
Setelah kejadian kemarin, Arumi berencana lari pagi esok nya bersama kucing kesayangan nya. Untuk menghilangkan rasa jenuh yang melanda di diri nya.
Jam enam pagi Arumi sudah bersiap untuk lari pagi di temani Miu kucing kesayangan nya, sebelum berangkat Arumi berpamitan kepada orang tua.
" Bun Arumi mau lari pagi di taman depan sana, sekalian bawa Miu " Arumi menghampiri bunda Aurora yang sedang berkutat di dapur.
Bunda Aurora menolehkan kepala nya ke samping kiri " di jaga Miu nya jangan sampai lepas tali nya " ucap nya sembari membawa pisau dapur yang tadi sempat di gunakan membersihkan sisik ikan nila.
" Ya bun. Miu enggak akan lepas " setelah berpamitan kepada bunda nya yang berada di dapur. Kini langkah kaki nya menuju garasi untuk mengambil sepatu olahraga.
Baru menggunakan sepatu sebelah kanan, teriakan bunda kembali terdengar hingga ke garasi. Jarak dapur ke garasi lumayan jauh. Hingga Arumi membalas dengan teriakan yang tak kalah keras.
" Iya...bun!? " teriak Arumi yang masih membetulkan sepatu yang belum terpasang. Setelah selesai membetulkan sepatu, Arumi bergegas menuju sumber teriakan itu.
" Ada apa bun? " berjalan mendekat ke arah bunda nya yang masih meracik bumbu ikan goreng.
Bunda Aurora membalikan badan dengan kedua tangan full sisa sisa bumbu ikan goreng " bunda nitip belikan nasi pecel, yang langganan bunda. Arumi tau kan tempat nya? "
Arumi memiringkan kepala sembari menggendong kucing nya " nasi pecel bu Antum? yang di sebrang toko sayur itu "
Bunda Aurora mengangguk kecil " tolong belikan dua nasi pecel lauk nya pakai telur sama tempe, sayur nya punya bunda di banyakin. Yang punya deddy enggak pakai sayur. Arumi nasi pecel apa enggak? " ujar nya yang cepat cepat membasuh kedua tangan nya dengan sabun serta air mengalir.
" Tunggu bentar bunda ambilkan uang nya " melengos pergi untuk mengambil uang yang berada di dalam kamar.
Arumi menunggu bunda nya yang masih mengambil uang. Arumi duduk di kursi pantry seraya mengelus bulu kucing yang masih nyaman di pangkuan nya.
Bunda Aurora yang baru tiba dengan membawa uang satu lembar dengan warna biru, menyerahkan kepada Arumi yang masih duduk di kursi.
Arumi menerima uang pemberian bunda nya " Arumi nanti beli bubur ayam enggak nasi pecel " bangkit dari duduk.
" Terserah yang penting jangan lupa nasi pecel dua bungkus " bunda Aurora kembali berkutat dengan alat alat dapur.
" Woke bun, Arumi pergi dulu assalamualaikum "
" Wa'alaikumsalam " balas bunda Aurora.
...****************...
Arumi lari kecil di temani oleh Miu dengan salah satu tangan nya memegang tali.
Drap....
Drap....
Setiap berpapasan dengan orang lain, Arumi selalu menyapa. Entah itu orang yang ia kenal atau orang lain.
__ADS_1
" Miu mau kemana? " kucing Arumi berbelok arah ke arah rumput rumput yang berada di sebrang selokan.
" Jangan ke sana nanti di marahin sama bunda " Arumi mengangkat tubuh kucing nya dan segera ia gendong.
" Jangan bandel jadi kucing, dah nurut sama babu" Arumi berjalan menjauh ke tempat yang ingin Miu bermain.
Masa iya berangkat dengan keadaan bulu bersih dan wangi, eh pulang pulang dengan keadaan bulu udah kotor bau tanah dan air. Untung saja Arumi menangkap Miu dengan cepat. Kalau tidak bisa bisa si Miu loncat ke dalam selokan yang ukuran nya besar.
Arumi memastikan keadaan Miu si kucing kesayangan bunda Aurora dalam gendongan nya, setelah di rasa aman baru lah, Arumi menurunkan si Miu untuk berjalan sendiri. Berat lama lama di gendong.
Permasalahan si Miu belum selesai. Yang tadi nya mau lompat ke selokan. Kini ada kubangan air di pinggir jalan di buat main sama Miu, membuat Arumi tersentak kaget dan cemas kedua kaki yang bagian depan sudah terkena air kotor yang letak di pinggir jalan.
Si Miu masih betah bermain dengan kubangan air, Arumi sudah berbagai cara untuk membujuk Miu. Namun Miu masih tetap tak mau pergi dari permainan air kotor.
" Mampus lah gue " mengusap kasar wajah nya. Arumi geleng gelang kepala dengan tingkah absurd kucing nya.
Si Miu tipe kucing yang kepo terhadang lingkungan sekitar, apa lagi dengan lingkungan yang baru. Pasti Miu bakalan betah main di tempat baru di tambah ada kubangan air membuat Miu makin betah dan bisa bisa badan nya ia guling gulingkan ke kubangan air. Miu kucing yang betah bermain air entah itu di ember kamar mandi atau pinggir kolam. Miu bukan tipe kucing yang tidak mau terkena air. Justru Miu yang menghampiri air.
