Lelembut

Lelembut
Kebahagiaan


__ADS_3

Arumi berdiri di depan cafe sambil memainkan ponsel. Abi yang baru keluar dari cafe terheran dengan Arumi yang berdiri sendirian di sana.


"Bareng gue aja, kan gue yang ngajak elu ke sini" Abi berdiri di samping Arumi yang sudah memakai helm.


Catatan: mereka berdua sudah selesai makan dan mengobrol masalah yang tadi.


"Enggak usah, gue udah ngirim pesan ke pak sopir. Lagian elu enggak bawa cadangan helm" jawab Arumi.


"Hehe...iya juga. Lain kali gue bawa dua helm deh" senyum ke arah Arumi. "Hmm..kalau gitu gue temenin elu disini. Sampai jemputan lu datang, gimana?"


"Enggak masalah" Arumi membalas senyuman sampai lesung pipi di kanan terlihat.


Baru kali ini Abi melihat senyum yang sangat manis. Semanis orang nya. Sangat jauh berbeda bila di sekolah. Arumi di kenal dengan sebutan jarang senyum, ya memang di lingkungan sekolah. Arumi banyak diam, memasang wajah datar dan lempeng. Setiap orang pasti beranggapan kalau Arumi sangat galak dan judes. Padahal semua yang di katakan orang orang luaran sana sangat salah.


Kalau sudah kenal dengan Arumi pasti akan berdecak kagum. Bagaimana tidak kagum, di balik wajah jutek ternyata orang nya sangat baik, pengertian dengan teman sekitar nya dan sangat tenang pembawaan nya. Di ajak bicara apapun selalu nyambung. Dan juga sangat pintar.


Sembari menunggu jemputan, Abi mengajak Arumi ngobrol hingga tak terasa jemputan Arumi tiba di hadapan dua orang ini.


"Gue pulang dulu, hati hati di jalan jangan ngebut. Kalau jatuh sakit, enggak enak tuh sakit. Oh iya thanks udah ngajak di sini. Kapan kapan kita kumpul di sini bareng teman gue" ucap Arumi sebelum masuk ke dalam mobil.


"Dah..."Arumi melambaikan tangan setelah masuk ke mobil, dengan kaca jendela di buka sampai batas bawah dagu.


Abi membalas lambaian tangan dan tak lupa menampilkan senyum yang menawan. Pandangan mata masih menatap kepergian mobil yang di tumpangi oleh Arumi.


"Udah sore banget" melihat langit yang sudah nampak berganti warna. Abi bergegas menuju parkir motor.


"Ternyata berteman sama cewek seru juga" gumam Abi di balik helm.


Vroom....vroom!!... melaju kencang menjauhi cafe tersebut.


...🍂🍂🍂...


Mobil sedan keluaran terbaru dengan warna silver telah memasuki kediaman tuan Baskoro. Mobil ini berhenti tepat di depan teras mansion.


Pak sopir bergegas membuka pintu belakang"silahkan nona Arumi" ucap setelah membukakan pintu mobil.


"Terimakasih" menunduk hormat sejenak. Setelah itu masuk ke dalam.


Drap...drap...


Dreet...ponsel nya bergetar di saku seragam. Ia ambil dari saku, melihat notif masuk yang masih berada di layar kunci. "Deddy" gumam nya setelah menggeser layar kunci.


Jari nya sangat lincah menekan ikon aplikasi pesan. Melihat ada tiga pesan masuk dalam waktu yang sama. Dengan rasa penasaran Arumi menekan pesan dari deddy nya.


Pesan dari deddy berbunyi "kak Arumi kalau sudah sampai di mansion cepatlah mandi. Bunda mu mau lahiran, jangan lupa bawa tas yang sudah di siapkan bunda mu di atas ranjang. Deddy lupa bawa. Enggak usah bawa mobil sendiri, biar pak sopir yang antar. Jangan terburu buru. Yang penting kak Arumi datang ke sini"

__ADS_1


"Alamat rumah sakit jalan Thamrin lantai empat ruang VVIP nomor 01"


"Kalau bisa mandi nya cepat! jangan terlalu lama"


Arumi yang sedang membaca pesan dari deddy nya langsung tersedak ketika sedang minum. Deddy memanggil diri nya dengan sebutan kak. Tidak seperti biasa nya dan setelah membaca pesan selanjut nya, Arumi di buat terharu karna sebentar lagi diri nya akan menjadi kakak.


Arumi buru buru meletakan gelas, kemudian lari menuju kamar nya yang letak nya berada di lantai dua.


Tak...tak...tak...


Cklek brak!!


