Lelembut

Lelembut
Kembali normal


__ADS_3

Walaupun mulut sudah tak bersuara. Tetapi hati nya terus mengumpat kepada orang yang tengah duduk di samping sopir. Hati nya terus mengucap sumpah serapah" Cih!, sok tau banget sih jadi orang, muka biasa aja tapi belagu nya kayak orang cantik aja. Emang benar ya kata orang kelakuan nya enggak sebaik wajah nya, ihhh...untung gue cuma teman biasa enggak teman dekat" batin nya sembari melirik sinis ke arah Arumi.


Perjalanan ini tak membutuhkan waktu lama, hanya butuh waktu tiga puluh menit.


Setiba nya sampai, tujuh orang ini turun dari mobil dengan keadaan baju yang masih basah. Empat dari yang lain sudah masuk terlebih dulu, meninggalkan tiga orang ini yang masih berdiri di luar.


Tiga orang ini bernama Abi, Brian dan Antonio sedang memeriksa keadaan mobil yang sempat ada masalah waktu perjalanan pulang. Abi dan Brian kebagian memeriksa atap mobil siapa tau ada benda yang masih terbawa. Saat naik untuk memeriksa, betapa terkejutnya mereka berdua tidak melihat benda apapun di atas atap. Saat melihat, keadaan atap masih bersih hanya sampah dedaunan yang sudah kering.


Lantas suara apa yang mereka dengar tadi? jelas jelas mereka mendengar suara benturan sangat keras yang mengarah ke atap mobil. Seakan atap mobil tertimpa benda berat, ternyata ketika di cek tidak ada apa apa benda berat yang mereka kira ranting pohon nyata nya tidak ada di tempat. Sangat sangat aneh tapi sangat nyata untuk di pikir.


Dua orang ini langsung memasang wajah kaget dan bingung. Kebingungan ini tak berhenti sampai disitu, Antonio yang kebagian memegang kendali mobil sangat tidak percaya ketika mengecek kaca mobil yang sempat retak tadi.


Kejadiannya sama persis apa yang dialami oleh Abi dan Brian. Sama sama di buat bingung. Ketika sedang memeriksa kaca mobil, Antonio tak menemukan bekas retakan. Kaca mobil bagian depan terlihat sangat mulus dan bersih. Tiga orang ini saling pandang dengan tatapan tak percaya.


Brian dan Abi menghampiri Antonio yang berdiri di depan mobil dengan pose berkacak pinggang.


"Ini benar benar aneh" ucap Brian.


"Bukan aneh tapi, otak kita yang tidak sampai dengan hal hal di luar nalar ini. Kalian tadi dengar kan suara benda jatuh di atas atap?" sambung Abi.


"Dengar..." Brian dan Antonio menjawab dengan serempak.


"Berarti kuping kita masih normal kan, dan tidak halusinasi" kata Abi.


"Siapa yang kalian maksud halusinasi?" tiga orang ini tidak tau kalau Arumi sedang jalan ke arah mereka. Arumi jalan seorang diri dengan pakaian yang berbeda.


Abi, Brian dan Antonio serentak menoleh ke belakang.


"Ngapain ke sini" Brian langsung mengucapkan kata itu kepada Arumi.

__ADS_1


"Gue" menunjuk diri nya sendiri. "Ya mau lihat keadaan mobil apa lagi" ucap Arumi sambil memakai kupluk rajut yang di kenakan di atas kepala.


"Mak..maksud gue tuh ngapain elu di sini kan di luar hawa nya dingin" balas Brian yang ucapannya sedikit bergetar.


"Harus nya gue yang tanya, ngapain kalian masih di luar dengan keadaan baju masih basah. Ganti baju sana" kini Arumi berhenti tepat di tengah tengah tiga cowok ini.


Abi langsung membalas ucapan Arumi" kita tadi lagi mengecek kondisi mobil ada yang rusak apa enggak. Kan ini mobil bukan punya kita"


Arumi memiringkan kepala nya agar bisa lihat keadaan mobil yang terparkir tepat di depan nya" masih aman tuh mobil. Ayo kalian cepat ganti baju dan bilas pakai air hangat, Anin sama Siska lagi buat makanan" sembari memasukan kedua tangan nya ke dalam saku jaket.


"Terus elu ngapain di sini?" tanya Antonio.


Menghela nafas sejenak" huh...gue kesini karna di suruh Anin. Sebab elu elu pada masih di luar, noh di suruh masuk sama Anin, lagian sih udara dingin masih di luar enggak takut masuk angin" setelah memberi tau tujuan nya ke sini. Arumi hendak berbalik badan, namun tangan nya di pegang oleh Brian. Membuat Arumi tidak bisa melanjutkan jalan nya.


