
Keesokan hari nya, pukul 15.35 Arumi datang bersama kakek nya yang bernama Djoko. Mereka berdua datang tanpa kehadiran Anin, dan mereka datang ke rumah Siska menggunakan mobil yang di kendarai oleh Arumi.
Pertama kali menginjakan kaki di rumah Siska, kakek Djoko merasakan ada yang tidak beres di suatu kamar yang tak jauh dari tempat duduk nya.
Tanpa berlama lama dan ber basa basi, kakek Djoko mengutarakan maksud nya langsung ke yang bersangkutan " nak Siska sebelumnya pernah di ganggu oleh 'mereka'. Apakah kamu pernah di ganggu atau di wujud dengan perwujudan asli nya? "
" Tidak pernah kek, selama saya tinggal di rumah ini tidak ada kejadian ganjil. Biasa saja. Tapi...tiga hari yang lalu, saya kerap di ganggu entah itu suara, langkah kaki dan pernah mengopi paste orang yang ada di rumah "
" Dan orang rumah sini yang di ganggu hanya saya saja kek, yang lain nya tidak pernah. Itu kenapa ya kek? kok setan nya milih milih orang " curhat Siska yang sedang duduk di sebelah Arumi.
" Terus semalam masih di ganggu apa enggak? " sela Arumi.
" Alhamdulillah, semalam enggak di ganggu, tapi gue masih merasakan kalau dia masih tetap di sekitar rumah ini "
Kakek Djoko mengangguk mendengar cerita Siska. Dan sesekali menatap ke arah ruang keluarga yang kebetulan antara ruang tamu dan ruang keluarga tidak ada sekat tembok hanya menggunakan sekat aquarium saja yang di letakan di tengah tengah. Agar isi rumah ini terkesan luas. Tatapan nya seakan sudah tau mengapa 'dia' (setan) berada di rumah dan sering mengganggu Siska.
Kakek Djoko mulai menggerakkan bibir" nak Siska kan orang nya sensitif jadi bisa merasakan saja dengan kehadiran yang tak kasat mata itu. Merasakan belum tentu bisa melihat 'mereka', namun ketika nak Siska lagi halangan atau aura nya cocok dengan 'mereka'. Secara otomatis 'mereka' bisa mewujudkan dengan wujud solid. Nak Siska mungkin hanya bisa melihat nya dengan kurun waktu sepuluh detik itu pun kalau tidak sengaja melihat nya. Di sini kan yang peka hanya kamu saja, orang tua mu dan adek mu tidak bisa. Maka dari itu setan itu terus mengikuti mu karna 'dia' bisa merasakan kalau kamu bisa merasakan kehadiran 'mereka' "
" Iya kek, Siska paham. Tapi kenapa harus aku, orang lain kan ada juga yang bisa, kenapa enggak ikut mereka saja " tanya Siska yang hendak membuatkan kopi hitam dan es teh tawar untuk Arumi.
" Karna...'dia' dulu nya satu sekolah sama kalian. Dan mungkin saja 'dia' meminta bantuan lewat Siska, mungkin Siska pernah singgah di tempat yang mana tempat itu adalah tempat terakhir nya ia hidup di dunia ini " jelas kakek Djoko.
Siska yang sudah berjalan menuju dapur, berbalik badan kembali ke tempat semula. Ia duduk dengan raut wajah penuh tanda tanya " satu sekolah, siapa dia kek. Cowok apa cewek "
" Dia cewek umur nya tidak beda jauh dengan kalian, rambut nya panjang bergelombang. Tapi maaf telinga satu nya hilang wajah nya rusak parah. Seragam yang ia pakai tidak terlihat seragam, penuh dengan sobekan dan darah " ujar kakek Djoko sembari mengetuk ngetuk jari nya di pinggiran sofa.
" Terus sosok nya ada di mana? " sambung Siska.
" Dia ada di dapur, tidak mau kesini. Udah aku ajak komunikasi namun dia masih tetap diam " Arumi menoleh ke Siska.
" Dapur...? kenapa di dapur mau masak "
" Dia berdiri membelakangi ku, posisi nya berada di dekat jendela kamar mu. Ciri ciri nya sama persis apa yang di ucap kakek" Arumi pindah posisi duduk menjadi serong ke kiri lurus dengan posisi duduk kakek nya.
" Tapi ya kek, kok ada yang aneh dengan 'dia'. Sewaktu Arumi ajak komunikasi, 'dia' seolah menghindar, seakan enggan untuk komunikasi dengan ku. Apa aku salah ngomong "
__ADS_1
" Kamu enggak salah, tapi dia yang sungkan berhadapan dengan mu. Karna..." kakek Djoko menggantung ucapan nya, membuat Arumi dan Siska penasaran.
" Karena apa kek?..."
" Kakek akan tarik ke sini, biar 'dia' yang bercerita sendiri. Dan kamu Arumi siap siap sosok ini akan kakek masukan ke badan mu, persiapkan badan mu "
" mediumisasi " gumam Siska melihat Arumi yang tengah membuka katup yang berada di leher belakang.
