Lelembut

Lelembut
Tak sengaja melihat hantu


__ADS_3

Sesuai janji nya semalam, Arumi mengunjugi rumah sakit yang berada di daerah kota S. Dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam. Arumi datang seorang diri tanpa kehadiran Anin, sebab Anin masih sakit dan tidak bisa hadir membezuk Ita adek kandung Siska.


Arumi berangkat mengendarai mobil sendiri tanpa sopir atau pun pengawal. Sebelum singgah di rumah sakit, Arumi mampir di sebuah toko buah yang letak nya searah dengan rumah sakit yang akan ia kunjungi.


Sampai di toko buah, Arumi turun dari mobil. Berjalan masuk ke toko buah. saat di dalam Arumi mencari buah jeruk, apel dan anggur dengan berat yang sama.


Selesai membayar, Arumi jalan menuju mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan. Dengan mesin mobil yang masih menyala, Arumi menyempatkan diri menghubungi Siska tuk sekedar menanyakan nomor kamar dan di lantai berapa.


Dengan suara panggilan yang masih menyala, Arumi menunggu seraya melihat kendaraan yang lewat di hadapan nya.


Tut...tut...tut...


" Angkat dong " gumam nya yang sedari tadi menunggu panggilan telpon.


Selang empat menit, baru lah Siska mengangkat telpon dari Arumi.


" Assalamualaikum, ya ada apa Rum?" suara itu terdengar jelas di ponsel Arumi.


" Gue otw ke rumah sakit, adek elu di rawat di kamar apa" salah satu tangan memegang setir mobil.


" Enggak usah ke sini Rum, adek gue udah mendingan "


Posisi mobil Arumi sudah jalan dan tangan kiri masih menggenggam ponsel.


" Udah terlanjur di jalan dan ini udah mau menuju rumah sakit. Cepet kasih tau kamar dan lantai berapa " mata kanan nya melirik ke spion mobil yang berada di sisi kanan dekat dengan setir mobil.


"Hufft..." Siska mengeluarkan hembusan nafas yang terdengar di telinga Arumi.


" Lantai tiga Pajajaran nomor pintu 03 "


" Ok, bentar lagi akan sampai " Arumi memutuskan panggilan terlebih dulu. Ponsel nya di lempar ke jok samping bersamaan dengan buah yang tadi ia beli.


Kedua telinga nya mendengung saat mobil nya melewati pertigaan jalan menuju rumah sakit. Rasa nya sangat mengganggu. Arumi mencoba menggoyangkan kepala nya agar suara mendengung segera hilang. Akan tetapi suara mendengung itu berganti menjadi suara bisikan.


Suara bisikan itu membuat bulu kuduk nya berdiri, refleks Arumi mengusap tengkuk leher belakang.


" Setan sesat " tutur Arumi seraya membelokan setir. Masuk ke lahan parkir yang letak nya di samping gedung rumah sakit.


Membuka safety belt. Kemudian mengambil tas kecil, hp dan buah yang ia beli tadi.


Blam...menutup pintu menggunakan pinggul. Karna kedua tangan nya membawa barang.


Tit...( suara remote mobil ). Jarak beberapa langkah baru Arumi mengunci mobil nya agar aman sewaktu di tinggal pergi ke dalam rumah sakit.


...🍂🍂🍂...


Lokasi di dalam rumah sakit. Tepat nya berada di lantai bawah. Baru pertama kali masuk di rumah sakit, Arumi sedikit kesusahan mencari tangga atau lift.


Jalan kesana kemari mencari tangga yang menghubungkan langsung ke lantai atas. Sampai sampai Arumi nyasar masuk ruang IGD yang letak nya bersebelahan dengan bangunan utama.


Sadar bahwa salah masuk, Arumi putar balik mencari petunjuk papan tulis yang bergelantungan di atas. Mencari ruang yang bertulisan Pajajaran.

__ADS_1


Pada akhirnya Arumi menemukan ruang yang bertuliskan kata Pajajaran. Arumi harus menaiki tangga yang tanpa anak tangga. Tangga ini khusus untuk perawatan yang membawa pasien menggunakan bed rumah sakit. Sepanjang anak tangga di beri karpet karet bertujuan agar tidak licin. Saat perawat membawa bed rumah sakit ke lantai atas.


Arumi menaiki tangga ini sebanyak tiga kali. Karna letak ruang Pajajaran berada di lantai tiga. Lantai yang paling atas (VVIP).


Sampai di lantai atas, Arumi lagi lagi harus mencari nomor pintu yang ada angka 03. Kedua mata nya mengamati ruang ruang yang berada di sisi kanan kiri.


" Nah ketemu " Arumi senang bahwa nomor yang ia cari berada di hadapan nya. Dengan rasa ragu, Arumi mengetuk pintu ruang VVIP nomor 03.


Tok...tok....


Arumi berdiri sambil membawa paper bag yang isi nya buah.


Cklek!


Dari balik pintu muncullah seorang perempuan yang membukakan pintu, dengan raut wajah senang. Orang yang membukakan pintu ialah orang tua Siska.


" Arumi " sapa orang tua Siska seraya bibir nya menerbitkan senyum.