" Waduh bakalan di marahin sama bunda ini jadi nya. Mana kemarin habis di groming, wasalam deh " Arumi hanya bisa memandang kucing nya yang sedang asik bermain air.
Arumi menunggu kucing nya sampai lima belas menit, tapi si kucing masih betah. Membuat Arumi geram dan tanpa berlama lama Arumi menggotong Miu menjauh dari kubangan air. Arumi berlari hingga ke taman.
Hoss.... hoss...
" Heh!! Miu " ucap nya sambil menutupi muka kucing nya menggunakan tangan.
" Kalau di bilangin tuh di dengerin. Nanti kalau sakit babu mu ini yang rempong. Haisss...percuma gue ngedumel sama Miu" umpat Arumi yang sekarang sudah duduk di kursi taman.
Niat awal ingin lari pagi, tapi ujung ujung nya gagal karna ulah Miu membuat Arumi badmood. Sedangkan Miu duduk di dekat nya. Dengan tali masih terikat di tubuhnya.
Arumi duduk di taman seraya menikmati udara pagi dan melihat orang yang sedang lari pagi.
Sudah dua puluh menit lama nya Arumi duduk, kini ia memilih bangkit dari duduk nya sekalian meregangkan otot-otot yang berada di dalam tubuh agar tidak kaku. Selesai meregangkan tubuhnya, Arumi berbicara dengan Miu " Miu ayo kita beli nasi pecel, keburu habis. Ayo bangun " mengusek ngusek kepala Miu.
Miu pun membalas ucapan dengan suara "miau"
...****************...
Dan sampai lah Arumi dan Miu di tempat bu Antum. Kedai nasi pecel nya sangat laris di pagi hari, karna nasi pecel di sini rasa nya enak dan di tambah harga nya sangat terjangkau.
Saat Arumi baru datang, ada lima orang yang mengantri, membuat Arumi berdiri di depan tempat jual nasi pecel.
Setelah menunggu sampai lima menit, baru lah giliran Arumi yang memesan "bu nasi pecel dua di bungkus satu pakai sayur komplit yang satu nya tidak pakai sayur "
Penjual nasi pecel mengangguk sambil melayani pesanan Arumi.
__ADS_1
" Miau...miau..." suara Miu yang sangat keras membuat penjual nasi pecel mendongakkan kepalanya " mau nasi " penjual nasi pecel menyodorkan satu entong nasi ke depan wajah si Miu.
Miu memberikan respon yang sangat antusias, ekor nya bergerak kanan kiri dan di tambah kedua mata nya membulat sempurna.
" Kalau makan nasi jatah wiskes enggak ada" ucapan Arumi membuat ekor Miu berhenti dan kepala nya mendongak menatap wajah Arumi.
Pelanggan yang mengantri di belakang di buat gemas oleh tingkah menggemaskan kucing yang berada di dalam gendongan Arumi.
" Ini mbak nasi pecel nya " menyodorkan satu kresek berisi dua bungkus nasi pecel.
Arumi menerima sodoran dari penjual nasi pecel " berapa total nya? "
" Dua puluh ribu mbak "
Arumi memberikan uang berwarna biru.
" Makasih " Arumi menerima kembalian uang sebesar tiga puluh ribu.
...****************...
Kini Arumi berjalan menuju tempat bubur ayam yang tempat nya tak jauh dari tempat nasi pecel.
Sesaat sudah sampai di tempat bubur ayam, lagi lagi Arumi harus menunggu giliran. Tapi kali ini Arumi tidak menunggu lama karna hanya satu orang saja yang membeli bubur ayam.
" Mas bubur ayam satu di bungkus enggak pakai kacang sama seledri " ucap nya karna pembeli tadi sudah pergi.
Miu mengeong ngeong lagi karna kedapatan melihat satu ekor ayam yang sudah matang.
" Heh!! nanti jatah makan nya sabar dulu. Ayam itu bukan makanan mu " Arumi paham dengan ngeongan kucing nya.
Arumi melihat mas, penjual bubur ayam yang bubur ayam nya siap di bungkus menggunakan setrofom " mas tambah kerupuk dua bungkus sama tusukan telur puyuh satu "
" Total nya berapa mas? " tanya Arumi yang sudah menerima pesanan nya.
" Dua belas ribu " ucap nya.
" Terimakasih " ujar Arumi seraya menerima uang kembalian.
Dan sekarang Arumi dan Miu kembali pulang ke rumah dan segera menyerahkan dua bungkus nasi pecel.
Bunda Aurora dan deddy Baskoro kaget dengan kondisi anabul nya yang sangat kotor, setau bunda Aurora. Miu berangkat dengan kondisi badan bersih dan rapi, pada saat pulang badan Miu penuh dengan kotoran tanah dan sebagian bulu nya terkena air. Bunda Aurora tidak memarahi anabul nya, justru yang terkena Arumi karna tidak bisa menjaga kucing kesayangan bunda Aurora.
Di situ lah Arumi di ceramah i oleh bunda Aurora. Dan Arumi lah yang harus bertanggung jawab membersihkan seluruh badan Miu dan segera di berikan vitamin, agar terhindar dari virus virus.
Bersambung....
__ADS_1