Arumi membuka pintu dengan cara kasar, ia lempar tas ke sembarang arah. Meletakan ponsel di atas bantal. Dan bergegas menuju kamar mandi.


"Eh ada yang lupa" membalikan badan jalan mengarah ke pintu. Menutup pintu dan sekalian di kunci agar tidak ada orang lain yang sembarangan masuk ke kamar.


"Harus cepat cepat ini" mengambil acak setelan baju yang nanti di kenakan.


Baru kaki kiri masuk ke kamar mandi, ponsel nya berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Apa lagi sih!" gerutu nya, dengan langkah kesal, diri nya mengangkat panggilan dari kakak sepupu nya.


"Apa!" jawab Arumi sedikit nada sewot.


"Elu ada di mana?" tanya orang di sebrang sana.


"Gue ke situ, tunggu. Kan bunda Aurora mau la..." belum sempat meneruskan ucapan nya, Arumi langsung mematikan panggilan telpon. Dengan langkah kaki cepat, menuju kamar mandi.


"Bodo amat sono ngedumel " gumam nya di bawah guyuran shower.


Dalam hitungan lima menit, Arumi sudah berganti pakaian dan badan sudah segar. Melangkah keluar dari kamar mandi. Sebelum berangkat sempat sempat nya memakai skincare dan make up tipis agar tidak terlihat pucat.


Tok...tok..."woy cepat keluar!!" suara itu sangat ia kenal walau tak melihat wajah nya.


"Ya bentar, lagi pakai parfum" Arumi menyemprot asal ke tubuh dan baju. setelah itu bergegas mencari tas kecil untuk bisa di masukin ponsel dan dompet.


"Lama banget!" ucap Agus yang berdiri tepat di depan kamar Arumi.


"Hmmm" Arumi jalan menuju kamar ortu nya. Mengambil tas yang di letakan di atas ranjang.


"Benar ini enggak ya?" mengintip sedikit barang yang ada di dalam. Ternyata di dalam sana ada perlengkapan baju bayi dan perlengkapan baju ganti bunda nya.


"Udah ini doang" melihat Arumi yang keluar dari kamar ortu nya sambil membawa tas besar.


"Ya ini doang" balas Arumi.

__ADS_1


"Sini gue bawa tas nya" meraih tas yang di genggam oleh Arumi.


"Terserah elu deh" jalan duluan. Menuruni anak tangga.


"..."


"..."


"Loh pak sopir mana?" celingukan mencari pak sopir. Mobil masih di depan tapi orang nya tidak ada.


"Udahlah pakai mobil gue, lain nya udah nunggu di rumah sakit. Tinggal kita yang belum berangkat" Agus sudah membuka pintu mobil duluan sekalian memasukan tas yang tadi. Diletakan di jok belakang.


Arumi langsung lari kecil menghampiri mobil Agus. mengintari mobil ini ke sisi jok samping pengemudi.


"Berangkat" sudah memakai sabuk pengaman.


...🍂🍂🍂...


"Deddy mana om" tanya Arumi yang baru sampai di rumah sakit bersama Agus.


"Deddy mu udah masuk ke ruang persalinan menemani bunda yang mau lahiran "jawab om nya sambil menggendong anak kedua yang berusia sebelas bulan.


"Tenang aja semua akan baik baik saja" om nya tau kalau keponakan nya sedang gelisah.


"Tenang gimana om, yang ada hati dag dig dug " menyandarkan punggung nya di dinding rumah sakit.


Keluarga besar Djoko duduk di kursi tunggu, menunggu ruang persalinan buka. Semua orang nampak sedang berdoa. Agar proses melahirkan berjalan lancar ibu dan bayi selamat. Wajah harap harap cemas terlihat jelas. Semua nampak terdiam.


Hampir satu jam lebih tiga puluh menit, ruang persalinan di buka. Membuat semua orang mendekat ke dokter yang baru menyelesaikan tugas nya.


"Gimana keadaan bunda sama adek saya dok?" Arumi berdiri tepat di depan dokter.


"Alhamdulillah semua berjalan lancar, ibu sama anak sehat" menampilkan senyum bahagia.


"Alhamdulillah..."


"Boleh kah kami menengok ke dalam" tanya kakek Djoko.


"Mohon maaf,.orang orang di larang masuk ke dalam. Kalau sudah pindah ruang baru boleh"


"Jenis kelamin adek saya apa dok?"


"Laki laki dan perempuan "


"Apa bunda saya melahirkan anak kembar" ungkap Arumi yang kaget bahwa diri nya mempunyai dua adek.

__ADS_1


" Kembar tak identik. Yang pertama lahir ialah perempuan dan yang terakhir baru laki laki" pungkas dokter.


Bersambung...


__ADS_2