Arumi langsung mencium tangan orang tua Siska sebelum masuk ke dalam" bagaimana keadaan dek Ita tante?" sembari ikut masuk ke dalam.


" Sudah ada peningkatan. Mungkin besok udah boleh pulang " mempersilahkan Arumi untuk duduk di sofa tamu.


" Alhamdulillah sudah ada peningkatan. Ngomong ngomong dek Ita kena apa, kok bisa muntaber"


" Kata dokter Infeksi bakteri. Jadi orang yang terkana muntaber terus terusan muntah muntah di sertai buang air besar yang berkelanjutan. Kalau tidak segera di tangani bisa dehidrasi, karna tubuh membutuhkan air " jawab nya.


Arumi berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Memandang Ita yang masih tidur di bawah selimut tebal " semoga cepat pulih" mengusap kening Ita.


" Nyetir sendiri " duduk kembali di sofa tamu bersama orang tua Siska.


" Kata nya Siska, Anin sakit ya " sahut orang tua Siska.


" Iya tan, Anin lagi sakit tipes. Udah tiga hari enggak masuk sekolah "


" Di rawat rumah sakit mana? " tanya nya lagi.


" Rumah sakit yang dekat dari rumah nya" jawab Arumi.


" Oh iya Sis hari Jumat bawa tikar sama teko besar. Ojo lali..." kata Arumi.


" Buat apa bawa tikar nak Arumi? " sambung orang tua Siska.


" Buat acara Pramuka. Jadi hari Jumat itu langsung menginap di sekolah sampai hari Sabtu jam sepuluh sudah pulang"


" Kak udah di siapkan apa belum tikar sama teko besar " memandang ke arah anak nya.


" Udah, tinggal hari Jumat di bawa " jawab Siska.


...🍂🍂🍂...


Sudah lima puluh menit berada di ruang inap kamar nomor 03. Arumi ijin pulang karna hari udah mulai gelap. Sebelum pulang, menyempatkan cium tangan ke orang tua Siska " pamit pulang tante". Setelah berpamitan ke orang tua, barulah berpamitan ke Siska dan Ita yang sudah bangun.

__ADS_1


" Gue pamit pulang " memeluk Siska sebentar.


" Thanks. Hati hati di jalan " balas Siska.


" Cepat sembuh ya..." mengelus rambut Ita dengan kasih sayang.


Baru keluar dari ruang inap ini. Arumi merasakan lengan kiri merinding. Lantas Arumi menoleh ke samping untuk melihat siapa yang menyentuh nya.


Saat di lihat tidak ada siapa pun. Arumi melanjutkan jalan nya menuju lantai bawah. Di saat melewati ruang demi ruang. Arumi sedikit mendengar suara jeritan yang asal nya entah berada di ruang mana.


Tepat melintas di depan ruang Rontgen, Arumi sekilas melihat orang yang berdiri di depan kaca. Arumi pikir emang benar orang. Langkah kaki nya terus menuju tangga.


Di pertengahan jalan, berada di tangga. Arumi baru sadar bahwa diri nya tadi melihat sosok hantu yang menyerupai bentuk tubuh manusia.


Dengan penasaran, Arumi harus kembali melihat ruang yang sempat ia lewati.


Drap....drap.... (suara langkah kaki )


" Dah hilang. Fix ini mah bukan manusia "balik badan melanjutkan jalan.


"..."


"..."


Sampai di lantai bawah. Arumi harus melewati orang orang yang sedang duduk menunggu nomor antrian obat.


Tak sengaja kepala nya menengok ke arah pojok berdekatan dengan benner kesehatan. Otomatis kedua mata melihat di belakang benner.


" Lah bukan nya tadi berada di ruang Rontgen. Kok bisa berdiri di sana. Mana muka nya full gosong " melihat hantu dengan postur manusia, namun wajah nya gosong. Dengan warna yang hampir mirip dengan warna aspal jalan. Tubuh nya penuh dengan luka yang masih terbuka lebar.


Arumi segera memalingkan wajah. Cepat cepat jalan agar sampai di tempat parkir.


" Huh!!" membuang nafas lelah. Punggung nya di sandarkan di pintu mobil.


Bib... ( suara remote mobil. Tanda sudah tak di kunci ).


" Habis dari sini. Langsung pulang deh, capek badan gue " meregangkan tubuhnya setelah duduk di jok pengemudi.


Di tengah tengah keheningan. Timbul lah suara yang asal nya berada di jok belakang " mbak tolong saya...."


Arumi menengok ke jok belakang " maaf. Saya hanya bisa mengirimkan doa " tutur Arumi melalui batin.


Sosok yang meminta tolong itu, ialah hantu yang di lihat Arumi ketika tak sengaja melihat ke arah benner kesehatan. Lokasi di dekat loket lantai dasar.


Sosok muka gosong masih duduk di jok belakang, dengan kepala menunduk.


" Saya tidak bisa berbuat lebih. Yang ku bisa mengirimkan doa untuk mu, agar segera menemukan jalan terang" sebelum mobil ini jalan, Arumi mendoakan hantu yang duduk di jok belakang.


Dengan kekuatan doa yang ikhlas dari dalam hati. Perlahan hantu itu pergi. Di rasa sudah pergi barulah menjalankan mobil nya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2