"Why?" Arumi membalikan badan sambil menaikan satu alis.


"Bentar bentar maksud lu apa?" Arumi berusaha melepas genggaman tangan Brian namun usaha nya tidak berhasil. Saat pergelangan tangan mulai nampak kendur, Brian semakin mengeratkan genggaman tangan.


"Kenapa kaca yang tadi nya retak sekarang sudah hilang. Coba elu jelasin dulu ke kita tentang kejadian di luar nalar ini"


Brian yang mengucapkan kata itu membuat Antonio di buat bingung" maksud lu apa rian?" Antonio belum tau seluk beluk Arumi. Yang sudah tau Abi dan Brian.


Arumi langsung paham arah pembicaraan Brian" nanti ketika semua nya sudah makan. Sekarang kalian masuk ke dalam sebelum kalian berubah menjadi manusia es batu" Arumi melepas paksa tangan Brian, kemudian lari masuk kedalam tanpa menoleh ke belakang.


Perlahan tiga orang ini melangkah kaki masuk ke dalam homestay.


...🍂🍂🍂...


Malam hari pun tiba. Semua orang yang menginap di homestay sedang menikmati sajian makan yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Berkumpul menjadi satu dalam suasana makan malam.

__ADS_1


Keadaan malam hari di sini sangat lah dingin, suhu di daerah sini membuat air putih menjadi dingin alami tanpa harus menambahkan es batu. Hewan hewan kecil pada bermunculan di malam hari.


Suara adu sendok menggema di ruangan makan. Hening tiada suara manusia, semua fokus ke makanan masing masing. Hingga beberapa menit ada salah satu orang yang menjauhi tempat makan tanpa membawa bekas alat makan nya sendiri ke tempat cuci piring.


"Kenapa dia" tanya Abi yang melihat tingkah laku orang tersebut.


"Mana gue tau" jawab Siska yang tipe orang bodo amat dengan urusan orang lain.


Arumi dan Anin saling pandang memberi sebuah kode hanya dengan tatapan mata. Arumi membalas dengan memutar kedua bola mata malas nya pertanda diri nya tak tau menahu.


Satu persatu orang yang berada di meja makan akan pergi menjauhi ruang makan. Abi dan Antonio kebagian tugas mencuci piring dan piring piring bekas lauk pauk. Sedangkan tiga anak ini sudah masuk ke dalam kamar.


Brian berada di balkon sambil memandang langit malam di temani dengan secangkir kopi. Pandangan nya menatap lurus ke depan, tiba tiba Brian teringat dengan ucapan tadi sore.


"Apa gue suruh dia ke sini aja ya, tapi kasihan juga kalau ke sini. Di luar udara nya dingin, hmm...gue chat aja lah" Brian mengambil gawai nya yang di letakan di meja.


Brian masuk ke dalam membiarkan cangkir kopi itu di luar. Dengan cepat jari nya mengetik sebuah pesan untuk di kirim kan ke Arumi.


"Udah tidur apa belum?" Tak lama kemudian pesan dari Brian di balas oleh orang nya.


"Belum, kenapa?" pesan itu di jawab oleh Arumi.


"Elu punya janji ke gue tentang masalah tadi tentang mobil Jeep" baru di kirim tanpa harus menunggu lama Arumi membalas nya.


"Suara yang kalian dengar tadi ketika lagi hujan itu bukan lah benda jatuh. Ya memang kanan kiri banyak pohon besar tapi bukan itu sumber suara nya. Suara itu berasal dari sosok jin yang berbentuk monyet berbulu putih. Sosok itu sering perpindah tempat dengan cara melompat, naas nya ketika mobil kita melintas, sosok itu sengaja melompat dari ketinggian dan berakhir mendarat di atap mobil. Yang kalian dengar ya ulah sosok itu. Kan gue udah wanti wanti jangan melipir apa lagi keluar dari mobil itu sangat bahaya. Bahaya terkena hujan dan bahaya di ambil oleh sosok itu. Dan ketika kaca retak itu ulah si penunggu daerah situ. Yang kalian lihat sebuah ranting kan? nyatanya bukan ranting pohon yang benar adalah sebuah kuku yang sangat besar menggores kaca mobil. Motif tujuan nya gue enggak tau, yang jelas bekas nya tidak ada dan atap mobil masih aman. Udah paham kan, kalau udah dan enggak ada pertanyaan lagi, gue mau tidur dah ngantuk" pesan dari Arumi sebelum dirinya tidur.


Brian membalas pesan dari Arumi dengan mengirim stiker gambar jempol tangan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2