Dalam hitungan detik, gelagat Arumi sudah berbeda. Kedua tangan nya memeluk diri nya, kepala nya menunduk dengan kedua mata tertutup rapat sembari merintih kesakitan. Kakek Djoko berpindah tempat duduk.
Di saat sosok itu sudah masuk ke dalam tubuh Arumi. Siska tak mengetahui karna diri nya berada di dapur membuat kopi hitam dan es teh tawar yang sempat tertunda tadi.
Tak lama kemudian...Siska datang dengan membawa nampan berisi dua gelas teh tawar dan satu cangkir kopi yang masih panas. Ketika sudah sampai di meja ruang tamu, Siska meletakan minuman yang ia buat sambil melihat Arumi yang sedang mediumisasi.
Siska duduk di bawah dengan tatapan mata tak lepas melihat Arumi " kek, dia siapa? "
" Yang sering mengganggu mu. Dia udah masuk ke dalam tubuh Arumi, saat nya kamu yang bertanya " menepuk tempat yang berada di sebelah Arumi. Siska berdiri pindah duduk menjadi di sebelah Arumi.
" Assalamualaikum, bisa ngomong? " Siska sampai menunduk ke bawah untuk sekedar melihat wajah Arumi yang terus menunduk.
Sosok itu mengangguk kepala tanpa bergeming.
Sosok itu masih diam menunduk, sampai rambut Arumi menjuntai ke bawah menutupi wajah cantik nya.
Siska mengadu ke kakek Djoko" kek, ini kok di tanya enggak mau jawab. Nunduk terus apa enggak capek leher nya Arumi" Siska kasihan dengan tubuh Arumi yang sedari tadi kepala nya menunduk.
" Di tanya pelan pelan pasti mau menjawab " tutur kakek Djoko yang selalu standby di sisi cucu nya.
Siska mencoba berkomunikasi dengan sosok ini " nama mu siapa dan asal nya dari mana. Siapa tau saya bisa membantu mu melalui doa "
Mendengar kata membantu sosok ini perlahan mau mengangkat kepala nya, hingga wajah nya sejajar dengan wajah Siska " tolong...maaf kan aku "
" Iya...saya bisa membantu mu melalui doa agar kamu tenang" Siska menepuk punggung tangan Arumi.
" Maaf...maaf kan aku, hiks..." suara nya benar benar lirih.
__ADS_1
" Iya saya paham. Tapi nama mu siapa dan asal nya dari mana? " seraya menatap ke kakek Djoko.
" Nama...nama ku Puput " di akhiri jatuh nya air mata.
" Oh...Puput nama nya, asal nya dari mana? "
Seketika Siska teringat dengan nama yang tak asing bagi nya. Ingatan nya berputar ke Minggu Minggu yang lalu, dimana ada berita kecelakaan yang menewaskan sisiwi yang bernama Puput. Di saat ingatan nya kembali, kedua mata Siska terbelalak sangking terkejut nya.
" Apa kamu siswi yang bersekolah di SMK Xxx..."
Sosok ini mengangguk kan kepala " aku jatuh dari motor, badan ku sakit semua. Tidak ada yang mengenali ku, aku sendirian di sana. Tidak ada orang yang ku kenal di sana, sepi, sunyi dan dingin "
" Ya tuhan..." Siska memundurkan duduk nya ke belakang.
" Aku tahu kronologi nya saat kamu kecelakaan. Satu sekolah geger saat kamu kecelakaan dan meninggal di tempat dan aku tau asal tempat mu di mana. Dan semoga Allah menghapus dosa dosa mu dan di terima di Sisi-Nya "
" Hiks...aku menyesal "
" Menyesal karna apa? coba ceritakan ke saya atau enggak cerita ke kakek Djoko " Siska memperkenalkan sosok ini ke kakek Djoko.
" Andai, aku mendengar ucapan dari teman ku. Aku tidak mungkin akan seperti ini dan aku menyesal sudah menghamburkan uang untuk membeli rokok dan alkohol, aku menyesal telah mengambil uang ibu ku"
Sekarang kakek Djoko angkat suara" kenapa ketika cucu ku ingin berkomunikasi dengan mu malah kamu enggan untuk menjawab. Ada masalah apa dengan cucu ku? "
Siska mengangguk setuju dengan ucapan kakek Djoko.
" Maaf..." hanya satu kata yang keluar dari mulut nya.
" Maaf karna apa? apa kamu pernah berbuat salah kepada cucu ku"
" Dulu anak ini tak sengaja menyenggol lengan saya, tapi saya balas dengan kata kasar. Se harus nya saya tidak boleh mengucapkan kata kasar, dan saat pulang sekolah. Saya dan teman merencanakan melempar batu ke arah anak ini dan akhirnya batu nya mendarat di kepala anak ini. Tolong...maaf kan aku, ampuni aku " kedua mata masih terpejam.
Kakek Djoko mengeluarkan senyum tipis.Tapi Siska melotot ke arah sosok ini tidak terima dengan niat busuk yang di lakukan semasa hidup nya.
" Oh, ternyata elu biangkerok nya. Melempar batu sembunyi tangan. Pantas saja sewaktu gue cari pelaku nya udah enggak ada. Tenyata pelaku nya elu " dengan nada sewot.
__ADS_1
"Maaf..."
Bersambung...