan ke rumah.
"Iya, mas harus mengatur jadwal kerja mas dengan Johan sebelum kita pergi ke Surabaya."
"Mas serius dengan perkataan mas saat di restoran tadi ?"
Zack mengerutkan keningnya. "Perkataan yang mana ?"
"Tentang memberi tahu Ibu tentang pernikahan kita."
"Tentu saja, kita berdua akan memikirkan cara bagaimana memberitahukan Ibu."
"Iya mas."
__ADS_1
"Tenang saja tidak usah terlalu stress, ingat kesehatanmu." Zack mengulurkan tangannya sebelah memegang tangan Alanna dengan erat, menenangkannya.